Showing posts with label Teenlit. Show all posts
Showing posts with label Teenlit. Show all posts

Monday, December 18, 2017

[Resensi Novel Teenlit] TwinWar by Dwipatra


#8_2017
First line:
DUA tahun lebih sudah berlalu sejak Hisa pindah dari kamar ini.
---hlm. 7, Bab 1

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Karennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. "Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi." Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk "menghancurkan" saudara kembarnya. Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?

Judul: TwinWar
Pengarang: Dwipatra
Editor: Miranda Malonka
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlmn
Rilis: 4 Desember 2017
Harga: Rp69.000
ISBN: 9786020376790
My rating: 3 out  5 star

Well, pendapat saya untuk novel ini mungkin termasuk yang enggak populer, ya, mengingat sampai dengan sekarang rating untuk novel ini di Goodreads cukup bagus, 4.04. Saya pun agak bimbang antara 2,5 bintang menuju dua atau cenderung tiga, yang pada akhirnya dengan segala pertimbangan saya lebih condong membulatkan ke tiga bintang.

Membaca teenlit (di saat sekarang) serupa mengorek-ngorek kotak kenangan. Mencari sekelumit kesan yang tertinggal di masa ke-teenlit-an saya sendiri. Beberapa hal tak berubah, meskipun sebagian besarnya berubah. Tentu saja, teknologi mengubah segalanya, termasuk pola kehidupan individu dan sosial di bangku SMA dari waktu ke waktu. 

Mengetahui TwinWar dinobatkan sebagai Juara 1 kompetisi GWP batch 3, membuat saya demikian penasaran. Well, saya memang pengejar segala yang berbau top-top-an. Saya mendengarkan lagu yang sedang hits dan menduduki tangga lagu teratas. Saya menonton film yang tengah merajai panggung box office. Dan saya pun tak ketinggalan membaca buku-buku pemenang penghargaan ini dan itu. Lebih ke menuntaskan rasa penasaran: benarkah mereka (lagu, film, buku) sebagus penilaian juri/orang-orang?

Jujur saja, saat ini saya hanya membaca teenlit karangan Ken Terate saja (dan sesekali karya Windhy Puspitadewi). Saya malas mencoba-coba. Paling maksimal, saya akan bertanya sana-sini dulu jika ada satu-dua judul teenlit yang sedang hits, yang belum tentu saya baca juga. Maka, ketika memutuskan mengunduh novel TwinWar di aplikasi ScoopPremium, saya punya ekspektasi setinggi langit(-langit kamar), bahwa saya (mungkin) punya cadangan nama selain Ken (dan Windhy) untuk bisa saya ikuti karya tulis teenlitnya.

Hasilnya: saya enggak yakin. TwinWar tak berhasil memenuhi harapan. Segala sanjungan yang diberikan untuk novel ini, hanya satu-dua saja yang saya aminkan. 'Lil bit disappointing, for me, at least. Bukan enggak bagus, tapi lebih ke "gagal" memenuhi ekspektasi.


Pertama, alasan pribadi: saya tak suka plot gontok-gontokan di awal lalu jadi akur di akhir. Hahaha. Lha terus kenapa masih nekat baca juga? Salahkan rasa penasaran saya. Lagian kenapa enggak suka plot begitu? Quite predictable, menurut saya. Makanya, sepanjang baca saya menunggu plot-twist, yang sayangnya enggak ada sampai akhir. Entah saya baca di review siapa, yang bilang novel ini emosional dan bikin nangis, saya pikir salah satu dari si kembar bakal ada yang dimatiin, dan saya memang sempat kepikiran juga sewaktu ada adegan di****li dan pi****n itu. Eh, ternyata enggak.


Untuk cerita soal saudara kembar, saya suka banget sama film The Parent Trap versi tahun 1998 yang dibintangi Lindsay Lohan (sewaktu kecil). Kisahnya sederhana, tapi ditulis dan dirangkai sedemikian memikat sehingga saya benar-benar jatuh cinta pada kisahnya. Premisnya: dua saudari kembar yang harus terpisah karena orangtua meraka bercerai, satu di Inggris (Annie) dan satu lagi di Amerika (Hallie). Keduanya kembar identik, cuma karena beda lingkungan dan pola pengasuhan, memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Namun, sama dengan film ini, saya pun agak kurang diyakinkan dengan body type Hisa-Gara ketika bertukar peran. Diceritakan Hisa adalah maniak olahraga (khususnya lari), sedangkan Gara cenderung kutu buku. Dari situ, bukankah tak cukup hanya sekadar mengubah gaya rambut untuk bisa mengelabui teman dekat? Paling tidak Hisa punya bodi tipe atlet yang lebih terbentuk ketimbang Gara, kan? Pun, dengan sikap tubuh. Atau saya ada miss pada bagian ini?


Kedua, alasan pribadi: saya tak suka gaya menulis yang mengajak pembaca bicara. Hahaha. Cuman personal taste saja. Untuk standar fiksi, saya paling benci tokoh yang suka ngomong sendiri dan narator yang seolah-olah mengobrol sama saya, menggunakan kata "kalian" atau "kamu" ketika mendeskripsikan suatu keadaan (saya lupa nge-bookmark contoh di naskah ini), tapi tahulah ya, yang saya maksud?

Ketiga, saya merasa pengarang sedang mengampanyekan "mari pacaran di SMA" di sini. Yaelah, biarin saja, sih, emang enggak boleh? Hahaha, ya bolehlah, hanya saja saya lebih menyukai hal-hal yang dibuat natural. Di novel ini (yang saya tangkap), "larangan pacaran" dianggap mengada-ada dan tidak efektif, jadi mestinya bebaskan saja para remaja SMA berpacaran. Saya agak konservatif menyoal pacaran ini.


Keempat, meskipun saya tak pernah tergabung di klub kompetitif apa pun selama SMA (saya hanya pernah ikut ekskul Pramuka), saya rasa agak sedikit janggal jika antaranggota klub memiliki rivalitas-menjurus-permusuhan seperti yang ditunjukkan Hisa dan Faisal. Dan, guru olahraga yang menjadi pembina klub itu pun seolah-olah membiarkan. Saya paling enggak suka bagian ini. Entahlah, sebagai pengamat olahraga abal-abal, saya kok merasa novel ini gagal menunjukkan semangat sportivitas. Apalagi ini masih pada piyik, lho, mestinya rivalitasnya tak semengerikan itu. Kalau digambarkan beda sekolah, mungkin masih masuk akal. Entahlah, saya pada posisi tak setuju konflik ini yang dipilih untuk mewarnai kisah salah satu dari si kembar.


Kelima, saya pun sempat membaca di salah satu review yang menyebut TwinWar bisa jadi jembatan untuk para remaja lelaki menyukai membaca (terutama teenlit) karena tema dan nuansanya yang maskulin. Hmmm, setuju-tak-setuju. Hahaha. Saya rasa tetap kurang jantan. Namun, saya setuju saja sih, bahwa TwinWar dan logo baru teenlit yang lebih netral, bisa saja jadi pemicu (kembali) booming-nya novel teenlit, termasuk di kalangan remaja cowok.

Keenam, semua orang harus happy. Hmmm, saya masih berharap ada yang unik nan berbobot dari TwinWar ini. Sayang, setiap konflik yang ada seolah-olah "dipaksakan" harus selesai secara tuntas, dan harus damai. Selain minim plot twist, tak ada yang "meledak" di mana pun di novel ini. Sempat kaget saja tidak.


Ketujuh, ehmmm, masih cukup banyak typo bertebaran di sana-sini. Oh, saya baca versi digitalnya, sih, enggak tahu apakah versi fisiknya bakal sama atau lebih rapi ketimbang digitalnya. Typo minor doang, tapi tetap mengganggu buat saya.

Di sisi lain, TwinWar memang ditulis dengan gaya lugas dan selipan humor di sana-sini (meskipun buat saya tetap kurang nendang) serta diksi sederhana yang membuat rajutan kisahnya mengalir lancar. Well, sebagai penggila quote, saya agak kecewa karena tak menemui banyak kalimat yang memorable dan cocok dipasang sebagai caption di Instagram (sepanjang enggak dilarang). #eaaa


Uhmm, saya sudah mengunduh ketiga naskah pemenang GWP. Kemarin sempat kepingin memulai-baca Seventeen Once Again, yang kayaknya lebih lincah gaya penceritaannya, tapi... enggak dulu, kayaknya. Saya salip One of Us is Lying aja dulu, deh.

End line:
"Gar, lo sadar nggak, kalau lagi dijadiin lap keringet sama Hisa?"
---hlm. 288, Bab Epilog

Tuesday, June 23, 2015

[Resensi Novel Teenlit] Minoel by Ken Terate


Jangan jadi IDIOT karena cinta...


Kata orang, cinta butuh pengorbanan. Kata orang, cinta berarti memberi. Itulah yang dipercaya Minoel saat Akang menawarkan cinta dan mimpi indah. Minoel melayang ke awang-awang. Akhirnya ada juga cowok yang mencintai dirinya yang cacat.

Minoel menerima cinta Akang. Meskipun itu berarti dia tidak bisa ikut kegiatan hadrah dan pramuka lagi. Meski itu berarti dia tidak bisa sering-sering main dan gosip bareng Lilis dan Yola lagi.

Namun, Akang berubah. Lelaki itu mulai bertingkah kasar dan tak masuk akal. Inilah ujian cinta Minoel. Akang mau menerimanya yang serba kekurangan, miskin, bodoh, dan cacat. Sudah seharusnya dia menerima kelakuan Akang yang buruk, kan? Toh buruknya hanya kadang-kadang.

Yola dan Lilis terus membela dan mengingatkan Minoel bahwa Akang tidak baik untuknya, dan Minoel terus mengabaikan teman-temannya. Tapi, ketika Akang mulai menuntut Minoel menyerahkan diri sepenuhnya, Minoel mulai bertanya apakah cinta memang butuh pengorbanan SEBESAR itu? Lebih jauh lagi, apakah itu benar-benar cinta?

Judul: Minoel
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Erick Pramono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 hlm
Harga: Rp55.000 (beli di Gramedia Gandaria City)
Rilis: Mei 2015
ISBN: 9786020316802

https://www.goodreads.com/book/show/25579184-minoel?ac=1

Disadari atau tidak, salah satu tugas seorang pengarang adalah menyediakan sepasang sepatu untuk bisa dicoba dikenakan oleh pembacanya. Mau tak mau, pembaca mesti rela melepaskan sepatunya sendiri terlebih dahulu dan mencoba sepatu yang disediakan si pengarang tersebut. Harus ada kerelaan, kalau tidak maka sedari awal pembaca sejatinya sudah menolak menerima gagasan apa pun yang akan disampaikan pengarang dalam bukunya.

Kali ini, lewat Minoel, Ken Terate menawarkan sepasang sepatu milik Minoel untuk saya coba kenakan agar saya bisa menyelami suasana batin Minoel, seorang gadis SMA yang dikisahkan difabel (pincang), melarat, orangtua pemarah, dan lingkungan yang serbaberat. Beragam konflik mesti ikut saya rasai dan dari situlah saya ikut terlibat secara emosional dalam kisah ini. Mencoba memahami dan meresapi setiap adegan kehidupan remaja penuh liku ini.


Temanya memang jarang diangkat oleh penulis lokal, apalagi di genre-lini ini, tapi bukannya enggak pernah. Keberanian Ken mengangkat tema ini dengan latar belakang daerah Gunungkidul yang masih dalam banyak stigma terbelakang dan tertinggal (termasuk saya), patut diacungi jempol. Nuansa kedaerahan berhasil dikemas sebagai penguat konflik dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Hebatnya, nuansa itu tetap membuat novel ini dapat dibaca oleh siapa pun, dari daerah mana pun (menurut saya, sih, begitu).

Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) hampir sama dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), sama-sama terjadi kekerasan dalam hubungan, baik yang menimbulkan luka fisik maupun luka psikis. Biasanya tindak kekerasan terjadi karena salah satu pihak lebih lemah dibanding yang lain. Ini tidak hanya menyangkut soal KDP atau KDRT tapi juga tindak kekerasan pada umumnya. Minoel adalah gambaran yang tepat sebagai sosok yang lemah dalam hubungan berjudul pacaran dalam buku ini. Ia adalah gadis yang merasa serbakurang tapi beruntung bisa dipacari Akang. Oleh karenanya, ia bersedia menyerahkan semua-muanya pada kekasihnya itu. Sampai pada satu titik, datanglah dilema utama dalam hubungan di luar pernikahan, SEX. Apakah berhubungan intim menjadi syarat sah pacaran? Itulah titik puncak pemasrahan diri Minoel pada Akang. Dilema berat yang mengguncangkan dirinya. Apa pilihan yang akhirnya diambil oleh Minoel? Silakan baca sendiri novel ini untuk mengetahui jawabannya, ya. 


Karakter para tokohnya pun tersaji dengan sangat kuat, baik tokoh protagonis maupun antagonisnya. Setiap celah dieksplorasi dengan saksama untuk mendukung alur cerita. Pada banyak bagian, saya gemas bukan main dengan "idiotnya" Minoel yang mabuk kepayang pada Akang yang sudah jelas-jelas buruk perangainya. Mohon untuk tidak emosi lalu tak menyelesaikan membaca novel ini, ya. Kalau kamu hanya berhenti sampai tengah, maka kamu tak bisa mengambil apa-apa. Yang ada hanya emosi belaka. Tapi, bertahanlah hingga halaman terakhirnya. Di sana, kamu bisa menentukan pilihan apa yang baik diambil untuk mengatasi permasalahan yang diceritakan terjadi pada Minoel. Soal kamu setuju atau tidak, itu lain soal. Yang pasti, kamu baru bisa men-judge-nya sehabis membaca tuntas keseluruhan halamannya.

Buat saya, ceritanya cukup berhasil mengalir sesuai dengan "niatan" dan tujuan penulisan naskahnya. Tak hanya kisah Minoel-Akang saja yang tersaji, subplot dari dua sahabat dengan masing-masing latar belakang keduanya dihadirkan dengan cukup baik. Ken (sepertinya berhasil) melakukan riset yang memadai untuk memperkuat kisah Minoel. Saya pun seolah-olah ikut menjadi warga di daerah tersebut. Meski tak digambarkan dengan mendetail, beberapa objek wisata pantai yang disebutkan dalam cerita ini sukses membuat saya penasaran. Saya jadi kepingin mengunjungi pantai di Gunungkidul.

Pantai Indrayanti, foto dari sini: http://www.yukpiknik.com/destinasi/pantai-di-gunung-kidul/
Pantai Jungwok, foto dari sini: http://www.yukpiknik.com/destinasi/pantai-di-gunung-kidul/

Meskipun bertema (agak) berat, sejatinya buku ini tetap ringan dengan bahasa khas remaja bercampur unsur daerah Yogyakarta, tepatnya Gunungkidul. Jadi, yang masih remaja (teenager) saya menyarankan untuk membaca novel ini, yang lebih dewasa pun enggak papa lho, baca ini. Mungkin kalau adik-adik yang masih remaja butuh bertanya-tanya, silakan bertanya pada orang yang lebih dewasa (tidak harus yang lebih tua, hahaha). Paling tidak, diskusikanlah, jangan dipendam sendiri. Berbagi masalah, dalam batas kewajaran tertentu, dipercaya bisa meringankan beban masalah itu. Cobalah.

Overall, seperti bisa, saya selalu jatuh cinta pada gaya menulis Ken Terate. Entah objektif atau tidak, 4 dari 5 bintang saya berikan untuk Minoel ini. Selamat membaca, tweemans.

Saturday, May 9, 2015

Selamat 11 Tahun Teenlit GPU!!!


Wow, sudah sebelas tahun, ya, sejak kali pertama Teenlit diterbitkan? Tentu bukan rentang waktu yang singkat, ya. Dan, pengalaman juga membuktikan, novel-novel berlatar dunia remaja khas Teenlit masih terus ada dan dierbitkan oleh GPU. Dan, terutama, masih terus digemari pembaca remaja (ataupun non remaja) Indonesia.

Ini testimoni saya untuk 11 tahun keberadaan Teenlit di tengah dunia perbukuan tanah air, yang disertakan dalam kumpulan cerpen 11 Jejak Cinta yang baru saja diterbitkan untuk merayakan hari lahirnya Teenlit:


Kita semua pasti pernah melewati masa-masa remaja. Semua keceriaan khas darah muda. Semua kegalauan masa kanak-kanak yang harus segera ditinggalkan. Keluarga. Sahabat. Dan, cinta. Bahkan, tujuh warna pelangi tak akan sanggup mengalahkan perpaduan jutaan warna pada masa-masa remaja.

Semua hal baru kadang membingungkan. Butuh ada yang memandu untuk mencari jalan atau mungkin sekadar teman jalan untuk tersasar-tapi-menyenangkan. Teman baru mungkin belum bisa diandalkan. Pacar baru, apalagi. Sama-sama dalam perjalanan yang tak terduga nan mendebarkan. Bisa jadi, di ujung lorong kelas ada kakak senior yang siap menggencet. Sedang, di tikungan dekat UKS ada saingan yang masih berusaha merebut pacar barumu. Lalu, di belokan tepat dekat kantin, ada sahabat yang ternyata menikammu dari belakang, menyebarkan gosip yang tak benar tentangmu.

Apa pun bisa terjadi di dunia remaja. Dan, pengetahuan tentang kehidupan yang masih terbatas bisa jadi mengacaukan pikiran. But, hey… beruntunglah, kini ada Teenlit. Sedih, pengin nangis, senang, pengin ketawa, ada Teenlit yang menemanimu. Kisah-kisah yang tersaji dalam novel Teenlit sangat mungkin membantumu melalui beragam kebingungan menghadapi masa remajamu.

Saya pun merasa beruntung. Well, memang sudah lewat masa remaja saya ketika Teenlit “lahir”, tapi berkatnya saya berkesempatan mengenang masa-masa remaja saya dulu… banget. Bernostalgia melewati lorong-lorong waktu yang merekam semua kejadian. Bikin iri, sudah pasti. Bikin keki, iya juga. Kalaulah saya punya mesin waktu atau mukjizat kembali ke masa lampau, saya ingin merasai pengalaman menjadi remaja seperti yang dikisahkan dan digambarkan dalam novel-novel teenlit. Saya kepingin sekuat dan seceria Fairish. Saya kepingin punya sahabat-sahabat sejati semacam Wening, Marshella, dan Joy. Dan, tentu, saya tak akan menolak merasai kisah seromantis Dealova. Ahh… indahnya.

Jadi, selamat hari lahir, Teenlit. Terima kasih telah memberi warna pada dunia literasi Indonesia. Dan, teruslah bersemangat untuk menghadirkan kisah-kisah remaja yang menginspirasi.

Dari yang mengaku-aku sebagai kakakmu,
XOXO - @fiksimetropop

Friday, August 29, 2014

[Posting Bareng BBI] The Chronicles of Audy: 21 by Orizuka


Pekerjaan CINTA...
Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: "bagian dari keluarga".

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.


Pengarang: Orizuka
Penyunting: Tia Widiana
Proofreader: NyiBlo
Penerbit: Haru
Tebal: 308 hlm
Harga: Rp57.000
Rilis: Juli 2014
ISBN:9786027742376

Seperti halnya penggemar Audy dan empat cowok keren hasil rekaan Orizuka: Regan, Romeo, Rex, dan Rafael yang ngehits lewat novel remaja The Chronicles of Audy: 4R, saya pun tak sabar menantikan kelanjutan kronik hidup Audy yang penuh warna. Selepas pontang-panting menjadi babysittersekaligus asisten rumah tangga karena mesti mendapatkan uang untuk biaya kuliah (yang tinggal skripsi), apa lagi yang bakal terjadi pada Audy? Dan apa pula yang akan terjadi pada 4R? Itulah yang kami—saya—tunggu-tunggu jawabannya.  Syukurlah, akhirnya buku kedua dari serial menggemaskan karya Orizuka ini diterbitkan juga oleh Penerbit Haru.

Satu kata: BAGUS!

Saya makin kepincut dengan gaya menulis Orizuka yang lincah campur kocak campur manis campur romantis campur haru ini. Well, ketika kali pertama mencicipi buah imajinasi Orizuka lewat novella duet With You bareng Christian Simamora, saya merasa tulisan Orizuka ‘kalah-telak’ di sana. Wait, ini penilaian subjektif saya, tentu saja. Semua kembali ke selera masing-masing. Banyak, kok, teman saya yang malah lebih suka cerita Orizuka di situ. Tapi, buat saya, tema dan gaya bercerita yang lincah dari Christian Simamora lebih menyedot perhatian ketimbang kisah sedih bin mellow Orizuka di situ. Again, ini soal selera, kok.

Nyatanya, dua kali saya membaca kronik hidup Audy, dua kali itu juga saya jatuh cinta pada gaya menulis Orizuka. Mungkin, setelah ini saya akan mengusahakan untuk membaca tulisan-tulisan Orizuka yang lain, secara saya pun sebenarnya sudah mengoleksi beberapa novel karya Orizuka.

Khusus untuk #Audy21 ini, saya menyukai dari awal hingga akhir. Oke, jujur, jika dibandingkan dengan buku pertamanya, #Audy4R, saya memang sedikit lebih menyukai buku pertamanya. Entahlah, mungkin karena di buku pertama saya masih asing pada cerita dan tokoh-tokoh yang ada, sehingga ketika menjumpai mereka saya kaget-bahagia dan tergelitik untuk menyimak runutan kisah demi kisah. Sedangkan untuk #Audy21 ini saya memang lebih mementingkan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya di atas. Apa yang terjadi pada Audy dan 4R? Lalu, secuil clue yang ada di sinopsisnya makin membuat saya penasaran namun juga dengan gusar menyimpulkan bahwa di #Audy21 ini mungkin kisahnya hanya akan berputar di urusan itu saja. Saya lalu mulai menebak-nebak, dari keempat cowok berinisial R itu manakah yang berani menyatakan perasaannya pada Audy? Saya pribadi mendukung Romeo atau Rex, sih. 

gambar dari: http://m.123rf.com
Satu keputusan bagus yang diambil Ori adalah tidak terburu-buru soal waktu. Yeah, jarak kejadian cerita antara buku pertama dan buku kedua tidak terlampau jauh, ini cukup bagus untuk menjaga pace dari adegan-adegan yang mungkin berulang, misalnya adegan antar-jemput Rafael, memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan lain sebagainya. Dengan rentang waktu yang pendek itu, kegiatan harian Audy cukup realketika ia digambarkan masih merasa bosan atau terbebani.

Juga soal permainan cinta yang mulai menghiasi perjalanan ‘karier’ Audy di rumah 4R, tidak dibuat tiba-tiba. Ori berhasil menuntun saya untuk memahami—dan memaklumi—pada salah satu cowok R yang akhirnya menyatakan perasaannya. Saya ikut larut dalam proses tumbuh-kembang rasa itu. Oh, tentu saja, ada ganjalan-ganjalan tertentu soal mengapa Audy yang sebentar lagi lulus kuliah itu masih juga terlalu culun. Lebih ke gemas, sih, selama membaca bagian-bagian ketika Audy masih meragukan dirinya sendiri. Paling tidak, saya berharap pada sosok calon sarjana ada sisi tegasnya juga. Saya jadi ikutan menyetujui pendapat seorang teman soal pendidikan tinggi di Indonesia. Lhakalau kelakuan sarjana atau calon sarjananya masih labil begitu, mau bagaimana masa depannya nanti? #eaaa #curcol

gambar dari: http://imperfectspirituality.com
Semua unsur yang ada di buku pertama: kocak, romantis, haru, sederhana tapi dalam, masih ada di #Audy21. Terkhusus Rafael atau R4 masih tetap menjadi tokoh favorit. Pada dasarnya saya memang suka cerita yang mengharukan atau sebaliknya kocak kebablasan, maka tak ayal saya menyukai Rafael yang selalu menghadirkan bagian-bagian mengharukan di beberapa tempat dan Romeo yang kelakuannya bikin saya meringis geli.

“Kamu terlalu luas untuk dijelaskan secara singkat (hlm. 292). Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus kekuatanku; yang membuatku merasa lebih hidup (hlm. 294).”

Dari segi cetakan teknisnya sendiri juga sangat bagus. Saya hanya menemukan tak lebih dari empat atau lima kesalahan ketik. No problem banget itu, ya. Nggak bakal ganggu kenikmatan membaca kisah ini. Pun, saya menyukai kalimat demi kalimatnya. Hampir secara keseluruhannya dalam takaran yang pas.

Pada akhirnya, tak banyak yang saya komplain dari novel ini. Meskipun, sekali lagi, saya lebih menyukai #Audy4R namun secara umum saya tetap menyukai #Audy21. Kalau sudah begini saya cuma bisa bilang, sampai Orizuka-nya sendiri menyerah dan tak lagi menyajikan kronik-kronik hidup Audy lainnya, saya akan dengan setia menanti kelanjutan kisah Audy sampai kapan pun. Mungkin bahkan setelah Audy dan –sensor—menikah dan punya anak, saya akan tetap bersedia membeli dan membaca kisahnya. Thank you, Orizuka, liku-liku kehidupan Audy sungguh membuat saya jatuh cinta. Well done!

Bagian terpenting yang saya tangkap:

“Kamu (Audy) adalah seseorang yang bisa membuktikan, kalau keluarga itu bukan hanya orang-orang yang dihubungkan dokumen. Kamu adalah orang yang dengan ikhlas melakukan hal-hal yang hanya bisa keluarga lakukan, dan itulah kenapa, kamu adalah bagian dari keluarga ini.”
(hlm. 284)

Buat yang belum baca, ayo, enggak usah ragu, buku ini jaminan, deh. Meskipun bisa dibaca terpisah, ada baiknya baca The Chronicles of Audy: 4R terlebih dahulu agar setiap kepingan puzzlekehidupan Audy bisa kamu rasai sehingga kamu lebih asyik membuka lembar demi lembar The Chronicles of Audy: 21 ini. Selamat membawa, tweemans!

My rating: 4 out of 5 star.

Resensi ini diikutkan dalam posting bareng (PosBar) Blogger Buku Indonesia Agustus 2014 untuk tema Buku Baru Indonesia yang terbit tahun 2014. 

Wednesday, July 9, 2014

[Kabar Buku] Peluncuran Buku Tomodachi, Novel Terbaru Winna Efendi


Terhitung sudah dua kali saya mengikuti event peluncuran novel terbaru karya Winna Efendi. Sebelumnya saya ikut serta dalam peluncuran perdana novelnya yang berjudul Unforgettable. Sayangnya, saya malah forget tanggal persisnya acara itu kapan. Hihihi, mohon maklum, faktor U sepertinya. Hufft.

Ketika mendapat informasi pertama kali tentang rencana penyelenggaraan peluncuran Tomodachi, saya meragu. Betapa tidak, acara diselenggarakan tanggal 5 Juli 2014 yang bertepatan dengan bulan puasa (acara dikemas dalam acara buka puasa bersama) dan berlokasi di sebuah restoran Jepang di kawasan Jalan Sabang. Matik! Saya kan nggak suka sushi-sushi-an begitu. Tapi, toh akhirnya saya tetap mendaftar dan berangkat juga. Magnet seorang Winna Efendi masih begitu kuat memikat saya.


Tak perlu disebutkan, saya datang terlambat! Hih! Padahal saya sudah bersiap-siap sejak pukul 2 siang, tapi baru mandi pukul 4 sore, dan cuss pakai taksi dari flyover Karet pukul 5 kurang sepuluh menit. Fiuh, sudah pasti terlambatlah itu. Maka, saya pasrah saja. Kalaupun tak bisa full mengikuti kegiatannya, yang penting saya bisa berhadir dan berbincang singkat dengan Winna. Thank God, ternyata saya nggak terlambat-terlambat amat, sepertinya. Masih ada yang lebih terlambat daripada saya, kok. :)


Ketika saya sampai, acara sudah dimulai dan Winna sedang duduk di depan dan diwawancarai Mita M. Supardi a.k.a. Michan, editor GagasMedia yang menjadi MC petang itu. Karena sebagian kursi yang tersedia sudah penuh, saya memilih duduk agak di belakang sehingga kurang bisa menyimak dengan jelas materi perbincangan Winna dan Michan. Lalu, Michan memberi kesempatan kepada pengunjung untuk bertanya. Beberapa tampak antusias mengacungkan jari, termasuk saya.


Saya bertanya soal kemungkinan Winna menulis novel bertema hubungan yang lebih seius, dalam bingkai pernikahan misalnya (dijawab: mungkin saja, toh Winna pun sudah merasai kehidupan pernikahan) dan soal apakah Winna tertarik menulis novel berseri (kalau tidak salah, Winna bilang belum kepikiran, dan ketika Michan memancing pengunjung dengan bertanya apakah mau Winna menulis novel berseri, sebagian besar dari mereka menjawab 'mau', termasuk saya).

Setelah sesi tanya jawab dan seremoni perilisan Tomodachi, dilanjutkan jeda istirahat seraya menunggu waktu berbuka puasa (azan magrib) tiba. Dan, ketika akhirnya sayup-sayup suara azan bergema dari televisi restoran, kami segera menyantap hidangan berbuka puasa yang telah disajikan. Alhamdulillah... bukan sushi.


Selepas menyantap hidangan buka puasa, acara dilanjutkan dengan pembacaan calon novel Winna berikutnya. Dan, ya ampun, Tomodachi saja baru akan beredar, Winna sudah punya calon novel baru lagi? Wow...dan, pemirsah, nggak hanya satu tapi duaaaaaaa (lantunkan ala iklan Sarimi isi dua)...calon novelnya, lho. Namun, pada kesempatan kali ini, Winna membacakan sepenggal bagian dari salah satunya. Saya sempat merekam (video) ketika Winna membacakannya, namun tidak full sampai Winna selesai membaca, maaf. Silakan disimak di sini:



Di pengujung acara, dilakukan foto bersama dan mengantre untuk tanda tangan novel Tomodachi. Well, itu mungkin yang bisa saya tulis soal keseluruhan acara pre-launch novel Tomodachi by Winna Efendi kemarin. Tentu saja, karena efek terlambat maka beberapa detail di awal acara tidak bisa saya ulas di sini. Semoga nanti ada dari Winna, Gagas, atau teman pengunjung yang lain bisa menceritakannya.

Sekali lagi selamat untuk Winna Efendi atas kelahiran 'baby' imutnya yang baru, Tomodachi. Semoga bisa menginspirasi, disukai pembaca Indonesia, dan laris manis. Ditunggu karya-karya berikutnya yaaa....


 


Selintas soal Tomodachi (sinopsis dari goodreads.com).
Tomodachi merupakan novel rilisan kedua setelah Chemistry by al Dhimas di proyek terbaru GagasMedia: S.C.H.O.O.L. = Seven Complicated Hours of Our Life.

Pernahkah kau bertemu seorang perempuan yang tak pernah lelah menyalakan harap di hatinya? Dalam Tomodachi, kau akan bertemu perempuan itu. Perempuan biasa, tetapi punya harap luar biasa. Baginya, berlari dan menemukan garis akhir adalah sebuah keharusan. Tidak akan ada kata menyerah.

Pernahkah kau memiliki seseorang yang selalu bisa menghapus cerita sedihmu? Dalam Tomodachi, kau akan menemukan tangan-tangan yang terikat pada satu kata: sahabat. Mereka yang keberadaannya membuat kau tak lagi merisaukan hari esok yang mungkin masih gelap.

Juga dalam Tomodachi, kau akan bertemu seorang laki-laki yang berlari dengan sepasang sayap. Yang selalu mengejar garis akhir, tetapi tak pernah ragu untuk diam sejenak menunggu.

Tomodachi dipersembahkan untukmu yang sedang melewati masa-masa pahit-manis dalam cinta dan persahabatan. Juga untuk setiap orang yang pernah melewati dan merindukannya.

Selamat menyusuri kisahnya.

—Editor S.C.H.O.O.L

Intip first chapter dari novel ini di blog resmi Winna di sini: http://winna-efendi.blogspot.com

Monday, July 7, 2014

[Resensi Novel Teenlit] Jurnal Jo 3: Episode Cinta by Ken Terate


LAWAN Bullying!!!

Sinopsis:
Wah, ada cowok baru di kelas Jo Wilisgiri: Izzy. Izzy bukan sekadar cowok, tapi selebriti! Cakep, terkenal, lucu, perfect! Semua cewek dibuat “demam” olehnya, termasuk Jo. Tapi masalahnya Jo nggak boleh “demam” gara-gara cowok lain karena dia sudah punya Rajiv yang ganteng dan baik hati.

Seiring waktu Jo sadar si cowok selebriti itu ternyata jail luar biasa. Sebut saja: menciptakan berbagai olok-olok ajaib sampai mengerek baju renang di tiang bendera. Hm, awalnya lucu sih, tapi lama-lama kok norak ya. Apalagi kalau kamu yang dikerjain. Please deh, lucunya di mana sih?

Parahnya, Sally—sahabat sejati Jo yang sangat memuja Izzy—justru dikerjai oleh Izzy sampai masa depannya terancam suram. Jo pengin menyelamatkannya, tapi Sally justru marah dan memusuhinya. Nabila, sahabat Jo yang lain, juga dikerjai tapi mati-matian melarang Jo buat mengadu.

Aduh, masalah seolah tak ada habisnya. Hubungan Jo dengan Rajiv gonjang-ganjing karena Mama melarang Jo pacaran. Selain itu ada proyek besar semester ini: bikin laporan soal kelestarian sungai. Gawat! Dalam proyek ini Jo sekelompok dengan Izzy dan Sally. Bisa-bisa Jo bakal nggak dapat nilai.

Puncaknya: Rajiv, satu-satunya sahabat waras Jo, harus kuliah di Amerika.

Wow! Benar-benar semester yang gila untuk Jo. Berantakan, galau, kacau-balau, tapi tetap seru, lucu, dan penuh cinta!

Judul: Jurnal Jo 3 - Episode Cinta
Pengarang: Ken Terate
Ilustrator kover: Erick E. Pramono
Penerbit: Gramedia
Tebal: 240 hlm
Rilis: Juni 2014
Harga: Rp50.000
ISBN: 978-602-03-0569-1

Asli, membaca karya-karya Ken Terate selalu mengaduk-aduk perasaan. Kesal, haru, bahagia, sedih, geregetan, semua jadi satu. Di satu bagian saya bisa cekikikan nggak keruan, di bagian lain saya akan mengelus dada sangking ikut terlarut dalam kisahnya.Singkat kata, Ken berhasil mempermainkan emosi saya selama proses pembacaan buku-bukunya. Tak terkecuali novel teenlit terbarunya yang merupakan buku ketiga dari serial Jurnal Jo yang ditulisnya, Jurnal Jo 3: Episode Cinta.

Masih tentang kehidupan Jo di masa pendidikan SMP-nya. Tahun ini ia sudah menjadi siswa kelas delapan dengan segala pernik kehidupan khas ABG tanggung. Jika di buku sebelumnya kehidupan Jo berwarna karena hadirnya gadget dan kehebohan seputar dunia maya, di buku ketiga ini Jo mulai disibukkan dengan urusan hati. Cinta monyet mulai menjangkiti jiwa remajanya. Cinta yang ternyata membuatnya demam dan salah tingkah.


Bagi saya, selain gaya menulisnya yang asyik dan bikin nagih, Ken Terate selalu tampil beda dari segi cerita. Iya, sih, tema anti-bullying memang bukan lagi tema baru. Beberapa novel lokal sudah mengangkat isu ini, tapi tetap saja, ini menjadi satu hal menarik yang dibahas sebagai konflik utama dalam novel ini, di luar konflik tentang cinta monyet ala remaja SMP.

Karakterisasi yang kuat membuat saya mudah terhanyut dalam plot yang disusun Ken. Sebagai tokoh utama, sejak awal tentu saja hati saya sudah condong untuk menyukai Jo, tapi dengan keterampilan yang begitu apik, Ken menghidupkan Jo ini dengan segala kelebihan dan kekurangan yang sangat manusiawi, yang terus-menerus membuat saya gemas. Ada kalanya saya sampai mengumpat pelan, memaki Jo "bego" ketika Jo berbuat ini dan itu yang tak sesuai dengan pendapat saya. Misalnya, Jo yang tak melawan langsung ketika ia diganggu Izzy. Atau, ketika Jo masih tetap melunak meskipun Sally atau Nadine mengolok-oloknya. Tapi, lalu saya bertanya pada diri sendiri, "Memangnya, waktu aku SMP aku berani ngelawan balik pas di-bully?" dan saya mengernyitkan dahi sebelum menggeleng kecil. Iya, sepertinya saya pun bersikap seperti Jo. Sebagai korban bullying saya cenderung "keep calm and be a champion". Maksudnya, peduli setan saya diganggu, yang penting saya tetap juara kelas di bidang akademik.

Secara singkat, buku ketiga dari serial Jo ini dibuka dengan konflik soal urusan desiran hatinya pada Rajiv, tetangganya yang kini sudah masuk SMA. Kalau hanya cinta monyet biasa mungkin masalah tak akan jadi rumit, namun cinta pertama Jo ini bukan cinta biasa. Pikiran Jo sudah mesti ruwet karena Rajiv yang berbeda dengan dirinya, beda suku-beda agama. Agak aneh memang, anak SMP sudah berpikir sampai sejauh itu, tapi bisa jadi di zaman seperti ini, kan? Kedewasaan sudah mulai menelusup tiga atau empat tahun lebih cepat dibanding masa remaja saya dulu, sepertinya.

Konflik seputar bullying muncul bersama dengan hadirnya tokoh baru, Izzy--cowok cakep pindahan dari Jakarta yang langsung ngetop tapi hobi bikin onar. Masuknya Izzy ke SMP-nya Jo ini membawa banyak masalah baru, baik di sekolah maupun yang berkaitan dengan hubungan Jo dan teman-teman dekat Jo selama ini. Semua itu dikemas dengan mulus oleh Ken menjadi drama-remaja-SMP yang tak membosankan. Well, pernik-perniknya sih biasa: tugas kelompok yang berantakan, teman yang akhirnya musuhan, campur tangan orang tua, tapi kesemuanya dibuat sedemikian wajar, sehingga enak dibaca.

Dan, saya menyukai pengemasan/layout novel ini. Terdapat subjudul di tiap chapter-nya yang juga membuatnya berbeda dari novel kebanyakan. Feel membaca saya menjadi lebih hidup. Begini contohnya:


Unsur kenikmatan novel ini memang sebagian besar terletak pada gaya menulis Ken yang mengesankan. Diksi oke, hiperbola tak lebai, sindiran yang tepat sasaran, hingga kalimat-kalimat #jleb yang serba ceplas-ceplos. Meskipun demikian, tak jarang saya menyuarakan ketidaksetujuan kepada Ken menggunakan beberapa frasa yang menurut saya terlalu kasar, misalnya ketika Jo menyebut ibunya sendiri "dodol" dan ayahnya "dudul" (hlm 120). Saya sadar ini bukan buku budi pekerti, dan saya pun sadar yang seperti itu bisa saja benar-benar terjadi, tapi menurut pendapat saya yang berpedoman bahwa buku bisa menjadi guru yang mengajarkan hal-hal baik, seyogianya kata-kata menjurus kasar itu diganti dengan yang lebih halus/elegan.

Beberapa typo masih ditemukan, sebagian cukup mengganggu misalnya:
(hlm 174) Kok aku bila lambat banget sih? = bila itu semestinya "bisa".
(hlm 232) peritistiwa = peristiwa

Sebagian besar, saya suka semua kalimat-kalimat buatan Ken Terate. Sungguh mencerahkan untuk yang membaca dan makin #jleb lagi karena ini tokohnya SMP hingga menyentil ego saya, "Ini anak SMP lho, masak kamu kalah sama anak SMP, sih."

Ketika Jo mulai gelisah karena perbedaan suku dan agamanya dengan Rajiv, cowok itu menasihatinya soal betapa membosankannya dunia jika semua hal sama (hlm 84):
Coba ya bayangkan kalau semua orang di dunia ini sama. Sama hobinya, sama makanannya, sama rumahnya. Eh, kamu ke Padang makan gudeg, ke China makan gudeg, ke Amerika gudeg lagi. Nggak seru!

Kalimat ini bikin nyesss (hlm 160)
"Karena bila hubungan ini membuatmu sedih, itu bukan cinta," kata Rajiv.

Yang ini juga, di adegan ketika Jo memberikan syal musim dingin untuk Rajiv dan cowok itu begitu bahagia menerimanya (hlm 229)
Betapa memberi ternyata bisa menyenangkan, bahkan bagi yang memberi.

Yang ini bikin saya keki. Kapan saya punya istri yang bisa saya taburi kalimat seromantis ini. Hikz. (hlm 230)
Jo: Dan salju, Raj. Kamu akan melihat salju. Aku hanya bisa melihat salju di freezer.
Rajiv: Aku lebih suka melihat salju di freezer, asal bersamamu.

Di bagian lain, Ken juga menyelipkan kalimat-kalimat bernada optimis yang menurut saya sangat bagus untuk memotivasi semua pembaca, tak hanya para remaja yang menjadi target pembaca novel ini. Misalnya tentang memilih tema untuk tugas sekolah yang paling dekat dengan kehidupan sendiri sehingga lebih bisa diresapi (hlm 168) atau soal menjadi pendengar yang baik bagi sahabat (hlm 201) atau kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan-kekurangan dan jalan hidup masing-masing (hlm 215).

Saya selalu mengasosiasikan Jo sebagai seorang pembelajar yang masih banyak 'belum-tahu'nya, bahkan untuk beberapa istilah umum. Sangat manusiawi, menurut saya, toh ia masih SMP, kan? Namun menjadi agak sedikit tak masuk akal ketika ia justru tahu tentang Glee, serial televisi remaja laris Amerika, mengingat Glee sendiri tidak tayang di stasiun televisi Indonesia dan Jo digambarkan memiliki keterbatasan soal akses internet maupun televisi berbayar, jadi saya merasa agak miss di bagian ini (hlm 66).

Pada akhirnya, saya tetap merasa puas banget membaca novel teenlit terbaru Ken ini. Saya yang sudah ngefans gaya menulis Ken sejak novel debutnya tak pernah merasa rugi meluangkan waktu untuk merunut kata demi kata yang dirangkainya. Untuk itu saya sangat merekomendasikan buat para pembaca setia novel teenlit atau yang masih ragu tapi ingin mencoba-baca novel bergenre teenlit untuk mencicipi racikan Ken Terate ini.

Selamat membaca, kawan!

My rating: 4,5 out of 5 star.

Tuesday, April 22, 2014

[Resensi Novel Remaja] Diary Princesa by Swistien Kustantyana (+ GIVEAWAY voucher belanja Gramediana)



[Catatan: demi independensi, buku yang diresensi di blog ini dibeli sendiri oleh peresensi]

Every cloud has a silver lining…

"Menurutmu kenapa Aksel menyukaiku?" aku melemparkan pertanyaan cheesy kepada Sisil. Sisil tertawa. "Kamu ingin mendengarkan pujian terus ya hari ini? Tentu saja karena Princesa itu cantik, pintar, dan baik hati."

Aku tertawa mendengar jawabannya. Seandainya saja Sisil tahu, aku mengharapkan jawaban lain kenapa Aksel menyukaiku. Jawaban yang tidak standar. Seperti jawaban milik Nathan.

Princesa atau akrab dipanggil Cesa adalah cewek yang penuh percaya diri. Dia tahu kalau dia itu cantik, pintar, populer, dan banyak yang naksir. Cesa bisa saja memilih cowok mana pun untuk dijadikan pacar, enggak bakal ada yang nolak deh! Kecuali cowok yang satu itu. Cowok yang menjadi sahabat kakaknya, Jinan. cowok yang Cesa tahu menyimpan rasa hanya untuk kakaknya.
Pengarang: Swistien Kustantyana
Penyunting: Laras Sukmaningtyas
Perancang sampul: Neelam Naden & Aldy Akbar
Penerbit: Ice Cube (KPG)
Tebal: 260hlm
Harga: Rp44.000
Rilis: Februari 2014
ISBN: 978-979-91-0679-7

Selalu menyenangkan membaca novel yang di dalamnya juga banyak menyebut atau menceritakan tentang novel/buku lain. Tentu, lebih mudah terhubung dengan mood baca jika ternyata buku-buku yang disebut itu sama dengan buku yang pernah saya baca. Atau sebaliknya, jika buku-buku yang disebut di buku belum pernah saya baca, bisa jadi referensi untuk mencari buku-buku itu nantinya. Diary Princesa ini juga banyak menyebut judul-judul buku populer, sehubungan dengan salah satu tokohnya, Jinan, yang memang gemar membaca.

Jujur saja, jika tidak ada rekomendasi dari teman lain saya mungkin tak berniat mencomot apalagi membaca buku ini. Timbunan buku yang mengantre untuk dibaca di kosan masih banyakkkk, dari penulis yang sudah saya kenal dan saya favoritkan. Jadi, agak gambling juga ketika memutuskan membaca novel ini alih-alih membaca novel lain.

Maka, saya membaca Diary Princesa ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Saya hanya ingin bersenang-senang. Dan, syukurlah, buku ini cukup menyenangkan. Tolok ukur pertama dari buku penulis yang baru saya kenal, DIKSI. Oke, saya suka diksinya. Beberapa kalimatnya quotable dan sebagian besar lainnya mengalir mulus, menggulirkan plot yang dibangun oleh Swistien. Tolok ukur kedua: KARAKTER. Well, mungkin dengan pondasi kuat bahwa Swistien hendak mengangkat isu  bipolar disorder sehingga tokoh-tokohnya hidup dengan begitu kuat, meskipun (entah karena saya lalai atau apa), saya tak mendapati citra yang begitu jelas tentang tokoh Jinan yang dikisahkan mengalami gangguan itu. Sayangnya lagi saya belum membaca atau menonton film The Silver Linings Playbook yang menjadi inspirasi Swistien dalam menulis Diary Princesa ini.


  
Untuk ceritanya sendiri, karena mengangkat isu gangguan mental itu, saya cukup bisa menikmati kelabilan beberapa tokoh dan adegan  yang dibuat untuk memperkuat karakternya. Terkadang saya geregetan ketika Cesa atau Jinan atau Nathan atau Aksel melakukan atau tidak melakukan sesuatu, yang menurut saya tak semestinya. Well, ini pertanda saya tersedot dalam ceritanya. Dengan judul mentereng, DIARY Princesa, plus gaya menulisnya dari sudut pandang orang pertama yang berkesan curhat, mungkin akan lebih catchy lagi kalau bentuknya benar-benar seperti buku harian. Bahkan, novel ini pun tak disemati keterangan waktu, lazimnya buku catatan harian/kronologi kejadian. Entah sih, kalau tim editing/layouting atau pengarangnya sendiri merasa terlalu mainstreamatau membosankan jika dibikin selayaknya buku harian, tapi untuk saya pribadi dengan kondisi seperti ini sih saya lebih suka bentuknya benar-benar mirip buku harian. Bakal lebih ekspresif dan emosional, kayaknya.

Dengan latar belakang Cesa yang masih SMA, bolehlah saya bilang novel ini masuk kategori teenlit, apalagi adegan dewasa muda-nya masih terbatas. Lagi-lagi, entah saya lalai atau bagaimana, saya kurang masuk dalam latar belakang kehidupan keluarga Cesa-Jinan. Ketika hubungan kakak beradik ini begitu lekatnya, keluarganya digambarkan agak sedikit bermasalah. Sejak awal saya mencoba mencari benang merah mengapa kedua orangtuanya menjadi tidak akur begitu. Hmm, di sini saya agak tidak sabar hingga tak memperhatikan detailnya, sampai akhir saya gagal paham, fufufu.

gambar dari sini
Novel ini punya dua warna kontras yang menyatu dengan baik. Cesa yang bisa dibilang anak geng populer di sekolah, modis, cantik, banyak penggemar, memiliki kehidupan glamor khas ratu geng anak sekolahan. Plus, stereotip tak suka baca buku. Di sisi lain, ada Jinan dengan gangguan yang dialaminya dan segala keanehannya menjadikannya cewek yang jutek dan dingin serta penikmat buku tulen, bahkan cenderung gampang terobsesi sama buku. Paling menarik tentu kehadiran Nathan dan Aksel di tengah-tengah kakak beradik ini. Dua cowok ini berhasil menjadi ornamen yang pas untuk meramaikan kisah keduanya.

Meskipun tidak secara utuh, tapi saya menyukai kovernya. Porsi terbesarnya sih karena gambar ilustrasi setumpuk buku dengan punggungnya tersemat judul-judul buku yang saya kenal: The Kite Runner (Khaled Hosseini), All-American Girl (Meg Cabot), The Silver Linings Playbook (Matthew Quick), jadinya saya suka. Hanya tone warnanya yang cenderung gelap membuat saya agak mengernyitkan dahi, entah kenapa.

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini. Debut yang menarik dari Swistien. Menghadirkan kisah remaja yang tak biasa. Memang tak orisinal, namun mampu memberi warna lain di dunia perbukuan remaja tanah air. Kelemahan mendasar novel ini ada di cetakannya yang masih cukup banyak ditemukan typo dan inkonsistensi penggunaan suatu kata/istilah. Buat saya itu memengaruhi mood baca, meskipun tidak mengganggu esensi ceritanya.

Good job, Swistien. Ditunggu karya-karya berikutnya. Kali ini 3,5 bintang untuk curahan hati yang begitu kompleks dari Princesa tentang Jinan.

Selamat membaca, tweemans.

Giveaway:
Kabar gembira buat tweemans yang juga penasaran dan pengin baca novel ini juga. Ada satu eksemplar Diary Princesa bertanda tangan penulisnya plus voucher belanja buku digital di www.gramediana.com senilai Rp10.000 buat yang beruntung, persembahan dari Swistien Kustantyana. Yaayyyyyy….

Cara ikutan giveaway-nya gampang banget, kok. Cukup tinggalkan komentar kamu di kolom komentar di bawah reviu ini tentang, “Misalnya kamu punya kakak (lelaki/perempuan) yang mengalami bipolar disorder dan dia ternyata disukai gebetanmu, kamu bakal gimana? Merelakan si gebetan jadian sama kakakmu atau berjuang agar si gebetan lebih memilihmu?” 

skrinsut dari wikipedia

Sertakan ID twitter atau alamat e-mail di bawah komentar kamu, sebagai media menghubungimu jika kamu terpilih sebagai yang beruntung mendapatkan hadiahnya. Giveaway diselenggarakan mulai hari ini, Selasa (22 April 2014) s.d. Sabtu (26 April 2014) pukul 23.59 WIB. Pengumuman pemenang pada hari Minggu (27 April 2014).