Sunday, July 26, 2009

Resensi Buku Non Fiksi: Menikah adalah BUNUH DIRI! - 'Josua' Iwan Wahyudi


Sudah siap bunuh diri?





Judul: Menikah adalah BUNUH DIRI!

Pengarang: ‘Josua’ Iwan Wahyudi

Penerbit: GetYourWisdom Publishing

Genre: Self-Motivation, Modern Psychology

Tebal: xv + 117

Rilis: Juli 2009 (cetakan pertama)

Harga: Rp32.500 (Toko)



Agak aneh memang bahwa blog yang awalnya saya khususkan sebagai wadah review sederhana saya atas buku-buku bertema ringan khas metropop, chicklit, atau pun teenlit yang saya sukai, kemudian juga saya isi dengan resensi buku-buku yang bertema agak jauh, bahkan terlalu jauh, dari pakem tersebut. Saya akui itu adalah salah satu kelemahan saya yaitu kurang fokus dalam satu hal dan maunya semuanya ditumplek-blek jadi satu. So, meskipun judul blognya adalah metropop –mengambil ruh novel genre metropop– ternyata tidak melulu (dan bahkan tidak semua novel metropop) ter-review di sini. Lebih-lebih buku jenis lain yang malah diresensi.



Seperti buku yang satu ini. Saya tak tahu masuk kategori jenis buku apakah ini. Dari cover belakang buku-nya sih disebutkan bahwa buku ini terkategori sebagai buku relationship-marriage. Untuk umumnya, mungkin buku ini pantas juga dimasukkan dalam ranah buku psikologi modern atau psikologi popular. Buku yang menginspirasi, buku yang memotivasi, atau juga buku yang menasihati. Begitulah kira-kira.



Jujur, saya tertarik dengan buku ini karena judulnya yang bombastis. Menikah adalah BUNUH DIRI! yang ditulis oleh 'Josua' Iwan Wahyudi. Hmm, gua sempet ngeri juga nyomot nih buku dari rak pajang di Gramedia Plaza Semanggi. Judulnya itu lho…serem amat. Awalnya saya menerka buku ini mengupas tentang tragedi-tragedi kematian seputar hubungan yang terbentur halangan, sehingga para penjalin hubungan tersebut memutuskan membawa mati cinta mereka dengan cara bunuh diri. Ternyata anggapan saya salah. Bukan tragedi seperti itu yang dibahas di sini, melainkan letupan-letupan bencana yang harus diwaspadai yang pasti mungkin muncul di dalam sebuah pernikahan. Setelah sekilas membaca cuplikannya dari buku contoh yang dibuka segelnya dan merasa cukup tertarik (dan lucu), saya kemudian mengambil satu dan membayarnya di kasir.



Buku ini cukup menarik. Pembawaannya konsisten. Penyampaiannya berurutan (sangat pas dari satu chapter ke chapter lainnya). Meskipun, selayaknya buku-buku tipe begini, ulasannya adalah hal-hal keseharian –dalam kehidupan pernikahan– yang semestinya sudah kita tahu, hanya saja kita kadang tidak menyadarinya dan baru berkata “ooh…” jika sudah ada yang menuangkannya dalam buku maupun dalam seminar motivasi dengan pembicara yang nyerocos dengan semangat penuh.



Bahasan disampaikan secara lugas disertai dengan beragam kisah/cerita yang menjadi intro sebelum penulis mengemukakan pandangan-pandangannya atas setiap masalah yang menjadi judul per bagiannya. Entahlah, apakah cerita-cerita tersebut sekadar fiksi atau benar-benar terjadi, saya kurang tahu. Hanya saja, hampir di setiap chapter, penulis menyertakan sebuah kasus (dalam bentuk seperti rubrik konsultasi) dengan disertai nama dan asal pengirim testimoni yang kemudian dijawab oleh penulis (diberi judul Lesson from Real Case). Penulis juga mencoba melucu (dan berhasil, bagi saya) dengan memberikan intermezzo berupa gambar-gambar karikatur unik serta wedding quotaton yang cukup menggelitik. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi foto sebagai background judul chapternya.



Seputar isinya sih, tergantung masing-masing. Buku motivasi adalah buku non-fiksi yang berunsur sangat subjektif meskipun dilatarbelakangi hal-hal yang objektif. Beda dengan buku science, misalnya, yang disusun berdasar penelitian ilmiah sehingga sangat objektif. Benar, si penulis telah mendapat pelatihan-pelatihan yang cukup memadai sehingga kemampuannya merangkum kata per kata sangat bagus dengan kedalaman makna yang dapat dengan mudah menghantam dinding kesadaran si pembaca sehingga beroleh feedback berupa anggukan atau desisan kata “o gitu ya?..” Namun, semua keputusan berpulang kepada pembaca pada akhirnya. Apakah setuju atau tidak setuju dengan semua pemikiran yang dituangkan oleh penulisnya.



Diakui oleh penulisnya sendiri bahwa ia memutuskan untuk menjabarkan bermacam mimpi buruk yang mungkin saja hadir dalam pernikahan agar siapapun menyadari bahwa pernikahan tidak hanya harus dilihat dari yang indah-indahnya saja. Ia berharap setiap pasangan tahu konsekuensi dari keputusannya untuk membangun mahligai rumah tangga, bahwa yang akan ditemuinya tidak hanya melulu yang legit semanis madu namun juga pahit seumpama empedu. Secara tegas namun bernada humor, penulis membantah apabila dikatakan dia membuat buku ini untuk menakut-nakuti siapapun yang sudah atau akan menikah sehingga menjadi alergi terhadap pernikahan. Bahkan ia sangat menganjurkan untuk menikah karena sebenarnya apabila dijalankan dengan sebaik-baiknya, biduk rumah tangga dalam ikatan pernikahan merupakan secicip kenikmatan surgawi.



Dalam banyak hal saya setuju dengan pandangan-pandangan ‘Josua’ Iwan Wahyudi ini. Tetapi pada beberapa hal saya juga menolak dengan tegas apa yang disampaikannya. Kesetujuan saya, misalnya, pada pandangan Josua yang menganjurkan agar menghindari hubungan intim sebelum nikah (berulang kali ia mengingatkan untuk tidak berhubungan badan bahkan meminimalisir sentuhan fisik sebelum resmi menikah). Sedangkan ketaksetujuan saya adalah atas sikap permisifnya terhadap pacaran (beberapa kali Josua menganjurkan untuk berpacaran, meskipun tidak secara eksplisit) atau atas “sikap-negatif”nya mengomentari persoalan pernikahan di usia muda. Meskipun saya sampai dengan kategori umur tak lagi muda ini belum juga menikah, tetapi saya percaya, selewat akil baligh laki-laki dan perempuan sejatinya telah mampu berdiri sendiri dan memutuskan masa depannya secara mandiri, termasuk soal keputusannya menikah. Jadi, tak masalah menikah usia muda, menurut saya, asal mampu.



Saya pikir buku ini cukup berhasil menjadi sarana penyampaian pemikiran-pemikiran dari Josua. Terlepas dari perbedaan prinsip saya dengannya atas beberapa hal, saya cukup mendapat banyak pengetahuan seputar penjalinan hubungan suami-istri yang dapat saya jadikan bekal kelak jika saya sudah dipertemukan (menemukan/ditemukan) dengan jodoh saya dalam ikatan pernikahan. Saya berharap semoga banyak pasangan yang sudah atau akan menikah membaca buku ini, termasuk para single fighter a.k.a jomblowan-jomblowati yang sudah ngebet menikah, sehingga mereka mendapat pemahaman yang lebih soal hidup berumahtangga. Tentu saja, semua ini hanyalah sebagai bahan perenungan dan pemikiran belaka. Sedangkan segala keputusan dalam hidup adalah di tangan Anda meski harus diingat bahwa kehidupan ini akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh yang menciptakannya kelak di akhirat. Jadi, jangan “bermain-main” dengan hidup Anda.



Berikut adalah yang terpampang dalam cover belakang buku ini, dimana kebanyakan adalah testimonial dari beberapa figur:



“Buku yang berani mengungkap tentang pernikahan dengan lugas. Buku ini akan membuat orang yang belum menikah berpikir dahulu sebelum menikah, sedangkan bagi yang sudah maka buku ini akan menjadi pelajaran berguna. Pernikahan memang sebuah sekolah kehidupan tanpa kelulusan, jadi persiapkanlah dengan baik!”

- Bambang Syumanjaya

Konsultan Bisnis dan Keluarga dari Family DISCovery dan Penulis Buku Family DISCovery Way

“Sebuah panduan praktis tentang bagaimana memandang cinta dan pernikahan secara rasional. Mas Iwan piawai memaparkan kisah-kisah inspiratif dan mengemasnya dengan rancak. Inilah buku yang Anda butuhkan tepat di sebelah buku nikah Anda.”

– Roslina Verauli, M. Psi.,

Psikolog, Penulis Buku, dan Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

“Ketika menikah setiap orang pasti membayangkan kebahagiaan. Tapi mengapa banyak pernikahan yang akhirnya berubah menjadi neraka? Iwan membahas hal ini dengan gamblang, tuntas dan blak-blakan. Sebuah buku provokatif untuk menjadikan pernikahan Anda surga dunia!”

– Arvan Pradiansyah

Penulis best-seller “The 7 Laws of Happiness” & Host Talkshow “Smart Happiness” di SmartFM Network

“Mungkin judul buku ini membuat Anda penasaran, atau malah menakutkan,tapi jangan khawatir… Kalau Anda membaca dari awal sampai akhir, sebetulnya buku ini mengulas dengan dalam tentang arti sebuah penikahan, bahwa pernikahan bukan ajang permainan antara kita dan pasangan kita. Bagi saya yang sudah menikah 15 tahun pun bisa berkata.. “iya nih, bener juga apa yang di tulis di buku ini”. Buku ini sarat dengan contoh-contoh peristiwa yang gamblang dan mungkin kita alami sendiri baik sengaja atau tidak. Penasaran??? ayo buka mata ,buka hati…. baca sampai habis buku ini!”

– Vivi Indrany

Fashion Designer

“Pernikahan adalah sebuah pilihan. Jika pernikahan adalah lomba lari, kita memilih untuk mengikuti lomba lari maraton bukan lomba lari pendek (sprint). Untuk itu dibutuhkan seorang pria yang sehat secara emosi, menikahi seorang wanita yang juga sehat secara emosi dan akan menghasilkan sebuah keluarga yang sehat secara emosi. Tidak bisa hanya salah satunya saja. Jangan pernah berani menikah tanpa itu!!! Buku ini membantu mewujudkannya.”

– Timotius Hong

Konsultan Senior untuk Pernikahan dan Kehidupan Keluarga

“Benar-benar serasa memutar video kehidupan perkawinan, baik pada diri kami maupun rekan-rekan lain, hasil karya tulisan yang HARUS menjadi bacaan wajib sebelum kita masuki masa-masa bahagia dalam tali pernikahan maupun yang sudah dalam ikatan pernikahan, terimakasih Pak Iwan dengan hasil karyanya yang sangat luar biasa dan terus membuat api kebahagiaan pernikahan kami selalu terjaga dan bertumbuh!

– Paulus Widjanarko

Dokter dan Pemerhati Kesehatan





Monday, July 13, 2009

Resensi Novel: Mira W - Deviasi


Awas! Jangan-jangan Anda berkepribadian ganda?



Judul: Deviasi
Pengarang: Mira W

Genre: Romantic, Medical background, Semi thriller

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Rilis: April 2005 (cetakan kelima)
Harga: Rp7.500 (sale – Obral Buku Murah)

Tebal: 272 halaman


Saya sempat membaca sekira 2 novel karya Mira W beberapa tahun silam. Saya cukup terpikat dengan gaya bahasa dan konsistensi jalinan cerita yang dibuat oleh novelis yang kondang sepanjang tahun 90-an ini. Namun, kesan bahwa tulisan beliau cenderung “tante-tante” membuat saya sedikit terintimidasi karena saya lelaki. Picik sekali saya. Untung saja, akhirnya saya mampu melepaskan diri dan bersikap santai saja. Be myself. Bias gender tidak akan menghalangi kecintaan saya membaca buku. Semoga saja. Hmm…


Adalah sebuah event Obral Buku Murah Gramedia yang digelar di Pusat Perbelanjaan Hero Pancoran yang membuat saya kembali menyukai hasil tulisan novelis perempuan yang sangat produktif ini (gua gak ngitung dah berapa nopel yang dibikn ama beliau, yang pasti dah banyak sekali deh!). Entahlah, kalau harganya tidak dipangkas (kalo gak salah, normalnya nih harganya sekitaran Rp30-an gitu) apakah saya masih berminat membelinya atau tidak (habis… nopel tipis begini, kecil pula size-nya, kok ya mahal banget yak?!?). Lepas dari masalah banderol harga itu, saya sungguh bersyukur saya mencomot novel ini. Astaga, saya benar-benar terpukau dengan novel ini. As good as usual.

Entah kebetulan atau tidak, tema utama novel ini justru hampir mirip dengan drama seri Amerika berjudul United State of Tara (UST), yang salah satu executive producer-nya adalah Steven Spielberg, yang juga baru saja selesai saya tonton DVD-nya. Siapa yang tidak kenal legenda hidup sutradara populer Hollywood itu. Karya-karyanya selalu berkelas dan mengundang decak kagum. Novel Deviasi dan UST memiliki kesamaan latar belakang tokohnya, yaitu isu gangguan kejiwaan berupa Multiple Identity Disorder (MID) atau Dissociative Identity Disorder (DID), dimana penderitanya dikenal memiliki kepribadian lebih dari satu. Jika di novel karangan Mira tokoh Rivai dideskripsikan memiliki kepribadian lain yaitu Rizal, maka dalam UST, Tara digambarkan memiliki 4 identitas. Dan, baik novel Mira maupun drama seri tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Tentu saja dengan level kelezatan masing-masing.

Untuk sementara, mari membahas novelnya Mira (gua lagi nyoba bikin blog seputar film dan musik di sini, tapi belum diapa-apain, just wait and see). Sinopsisnya saja telah membuat saya langsung tak sabar untuk segera membacanya. Sungguh menggoda. Hahaha... Latar belakang keilmuan Mira yang adalah seorang dokter memang tak bisa dilepaskan hampir di banyak karyanya. Setting rumah sakit, tempat pelayanan kesehatan, hingga profesi maupun keseharian para tokohnya yang tak jauh dari dokter, perawat, bidan, ahli kejiwaan, dan lain sebagainya, menjadi ciri khas yang membedakan tulisan Mira dengan karya novelis lainnya. Bosen? Entahlah, setelah membaca 4 novel beliau, kebosanan tak jua menghampiri saya. Mungkin karena saya yang tidak tahu-menahu soal kesehatan jadi mendapat ilmu baru dengan membaca novel-novel Mira sehingga meskipun beberapa kali diulas, saya masih tetap antusias. (Ah, mo ngaku kalo dulu cita-cita jadi dokter gak kesampean kok ya malu, yakk!?!)

Deviasi hadir dengan kisah yang menawan namun rumit. Kepribadian ganda. Mengejutkan sekaligus membingungkan. Padahal, saya paling benci membaca novel yang ceritanya berputar atau dibuat sedemikian misterius (makanya gua ga seneng baca nopel detektip-detektipan gitu, too complicated for me). Tapi, saya malah mau nambah dan nambah lagi begitu membuka-baca lembar demi lembar novel dengan ketebalan tak lebih dari 300-an halaman ini. (bukan sifaf gua juga, beli nopel yang tipis gini, untung murah, hihihi). Gaya bahasa serta setting khas Mira yang telah saya ketahui dari 2 novel beliau yang saya baca sebelumnya tidak lagi membuat saya “terkejut” sehingga saya langsung enjoy mengikuti alur cerita yang disusunnya.

Setting, tokoh, gaya bahasa, dan alur cerita telah terangkai sempurna. Tidak ada yang perlu dikritik. Yang membuat saya menyukai novel ini adalah, ada saat-saat dimana saya dibuat gemas karena merasa “dipermainkan” oleh Mira dengan kejadian atau keadaan yang diciptakannya. Saya harus mengacungkan kedua jempol saya karena Mira berhasil membuat saya terhanyut pada kisah dalam novel ini. Tak jarang saya memaki (untung kagak keras-keras, ntar dikira gua crazy lagi) atau juga memuji jika tokohnya melakukan atau tidak melakukan apa yang saya ingin atau tidak inginkan. Gemas. Sungguh!

Saya cenderung malas membaca novel yang kebanyakan menggunakan flashback dalam penceritaannya, namun pada novel ini saya justru mengharapkan adanya kisah-kisah ungkitan masa lalu demi membantu saya memahami jalinan ceritanya. Mira juga piawai kapan harus menampilkan kejadian kilas balik tersebut. Sangat pas untuk tidak membuat kacau aliran plotnya, setidaknya bagi saya.

Kecakapan Mira yang lain adalah kecermatannya untuk mengait-ngaitkan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Hal tersebut juga sempat membuat saya gemas bukan main. Pernah, di seperempat bagian novel saya menggerutu, “loh, ngapain sih si Ini, apa hubungannya ama si Itu…kok tiba-tiba muncul tokoh Ini ya?” Namun, kegemasan saya itu justru menaikkan semangat untuk segera menuntaskan membaca novel ini. Bahkan, gara-gara ending-nya yang dibuat menggantung sebagai koneksi ke novel berikutnya, saya langsung memburu novel lanjutannya itu (untung ada, di obralan juga, lumayan, padahal gua dah janji, mo nopelnya didiskon pa kagak klo ketemu gua musti beli!). Saya kadang juga sering menghujat penulis yang mendadak memberi porsi pada tokoh yang sebelumnya tidak punya “hak-suara” namun tiba-tiba ikut bercerita, sekali lagi, dalam novelnya ini, Mira mengemasnya dengan sangat apik. Caranya memberi ruang pada peran-peran pendukung itu tidak berlebihan dan cukup pas dalam menjaga ritme keseluruhan cerita.

Hmm…kok rasanya gua muji mulu ya? Tetapi, sungguh saya sendiri bingung mencari cela dari novel ini, bahkan dari segi penulisan dan edit kata per kata-nya. Nah, jika GPU saja begini teliti untuk karya-karya waktu dulu, mengapa untuk penerbitan novel masa kini sering salah di editan ya? Hayyo…siapa nih yang musti disalahin?

Mungkin gangguan kecil yang muncul adalah hanya pengulangan beberapa kalimat yang terdapat dalam beberapa chapter. Termasuk kebiasaan Mira untuk menggantungkan kejadian dari satu adegan ke adegan lainnya, memang menggelitik rasa ingin tahu, tapi kadang agak mudah ditebak sehingga membuat jengah. Semoga saja, pembaca tidak lekas kesal dan tak menghentikan-baca sebelum sampai klimaks.

Overall, saya sangat menyukai novel ini. Jika harus memberikan bintang, dalam skala 1 sampai dengan lima, saya akan memberikan 3,5 bintang. Kalau saja ketebalannya ditambah (gak perlu bersambung gitu, hehehehe) saya tidak ragu memberikan 4 bintang lah. Hmm…
Enjoy reading, people!


Sinopsis (cover belakang)
“Kau hamil, Arneta?” Rivai duduk dengan hati-hati di sisi pembaringan, seolah-olah takut menyakiti Arneta. “Kau mengandung anak Rivai dan berani meninggalkannya?”
“Panggil Rivai kemari.” Arneta berusaha menekan rasa takutnya. “Aku harus bicara dengan dia.”
“Tapi Rivai mengirimku kemari untuk menghukummu.” “Siapa kau?” tanya Arneta ketakutan.
Jadi mantan suaminya ini benar-benar gila! Sungguh tidak disangka. Hampir setahun dia telah hidup bersama orang sakit jiwa. Tidur seranjang dengan pembunuh yang mengidap deviasi seksual.
----Deviasi----
Dari ujung utara Benua Amerika sampai ke ujung selatan Benua Afrika, Arneta terjebak di antara tiga laki-laki yang sama-sama mengejarnya.
Bekas kekasihnya yang berada di ambang perceraian.
Pria tanpa masa lalu yang sedang terpuruk dalam lumpur perasaan bersalah.
Dan mantan suaminya, seorang lelaki terhormat yang yang mengidap deviasi seksual dan mempunyai kepribadian ganda. Mampukah Arneta melepaskan diri?