Friday, December 16, 2016

[Book Event] BBI Jabodetabek: MARKITUKA!


Ini wishlist saya!


Yeah, tanpa banyak capcus, tiga buku itulah yang paling kepingin saya punya dan baca secepatnya. No specific reasons. Lagi kebelet aja, sih. Namun, kalau ditanya mana yang paling-paling dipingini segera dibaca, saya urutkan begini: P.S. I Like You, The Wrath and The Dawn, dan Asa Ayuni. Nah, buat giver saya di mana pun kamu berada, seandainya diperkenankan,, bolehlah ini kamu pertimbangkan pas milih buku yang bakal kamu kirim ke saya. Ya, ya, ya? Hahaha. But, semua balik ke giver saya tersayang, kok. Apa pun yang akhirnya kamu kirimkan (ketiga-tiganya juga boleh, hahaha), akan saya terima dengan lapang dada dan hati berbunga-bunga. #halah

Oiya, buat rekan lain yang penasaran apa itu MARKITUKA. Well, markituka merupakan akronim dari mari kita tukar kado, satu event 'lokal' dari teman-teman grup WhatsApp BBI area Jabodetabek. Siapa pencetus, latar belakang, et setra-et setra saya enggak tahu, hahaha. Yang jelas ketika pada satu kesempatan saya baca dan nimbrung topik perbincangan panas di grup muncullah wacana markituka itu. Sama seperti kebanyakan orang, saya pun bertanya, "Markituka apaan, sih?", lalu dijelaskan secara singkat seperti yang saya jelaskan tadi. Dan, saya tak bertanya lebih jauh lagi, saya langsung menerima tawaran untuk ikut-serta (dengan iming-iming catatan: enggak harus di-review kok bukunya, hehehe).

Aturan dasarnya simpel saja: Batas harga kado adalah Rp50 ribu - Rp150 ribu (boleh lebih); Unggah wishlist di blog atau akun goodreads (saat ini sedang saya lakukan), batas post wishlist 17 Desember (BESOK! Omagat!); Batas akhir kirim kado 15 Januari 2017; Tebak giver pengirim kado secara serentak tanggal 31 Januari 2017. Exciting, right?

Jadi, kuy... MARI KITA TUKAR KADO!

Tuesday, October 18, 2016

[Resensi Novel Romance] Last Forever by Windry Ramadhina


First line:
Dia menyelinap turun dari tempat tidur.

“Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.” — Samuel

“Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?” — Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?
Goodreads:

Judul: Last Forever
Pengarang: Windry Ramadhina
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 378 halaman
Rilis: 20 Oktober 2015
ISBN: 9789797808433
Rating: 2,5 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Sebagaimana telah dinyatakan dengan cukup jelas di sinopsis (blurb)-nya, Last Forever berkisah tentang dua tokoh antikomitmen yang justru harus tunduk pada komitmen. Dalam perjalanannya, konflik ini dibumbui perang batin masing-masing (terutama menyangkut prinsip hidup dan karier) ditambah kisah hidup orang terdekat mereka yang sedikit-banyak memberi pengaruh bagi pengambilan keputusan.

Namun, ya, begitu saja. Tak seperti Memori atau Interlude atau Walking After You atau London: Angel yang memberi kesan begitu mendalam dan kompleks, Last Forever selesai begitu saja. Hampir tak ada rasa yang membekas ketika saya membalik halaman terakhirnya. Bahkan, ending-nya pun terasa... ya, begitu saja. Tidak ada ledakan yang mengejutkan. Tidak ada lelehan manis yang memabukkan. Entahlah, kali ini saya dicukupkan hanya pada kenikmatan diksi racikan Windry Ramadhina yang, seperti biasa, demikian indah.


meet cute:
Kedua tokoh utama sudah saling mengenal sehingga tak ada adegan perkenalan bernuansa romantis, paling hanya ketika salah satu tokoh membuka lembar ingatan saat mereka kali pertama bertemu dalam sebuah event di Cannes.

plot, setting, dan karakter:
Last Forever beralur maju, dengan beberapa bagian para tokohnya memutar kenangan masa lalu dalam rangka pengembangan konflik atau penguatan karakternya.

Last Forever ber-setting waktu modern (masa kini tanpa penyebutan tahun secara pasti) dengan setting lokasi: Jakarta, Flores, dan Washington. Sebagian besar cerita terjadi di Jakarta tapi Flores adalah lokasi sumber konflik. Oleh karena latar belakang para tokohnya, ada sedikit gaya penceritaan kisah perjalanan (traveling) di lokasi-lokasi tersebut.

sumber: travel.kompas
Tokoh utamanya adalah Lana dan Samuel Hardi. Keduanya sama-sama pekerja seni, lebih tepatnya pembuat film dokumenter. Lana adalah kru National Geographic yang berkantor di Washington sedangkan Samuel Hardi adalah pemilik studio film Hardi di Jakarta yang kerap jadi langganan partner Nat Geo. Lana adalah tipe easy going, supel, ramah, tapi juga ambisius. Samuel justru kebalikannya: kaku, dingin, perfeksionis, sekaligus playboy. Keduanya memiliki persamaan: antikomitmen dan tak percaya pada institusi pernikahan. Di sekitar keduanya ada Pat (rekan kerja Lana di NatGeo), Rayyi (kolega Samuel), Ruruh Rahayu (ibu Lana), William Hart (ayah Lana), Nora (asisten pribadi Samuel), dan beberapa tokoh pendukung lainnya.

konflik:
Well, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, konfliknya cuma satu: perang batin dua tokoh antikomitmen. Lana dan Samuel digambarkan sebagai dua pekerja kekinian yang hampir-hampir tak lagi terikat adat ketimuran. Keduanya memilih berhubungan tanpa status, tanpa komitmen, dan mungkin (awalnya) tanpa cinta.

Ini juga yang membuat saya agak terganggu selama proses pembacaan. Tumben banget, Windry membuat tokohnya sedemikian bebas. Pun, orang-orang di sekitar mereka seolah-olah mengamini dan mendukung mereka. Hanya ibu Lana saja yang sepertinya berkeberatan meskipun hanya sejenak. Namun, ini murni preferensi pribadi saya saja. Mungkin saya kolot, mungkin saya tidak open-minded, hanya saja saya selalu dan terus berharap para pengarang tetap berupaya mengampanyekan hal-hal baik, minimal yang telah disepakati secara umum.

Bumbu konflik utama minim sekali. Poros bumi sepertinya hanya berpusar pada Lana-Samuel. Sumbangan subplot yang paling terasa hanya pada rahasia kehidupan pernikahan orangtua Lana. Selebihnya hanya remahan yang melingkupi tarik ulur antara Lana dan Samuel. Karenanya saya sampai membaca-cepat alias skimming dengan melewati banyak bagiannya. Entahlah, apakah ada hal penting yang akhirnya tak tertangkap radar baca saya, tapi saya rasa tidak.

ending:


catatan:
Sebagai seseorang yang bercita-cita bisa menulis dan menerbitkan buku sendiri, saya menyukai gaya menulis Windry yang tak berlagak serbatahu. Contohnya: Windry tak pernah menarasikan sesuatu yang belum terdefinisikan lewat jalan tengah seperti ketika menggambarkan warna sesuatu: kehitam-hitaman, kecokelatan, keemasan, dan sebagainya alih-alih langsung menyebut: berwarna hitam, cokelat, atau emas.

kesimpulan:
So far, Last Forever menjadi novel Windry yang paling tidak saya favoritkan, menyusul kemudian Orange. Biasanya selalu ada kesan mendalam selepas membaca karya-karya Windry, tapi saya tak mendapatinya kali ini. Selama proses pembacaan saya hanya merasa datar-datar saja. Karakter yang coba dibangun pun hanya sanggup bertahan sampai pertengahan, setelahnya tak bisa membuat saya bersimpati kepada keduanya. Pat dan Rayyi mungkin menyumbang poin untuk novel ini, tapi saya justru kepincut sama Nora. Asisten Samuel ini benar-benar menyenangkan, tampak tanpa beban, dan sepertinya bisa menaklukkan siapa saja yang dihadapinya. Maka, kali ini saya hanya menyematkan 2,5 bintang dari skala 1-5, dengan poin besar untuk diksi menawan khas Windry.

Kini, tinggal menunggu Angel in the Rain. Saya (lumayan) suka London: Angel dan berharap bisa kembali tak hanya menyukai diksinya saja tapi juga sekaligus cerita racikan Windry. Semoga! Selamat membaca, tweemans.


end line:
Bertiga, mereka melewatkan pagi.

Sunday, October 16, 2016

Murah mana: Big Bad Wolf Surabaya vs Big Bad Wolf Kuala Lumpur?


Wowsaaa… enggak sampai harus berganti tahun, panitia Big Bad Wolf (BBW) book sale akhirnya kembali menggelar pameran sekaligus penjualan buku-buku impor nan murah-meriah di Indonesia. Setelah April-Mei 2016 lalu ada di ICE-BSD, Tangerang Selatan, Oktober ini BBW book sale diadakan di Surabaya! Tuh, kan, panitia BBW pasti ketagihan menggelar book sale lagi setelah melihat animo pengunjung book sale yang di BSD kemarin itu.


Omong-omong, sebenarnya semurah apa sih buku-buku yang dijual di BBW book sale? Sekiranya dibandingkan sama yang dijual di book sale aslinya di Malaysia (Kuala Lumpur) sana, lebih murah mana, ya? Iseng-iseng saya kok ya, kepingin bikin perbandingan. Dan, beginilah perbandingan menurut versi saya.

Variabel harga:
1.       Tiket pesawat: PP Jakarta – Surabaya Rp1.200.000; PP Jakarta – Kuala Lumpur = Rp1.600.000;
2.       Penginapan (asumsi 2 malam 2 hari): Surabaya = Rp400.000; Kuala Lumpur = Rp450.000;
3.       Ongkos taksi ke dan dari Bandara Soekarno Hatta diabaikan karena sama saja.
4.       Kendaraan di tempat tujuan: Surabaya (PP bus bandara = Rp50.000, bus kota 2 hari = Rp20.000); Kuala Lumpur (PP KLIA express = Rp350.000, KTM 2 hari = Rp14.000)
5.       Untuk urusan makan dan minum juga diabaikan, ya, toh kebutuhan pokok, kan?
6.       Harga buku: di Indonesia, rerata Rp70.000; di Malaysia (RM1 = Rp3.500), rerata RM7 = Rp24.500. Asumsi bagasi pesawat gratis 20kg terisi buku, semua kurang lebih 60 eksemplar (abaikan tebal-tipis odd-regular size), maka total belanjaan buku: Surabaya = 60 x Rp70.000 = Rp4.200.000; Kuala Lumpur = 60 x Rp24.500 = 1.470.000;
7.       Jadi, total pengeluaran: Surabaya = Rp5.870.000; Kuala Lumpur = Rp3.884.000.

Nah, dari rincian kasar berdasar beragam asumsi di atas, terdapat selisih hampir Rp2 juta lebih banyak yang harus saya keluarkan jika saya memutuskan untuk berwisata buku ke Surabaya. Dan, karena saya warga Jawa Timur yang sudah beberapa kali menjelajahi Surabaya sepertinya bonus wisata kotanya pun tak seseru bonus wisata kota Kuala Lumpur.

Well, sekali lagi ini hanya iseng belaka. Sebenarnya, sih, untuk meredam rasa penasaran dan keinginan nekat berwisata buku pas BBW book sale Surabaya 2016. Jadi, buat saya, sudah yakin dan ikhlas akan melewatkan keseruan berbelanja sembari menimbun buku di BBW Surabaya ini. Namun, buat tweemans yang super-duper-penasaran atau kebetulan berdomisili dekat dengan Surabaya, ya sayang juga jika melewatkan keseruan BBW ini. Belum tentu bakal ada lagi nanti-nanti, kan?

Kamu, gimana?

Saturday, May 7, 2016

[Wisata Buku] Akhirnya Big Bad Wolf book sale digelar di Indonesia


Demam Big Bad Wolf book sale sudah saya rasakan jauh-jauh hari. Yang saya tahu, book sale yang satu ini aslinya digelar di Malaysia, berpindah-pindah negara bagian, enggak hanya di Kuala Lumpur saja. Puji Tuhan, saya memiliki beberapa kesempatan untuk mengunjunginya. Dua kali di Kuala Lumpur, satu kali di Penang, dan satu lagi di Negeri Sembilan (Seremban). [Kunjungan pertama saya share di sini] Well, enggak selalu bikin puas sih, tapi saya menikmati setiap kunjungan. Dan, dalam setiap kunjungan itu, saya selalu membayangkan bagaimana jika suatu saat Big Bad Wolf juga menggelar book sale di Indonesia, ya?


Dan... taraaa.... Enggak harus menunggu lama (bahkan enggak ada setahun dari kunjungan terakhir saya di Seremban), Big Bad Wolf benar-benar menggelar event penjualan buku di Indonesia. Bertajuk The Big Bad Wolf book sale in Jakarta, event ini justru dilaksanakan di International Convention Center, Bumi Serpong Damai (ICE-BSD) di Tangerang Selatan, bukannya di Jakarta, mulai tanggal 30 April s.d. 8 Mei 2016. Bahkan, kabarnya diperpanjang sampai dengan... 9 Mei 2016. Yeah, hanya satu hari saja sih diperpanjangnya, hehehe.


Dari dua kali mengunjungi arena Big Bad Wolf Jakarta 2016, saya bisa bilang... man, that was the biggest and the baddest book sale I've ever visited in Indonesia, eh... in Jabodetabek, maksudnya. Damn! Orang Indonesia gitu banget, ya. Seingat saya, di Malaysia saja, untuk bisa masuk ke area pameran enggak perlu antre, loh. Hanya di Big Bad Wolf Jakarta inilah--untuk sekadar masuk (belum tentu berbelanja)--para pengunjung harus antre. Yah, meskipun tidak sampai berjam-jam, tapi tetap saja itu luar biasa, untuk ukuran pameran buku. Kabarnya, jika pihak panitia merasa event perdana di Indonesia ini sukses maka event Big Bad Wolf book sale akan diselenggarakan lagi tahun depan. Bahkan, ada juga kisikan yang bilang setiap enam bulan! Wow! Dan, melihat animo pengunjungnya, saya yakin pihak Big Bad Wolf akan menggelarnya lagi, deh.

Untuk book sale kali ini, syukurlah saya enggak lagi kalap. Saya pun 'hanya' berkunjung dua kali ke sana. Dan, dari dua kali kunjungan itu saya 'hanya' mencomot 12 buku saja. Satu di antaranya buku terjemahan yang juga ikut dipamerkan oleh Penerbit Mizan. Selain harganya yang masih lumayan dan ada orang rumah yang mewanti-wanti untuk enggak belanja banyak *ampun,buistri*, buku-buku inceran--terutama fiksi young adult dan fantasy--tak sebanyak ekspektasi saya. Tumpukan bukunya sih bejibun, tapi yang menarik minat saya tak sebejibun itu. Harapan menemukan nama-nama seperti Katie McGarry, Sarah J. Maas, Sabaa Tahir, John Green, David Levithan, Jennifer Echols, Emery Lord, Morgan Matson, etc, menguap setelah berkeliling beberapa kali dan enggak menjumpainya. Entah memang dari awal enggak ada, atau sudah keduluan dicomot book lover yang lain. Sementara itu, inilah hasil belanjaan saya:

kunjungan pertama: 1 Mei 2016

kunjungan kedua: 5 Mei 2016

Dari semuanya saya paling bersemangat ketika menemukan Landline-nya Rainbow Rowell.

Bermotor ke ICE-BSD

Banyak dari rekan pembaca yang non-mobil pribadi memilih layanan KRL-commuter line atau sewa mobil online semacam Uber dan Grabcar, saya memutuskan bermotor ke ICE BSD. Tentu saja, saya beberapa kali nyasar dulu sebelum berhasil menjangkau arena convention yang biasanya digunakan untuk menggelar pertunjukan musik atau live action itu. Berhubung sama sekali buta soal ICE BSD, saya meminta bantuan Google Maps untuk memberikan petunjuk arah dan memandu saya hingga sampai di ICE-BSD.

Pada kunjungan pertama, saya memilih jalur Pasar Modern Bintaro - Tegal Rotan - Cendrawasih - Aria Putra Raya - Suka Mulya - Mujair Raya - Lele Raya - Beringin Raya - Siliwangi - Ciater Barat Raya - Rawa Buntu - Pelayangan - Boulevard BSD Timur - BSD Grand Boulevard - ICE BSD. Rute ini membuat saya beristighfar terus-menerus sepanjang jalan. Iya sih, jalanannya sedang diperbaiki (ditinggikan dan dibeton, kalau enggak salah), tapi benar-benar kacrut jalannya. Untung saja saya enggak jadi ngajak buistri yang awalnya berniat ikutan. Saya salah pilih rute, sepertinya.


Untuk kunjungan kedua, saya mencoba mencari alternatif rute lain. Well, awalnya saya kapok main ke book sale lagi, teruama karena faktor jalanan yang astaghfirullah itu. Namun, si YiYul (sport camera keluaran Xiaomi milik saya) entah bagaimana, ketinggalan di ICE-BSD, huhuhu. Ada-ada aja, sih. Rute kedua: Pasar Modern Bintaro - Tegal Rotan - Cendrawasih - Aria Putra Raya - Bukit Indah - Serua - Ciater Raya - Letnan Soetopo - Boulevard BSD Timur - BSD Grand Boulevard - ICE BSD. Rute ini jauh-jauh-jauh lebih asyik ketimbang rute pertama. Waktu tempuh juga lebih singkat, kurang lebih satu jam lebih sedikit dibanding rute pertama yang hampir mencapai dua jam!

Jadi, buat yang masih kepingin ke ICE-BSD dengan moda transportasi motor dan dari arah Selatan Jakarta seperti saya, lebih baik pilih rute kedua, deh. Selamat berbelanja, tweemans.

Jepretan beberapa buku yang menurut saya oke:









Wednesday, February 17, 2016

[Fun Games] Aku Cinta Kamu RC - Wrap Up dan Pengumuman Pemenang Tantangannya...


Holla, tweemans. Duh, sudah nungguin hasil rekap sekaligus pengumuman peserta yang berhasil melampaui tantangan dari AKU CINTA KAMU reading challenge yang saya host tahun lalu, ya? Maaf, ya, jadi molor hampir lama banget begini.


Pertama-tama, diucapkan terima kasih buat semua yang sudah mendaftar menjadi peserta tantangan membca versi @fiksimetropop. Di awal tantangan dibuka, terdapat kurang lebih 23 peserta, namun pada akhir periode reading challenge yang berhasil merampungkan tantangannya (dan membuat rekapnya) hanya 6 peserta. Hikz, banyak banget yang enggak nerusin tantangannya, ya. Enggak papa, deh, yang penting semoga tweemans tetap berhasil membaca banyak buku di tahun 2015 kemarin, ya. Enggak seperti saya yang.....uhuk.....malah baca sedikit sekali di tahun lalu.

Aturan main tantangan membacanya telah saya unggah di awal (klik di sini: www.fiksimetropop.com), dengan level tantangan dikategorikan sebagai berikut:
Aku Mengagumimu: 1-10 buku
Aku Menyukaimu: 11-20 buku
Aku Menyayangimu: 21-30 buku
Aku Mencintaimu: 31+ buku
Dan, inilah keenam peserta yang berhasil merampungkan tantangannya:
1. Luckty @ Luckty Si Pustakawin/ @lucktygs/ 61 buku  3. April @ April Silalahi  5. Afifah @ Imaginary Book Corner  
2. Rizky Mirgawati @ Ky's Book Journal  4. Mellisa A @ My Cute Mini Library  6. Dian S - Jejak Langkahku  
Sesuai dengan janji di awal peluncuran reading challenge, maka satu orang tweeman yang beruntung terpilih karena berhasil melampaui level "Aku Mencintaimu: 31+ buku" adalah...

.......selamat untuk Rizky Mirgawati yang berhasil membaca kurang lebih 75 buku sesuai kriteria. Ada voucher belanja buku senilai Rp300.000 untuk kamu. Silakan kirim data dirimu (nama, akun Twitter, dan blog) ke nomor WhatsApp 0812-1939-4808 secepatnya. Ditunggu, ya. Untuk voucher-nya sendiri minimal harus dibelanjakan separuhnya (Rp150.000) dan mohon di-Twitpic foto hasil belanjaannya diserta dengan tagar #AkuCintaKamuRC dan mention @fiksimetropop.

Untuk seluruh peserta reading challenge, tetap semangat yaaaa.... Sampai jumpa di keseruan-keseruan lainnya. Yuk, terus membaca!

Monday, February 15, 2016

[Resensi Novel Romance] Yesterday in Bandung by Rinrin Indrianie, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, dan NR Ristianti



First line:
Lamat, entah dari mana, suara Lennon sampai ke telinga saya.
--Prolog

Yesterday, all my troubles seemed so far away (Yesterday, The Beatles)

Seperti lima nada membentuk satu harmoni lagu, mereka memiliki masalah dan masa lalu yang bersinggungan. Shaki, gadis Palembang dengan masalah korupsi sang ayah. Zain, pemuda desa yang gila harta dan terjebak pergaulan hitam. Tania, gadis riang yang masa lalunya kelam. Dandi, Pemuda tampan yang lari dari bayang-bayang masa lalu. Aline, pemilik kos yang menyimpan banyak misteri.

Hidup di tempat tinggal yang sama membuat mereka menyadari bahwa semua punya cerita di hari kemarin, untuk dibagi di hari ini.

Editor's Note:
Salah satu dari tiga pemenang outline terpilih pada Workshop Novel Februari 2015

Judul: Yesterday in Bandung
Pengarang: Rinrin Indrianie, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, & NR Ristianti
Penyunting: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 260 hlm
Harga: Rp 54.800
Rilis: 6 Januari 2016
ISBN: 978-602-02-7861-2
Rating: 3 out of 5 star
Buku persembahan pengarang, tidak memengaruhi resensi.

ide cerita dan eksekusinya:
Lima tokoh disatukan dalam sebuah frame ber-setting rumah indekos plus salah satunya adalah induk semang mereka. Berbeda latar belakang, berbeda masalah, namun mesti berinteraksi dalam satu lingkungan tempat tinggal yang sama. Idenya bagus. Tentu saja, kalau tidak, tak mungkin menjadi salah satu pemenang outline terpilih Workshop Novel yang diselenggarakan oleh Elex (sepertinya). 

Sayangnya, oleh karena sudut pandang orang pertama yang digunakan pada kelima tokoh utamanya, saya merasai perbedaan besar baik dari gaya menulis maupun kualitas tulisan masing-masing pengarangnya yang gagal nge-blend (meskipun saya tak tahu pasti siapa menulis bagian apa, saya cukup yakin per tokohnya ditulis oleh pengarang yang berbeda). Akibatnya, tak semua tokohnya berhasil dieksekusi dengan baik. Bahkan, beberapa di antaranya terkesan dihidupkan agak terlalu terburu-buru. Hal lain yang patut disayangkan, adanya aura "egoisme" pada masing-masing tokoh sehingga novel ini terkesan menyerupai kumpulan cerita bukannya novel utuh, menurut saya.

sumber: Twitter @Ariestanabirah
meet cute:
Berhubung di dalam novel ini ada 5 tokoh, agak kurang efisien kalau saya tuliskan pertemuan manis masing-masing tokohnya, ya. Jadi, silakan baca sendiri. Setidaknya, yang bisa saya bilang, rumah indekos milik Aline (dan mendiang ibunya) adalah tempat segala rasa (termasuk rasa suka berbumbu asmara) menguar begitu kuat.

plot, setting, dan karakter:
Plot-nya maju-mundur untuk membuka tabir kelam masing-maisng tokohnya. Cerita di masa silam yang membentuk pribadi kelima tokohnya, membutuhkan kita untuk memutar waktu kembali ke masa lalu. Cukup smooth, dengan hampir semua tokohnya mendapat porsi yang pas ketika membeberkan rahasia-rahasia mereka.

Setting waktu modern-masa kini, sedangkan setting lokasi seperti terpakai dalam judulnya, mostly di Bandung, lebih tepatnya lagi di kosan "Pondok Aline". Namun demikian, putaran kenangan masing-masing akan mengembalikan ke tempat asal beberapa tokohnya. Bandung dan Yogyakarta (serta Malang) sepertinya bakalan selalu cocok jadi setting lokasi kisah-kisah romantis yang unforgettable, ya.

Dari segi karakter, sebagaimana telah saya sebutkan di depan, karena menggunakan sudut pandang orang pertama maka kelima tokoh utamanya mendapat porsi sama besar dalam penceritaannya. Singkatnya, silakan baca sinopsis novelnya, ya, hehehe. Sudah tergambar di situ, kok.

Oke, buat saya, Aline adalah tokoh yang paling matang di novel ini, baik dari segi karakter, konflik yang dialami, maupun gaya penulisannya. Setiap bagian Aline bercerita saya selalu terhanyut. Sangat berharap, Aline bisa bertransformasi menjadi satu novel tersendiri. Beneran! Berikutnya saya suka Shaki. Meskipun beberapa kali tampak agak lemah dalam pembangunan karakternya, tapi saya masih bisa menikmatinya dengan enak. Yang standar karakter Dandi, sedangkan karakter Zain dan Tania, too much drama. Entah kenapa saya tak bisa menikmati apa pun dari keduanya, baik dari segi konflik maupun karakternya. Sekali lagi, too much

konflik:
Semua tokoh punya konflik. Berhubung kelimanya tinggal di satu tempat, terkadang konflik dirajut sedemikian rupa sehingga konflik salah satu tokoh bisa jadi subkonflik tokoh lain. Ciamik.

Untuk Shaki, dilekatkan konflik utama tentang perang batinnya demi mendapati ayahnya dituduh koruptor yang kasusnya tengah ditangani KPK. Dari gadis serbapunya, Shaki harus susah payah bertahan hidup di perantauan.
Untuk Zain, mendapat porsi konflik yang kurang lebih sama dengan Shaki, merantau ke Bandung untuk kuliah dengan dibayangi kondisi keluarganya yang sedang terpuruk. Pada satu titik, Zain merasa terpaksa menjual nuraninya untuk takluk dan menjadi budak materi.
Untuk Tania, disematkan masa lalu kelam terkait harga dirinya. Cinta yang terlalu menggebu dan naif membuatnya berantakan, tapi dia berusaha tegar.
Untuk Dandi, memiliki sejarah luka karena cinta yang hingga kini belum terobati. Lambat laun, dia mulai bisa membuka hatinya lagi, namun sepertinya dia akan kembali terluka.
Untuk Aline, diberikan konlik yang serbarumit. Tak hanya soal jomlo di usia tak lagi muda (ada alasannya), namun juga geletar rasa aneh yang semestinya tak pernah ada.

Well, Aline sudah menjerat minat saya dari awal, jadi konflik pada Aline-lah yang membuat saya trenyuh dan berkaca-kaca. DUA jempol!

ending (SPOILER alert!):


catatan:
Novel ini disusun per bab untuk masing-masing tokohnya dengan penyebutan nama tokohnya terlebih dahulu lalu diikuti dengan judul bab serta dilengkapi dengan penggalan lirik lagu dari beragam genre, disesuaikan dengan kesukaan masing-masing tokohnya. Sedangkan lagu Yesterday-nya The Beatles saya perkirakan diambil sebagai bagian dari judul novel ini.



Beberapa judul lagu dan film disebut, sedangkan judul buku The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared (karya Jonas Jonasson) disebut untuk memperkuat karakter Aline.

Untuk typo dan salah format (contoh: harusnya dikursif malah enggak, atau sebaliknya) atau kurang tanda baca masih cukup banyak dan terkadang hanya di bagian-bagian tertentu. Yang unik, setiap bagian Aline kenapa mendekati sempurna, ya? Termasuk dalam urusan typo ini. Hmm, berharap tim editing lebih cermat lagi dalam mengemas naskah ini.

kesimpulan:
Sebagai sebuah karya hasil kolaborasi, novel ini gagal tampil secara utuh, bahkan cenderung terasa seperti kumpulan cerita. Gaya menulis dan ide yang beragam tampak kurang nge-blend, sehingga terkadang terdapat satu bagian yang sangat bagus lalu berubah menjadi sangat kacau di bagian lainnya. Termasuk konflik, dari yang memuaskan sampai dengan yang lebay. Tapi, jempol tetap patut saya acungkan untuk lima kepala yang sudah bersusah payah menggabungkan lima masa lalu yang terbungkus sejuknya hawa Bandung dalam novel dengan sampul didominasi warna merah ini.

Untuk kamu yang pernah atau kepingin tinggal di Bandung dan berharap merasai nuansa Bandung yang ngangenin, silakan comot Yesterday in Bandung ini dan bacalah.

End line:
Meski aku tak tahu bahasa apa yang dia ucapkan tapi instingku memahaminya, "Ya, aku juga."

Monday, January 25, 2016

[Resensi Novel Young Adult] Simon vs the Homo Sapiens Agenda by Becky Arbetalli



First line:
IT'S A WEIRDLY SUBTLE CONVERSATION. I almost don't notice I'm being blackmailed.

Sixteen-year-old and not-so-openly gay Simon Spier prefers to save his drama for the school musical. But when an email falls into the wrong hands, his secret is at risk of being thrust into the spotlight. Now Simon is actually being blackmailed: if he doesn’t play wingman for class clown Martin, his sexual identity will become everyone’s business. Worse, the privacy of Blue, the pen name of the boy he’s been emailing, will be compromised.

With some messy dynamics emerging in his once tight-knit group of friends, and his email correspondence with Blue growing more flirtatious every day, Simon’s junior year has suddenly gotten all kinds of complicated. Now, change-averse Simon has to find a way to step out of his comfort zone before he’s pushed out—without alienating his friends, compromising himself, or fumbling a shot at happiness with the most confusing, adorable guy he’s never met.
 

Judul: Simon vs the Homo Sapiens Agenda
Pengarang: Becky Arbetalli
Penyunting: Donna Bray
Penerbit: HarperCollins
Format: eBook - 303 hlm - bahasa Inggris
Rilis: 7 April 2015
ISBN: 9780062348678
Rating: 3 out of 5 star 

ide cerita dan eksekusinya:
Simon vs the Homo Sapiens Agenda ini tipikal novel LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer) kebanyakan. Premisnya masih seputar konflik lahir-batin seseorang untuk mengakui bahwa orientasi seksualnya berbeda. Atau, dalam dunia LGBTQ disebut dengan coming out moment. Novel ini--seperti tertera di judulnya, berkisah tentang Simon Spier yang maju-mundur (enggak pakai cantik-cantik, ya), untuk mengaku sebagai gay.

Sejatinya tak ada yang istimewa dari novel ini, dibandingkan novel bertema sejenis. Well, saya tetap mengakui bahwa Becky mampu mengalirkan kisah hidup Simon yang berliku dengan kemasan yang menarik. Dijamin, jika sudah membaca, kamu pasti dengan mudah ikut terhanyut. Tapi, sekali lagi, buat saya novel ini tidak terlalu istimewa. Bahkan, jika dibandingkan dengan serial Rainbow Boys-nya Alex Sanchez, saya malah lebih suka Rainbow Boys. Jujur saja, saya membaca novel ini karena hype-nya yang kenceng banget. Bahkan beberapa pemilihan novel terbaik/terfavorit 2015, novel ini masuk dalam banyak nominasi. Namun demikian, saya tetap merasai ikut menebak-nebak siapa tokoh "Blue" yang jadi fantasy-nya Simon sepanjang cerita. Berulang kali saya salah tebak. Huh!


meet cute:
Simon Spier bertemu dengan sosok Blue dalam suasana romantis, untuk kali pertama, adalah di salah satu wahana yang ada di sebuah karnaval malam di kotanya.
There's something in his voice. I turn to him, slowly, and his eyes are wide and brown and totally open.
"It's you," I say.
"I know I'm late," he says.
Then there's a grinding noise and a jolt and a swell of music. Someone shrieks and then laughs, and the ride spins to life.
...dan, saya langsung... oh, dia toh, si Blue itu.

plot, setting, dan karakter:
Novel ini beralur maju, dan sedikit sekali menghadirkan kenangan masa lalu. Hanya obrolan kecil dan ingatan singkat Simon pada kejadian-kejadian khusus yang dianggap memengaruhi kehidupannya sekarang. Terutama ketika dia sedang mengingat persahabatannya dengan beberapa karibnya.

Novel ini ber-setting waktu modern namun sebelum peristiwa #LoveWins yang dideklarasikan Amerika di tahun 2015 lalu. Sedangkan lokasinya, novel ini ber-setting (mostly) di Creekwood High School, SMA tempat Simon dan sebagian besar karakter dalam novel ini bersekolah.

Deretan karakter yang paling banyak berperan dalam novel ini: Simon Spier (karena ditulis dengan menggunakan PoV orang pertama, Simon adalah "aku"), Nick dan Leah (sahabat lelaki dan perempuan Simon yang dikenalnya sejak kecil), Abby (sahabat perempuan yang baru dikenal Simon di SMA), Alice dan Nora (kakak dan adik perempuan Simon), Martin Addison (teman SMA yang memergoki e-mail Simon pada Blue), Cal Price (cowok tampan yang ditaksir Simon), dan beberapa tokoh lainnya.

konflik:
Konflik utama novel ini adalah tentang Simon dan orientasi seksualnya. Pada banyak bagiannya, novel ini ditulis secara bergantian: satu bab berisi narasi Simon dan bab selanjutnya berisi percakapan melalui e-mail antara Simon dan Blue. Di awal, kita disuguhi dilema Simon menghadapi Martin Addison yang mengancam menyebarkan rahasia Simon jika dia tak membantu Martin melaksanakan sesuatu. Well, Becky berhasil membuat saya mencebik sebal dan gemas pada sikap Simon. Mengapa dia tak melawan saja ketika Martin mengancamnya, sih.

Dari situ kita akan dibawa pada banyak narasi dan percakapan e-mail untuk menebak-nebak siapa tokoh Blue. Kisah itu bercampur dengan subplot tentang persahabatan yang turun-naik antara Simon-Leah-Nick-dan-Abby, persiapan hingga pelaksanaan pentas teater, juga keputusan akhir Simon untuk mengakui rahasianya pada orangtua, teman, dan semua orang. Dari sinilah, saya berpendapat, konflik utama novel ini biasa saja. Tak banyak letupan yang bisa mengejutkan.

ending:


catatan:
Judul buku yang ikut disebut dalam novel ini: Harry Potter (Simon adalah pencinta Harry Potter sejati), Fahrenheit 451 (Ray Bradburry) dan beberapa judul lain yang lupa saya tandai. Selain buku, musik dan film juga banyak disebut di novel ini.

Kesimpulan:
Dari segi gaya menulis dan plot yang disajikan, novel ini bisa kamu pilih jika sedang kepingin membaca novel remaja bertema LGBTQ. Plot dan subplot terjalin rapi, meskipun tak banyak kejutan berarti. Sebagai sebuah kisah cinta--errr, sejenis, novel ini tampil manis, cute, dan romantis. Selamat membaca, tweemans.

end line:
But maybe this is a big deal. Maybe it's holy freaking huge awesome deal. Maybe I want it to be.  

Sunday, January 10, 2016

[Resensi Novel Romance] Everlasting by Ayu Gabriel


Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika kamu mencampurkan rasa frustrasi, tidak aman, curiga, bersalah, penasaran, cemburu, khawatir, dan bermacam-macam hormon perempuan di dalam satu wadah? Hasilnya adalah penyimpangan perilaku. Saus kacang!
---Ayu Gabriel, Everlasting.

First line (kalimat pembuka):
Apa sih kebahagiaan itu? Kalau pertanyaan ini diajukan ke seluruh penduduk bumi, boleh jadi kita akan mendapatkan tujuh miliar jawaban berbeda.

Kayla, 22 tahun, jatuh cinta kepada Aidan. Setiap kali Aidan yang punya bokong seksi itu lewat di depannya, Kayla langsung belingsatan. Namun, Kayla tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perasaannya karena Aidan adalah bos di kantornya—usianya lebih tua 11 tahun. Ia hanya bisa mengamati dari jauh secara diam-diam sambil mencatat semua hal tentang Aidan di sebuah buku rahasia.

Dengan bantuan Saphira, sahabat baiknya, Kayla mulai berusaha mendapatkan cinta Aidan. Kayla pun mengubah dirinya menjadi seperti perempuan impian Aidan—mengubah potongan rambutnya, menato tubuhnya, sampai mengubah selera musiknya.

Ketika Kayla sedang berusaha merebut hati bosnya itu, Dylan, cinta pertama Kayla, tiba-tiba muncul. Kayla sebenarnya sudah lupa siapa Dylan karena dia pernah bersumpah untuk tidak mengingatnya lagi semenjak Dylan dan keluarganya pindah dari Jakarta, 10 tahun lalu. Keinginannya terkabul. Ia tidak ingat sama sekali tentang Dylan atau cinta mereka. Dylan pun memutuskan untuk mendapatkan kembali cinta Kayla yang ia yakini masih bersemayam di hati gadis itu kalau saja ia bisa mengingatnya.

Judul: Everlasting
Pengarang: Ayu Gabriel
Penyunting: Herlina P. Dewi
Proofreader: Tikah Kumala
Pewajah sampul: Teguh Santosa
Penerbit: Stiletto Book
Tebal: 323 hlm
Harga: Rp52.000
Rilis: Maret 2014
ISBN: 978-602-7572-25-6
Rating: 3,5 out of 5 star
Buku persembahan dari pengarang, tidak memengaruhi penulisan resensi.

Sebagai pembaca, khususnya pembaca cerewet yang mengukur suka-tak-suka berdasar gaya menulis pengarang, saya sangat bersyukur akhirnya diberikan kesempatan untuk mencicipi-baca novel ini. Gaya menulisnya selera gue banget, sehingga saya tak mengalami banyak masalah dalam membaca Everlasting. Yah, palingan cuman keseringan tertunda karena bawaan M--mood nggak jelas.

ide cerita dan eksekusinya:
Saya nangkapnya lebih ke CLBK--Cinta Lama Bersemi Kembali. Atau, bisa juga masuk kategori cinta-pertama-bertahan-selamanya meski harus bertemu dulu dengan cinta-cinta yang lain. Memang bukan ide baru, tapi yang terpenting Ayu berhasil mengemasnya melalui racikan narasi yang pas serta dialog yang segar, ceplas-ceplos, kocak, dan sekaligus cerdas. Well, ada juga sih adegan sinetron dari tokoh sampingan yang kadar irinya kebangetan, tetapi masih wajar-wajar saja, tidak begitu mengganggu.

Seperti banyak dikeluhkan oleh pembaca lain, saya pun merasai lemahnya eksekusi akhir (ending). Entah trauma, entah amnesia, yang pasti saya pun agak kurang teryakinkan dengan pilihan Ayu untuk mengakhiri kisah dalam novel ini dengan cara seperti itu. Klise dan terlalu mudah.


meet cute:
Kayla yang naksir berat pada Aidan tak digambarkan memiliki momen pertemuan khusus yang bertendensi menghadirkan suasana romantis. Hanya saja, sebagai salah satu bawahan Aidan, Kayla memanfaatkan posisi meja kerjanya untuk selalu bisa (paling tidak) mengamati pergerakan Aidan dan bokong seksinya.

plot, setting, dan karakter:
Secara garis besar, kisah novel ini beralur maju dengan beberapa bagian berupa singgungan kenangan masa silam yang menentukan kejadian di masa kini. Everlasting ber-setting lokasi di Jakarta dan terkadang bergeser ke Bogor, rumah orangtua Kayla. Eh, ada juga setting lokasi di Pantai Sawarna. Sedangkan, setting waktunya modern, di tahun 2000-an.

Tokoh utama novel ini adalah Kayla: seorang creative designer dari perusahaan jasa event organizer yang merancang kegiatan-kegiatan pesanan klien, masih single, usia twenty-something, easy going, dan begitu tergila-gila pada pesona bosnya. Aidan: bos sekaligus love interest dari Kayla, yang digambarkan sangat charming, tampan, berbokong seksi, dan husband material banget. Dylan: teman masa kecil Kayla yang sebenarnya masih menyimpan rasa sekaligus rahasia dari masa kanak-kanak mereka. Lalu ada orangtua Kayla dan Dylan, Jessica dan teman-teman kantor Kayla, Pira --sobat karib sekaligus tetangga kosan-- dan Pras (pacar Pira), serta beberapa tokoh pendukung lainnya.

Kayla digambarkan sebagai sosok wanita karier yang feminin namun juga lebih suka mengenakan ransel ketika mobile, khususnya untuk pulang ke (mengunjungi) rumah orangtuanya. Pada banyak bagiannya, Kayla dideskripsikan sebagai bawahan yang begitu terobsesi untuk mendapatkan cinta dari bosnya. Aidan tersaji sebagai cowok too good to be true yang serbabaik, meskipun ada pula sisi lain yang sebelumnya tak diketahui banyak orang, termasuk Kayla (sebagai pemujanya). Dylan hadir sebagai laki-laki easy going yang bersedia membantu Kayla untuk melakukan apa saja.  

konflik:
Meskipun tampak seperti kisah cinta segitiga, novel ini tak melulu menyajikan konflik saling merebut kekasih orang. Well, ada, sih, situasi yang mengarah ke situ, tapi Ayu dengan cepat memutar haluan sehingga plot utama tak terjerumus pada keklisean semacam itu. Pada hampir separuh buku ini, konflik justru tersaji antara Kayla-Aidan-dan-Jessica. Untung saja, banyak subplot yang diselipkan sehingga konflik menjadi lebih semarak. Gong utamanya ada di satu rahasia yang disimpan oleh Dylan. Sekali lagi, karena temanya memang tidak orisinal, agak sulit mendapatkan efek kejutan selama membaca novel ini. Untung saja, gaya bercerita Ayu berhasil membuat saya betah mengikuti pergerakan alur konfliknya.

kondisi fisik buku:
Terus terang saja, saya enggak suka sama kover novel ini. Kenakak-kanakan dan kurang merepresentasikan ceritanya. Mana gambar orangnya begitu banget. Pokoknya kalau menilai dari kovernya saja, dijamin saya enggak bakalan minat membeli. Jenis dan ukuran font juga agak sedikit bikin mata jereng. Well, mungkin ada kaitannya dengan faktor umur saya juga, sih, tapi saya merasa ukuran font-nya terlalu kecil (saya duga sebagai imbas dari halaman yang lumayan tebal dan efisiensi ongkos cetak). Hal lainnya, hikz... binding-nya kurang kuat. Ada beberapa halaman dari novel milik saya yang terlepas.

Ending (jangan membuka bagian ini jika menganggapnya spoiler):


catatan:
Frasa paling sering muncul: SAUS KACANG!
Frasa ini merupakan semacam ungkapan kekagetan atau umpatan yang muncul tiap kali Kayla mendapati hal-hal yang mengejutkannya.

PoV (point of view):
Novel ini ditulis dengan sudut padang orang pertama, "aku", dari tokoh Kayla.

HOT scene:
Salah satunya ada di halaman 259. Berikut sepenggal adegannya (kelanjutanya lebih panjang, hehehe, dan itu bagian hot-nya, buat saya):
Sebelum keberanianku surut, aku berjingkat dan dengan sedikit gugup mengecup bibirnya perlahan. Tidak ada reaksi sama sekali. Seperti mencium patung.
typo:
Lumayan rapi, sih, tapi masih ada juga typo di sana-sini, sayangnya saya lupa menandai, hahaha. Beberapa yang saya ingat adalah penggunaan kata dari pada (dipisah) alih-alih daripada (sambung). Lalu penggunaan kata frustasi alih-alih frustrasi (KBBI). Dan juga ada penggunaan di- untuk kata kerja yang dipisah contohnya di halaman 220 (tenda putih dipadu warna emas di pasang di halaman), serta kata apalagi yang berdasar konteks mestinya dipisah menjadi apa lagi (halaman 307). Namun, typo-nya enggak begitu mengganggu, sih, karena saya telanjur terhanyut oleh gaya menulis Ayu.

kesimpulan:
Meskipun tema yang diangkat tidak membawa kebaruan, tapi gaya menulis Ayu Gabriel membuat saya betah berlama-lama membolak-balik halaman novel ini. Pun dengan konfliknya yang sangat mungkin terjerumus ke dalam lembah klise bernama jurang cinta segitiga, pengarang berhasil menyelipkan beragam subplot untuk membangun konflik yang cukup kokoh. Namun sayang, ending yang ....yah, gitu banget ending-nya... bikin agak kecewa. Buat saya, tulisan Ayu Gabriel ini candu. Saya butuh tulisannya yang lain. Loving Denaya sepertinya menjadi target buruan dalam waktu dekat. Thanks, Ayu.
  
End line (kalimat penutup):
"Cium aku."

Friday, January 8, 2016

[Resensi Novel Chicklit] Size 12 is Not Fat by Meg Cabot


Aku tidak akan mulai makan salad tanpa saus kalau itu yang harus kulakukan untuk mendapatkan pacar, aku tidak seputus asa itu.
---Meg Cabot, Size 12 is Not Fat

First line:
"Mm, halo. Apa ada orang di luar sana?" Suara gadis di kamar ganti sebelah itu seperti tupai.

Heather Wells, mantan penyanyi pop idola remaja, telah sampai pada titik jenuh: bosan menyanyikan lirik lagu ciptaan orang lain, tapi produsernya tidak mau menandatangani kontrak baru untuk lagu-lagu ciptaannya sendiri. Keadaannya diperparah dengan ayahnya dipenjara, ibunya kabur ke Buenos Aires bersama seluruh isi tabungan putri satu-satunya itu, dan Heather tampaknya tidak bisa berhenti membenamkan diri dalam kesedihannya dengan melahap cokelat KitKat. Puncaknya, tunangannya Jordan Cartwright telah menggesernya---dari tangga lagu maupun dari ranjangnya---dan menggantikannya dengan bintang pop nomor satu terbaru Amerika, Tania Trace.

Heather lalu mendapatkan pekerjaan di asrama New York College---tak jauh dari tempat tinggal sementaranya di rumah Cooper---temannya sekaligus kakak mantan tunangannya yang sangat baik kepadanya. Kelihatannya keadaan mulai membaik... setidaknya sampai gadis-gadis di asrama tewas satu per satu dalam waktu berdekatan. Selancar lift merupakan penjelasan resmi dari administrasi kampus mengenai penyebab kematian para gadis itu, tapi Heather punya kecurigaan lain. Dengan bantuan setengah hati dari Cooper, Heather berusaha menyelidiki kematian-kematian tersebut, tanpa menyadari itu bukan hanya sekadar untuk menjawab rasa ingin tahunya, melainkan mungkin akan menjadi pekerjaannya seumur hidup.
 
Judul: Size 12 is Not Fat (Ukuran 12 Tidak Gemuk)
Pengarang: Meg Cabot
Penerjemah:: Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 416 hlm
Harga: Rp45.000 (beli obral Rp10.000)
Rilis: Agustus 2010
ISBN: 978-979-22-6001-4
Rating: 3 out of 5 star

Ide cerita dan eksekusinya:
Jika sekadar membaca judulnya, mungkin kita bakal dengan mudah menarik kesimpulan bahwa novel ini membahas romance dengan konflik utama soal berat badan. Well, tidak sepenuhnya salah, sih, tapi novel ini pun tak melulu hanya mengulas cinta-cintaan saja. Ada subplot misteri pembunuhan yang harus dipecahkan oleh tokoh utamanya. Jadi, perpaduan antara masalah berat badan, kisah cinta nan rumit, dan misteri pembunuhan. Menarik.

Dan, buat penikmat tulisan Meg Cabot, tentu bakal dengan mudah menyukai gaya bertuturnya. Lincah, self-centered, membual tak habis-habis, dan kocak. Terkadang bikin gemas, entah pengin meng-getok kepala atau menjawil pipi si tokoh utamanya. Uh! Namun, selipan misteri pembunuhannya ternyata tak digarap maksimal. Walaupun sempat bikin penasaran, pada separuh jalan ceritanya saya sudah bisa menebak siapa pelakunya. Dan, tebakan saya benar, meski tidak seratus persen sesuai dengan segala alasan dan latar belakang mengapa si pelaku melakukan pembunuhan itu.

Meet Cute:
Tokoh utama novel ini, Heather Wells sudah mengenal dan bahkan tinggal satu atap dengan love interest-nya, Cooper Cartwright, sehingga nyaris tak ada adegan yang bisa masuk kategori meet cute.


Plot, setting, dan karakter:
Jalan cerita bergerak maju dengan sedikit kilasan masa lalu dari penjelasan beberapa tokohnya, dalam perkembangan cerita. Terutama ketika mengungkap alasan tokoh melakukan tindakan ini dan itu.

Sebagian besar cerita ber-setting lokasi di asrama mahasiswa New York College dan tempat tinggal Heather (yang menumpang pada Cooper), tak jauh dari asrama. Sedangkan untuk setting waktunya adalah modern. Mugkin berdekatan dengan masa-masa ketenaran bintang pop remaja semacam Britney Spears, Christina Aguilera, dan Jessica Simpsons.

Tokoh utama novel ini adalah Heather Wells, mantan penyanyi pop remaja terkenal, yang kemudian jatuh bangkrut ketika didepak dari label rekaman yang menaunginya, serta kehilangan seluruh dukungan finansial, dibawa kabur ibu kandungnya sendiri. Lalu ada Cooper Cartwright, detektif partikelir yang menerima pekerjaan mencari informasi untuk para kliennya, salah satu pewaris konglomerat Cartwright, dan merupakan kakak dari Jordan Cartwright, mantan pacar sekaligus penyanyi solo pria pujaan dari Cartwright Records. Sebagai pemeran pendukung utama ada Rachel dan Sarah (kolega Heather di asrama), Maggie (kasir kafeteria yang merupakan karib Heather), Detektif Canavan, Christopher Arlington, Dr. Jessup, dan beberapa tokoh pendukung lainnya.

Seperti banyak karakter ciptaan Meg Cabot, Heather Wells digambarkan sebagai sosok perempuan beranjak dewasa yang masih terbelit kegalauan sisa kepopulerannya, kesendiriannya, hingga masalah berat badannya. Dia berulang kali menyangkal bahwa dia gemuk. Heather berasumsi bahwa dia bertubuh rata-rata perempuan Amerika. Selain itu, Heather juga kerap dideskripsikan sebagai sosok yang suka menceracau dan terkadang berfantasi (agak) mesum terhadap lelaki yang menarik minatnya. Sementara itu, Cooper Cartwright hadir sebagai sosok pria tampan karismatik yang gampang sekali memikat perempuan.  

Konflik:
Seperti yang telah ditegaskan oleh judul bukunya, sebenarnya benang utama kisah ini adalah permasalahan seputar berat badan yang dialami oleh Heather Wells. Kepercayaan dirinya agak goyah karena itu. Belum lagi, hidupnya yang berantakan selepas masa kebintangannya membuatnya mau tak mau bekerja keras demi hidup di kota New York yang serbamahal. Namun tak hanya itu, beberapa subplot berhasil dikombinasikan dengan cukup bagus oleh Meg Cabot, termasuk soal misteri pembunuhan di asrama tempat Heather bekerja. Kadang saya memang bosan ketika Heather mencerocos panjang lebar di pikirannya. Sifat yang awalnya menggemaskan lama-lama bikin capek sangking annoying-nya.

Kesimpulan:
Sisi romance-nya tetap terasa meskipun dibumbui subplot pembunuhan. Saya cukup terpikat untuk melanjutkan membaca serinya yang lain demi mengetahui apa yang akan terjadi pada Heather setelah kasus pembunuhan di asramanya terungkap, ya?

End line:
Yah, kau harus memulai dari suatu tempat, bukan?