Showing posts with label Novel: Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Novel: Terjemahan. Show all posts

Saturday, April 26, 2014

[Resensi Novel Young Adult] DISTANCE Between Us by Kasie West



Another Cinderella love story

Sinopsis

Tujuh belas tahun Caymen Meyers belajar sejak awal bahwa orang kaya tidak bisa dipercaya. Dan setelah bertahun-tahun mempelajari orang kaya dari belakang kasir toko porselen boneka ibunya, ia semakin meyakini hal tersebut.

Lalu datanglah Xander Spence, seorang pemuda yang tinggi, tampan, dan kaya raya. Meskipun tampaknya berbeda dengan orang kaya lainnya, Caymen merasa bahwa ketertarikan Xander padanya takkan bertahan lama. Satu hal yang dia pelajari dari peringatan ibunya yaitu orang kaya mudah tertarik pada wanita lain. Tapi ketika kesetiaan dan perhatian Xander berhasil meyakinkan Caymen bahwa menjadi kaya bukanlah suatu cacat karakter, dia menyadari bahwa uang berperan jauh lebih besar dalam hubungan mereka ketimbang yang dia sadari.

Dengan begitu banyak hambatan yang ada di jalan mereka, bisakah dia menutup jarak antara mereka?
 
Pengarang: Kasie West
Penerjemah: Lisa Indriana Yusuf
Penyunting: Bunga Siti Fatimah
Pewajah sampul: Ellina_wu@hotmail.com
Penerbit: Laluna and Friends (StudioKata)
Tebal: 398hlm
Harga: Rp59.000
Rilis: Februari 2014
ISBN: 9786029719758

Pernah melihat sekilas di rak New Arrival salah satu toko buku di Jakarta, tapi belum tergerak untuk mencomot novel ini, kala itu. Selain tidak familier dengan nama pengarangnya, secara pribadi saya tak begitu menyukai kovernya (kurang menggambarkan romantisme dan perjuangan tokoh di dalam kisahnya, menurut saya). Tapi, … surpriseeee… saya mendapat kiriman novel ini dari StudioKata. Makasihhh…


Lalu, saya agak menyesal, kenapa merasa ragu untuk mencomot novel ini dari sejak kali pertama melihatnya di toko buku. Begitu saya membuka lembaran awalnya, saya langsung tersedot ke dalam ceritanya dan terhanyut buaian dongeng Cinderella gaya baru besutan Kasie West ini. Tentu saja, selayaknya kisah Cinderella yang sudah kita kenal, tak banyak hal baru yang ditawarkan Kasie dalam novelnya ini. Tetapi, gaya menulis dan selipan konflik serta karakter-karakter yang diciptakan Kasie begitu menarik sehingga sentuhan romansa klasik khas negeri dongeng ini tampil demikian manis.

Caymen Meyers tinggal berdua saja dengan ibunya di sebuah rumah kecil berkamar sempit yang menyatu dengan toko boneka yang tak begitu ramai dikunjungi pelanggan. Namun, tentu saja, toko boneka itu punya satu-dua pelanggan loyal, salah satunya Mrs. Dalton yang sering memesan boneka sebagai hadiah untuk cucu-cucunya. Karena urusan Mrs. Dalton-lah, Caymen bertemu dan berkenalan lalu jatuh hati pada Xander Spence. Tapi, sebagaimana yang diyakininya selama ini, plus doktrin yang diajarkan ibunya, Caymen selalu memandang sinis orang kaya, dan Xander adalah cowok kaya, anak miliuner di kota itu. Novel ini menguraikan perang batin Caymen antara cinta dan prinsip yang selama ini dipegangnya. Juga tentang keluarga, persahabatan, dan hubungan antarsesama.

Menurut salah satu teman, kekuatan novel ini terletak pada dialog antartokoh dan monolog (narasi) Caymen sebagai tokoh dengan PoV orang pertama di novel ini. Kekuatannya itu tampak dari kalimat-kalimat sarkasme yang menggelitik dan membuat saya terpingkal. Meskipun beberapa kalimat kurang dapat saya tangkap esensinya, terjemahannya juga lumayan oke, kok. Interaksi Caymen-Xander atau Caymen-Mason, atau interaksi Caymen dan Susan, ibunya, serta dengan Skye, sahabat karibnya, dapat saya tangkap dengan jelas.

Soal ceritanya, sekali lagi, novel ini tak menawarkan hal baru. Cewek cantik yang kebetulan miskin bertemu dengan cowok tampan bak pangeran yang kaya raya. Canggung. Kikuk. Tapi saling mengait, karena saling kagum. Si cewek masuk ke kehidupan si cowok, begitu sebaliknya. Masing-masingnya mencoba mencampuri kehidpan mereka. Datang konflik. Keluarga yang sepertinya tak merestui. Orang ketiga yang menyalakan api cemburu. See? Sounds generic? Bahkan, ending-nya, OH-ASTAGA sinetron banget, ya? Rahasia kelam masa lalu ibunya yang juga memengaruhi hidup Caymen, bahwa dia sebenarnya……..(spoiler). Untung saja, gaya menulis Kasie cukup memikat, sehingga saya tetap dapat menikmati kisah Cinderella ini dengan antusias.

Dari segi teknis, masih banyakkkkkkkkk banget typo-nya, ini beberapa yang saya temukan:
1.       Penggunaan kata memerhatikan di sepanjang cerita, di KBBI yang sekarang dikenal adalah memperhatikan
2.       (20) kebiasannya = kebiasaannya
3.       (31) berterima kasih kasih = kelebihan kata “kasih”
4.       (57) jahil = jail (dalam konteks kalimat seharusnya bermakna ‘nakal’ bukan ‘jahat’)
5.       (62) halam = halaman
6.       (70) Lagipula = Lagi pula
7.       (70) dikeliling = dikelilingi
8.       (91) yang ada dia pikirkan = yang dia pikirkan
9.       (93) berkata, “sebentar saja.” = berkata, “Sebentar saja.”
10.   (99) seksama = saksama
11.   (103) apa Mom = Apa Mom
12.   (107) menggaris bawahi = menggarisbawahi (sambung)
13.   (106) Sebenernya = Sebenarnya (konteks kalimat bukan dialog)
14.   (109) menoleh dan dan dia = kelebihan kata “dan”
15.   (111) ada yang saat yang tepat = kelebihan kata “yang”
16.   (120) kalau pun = kalaupun (sambung)
17.   (124) kataku dengan dengan tiga = kelebihan kata “dengan”
18.   (138) disitulah = di situlah (pisah)
19.   (145, 186) ke mari = kemari (sambung)
20.   (145) di banding = dibanding (sambung)
21.   (146) sekali pun = sekalipun (konteks kalimat bukan bermakna frekuensi)
22.   (155) mengeetuk = mengetuk
23.   (159) mempercayaiku = memercayaiku
24.   (162) antrian = antrean
25.   (176) Akhinya = Akhirnya
26.   (184, 187) kita = kami
27.   (240) kelakukan = kelakuan
28.   (244) ijin = izin
29.   (250) seringkali = sering kali
30.   (256) saling berhadapan = sudah bersifat resiprokal, tak perlu ditambahkan kata “saling”
31.   (261) memerkirakan = memperkirakan
32.   (270) siapapun = siapa pun (sambung)
33.   (271) berkaca mata = berkacamata (sambung)
34.   (272) dikembang biakkan = dikembangbiakkan (sambung)
35.   (280) praktek = praktik
36.   (299) Aku bisa bisa merasakan = kelebihan kata “bisa”
37.   (308) mengetahi = mengetahui
38.   (319) apapun = apa pun
39.   (327) sepertinya yang = seperti yang
40.   (329) menambahkah = menambahkan
41.   (347) Terima kasih kasih = kelebihan kata “kasih”
42.   (351) Aku berbalik lalu dan = kelebihan kata sambung, hilangkan salah satu
43.   (373) ada yang orang lain = kelebihan kata yang

Selain sederet typo itu, masih ada beberapa kesalahan peletakan tanda baca, kalimat yang tidak efektif, dan penggunaan istilah-istilah yang tidak konsisten. Satu kalimat yang masih sulit saya pahami maksudnya ada di halaman 126:

Aku kembali menahan napas. Tubuhnya wangi sabun mandi dan detergen mahal.

Tubuhnya wangi detergen? DETERGEN? Sabun cuci maksudnya? Jadi, mandi pakai sabun cuci? #eh

Selebihnya saya suka novel ini. Meskipun klise nggak ketulungan, saya tetap suka. Well, saya pikir gaya menulis Kasie memang benar-benar masuk di selera saya. Biasanya, tema dan adegan klise serta sekuali typo seperti ini langsung membuat saya ilfil ketika membaca atau malah tak berminat menyelesaikan baca. Tapi, entah kenapa, saya mulus-mulus saja ketika membaca novel ini. Weird.

Saya pikir Aria (Lucy Hale) dan Ezra (Ian Harding) pas memerankan Caymen-Xander.



My rating: 3,5 out of 5 stars.

Wednesday, October 23, 2013

[Buku diFilmkan] Best Promo Ever for CARRIE the Movie (Stephen King)


Stephen King mungkin menjadi salah satu anomali terbesar buat saya. Jujur, satu pun bukunya belum ada yang saya baca (kecuali On Writing, buku panduan menulis yang diterbitkannya), namun saya sudah ngefans sama Mr. King. Nggak tahu kenapa, sejak tahu ada penulis bernama Stephen King (one of the best contemporary horror, suspense, science fiction and fantasy), saya jatuh hati pada penulis ini. Nggak masuk akal? Memang iya. Tapi, yaaa...gimana ya, begitu adanya sih. Soalnya saya pun pengoleksi novelnya, meski belum dibaca juga. #plakkk

Nah, yang sebentar lagi akan dirilis adalah film adaptasi terbaru dari novel Carrie, novel keempat yang ditulis Mr. King tapi yang pertama diterbitkan (1974). Saya tak sabar menonton filmnya. Nah, semoga setelah menontonnya, saya segera tergerak untuk menuntaskan-baca beberapa novel karya Mr. King yang sudah saya koleksi.


Dan, berkenaan dengan rilisnya film adaptasi ini, Gramedia juga merilis ulang dengan kaver baru untuk novel Carrie ini. Saya suka banget kavernya.


Oiya, ada satu lagi yang seru sih. Satu video promo tentang film ini yang dikemas dalam sebuah video yang serupa reality show. Entah ya, apakah ekspresi pengunjung coffee shop di video ini beneran atau rekayasa, yang jelas seru aja kalau mereka benar-benar syok betulan. Simak deh video yang sudah ditonton lebih dari 43 juta viewers yang diberi judul: Telekinetic Coffee Shop Surprise ini. Menurut saya ini salah satu video promo terbaik yang pernah saya lihat. Bravo!


Selamat membaca dan selamat menonton, temans.

Thursday, May 30, 2013

[Giveaway] Perfect Chemistry by Simone Elkeles


Perfect Chemistry menjadi salah satu novel young adult favorit saya. Well, itu lebih karena saya telanjur menyukai pengarangnya sih. Sebelum membaca novel yang merupakan volume pertama dari serial Perfect Chemistry (trilogi) ini, saya sudah membaca trilogi Ruined yang juga dikarang oleh Simone Elkeles. Trilogi itulah yang membuat saya jatuh suka pada tulisan-tulisan Simone.

Brittany Ellis memiliki segalanya: cantik, pintar, kaya, dan pacar yang populer.

Alex Fuentes adalah gangster berdarah Mexico yang terlibat banyak masalah serius.

Saat mereka dipaksa menjadi partner lab di kelas Kimia, Brittany merasa inilah akhir dari kehidupan “sempurna” yang berusaha ia pertahankan selama ini. Sedangkan bagi Alex, inilah kesempatan untuk memenangkan taruhan guna mendapatkan sang diva.

Akankah Brittany jatuh dalam pelukan sang gangster dan melepas Colin Adams, sang kapten tim football? Saat kimia cinta mulai bereaksi, apa pun mungkin terjadi...


Nah, yang versi terjemahan Bahasa Indonesia ini diterjemahkan oleh Angelic Zaizai. Awalnya saya ingin meminta Zaizai bercerita sedikit tentang novel ini, tapi, saya tak kunjung mengirim email ke dia jadinya malah lupa *keplak*.



Oiya, Simone juga akan menerbitkan buku barunya pada bulan Oktober nanti (di US), ahhh, di Indonesia kapan yaaa...dah nggak sabar pengin baca tulisan tante Simone lagi...

After getting kicked out of boarding school, bad boy Derek Fitzpatrick has no choice but to live with his ditzy stepmother while his military dad is deployed. Things quickly go from bad to worse when he finds out she plans to move them back to her childhood home in Illinois. Derek’s counting the days before he can be on his own, and the last thing he needs is to get involved with someone else’s family drama.

Ashtyn Parker knows one thing for certain--people you care about leave without a backward glance. A football scholarship would finally give her the chance to leave. So she pours everything into winning a state championship, until her boyfriend and star quarterback betrays them all by joining their rival team. Ashtyn needs a new game plan, but it requires trusting Derek—someone she barely knows, someone born to break the rules. Is she willing to put her heart on the line to try and win it all?
 
Baiklah, untuk yang belum punya atau belum baca novel ini, dan juga dalam rangka menyongsong terbitnya buku terbaru Simone Elkeles berjudul Wild Cards, saya ingin menyelenggarakan giveaway berhadiah novel ini. Caranya gampang kok, seperti giveaway-giveaway kemarin. 

1.  Giveaway diadakan di twitter.
2.  Tweet minimal satu kali tentang giveaway ini dengan format: [Indonesia Only] Hey, check this awesome Perfect Chemistry Giveaway's on metropop-bloger.com @SimoneElkeles @fiksimetropop
3.  Jawab pertanyaan berikut (di twitter, boleh menggunakan twitlonger): "Menurut kamu, adegan pertemuan di sekolah yang seperti apa yang bisa disebut romantis dan cute?"
4.  Jawab dengan format: @fiksimetropop #PerfectChemistry [Jawaban]
5.  Cukup tweet dua kali, satu tweet tentang giveaway ini (poin nomor 2) dan tweet jawaban kamu (poin nomor 3). Satu akun twitter hanya akan dihitung satu meskipun nge-tweet berkali-kali.
6.  Giveaway berlangsung tanggal 30 - 31 Mei 2013. Yang beruntung akan diumumkan pada tanggal 1 Juni 2013.

Good luck and keep reading, tweeman.

Monday, August 6, 2012

[Resensi Novel Anak] Diary si Bocah Tengil: Kenyataan Pahit by Jeff Kinney


Wah, si tengil sudah tak lagi kocak nih...


Judul: Diary si Bocah Tengil - Kenyataan Pahit (buku #5)
Pengarang: Jeff Kinney
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi dan Jia Effendie
Pewajah ssi: Aniza
Penerbit: Atria
Tebal: 217 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: Februari 2012 (cet. ke-4)
ISBN: 978-979-024-474-0

Gregory “Greg” Heffley sudah beranjak remaja (teen). Sekarang dia sudah SMP. Tapi, hey, kenapa dia nggak lagi sahabatan sama Rowley, ya? Iya sih, mereka itu sobat putus sambung nan legendaris. Sebentar bertengkar, sebentar berbaikan. Tapi, kini sepertinya agak serius. Greg berulang kali menghindarinya. Kenapa, ya?

Tapi, loh, kok pas Rowley diundang ke pesta Jordan Jury, si anak populer yang selalu bikin party paling asyik sesekolahan, Greg dengan antusias langsung menawarkan diri ikutan? Padahal, kan, yang diajak Rowley. Tapi, dasar sial, pada saat yang bersamaan Greg diancam ibunya untuk menghadiri pernikahan seorang kerabat. Hukumnya WAJIB.

Ahh, ketengilan apa lagi yang akan diperbuat Greg kali ini? Apakah dia sudah mulai belajar menjadi lebih dewasa? Simak saja tingkah polah Greg yang tetap tengil bin jail dalam buku kelima dari seri Diary of Wimpy Kid karya Jeff Kinney yang diterjemahkan oleh Penerbit Atria ini.


Membaca Diary si Bocah Tengil itu benar-benar sebuah hiburan yang menyenangkan sekaligus menggemaskan (pengen ngejitak Greg kadang-kadang). Tak jarang, kejailannya itu berakibat lumayan ‘fatal’. Baik bagi dirinya sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Yang paling sering kena getah, tentu saja, Rowley, sang sahabat lugu nan polos itu. Saya suka adaptasi film pertamanya, tapi kurang begitu terpikat dengan film keduanya. Semoga film ketiga yang baru saja diputar di bioskop Amerika sana bulan ini dapat tampil lebih baik.

Oiya, balik ke seri kelima ini. Saya gagal menemukan titik-titik geli yang mampu menyemai benih tawa bagi saya. Jika di beberapa seri sebelumnya saya masih sempat menyembur gelak-tawa, kali ini saya adem-ayem-tentrem-kerto-raharjo. Lempeng aja gitu! Entah kenapa. Mungkin karena background Greg yang menjelang remaja sehingga banyolan tengilnya lebih menjurus ke nakal ketimbang komikal? Ada sih beberapa yang lumayan, misalnya ketika Greg beralasan tak bisa bangun pagi kalau tak ada manusia asli (dan bukan jam beker) yang membangunkannya (hlm. 77), atau ketika Greg lebih sibuk mengingat halaman buku pelajarannya yang dijilat oleh Dad ketika membantunya mengerjakan PR ketimbang mengingat pelajarannya itu sendiri (hlm. 65).

http://www.wimpykidclub.co.uk

Malah, saya justru disuguhi beberapa tabiat Greg yang satu-dua bisa saja dicontoh untuk terapi bagi anak-anak. Misalnya pada halaman 69-71, di mana Greg bilang dia punya sistem hebat dalam hal mengingat sesuatu, yaitu dengan melakukan sesuatu hal sebagai penanda akan memori/pesan yang harus diingatnya. Sebagai contoh: Mom mengingatkan Greg yang sudah akan tidur bahwa besok pagi Greg harus bawa surat izin, Greg tak akan menulis pesan itu, dia cukup melempar bantal ke seberang ruangan. Esok paginya, saat bangun, Greg mendapati bantal tergeletak di lantai, dia akan bertanya “Mengapa bantal ini ada di sini?” Nah, setelah itu, ia akan teringat, “Oh iya, aku harus bawa surat izin ke sekolah.” Begitu, teori Greg, yang diklaimnya belum pernah gagal. Menurut saya sih, boleh juga dicoba. Hehehe.

Ada beberapa typo minor sih di buku ini, tapi tidak begitu mengganggu lah.

(hlm. 67) Mr. Mckelroy = Mrs. McKelroy
(hlm. 144) George Freer = George Fleer
(hlm. 177) Rowly = Rowley
(hlm. 208) tahun dengan = tahun depan
Secara keseluruhan, buku ini tak terlalu kocak, tapi juga tetap menghibur. Jadi, so-so lah bagi saya. Banyak sentilan dan pelajaran hidup yang sebenarnya dapat dipetik dari tingkah jailnya Greg. Saya tetap akan membaca seri berikutnya jika Atria masih menerbitkan terjemahannya. 3 bintang saya berikan kepada Greg yang harus menghadapi kenyataan pahit demi menghadapi perubahan-perubahan dalam hidupnya.

Selamat membaca, kawan!


Thursday, March 29, 2012

[Resensi Novel Young Adult] Pretty Little Liars by Sara Shepard


Sssst... can you keep a secret?
Rating: 3,5 out of 5 star
Read from 17 to 18 March, 2012


Judul: Pretty Little Liars (Para Pendusta Cantik)
Pengarang: Sara Shepard
Penerjemah: Linda Boentaram
Pemeriksa aksara: Natasya Ayu
Pewajah sampul: ABC Family
Pewajah isi: Husni Kamal
Penerbit: Ufuk
Tebal: 378 hlm
Harga: Rp44.900 (disc. 40%)
Rilis: Desember 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-602-9159-92-9

Alison DiLaurentis, Aria Montgomery, Hanna Marin, Spencer Hastings, dan Emily Fields, adalah satu genk cewek-cewek cantik yang cukup disegani di SMP Rosewood Day, hingga suatu peristiwa membuat Alison menghilang dan anggota genk yang tersisa tercerai berai. Pada tahun ketiga setelah hilangnya Alison secara misterius, keempat gadis telah memasuki masa-masa SMA dengan segala pernik masalah kehidupan masing-masing.

Aria baru saja kembali dari Islandia untuk kemudian bertemu seorang cowok yang begitu disukainya sebelum ia tahu bahwa seharusnya ia tak boleh berhubungan dengan cowok itu. Hanna yang dulu gemuk dan minderan kini bertransformasi menjadi gadis cantik dan populer di SMA. Spencer adalah si kutu buku yang berusaha lepas dari bayang-bayang kakaknya untuk bisa tampil sebagai bintang di keluarganya. Dan Emily, sang anggota tim renang sekolah, berusaha mati-matian menemukan jati dirinya yang berbeda dari cewek kebanyakan. Lalu, datanglah semua SMS dan e-mail dari seseorang berinisial A pada masing-masing mereka, yang membuat mereka ketakutan, yang akhirnya merekatkan kembali hubungan pertemanan mereka demi melacak siapa sebenarnya si A yang tahu rahasia-rahasia yang mereka simpan.

Apakah mereka berhasil melacak dan menemukan si A misterius yang meneror hidup mereka itu? Simak pernik kehidupan Aria, Hanna, Spencer, dan Emily yang dipenuhi rahasia dalam novel pertama dari serial bestseller Pretty Little Liars karya Sara Shepard ini.


Saya terlebih dahulu terhanyut pada kisah ini justru dari menonton serial TV-nya yang ditayangkan oleh ABC. Alloy Entertainment yang memproduksi serial tersebut menyebutkan bahwa ide awalnya adalah ingin membuat serial “Desperate Housewives for teen.” Dan, bagi kalian yang pernah (suka) menonton Desperate Housewives sepertinya juga bakal mudah jatuh suka pada serial ini mengingat di awal ceritanya bisa dibilang “sangat” mirip. Lima orang perempuan, satu di antaranya bunuh diri (Desperate Housewives) atau menghilang (Pretty Little Liars), lalu satu demi satu rahasia terbongkar. Saya langsung suka!

As usual, kalau sudah terlebih dahulu menikmati versi filmnya, saya menjadi begitu mudah tergiring ketika membaca novelnya dan mulai mencari-cari mana bagian-bagian dalam novel yang berbeda dengan versi filmnya. Dan, untuk Pretty Little Liars ini cukup banyak perbedaan yang saya temukan pada kedua versinya. Beberapa perbedaan tersebut memang mengurangi kenikmatan membaca, misalnya jika di serial TV-nya Emily adalah anak tunggal, di novel ia memiliki dua orang kakak, namun no biggie lah. Saya tetap berusaha menikmati menuntaskan-baca novel ini.

Jujur, saya kesulitan membaca bagian awal dari versi terjemahan ini padahal ketika mengintip versi aslinya, sebenarnya cukup mudah dibaca, entah mengapa ketika diterjemahkan saya justru mengalami kesulitan mencerna kalimat per kalimatnya. Untunglah, setelah bagian awal itu, bab-bab selanjutnya mulai mudah saya baca, meskipun terkadang masih ada beberapa hal yang membuat saya mengernyit tak paham. Mungkin juga, saya terbantu dari pengalaman saya menonton versi serial TV-nya karena kalau pun saya sulit mencerna kalimat-kalimatnya, saya sudah paham ke mana tujuan adegan itu.

Dari segi karakter, saya suka rekaan Sara Shepard ini karena tiap karakternya dilengkapi dengan subplot yang kaya, dan karena novel ini sudah dideklarasikan untuk menjadi serial sehingga subplot yang banyak itu tidak membuat cerita utama menjadi terlupakan. Misalnya tokoh Aria yang harus mati-matian menjaga rahasia gelap sang ayah demi keutuhan keluarganya, juga tak lepas dari permasalahan lain seperti depresi, cinta terlarang dengan cowok di sekolahnya, dan sebagainya.

Rasa penasaran yang terbangun memang memiliki sensasi yang berbeda ketika membaca dan menonton filmnya. Pada versi novelnya, intensitas unsur misterinya dijaga hingga akhir halaman dengan baru mempertemukan keempat sahabat yang frustrasi menerima sms/e-mail dari seseorang yang berinisial A itu di bagian belakang, sedangkan di versi serial TV-nya keempat sahabat ini diceritakan sudah kembali saling bertegur sapa sejak dari episode awal (season 1: 22 episode). Jadi, ketika membaca novel ini saya tak henti-hentinya berdecak dan membatin (kepada para tokohnya), “Ayo Aria, curhat aja sama Emily, Hanna, atau Spencer, dia juga dapet kok sms-nya itu.” Saya sinting! Hahaha.

Terlepas dari gaya penerjemahan yang tidak begitu nyaman, saya tetap menyukai novel ini. Tentu saja, terima kasih kepada pembuat serial TV-nya yang menarik minat saya untuk membaca novel ini.

Selamat membaca, kawan!


promo Pretty Little Liars Season 1 (2010)


promo Pretty Little Liars Season 3 (2012)

Friday, March 9, 2012

[Resensi Novel Chicklit] Goodnight Tweetheart by Teresa Medeiros


Hai, tweetheart, apa kabarmu hari ini?
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Goodnight Tweetheart
Penulis: Teresa Medeiros
Penerjemah: Siska Yuanita
Pewajah sampul: eMTe
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp
Rilis: Desember 2011
ISBN: 978-979-22-7837-8

Yono: Kau pakai baju apa?
Yuli: Sweater bernoda kopi dan syal Hermes Miranda Priestly di THE DEVIL WEARS PRADA. Kau?
Yono: Jaket kulit hitam mengilat dan topi kain Lyckety-Splyt di 8 MILE.
Yuli: Ahh, manis sekali. Seharusnya tambahkan gelang berduri di pergelanganmu dan tindikan peniti di telingamu.
Yono: Itu rocker, aku ini rapper. Jadi, apa kabar tulisanmu hari ini?
Yuli: Masih belum beranjak dari adegan bercinta di kolam renang yang kuceritakan terakhir kali kita nge-tweet
Yono: Oh, adegan panas itu. Apa kau perlu kipas?
Yuli: Tak perlu, adegan itu di kolam renang, pasti akan dingin sendiri.
Yono: Goodnight, Cinta
Yuli: Goodnight, Rangga
Yono: Goodnight, Mili
Yuli: Goodnight, Mamet
Yono: Goodnight, tweetheart...


Mencoba hal baru, that’s not my style. Ketika facebook baru saja muncul, saya itu belum lama punya akun friendster. Berhubung teman-teman saya banyak yang pindah ke facebook, maka saya pun ‘terpaksa’ ikut arus dan bergabung di situs jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut. Saat itu, saya masih naif juga, mencoba mencari akun facebook artis Hollywood untuk bisa saya ajak friend, ternyata sulit sekali mencarinya. Lalu, saya meminta bantuan google, dan justru diteruskan ke alamat si artis di My Space dan Twitter. Setelah dilihat-lihat, cukup banyak artis yang join di Twitter dan setahu saya saat itu Twitter masih kalah pamor dibanding facebook di Indonesia. Saya membuat akun twitter hanya untuk mem-follow akun artis Hollywood favorit (pertama kali follow Britney Spears...;) tapi, belakangan saya ikut menikmati Twitter (bergantian dengan goodreads.com, tentu saja).

Membaca goodnight tweetheart sungguh menyenangkan. Kocak. Berkat kepiawaian Teresa menghadirkan dialog-dialog cerdas nan lucu (tak jarang menjurus vulgar) mau tak mau membuat saya tertawa. Hal lain yang memukau saya adalah bagaimana dalam novel yang tidak terlalu tebal ini, penulis mampu menciptakan karakter dengan sub-plot yang banyak tapi tetap hidup. Twist pada cerita dan ending yang manis menjadikan novel ini sungguh sayang jika dilewatkan.


Dan, tweet-versation mereka berdua benar-benar menggemaskan. Selalu diawali dengan pertanyaan, “Kau pakai baju apa?” dan kerap diakhiri dengan saling mengucapkan salam perpisahan dengan memanggil tokoh/karakter dalam film-film yang mereka tonton di mana Mark selalu menulis “Goodnight tweetheart” yang tak pernah dibalas oleh Abby karena speechless. Abby Donovan merupakan seorang penulis debutan yang karya perdananya terpilih dalam Oprah’s Book Club dan sedang menggarap novel kedua namun terkendala writer’s block sehingga ia berada pada titik kritis kehidupannya. Sementara Mark Baynard adalah seorang dosen sastra berstatus duda-anak-satu yang mengaku sedang cuti panjang dan berlibur ke beberapa negara di Eropa.

Tapi, semua akan menjadi datar dan biasa-biasa saja, jika hanya berisi tweet-versation biasa yang kadang diwarnai flirting-flirting seksi itu saja. Untunglah, Teresa tahu bahwa cerita ini harus dikemas dengan sub-plot yang mendukung. Di sekeliling Abby ada ibunya yang sedang dirawat di pusat rehabilitasi akibat penyakit disorder yang dideritanya, lalu ada Margo sang sahabat setia, serta konfliknya sendiri menyangkut stagnansi penulisan dan hubungannya dengan agen-publisisnya. Dikarenakan PoV yang digunakan penulis lebih menyorot Abby, maka Mark yang menjadi teman twitter Abby di seberang hanya dapat teraba karakternya melalui percakapan mereka. Menjelang ending, baru terlihat beberapa adegan yang melibatkan Mark dan keluarganya.


What can I say, novel ini produk impor, jadi ketika beberapa kata vulgar terselip di sana-sini, yah, mau bagaimana lagi. Saya tetap terganggu, namun menurut saya, siapa pun pembacanya pasti akan mudah terikat kepada ceritanya ketika membaca novel ini, karena akan sibuk mencoba menebak-nebak...uhmm, “Karakter di film apa sih yang sedang mereka bicarakan ini?” atau beberapa serial Amerika masa kini yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Saya menikmatinya. Dan, 4 bintang saya berikan untuk novel ini. Semoga ada novel karya Teresa lain yang dapat diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia.


Selamat membaca kawan!

Tuesday, February 21, 2012

[Novel Young Adult] 13 Reasons Why by Jay Asher


Tanya Kenapa?
Read from 16 to 18 February 2012
Rating: 3 out of 5 star


Judul: 13 Reasons Why
Pengarang: Jay Asher
Penerjemah: Mery Riansyah
Penyunting: Endah Sulwesi & Lulu Fitri Rahman
Korektor: Tisa Anggriani
Pewajah sampul: Bambang Suroto
Penerbit: Matahati
Tebal: 288 hlm
Harga: Rp
Rilis: Oktober 2011 (cet ke-1)
ISBN: 6029625578

Summary
Clay Jensen menyukai Hannah Baker. Tidak, rasanya lebih dari sekadar suka. Namun, semuanya tak lagi jadi soal. Hannah Baker sudah tiada. Gadis itu telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dengan cara yang tragis pula. Bunuh diri. Meskipun demikian, Hannah meninggalkan untuknya 7 keping kaset berisi 13 rekaman yang menguak alasan Hannah Baker memilih mengakhiri hidupnya.

Tentu saja, pikiran Clay dipenuhi bermacam pertanyaan yang tak ia ketahui jawabannya mengingat rasa-rasanya ia tak pernah berbuat hal yang salah dan menyakiti Hannah. Lalu, mengapa ia juga mendapat kaset-kaset itu? Mari ikut mendengarkan rekaman detik demi detik Hannah mengungkap alasan-alasannya mengakhiri hidup bersama Clay Jensen dan mengetahui mengapa Clay juga ada di rekaman tersebut melalui novel debutan Jay Asher berjudul 13 Reasons Why ini.

Sebelum diterjemahkan oleh Matahati, saya sudah berhasrat membaca novel ini (e-book) ketika salah satu group pembaca novel Young Adult di goodreads.com menjadikan buku ini sebagai buku baca bareng, namun saya masih urung turut serta. Maka, ketika Matahati mengabarkan akan merilis terjemahan novel ini, saya pun sekali lagi berniat membacanya. Dan, akhirnya saya membacanya.

Judulnya provokatif. Tiga belas alasan mengapa. Mengapa ada tiga belas alasan? Alasan apa? Hmm, dari situ pun saya sudah berusaha menebak bahwa telah terjadi satu peristiwa penting dengan 13 alasan yang menjadi latar belakang terjadinya peristiwa tersebut. Pun, saya sudah membaui ada nuansa suspense pada novel ini. Meskipun, tentu saja, terdapat begitu banyak skenario yang mungkin saja menyebabkan perlunya 13 alasan untuk terjadinya sebuah peristiwa. Hah! Saya ngomong apa? Entahlah. Abaikan saja.

Yang jelas, memang ada 13 alasan yang diungkap Hannah Baker dalam 7 keping kaset di mana masing-masing alasan terkoneksi dengan orang-orang yang secara bergiliran akan menerima kaset itu dan mau tak mau mendengarkannya. Terkadang, saya mengernyit dan bertanya, “masak sih, cuman karena begitu saja, Hannah bisa menganggap orang itu ikut andil dalam keputusannya untuk bunuh diri?” Maka, itulah perasaan saya sepanjang membaca novel ini. Saya tak mendapati hal-hal signifikan dari cerita Hannah. Ternyata, Jay Asher pun sudah menduga bakal ada pembaca yang “kebingungan” memahami pesannya (yaitu saya) sehingga di akhir novelnya, ia membuat semacam question and answer yang menjelaskan beberapa hal terkait 13 Reasons Why ini.

Dan, moral of the story kisah ini begitu apik. Bahwa setiap kejadian pasti ada sebab-musababnya. Nggak mungkin ujug-ujug seseorang melakukan sesuatu, seimpulsif apa pun orang itu, apalagi untuk sesuatu yang ekstrem, misalnya saja bunuh diri. Ahh, membahas topik bunuh diri saya jadi ingat tagline saya beberapa tahun lalu, “Mengapa bunuh diri diharamkan jika hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan?” Saya memahami bagaimana perasaan Hannah Baker atas hidupnya.
Saya butuh segalanya berhenti. Orang-orang. Kehidupan. (hlm. 260)
Sebagai manusia biasa, beberapa kali saya pun mengalami patah arang. Jika sudah begitu saya hanya mengharapkan gelap. Anggapan saya, dunia akan lebih baik tanpa keberadaan saya. Saya ini hanya beban. Untunglah, masih ada keluarga besar yang menyita sebagian besar prioritas saya. Sehingga keinginan semacam itu bisa tersingkirkan.

Menjadi Clay Jensen pun bukan peran yang mudah. Dari awal kita sudah disuguhi pergolakan batin yang luar biasa. Bagaimana tidak, seseorang yang mencintai Hannah dengan sepenuh hati dan tak merasa pernah menyakiti Hannah, Clay malah masuk dalam daftar yang dibuat Hannah. Maka, sepanjang membaca novel ini, pembaca akan diajak merasakan sensasi atas setiap hal yang terkuak dari rekaman. Dan, dari petunjuk yang disertakan dalam setiap rekaman, Clay menyusuri tempat-tempat yang menjadi lokasi kejadian yang dimaksudkan Hannah.

Pada tahap tertentu saya akan meragukan konsistensi rekaman-rekaman yang dibuat oleh Hannah. Bagaimana bisa, ia yang sudah kalut ingin mengakhiri hidupnya masih sempat membuat sejumlah 13 rekaman itu yang adalah gabungan dari narasi berdasar memori Hannah dan rekaman langsung dari peristiwa yang dialaminya.
Saat ini kalian pasti bertanya-tanya, siapa sih mereka? Hannah, kau lupa menyebutkan nama mereka. Tapi aku tidak lupa. Jika ada satu hal yang masih kumiliki, itu adalah ingatanku. (hlm. 214)
Jadi, jika saya tak memberikan bintang maksimal untuk novel ini, bukan berarti novel ini tak bagus, namun itu lebih karena saya sendiri yang gagal menangkap esensinya. Bagi saya yang sudah kebanyakan membaca cerita-cerita cheesy, novel ini semacam kudapan berat yang ketika dilahap pun masih memaksa saya untuk memeras otak. Apa sih maksudnya?

Dari segi cetakan, sudahlah, gabungan mbak Endah-mbak Lulu-Mery-Tisa sudah pasti menghadirkan hasil cetakan optimal. Sepanjang saya membaca, hanya satu typo yang saya temukan (hlm. 214: berciumam) dan jarang saya temukan kalimat membingungkan/ambigu/tak efektif. Salut deh.

Selamat membaca, kawan!


Oiya, ini beberapa sampul edisi negara lain:





Tuesday, January 31, 2012

[Kado My Secret Santa] Resensi Novel Young Adult - Where She Went by Gayle Forman


Serasa menonton ulang film Before Sunrise..., tapi lebih datar
Reading from 13 - 15 January, 2012
Rating: 2,5 out of 5 star


Judul: Where She went (If I Stay #2)
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Dini Pandia
Pewajah Sampul: Marcel A.W.
Tebal: 240 hlm
Rilis: Oktober 2011
ISBN: 978-979-22-7650-3

Summary:
Adam Wilde, seorang rockstar yang sedang naik daun, didera kegelisahan yang semakin hari semakin membuatnya tertekan. Ditambah lagi sikap anggota band yang lain yang selalu melihatnya sebagai masalah dan ancaman bagi grup yang album musik rilis terakhir mereka baru saja diganjar double platinum. Lalu, entah kebetulan entah takdir, Adam bertemu lagi dengan Mia Hall, mantan kekasih yang pergi meninggalkannya setelah ia pulih dari koma akibat kecelakaan yang juga merenggut seluruh anggota keluarga gadis itu, kurang lebih 3 tahun silam.

Atas nama nostalgia dan inisiatif Mia, keduanya menyibak sudut-sudut rahasia kota New York yang menjadi tempat favorit Mia. Dari perjalanan semalam itulah mengalir kisah demi kisah dalam rajutan kenangan masing-masing selama mereka berpisah. Apa yang menyebabkan Mia pergi meninggalkan Adam? Mengapa Adam seolah tak pernah mencari Mia jika ia benar-benar mencintainya? Apakah kejujuran dalam satu malam itu bisa merekatkan kembali segala sesuatunya yang sudah merenggang? Dan, jangan lupakan bahwa keduanya terburu jadwal terbang masing-masing, Adam ke London dan Mia ke Tokyo, apakah dengan waktu yang singkat itu semuanya akan terurai dengan benar? Simak saja bagaimana Adam dan Mia berdamai dengan masa lalu mereka dalam novel Where She Went karya Gayle Forman yang merupakan sekuel dari If I Stay ini.


Saya tentu saja sudah berniat membeli novel ini ketika teman-teman pembaca yang lain pada heboh memperbincangkannya. Apalagi sampulnya yang OK’s bangetsss itu… Simply beautiful! Tak tanggung-tanggung bahkan beberapa dari teman pembaca perempuan memasukkan Adam Wilde ke dalam daftar top boyfriend mereka. Ditambah lagi, novel ini dipilih oleh goodreaders di seluruh dunia sebagai novel Young Adult terfavorit tahun 2011. Tak ayal, saya semakin penasaran untuk membacanya.

Niatan awal, saya ingin membaca runut dari If I Stay dulu tapi dikarenakan kebaikan hati My Secret Santa, saya terlebih dahulu mendapatkan copy novel ini. Heh? My Secret Santa? Maksudnya? Hmm, baiklah saya akan bercerita sedikit tentang ini. Secara kebetulan saya baru bergabung di salah satu group pembaca di facebook yaitu komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI) pada Desember 2011. Merujuk pada namanya, komunitas ini adalah tempat bergabungnya para blogger yang content blognya mostly tentang buku, tidak diperkenankan isinya bercampur dengan tulisan lain di luar buku. Awesome! Info selengkapnya tentang komunitas ini silakan intip di blogbukuindonesia dan fanpage BBI di facebook.

Saat itu sedang ada proyek Secret Santa yang diselenggarakan oleh anggota BBI (atau kami menyebutnya BBIers). Rule-nya simple: setiap orang yang mendaftar akan menjadi Santa yang akan mengabulkan wishlist dari seorang member yang terpilih menjadi penerima kado dari Santa. Dikarenakan proyeknya bertajuk Secret, maka baik si Santa dan sang penerima kado tidak saling mengetahui. Di situlah letak serunya proyek ini. Maka, setelah berdebar-debar selama masa penantian, datanglah paket misterius dari Santa saya yang baik. Taraaaaa... paketnya adalah novel Where She Went ini. Senangnya. Lalu, siapakah My Secret Santa?



Siapa dia? Saya berharap semoga My Lovely Secret Santa berkenan memperkenalkan diri kepada saya, di sini, hehehe....thank you very much, Santa. I am really happy that you send me this book. Awesome!

Oke, balik ke novel ini lagi. Sejujurnya, saya juga berusaha ikut merasai perjalanan kontemplasi yang dilakukan Adam Wilde bersama dengan Mia Hall. Saya ingin menemukan sensasi sebagaimana yang ditemukan oleh teman-teman pembaca saya yang lain (mostly, girls), but, unfortunately, I couldn’t find it. Dunno why. Begitu cerita memasuki tahapan penelusuran sudut-sudut kota New York, otak saya justru memutarkan kenangan film Before Sunrise-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy yang sangat indah itu. Meskipun berbeda setting, karakter, bahkan ide cerita, namun Before Sunrise sungguh membuat emosi saya datar-datar saja ketika membaca novel ini.

Lalu, pada suatu titik, saya sampai mendengus sebal. Oh, apakah para gadis itu jatuh hati pada bintang rock cengeng pengidap depresi semacam Adam ini? Beuuh, sinis bener, kayaknya saya, ya? Entahlah, saya tak bisa terkoneksi dengan sempurna pada tokoh-tokoh rekaan Gayle Forman di sini. Seorang teman menduga mungkin dikarenakan saya yang belum membaca buku pertamanya. Ehmm, bisa jadi. Namun, selepas saya menyelesaikan If I Stay, saya tetap tak bisa jatuh hati pada kisah ini.

Alur yang ditaburi adegan flash back tidak membantu saya membangun citra diri Adam-Mia. Entah, karena saya yang tidak terhanyut itu, saya merasa permasalahan mereka ini “sepele-banget” dan dibikin ribet sama penulisnya. Konflik pun tak dipertajam. Keberuntungan demi keberuntungan seolah selalu memayungi tiap langkah kedua tokoh utama. Dan, semua menjadi demikian mudah. Lah, kenapa dibikin ribet sampai tangis-tangisan segala? Entahlah.

Saya pun sempat menyalahkan pilihan waktu membaca saya yang terus tancap gas hingga lewat tengah malam, ketika kantuk tak lagi dapat ditahan, saya tetap memaksa merampungkan baca. Tetapi, saya pun melakukannya ketika membaca If I Stay, dan hasilnya beda. Jadi, itu jelas bukan permasalahannya. Saya menyerah untuk mencari alasan. Memang saya-nya yang tak terhanyut kisah ini. Namun demikian, saya tetap menyukai novel ini. sekiranya nanti masih ada lanjutan dari seri ini, saya masih berkeinginan untuk membacanya. Bahkan, saya memang sedang mencari buku lain karya Gayle Forman untuk dibaca.

Secara teknis cetakan, Where She Went mengalami penurunan kualitas. Ada beberapa typo yang masih terselip termasuk inkonsistensi penggunaan beberapa kata (beda halaman, beda penulisan). Yang paling mengganggu bagi saya adalah pemenggalan suku kata yang tidak pada tempatnya. Bahkan, kata yang berada di tengah-tengah halaman pun mendapat pemenggalan suku kata. Saya menduga ini karena penggunaan software konversi kata yang tidak cermat dalam hal setting-nya. CMIIW.

Bagian favorit saya di novel ini:

...dan mereka akan segera lupa bahwa aku hanya manusia fana: daging dan tulang, bisa memar dan terluka (hlm. 129) ---Adam yang mengeluhkan ulah para fans yang merubunginya. 
...tidak ada tempat yang lebih mematikan gairah daripada rumah sakit. Baunya saja sudah bikin hilang selera –sungguh kebalikan dari meningkatkan hasrat (hlm. 136)
Ah, sudahlah, intinya saya suka novel ini, meskipun juga merasa biasa saja ketika selesai merampungkannya. Tak ada kesan yang berbekas di hati saya. 2,5 bintang saja untuk kebosanan saya menghadapi Adam yang penggamang.



Oke, selamat membaca, kawan! Dan, berkali-kali kembali saya sampaikan terima kasih kepada My Secret Santa! God bless you!