Showing posts with label Novel: Amore. Show all posts
Showing posts with label Novel: Amore. Show all posts

Wednesday, May 29, 2013

[Resensi Novel Amore] Mahogany Hills by Tia Widiana + Giveaway


Rumahku, surga dan nerakaku...

-- Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore 2012 --

Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan—semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

Pengarang: Tia Widiana
Pewajah sampul: Cynthia Yanetha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Harga: Rp58.000
Rilis: Mei 2013
ISBN: 978-979-22-9584-9

Saya menemui keganjilan ‘pribadi’ ketika membaca novel yang ditahbiskan sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore tahun 2012 ini. Banyak sekali faktor yang berpotensi menghambat saya untuk menyukai novel ini. Pertama, adegan awal novel ini ternyata ‘hampir-mirip’ dengan adegan pembuka novel CoupL(ov)e-nya Rhein Fathia yang juga sedang saya baca (malam pertama yang canggung, adegan lingerie nan dramatis, panggilan ortu dan mertua yang dibedakan, serta mantan-mantan yang berseliweran). Kedua, ada tiga hal yang paling tidak saya sukai dari sebuah karya fiksi ada di novel ini, yakni: perjodohan, kecelakaan, dan amnesia, dan ketiga hal itu ada di novel ini. APAHHH??? (insert = *melotot dramatis*) Nah, dengan dua faktor itu semestinya saya benci novel ini. Tapi, nyatanya enggak. Ini sungguh ganjil. Dan, tanpa bisa saya sangkal, saya menyukai novel ini.

Mendapat kerhormatan karena diberi kesempatan ikut terlibat dalam proses seleksi awal Lomba Penulisan Novel Amore, saya mendapat jatah menilai kurang lebih 50-an naskah. Betapa mengejutkan, bahwa dari jumlah itu kurang lebih 20% di antaranya bertemakan perjodohan. OMAGAT! Saya sampai benar-benar muak dengan tema itu. Jika tweeman sempat mengikuti ocehan saya di twitter, saya pernah mengeluh tentang ini. Mengapa sih, banyak banget penulis (baru) kerap mengangkat tema ini? Nggak bosen apa? Buat saya pribadi sih, “Dih. Boring bangetsssssss, sumpah!” Masih banyaklah topik lain di luar sana yang dapat dipilih untuk mempertemukan-dan-mempersatukan-cinta-dalam-ikatan-yang-suci tanpa melalui perjodohan. *sigh* Dan, di dalam novel ini pun ada unsur perjodohannya itu. Meskipun, harus saya akui, dibanding 20% naskah yang jatah saya tadi, Mahogany Hills memang ditulis jauh lebih bagus.

gambar dari sini: segitigamedia.blogspot.com
Saya benar-benar dibuat penasaran dan berharap dapat segera membaca Mahogany Hills sejak naskah ini diumumkan menjadi yang terbaik dalam Lomba Penulisan Novel Amore bulan lalu. Benar saja, di luar faktor-faktor pribadi di atas, saya jatuh cinta pada novel ini. Gaya mendongeng Tia cocok dengan selera saya. Tidak terlalu mendayu-dayu, tapi juga tidak kaku. Pas. Tepat takaran. Selama proses membaca, saya tak mengalami kendala macet gegara tulisan. Palingan hanya karena (lagi-lagi) faktor-faktor pribadi saja.

[SPOILER ALERT] Well, ini spoiler, tapi juga saya pengin jujur. Siapa tahu ada orang yang sama seperti saya, yang tidak menyukai unsur ini. Unsur paling menyesakkan tentu saja amnesia. Oh, GOD! Saya benar-benar muak sebenarnya dengan ini. Tapi, ya mau bagaimana? Kan yang ngarang bukan saya. Terserah pengarangnya mau mengarang tentang apa, kan? Namun, seandainya saya ditanya, sesuai selera saya, unsur inilah yang membuat saya turn off ketika membaca novel ini. Setelah adegan pemicu terjadinya amnesia, saya bacanya lempeng saja. Menunggu sampai ceritanya diakhiri.

gambar dari sini: gemamedisiana.blogspot.com
Plot-nya oke. Subplot-nya yang menurut saya masih sedikit kurang. Apakah mantan Paras yang digambarkan temperamental dan ‘sinting’ itu langsung mundur hanya sekali gebuk sama Jagad? Sementara tokoh mantan Jagad pun kurang tereksplor secara mendalam, mengingat ia digambarkan seorang cewek nekat, apa iya cuman dibegitukan sama Jagad ia langsung mundur? Hmmm...

Setting-nya oke. Karakterisasi-nya oke. Pernak-pernik-nya oke. Diksi-nya oke. Konflik-nya, karena kurang ganasnya dua tokoh pendukung utama, konflik kurang menukik tajam. Saya masih kurang sreg jika puncak konflik ditandai kejadian amnesia itu. Tapii, ah...sudahlah.

Bicara soal tokoh-tokoh yang ada di sini, mengapa mertua Paras (orangtua Jagad) tidak diceritakan ikut panik ketika Paras terkena amnesia, ya? Padahal pada satu adegan ketika Paras kalut mendapati Jagad masih behubungan dengan mantannya, Paras dan sang ibu mertua mengobrol dengan sangat dekat. Agak aneh menurut saya sih, apalagi di saat yang bersamaan orangtua Paras diceritakan tak dapat menemani Paras. Atau saya yang kelewat baca detailnya, ya?

Oh, hampir lupa. Salah satu yang saya suka dari gaya mengarang Tia adalah kepiawaiannya untuk menahan-nahan sebuah rahasia/kejutan. Teaser di akhir adegan awal yang akan menjadi pembuka adegan berikutnya sungguh bikin saya ikut berdebar-debar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menurut saya gaya tarik-ulur ini sungguh sulit. Bila tak benar tekniknya, bisa menghancurkan sisi misterius yang ingin dibangun dan malah terkesan norak. Dan, bagi saya, Tia berhasil melakukannya dengan sangat baik di novel ini.

gambar dari sini: www.hoteldigarut.com
Mengesampingkan berbagai hal, I LOVE THIS BOOK VERY MUCH. Debut yang cantik, Tia. And, this book definitely deserves the Amore’s crown. Yang paling kuat dari semuanya, menurut saya, adalah settinglokasinya. Sebuah rumah di pelosok Sukabumi membawa nuansa romantis sekaligus mistis, sebenarnya. Lha, mereka cuman tinggal berdua dan untuk sekadar beli sabun harus pakai mobil, berarti kan agak-agak bikin merinding ya, tempatnya, hehehe. Tapi, romantisme yang terjalin di tengah kecanggungan hubungan Jagad-Paras justru menyeret saya ke drama percintaan yang indah. Entahlah, saya sampai sulit mendeskripsikan bagaimana dua orang ini bisa berinteraksi di balik keengganan berterus terang dan banyaknya awkward moment karena hubungan yang sah di dalam simpul ikatan pernikahan itu tidak dilandasi cinta. Benarkah keduanya sedikit saja tak mencintai satu sama lain dari sejak mula? Temukan sendiri jawabannya di sini ya. Surprise-surprisekecilnya bikin saya mengulum senyum.

Dari segi cetakan, ehem, masih ada beberapa typo. Too bad, kalau tidak salah ada lebih dari 5 typo yang saya temukan, termasuk salah penulisan Jagad menjadi Jadad, untung bukan ditulis Jasad ya...ups *ditoyor* Dannn..., ada satu typo di bagian epilog yang bikin saya ketawa ngakak,
“Karin dan Rasya berjalan keluar dari kamar, memakan baju pesta putih yang berpotongan...”

Hahaha....jadi keduanya nggak suka makan nasi, ya? Sukanya makan baju pesta... *ngikik*

Pada akhirnya, adalah rasa di dalam hati yang menentukan. Meskipun dengan begitu banyak hal yang tidak saya sukai, toh saya tidak bisa menyangkal bahwa perasaan saya ikut tersentuh oleh kisah Jagad-Paras ini. Pada satu titik saya ingin menggampar Jagad dan di titik lain saya ingin mengguncang-guncangkan bahu Paras karena keputusan-keputusan yang mereka ambil. Menarik dan sangat saya rekomendasikan buat pencinta romance untuk membaca novel yang juga merupakan Book of the Month di blog ini. Entahlah, saya kok merasa yakin bahwa novel ini akan makin mengangkat citra lini Novel Amore sehingga makin banyak pembaca yang berminat untuk mencicipi harlequin bercita rasa lokal ini. Sekali lagi selamat Tia, dan selamat Gramedia.

My rating: 4 out of 5 stars


Okay, giveaway timeeee....
1.       Giveawaydiadakan di blog ini.
2.       Tweettentang giveaway ini, minimal satu kali dengan format: Guys, ada giveaway keren berhadiah novel #MahoganyHills di http://metropop-lover.blogspot.com @tiawidia @fiksimetropop
3.       Silakan jawab pertanyaan ini di kolom komentar, “Menurut kamu, apa sih hal yang paling menyebalkan dari menikah karena dijodohin?”
4.       Tinggalkan identitas kamu di akhir komentar, boleh alamat email, dan lebih baik jika akun twitter yang mudah di-mention.
5.       Periode giveaway: 29 – 30 Mei 2013, dan pemenang diumumkan tanggal 31 Mei 2013.

Good luck and keep reading, tweemans.


Thursday, July 26, 2012

[Resensi Novel Amore] Postcard from Neverland by Rina Suryakusuma


Perjuangan Cinta


Judul: Postcard from Neverland
Pengarang: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co-Editor: Irna Permanasari
Sampul: Mracel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 hlm
Harga: Rp33.000
Rilis: Agustus 2010
ISBN: 978-979-22-5698-7

Ami Amarell Siswoyo mendapat anugerah kecantikan alami nan memikat. Namun, kecantikan itu justru membawa begitu banyak kesulitan bagi Ami, terutama ketika sang Ayah meninggal dunia, terpaksa Ami yang menggantikan perannya untuk menjadi tulang punggung keluarga bagi sang Ibu dan seorang adik perempuannya. Ami pun drop out dari kuliahnya dan bekerja apa saja demi menjalani hidup, dan dalam dunia kerja inilah hidupnya makin sengsara. Pelecehan demi pelecehan ia dapatkan, karena label cantik yang disandangnya.

Sampai ia bertemu Joshua Leinard tanpa sengaja. Didorong sahabat karibnya, Lusi, Ami mencoba peruntungan untuk bekerja di sebuah cafe hotel honteng lima yang baru akan dibuka. Kembali insiden tak menyenangkan menimpanya yang berakhir pada tawaran untuk bekerja sebagai kepala pelayan di rumah Josh. Dari sinilah, seluruh hidup Ami berubah. Tak hanya ia mendapat kecukupan finansial, namun ia juga berhasil bertemu dengan cinta sejatinya. Lantas, sanggupkah Ami mempertahankan cintanya? Cinta yang memilin begitu banyak jalinan perbedaan? Mampukah ia menghalau cibiran dan cemoohan orang demi memperjuangkan cintanya?

Simak liku-liku kehidupan Ami dalam novel Amore bertajuk Postcard from Neverland karya Rina Suryakusuma ini.


Membaca Postcard from Neverland, saya seolah diingatkan kembali dengan kisah cinta Cinderella yang demikian melegenda itu. Atau, film komedi romantis Maid in Manhattan yang dibintangi si cantik Jennifer Lopez. Tema novel ini memang klasik nan klise. Si cantik yang harus berjuang tak kenal lelah lalu berjumpa dengan pangeran tampan nan kaya raya, tentu tak lupa tambahkan beberapa tokoh antagonis, voila, cinta memenangkan seluruh pertarungan.

Saya mungkin cenderung terlalu menghakimi begitu mengakhiri membaca novel ini. Selain bumbu dasar yang begitu mirip kisah Cinderella, hubungan antarnegara, perempuan asli Indonesia dan laki-laki bule masih terlalu di awang-awang bagi saya, meskipun toh di Indonesia hal ini sudah biasa. Di Jakarta misalnya, tak jarang saya mendapati pasangan antarnegara ini di mall, angkutan umum, atau di jalan-jalan. Lagi-lagi, ini hanya persepsi pribadi saya belaka. Maklum, saya masih terlalu percaya bahwa orangtua selalu meminta menantu yang asalnya tak jauh-jauh, kadang malah diminta sesuku, lha kalau sudah beda negara, jelas tak masuk hitungan, kan?

Yang membuat saya betah membaca novel ini, dan justru menyukainya, adalah tentu kepiawaian mbak Rina dalam meracik kisah cinta yang klise itu menjadi segar untuk dibaca. Tak ketinggalan, beragam pesan terselip di sana-sini yang dapat memperkaya wawasan kehidupan kita, paling tidak bagi saya pribadi--sebagai pembaca. Salah satunya adalah pada bagian ketika Ami harus menerima perlakuan tak menyenangkan menjadi bahan pergunjingan di minimarket ketika Ami menemani Josh berbelanja. Saya merasa sepicik ibu-ibu di minimarket itu. Menduga bahwa cewek 'pengguide' (baca penggaet) cowok bule itu, tak lain tak bukan sekadar mencari peruntungan nasib. Bisa mencari harta, atau #justjoking, mengubah keturunan. Oh, #ShameOnMe.

malesinearlychildhood.blogspot.com

Dignity. Martabat. Harga diri. Itu pula yang saya tangkap tersirat dalam novel ini. "Kau boleh miskin harta, tapi tak boleh miskin jiwa", entah saya membacanya di mana, tapi itu pula yang saya dapatkan selepas rampung membaca Postcard from Neverland. Bolehlah miskin, tapi jangan mengobral diri dengan melakukan apa saja demi sesuap nasi. Ami tetap mempertahankan prinsipnya, bahwa ia mencintai Josh tanpa tendensi apa pun kecuali cinta itu sendiri. Maka, ketika Josh melamarnya sementara Ami masih menjadi pelayan, Ami memintanya bersabar. Ia ingin melanjutkan kuliahnya terlebih dahulu (dengan menolak bantuan biaya kuliah dari Josh) dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai, barulah mengusahakan untuk menyatukan cinta mereka. Ami bukan terhasut omongan orang, namun tak bisa dimungkiri, semua hal akan menjadi lebih mudah jika kedudukan Ami-Josh sudah setara, maksudnya tak lagi terikat hubungan pelayan-majikan.
Jujur saja, Ami tidak ingin dicap sebagai pagar makan tanaman. Pelayan kok merayu majikan? (97)
Sampai di pertengahan menjelang konflik 'panas' saya pun menunggu dengan sabar twist apa yang akan diciptakan oleh mbak Rina. Lagi-lagi, saya musti menyebut bahwa sejauh ini, Lullaby yang paling membuat saya terpana karena twist-nya. Sementara dalam Postcard ini, twist-nya hanya membuat gempa kecil saja, tak sampai bikin saya terguncang.

Bagian lain yang membuat saya agak sedikit mengerutkan kening adalah hadirnya karakter Dennis, anak lelaki Josh. Awalnya saya sangat antusias menantikan kehadirannya untuk membuat konflik menjadi kian meruncing. Memang makin runcing sih, tapi kok saya kurang merasakan sensasinya, ya? Malah saya sampai bingung mengekspresikan rasa, bagaimana coba seorang ayah mencemburui anaknya sendiri? Yah, bisa saja sih, tapi lagi-lagi, wawasan saya yang terkungkung tradisi menjadikan saya masih merasa aneh melihat ayah cemburu melihat anaknya 'dekat' dengan kekasihnya. Pada titik ini, saya berharap mbak Rina menampilkan konflik yang berbeda. Ummm, apa ya misalnya? ...Dennis sama sekali cuek dan memperlakukan Ami dengan lebih kasar lagi, sehingga Josh dalam dilema, "membela sang anak atau kekasihnya, mungkin? Bukankah di novel ini sudah begitu? Memang dalam novel ini sebagian sudah dibikin begitu, tapi karena ada unsur letupan asmara, jadinya balik-balik ke urusan percintaan lagi. Bukan konflik keluarga.

Tetapi cinta memang kekuatan terbesar yang diciptakan oleh Tuhan, bukan? Unsur inilah yang bisa menyebabkan segala tindakan dan perbuatan terjadi di muka bumi. KepadaNya pun kita diminta untuk memeberikan cinta. Maka, tak perlu lagi memperdebatkan segala macam perbedaan jika cinta sudah merasuk dalam jiwa. Saran saja mungkin untuk menambahkan lebih banyak problematika ke dalam novel ini sebagai pembuktian bahwa cinta Ami-Josh memang layak diperjuangkan. Pertentangan keluarga Ami, mungkin, atau karyawan Josh yang menyebarkan fitnah soal Ami. Bah, sinetron banget ya...hehehe....:)



Bagi saya, novel ini adalah novel survival, yang mengajarkan kita untuk bertahan hidup dengan tetap memegang teguh prinsip positif yang kita punya. Janganlah mengorbankan harga diri demi mencicipi sekelumit kemewahan. Percayalah, Tuhan itu ada. Selama kita berusaha, niscaya Dia Yang Di Atas akan memberikan jalan kemudahan bagi kita.

Overall saya menyukai novel ini. Banyak hal yang bisa saya dapatkan novel Amore ini. Masih ada typo di sana-sini, tapi sepertinya lebih sedikit ketimbang Lullaby atau Jejak Kenangan. Ujung cerita yang "mengharuskan si tokoh utama berpindah ke Amerika" serupa deja vu selepas membaca Jejak Kenangan yang juga diakhiri demikian, hanya berbeda negara bagian saja. Baiklah, 3 dari skala 5 bintang saya berikan untuk novel ini.

Selamat membaca, kawan!

Wednesday, July 25, 2012

[Resensi Novel Amore] Jejak Kenangan by Rina Suryakusuma


Tak baik menyimpan bara masa lalu yang bisa membakar masa depanmu...


Judul: Jejak Kenangan
Pengarang: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co-editor: Irna Permanasari
Sampul: Marcel AW
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hlm
Harga:
Rilis: Juni 2011
ISBN: 978-979-22-6915-4

Nadia Valencia Wibrata. Nama itu akan dikenang Allysa "Ally" Gumulya seumur hidupnya. Karena pemilik nama itu dengan tega membiarkannya merana sewaktu SMA dan bahkan menyebabkan sang mama meninggal dunia. Ally bersumpah, di suatu waktu kelak ia akan menuntut balas padanya. Ally yakin dengan sumpahnya.

Tahun berselang, Ally yang sebatang kara telah mencapai segalanya. Karier yang moncer, sahabat dekat yang begitu perhatian, tempat kerja yang menyenangkan, namun ia masih belum bahagia. Selain karena kisah cintanya yang kandas, ia juga belum berkesempatan menuntaskan dendamnya. Lalu, ketika kesempatan itu datang melalui seorang laki-laki tampan yang menggetarkan hati Ally sejak mula bersua, Ivan Adidjaja, akankah Ally benar-benar hendak melampiaskan dendamnya yang membara? Sanggupkah ia menerima segala konsekuensi yang terburuk sekalipun, semisal dipecat dari pekerjaan impian dan melepas lelaki yang disayanginya?

Simak perjuangan Ally dalam menyusuri jalan hidupnya yang menyimpan duri masa lalu yang hendak dicerabutnya dalam novel Amore bertajuk Jejak Kenangan karya Rina Suryakusuma ini.


Sebelumnya terima kasih kepada mbak Rina Suryakusuma yang telah mengirimkan novel Jejak Kenangan ini kepada saya.

Dalam catatan saya, novel ini merupakan novel keempat dari mbak Rina yang tergabung dalam label Novel Amore terbitan Gramedia sehingga pakem-pakem Amore sebagaimana pernah disebutkan mbak Rina dalam perbincangan kita beberapa waktu lalu sangat terasa juga di novel ini. Termasuk ciri khas dari seorang mbak Rina yaitu dari diksi, gaya menulis, dan tentu saja selipan pesan serta twist yang selalu ada.

Novel ini mengangkat permasalahan tentang dendam masa lalu dan perjuangan untuk menguburnya dalam-dalam agar tak menggerogoti masa depan. Adalah Allysa Gumulya yang sudah harus berjuang seorang diri karena sang mama yang lebih dulu kembali ke sisi Tuhan dan ayah yang tak pernah diketahuinya, terpaksa menyebut sumpah dendam ketika dengan hati tercabik ia meminta bantuan Nadia tapi bukan bantuan yang diterima Ally, gadis itu malah menghinanya.

Lantas setelah dendam terbalaskan, apakah kebahagiaan kemudian datang menghampiri kita?
Kenapa kamu membiarkan masa lalu mengoyak masa depanmu? (216) Tutuplah pintu masa lalu, apalagi yang membuat hatimu tercabik dan berdosa. (220)
Begitulah nasihat Bu Fara, atasan Ally, ketika Ally tetap berhasrat mewujudkan sumpah dendamnya meskipun kenyamanan hidupnya saat ini sebagai taruhannya.

Saya suka dengan benang merah novel ini. Saya yakin, masing-masing dari kita pernah menyimpan setitik benih 'dendam' atas hal tak nyaman yang mungkin terjadi di masa lalu. Menyesakkan, memang, tapi saya setuju pada Dianna, sahabat Ally dalam buku ini:

"Nggak semua orang yang pernah berbuat salah nggak tahu kata menyesal."
Sesakit apa pun hati, kita tetap harus belajar memberikan maaf. (163)
Jujur, pada bagian ini saya ingat mantan. #eh.curcol. Bukan, bukan teringat si dia dalam nuansa romansa. Saya hanya...#makjleb, sampai detik ini saya masih menolak berhubungan kembali dengannya dalam bentuk apa pun. Pertemanan, tentu saja, karena ia pun sudah berumah tangga. Saya harus belajar memberikan maaf (dan juga meminta maaf). Terima kasih, Ally. Terima kasih, mbak Rina.


www.sidomi.com

Hal personal lain yang saya dapatkan adalah etos kerja Ally yang luar biasa. Saya jadi malu jika mengingat keseharian saya yang seringnya 'gondok' jika bos meminta saya menambah jam kerja (alias lembur) untuk menyelesaikan pekerjaan. Huhuhu. Semoga seusai ini saya bisa meniru semangat Ally karena sejatinya saya juga sangat menyukai pekerjaan saya. #ameen.

Selain temanya yang menarik, eksekusi novel ini juga menawan, meskipun saya kurang puas dengan pilihan endingnya. Jujur, saya menunggu twist yang mengejutkan sebagaimana tersaji dalam Lullaby. Sayangnya, saya kurang merasa "terperangah" dengan twist-nya. Entah saya yang kurang peka atau bagaimana, hehehe...

Salah satu hal yang juga saya sukai dari gaya menulis mbak Rina adalah banyaknya kata-kata keren yang dapat ditandai sebagai quotes yang menginspirasi:

Mana ada rasa rindu dan kehilangan yang yang bisa kedaluwarsa. (62)


Inikah yang disebut chemistry? Hal yang indah, yang hanya bisa dirasakan hati, namun tidak bisa disentuh tangan. Hal yang kata orang tidak akan mungkin bisa dijelaskan logika sehebat apa pun. (65)


Hari yang diawali dengan ketergesaan dan emosi negatif, ujung-ujungnya tidak bagus. (138)


Membenarkan sesuatu yang telah terkoyak selalu lebih sulit daripada memulai yang baru. (161)


Kejujuran adalah harga yang layak untuk memulai (suatu) hubungan. (193)
Oiya, masih ada typo dalam buku ini, berikut beberapa di antaranya:
(hlm. 13) menggangguk = mengangguk
(hlm. 25) kharisma (hlm. 28) karisma = inkonsistensi
(hlm. 32) mempromoskan = mempromosikan
(hlm. 36) Up Town Woman (hlm. 134) Up-town Woman = inkonsistensi
(hlm. 37) pecinta alkhohol = pencinta alkohol
(hlm. 114) Wibarata = Wibrata
(hlm. 172) melap = mengelap
(hlm. 204) bawha = bahwa
(hlm. 221) ke luar dari ruang = keluar
(hlm. 228) Sangan = Sangat
Selain typo tersebut, ada beberapa hal yang agak mengganggu saya. Entah saya yang tulalit, atau memang ada yang terlewat ketika diedit. Hal-hal itu adalah:

1. Sampai dengan halaman 106, Ally tak pernah tahu siapa nama perempuan dari sepasang tunangan yang kartu pernikahannya sedang ditanganinya. Nah, setahu saya (yang pernah menemani teman memesan kartu undangan, di percetakan biasa sih) pembuat kartu pernikahan pasti sudah langsung menanyakan nama kedua pasangan untuk dicantumkan di kartu, kan? Ataukah pada tugas Ally ini masih dalam tahap desain kasar yang belum diberikan tulisan macam-macam?

2. Di halaman 168, Ally-Ivan berjanji-temu makan malam di Praline Wine and Dine, tapi di halaman 171, Ivan duduk menunggu di The Vicar. Nah, apakah kedua restoran ini sama? Seingat saya sih tidak.

3. Menurut saya di bab 18-19-20 terdapat kronologi waktu yang terjadi dalam 2 hari secara berurutan. Sementara pada halaman 212, Ivan menyebutkan "...mendengarkan narasi panjangmu kemarin--" padahal jika dirunut waktunya, pertemuan Ally-Ivan dalam halaman ini terjadi di hari yang sama dengan kejadian di bab 18 sehingga kata "kemarin" seharusnya "tadi pagi", apalagi adegan di bab 20 adalah merujuk waktu keesokan harinya. Apa saya yang salah tangkap, ya?
Hmm, ada satu hal menarik yang saya dapati. Soal sekolah yang ada di novel ini, Pratama School. Apakah sekolah itu adalah sekolah yang sama yang menjadi setting bagi novel Ask Tinkerbell? hihihi#just.curious



http://joefindlove.blogspot.com

Overall, meskipun terdapat beberapa hal yang menurut saya masih dapat dikembangkan, saya tetap suka dengan novel ini. Banyak keindahan yang disajikan dalam novel ini, termasuk keindahan cinta yang saling memberi dan saling menerima (take and give), serta sisi relijius yang diselipkan secara apik. 3 dari skala 5 bintang saya sematkan pada novel Amore karya mbak Rina Suryakusuma ini.

Baiklah, selamat membaca kawan!



Wednesday, April 18, 2012

[Resensi Novel Amore] Bella and the Beast by Astrid Zeng


Typo-nya bikin saya mual
Rating: 2 out of 5 stars


Judul: Bella and the Beast
Pengarang: Astrid Zeng
Editor: Raya Fitrah
Pewajah Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 hlm
Harga: Rp38.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8159-0

Bellatrix Wibisono merupakan bungsu dari tiga bersaudara pasangan pengusaha kaya raya, Hadi Wibisono dan Siska. Orangtua dan kedua kakak perempuan Bella resah karena sampai dengan umur menjelang 26 tahun, Bella tak pernah sekalipun dekat dengan laki-laki. Hal tersebut tak terlepas dari kekangan sang ayah selama ini. Maka, ketika orangtua dan saudaranya menjodohkan Bella dengan Demetri Yoso, keponakan dari konglomerat lain, pengusaha kaya raya, Bella – Demetri menjadi pasangan yang unik.

Demetri telanjur dicap sebagai monster dengan luka parut mengerikan di wajahnya dan tubuh besar-kekarnya, ditambah lagi dengan gosip yang menyebutkan Demetri adalah lelaki kasar yang suka memukul perempuan dan bahkan berniat memerkosa mantan tunangannya. Namun demikian, jalinan pernikahan Bella-Demetri tersambung juga. Dilengkapi pernik keluarga dan para sahabatnya, kisah si cantik dan si buruk rupa ini berusaha mencari jalan menuju kebahagiaan.

Apakah pada akhirnya cinta hadir di hati Bella meskipun ia selalu menganggap wajah Demetri menakutkan? Simak kisah romance yang judulnya merujuk pada dongeng terkenal dunia, Bella and the Beast, karya Astrid Zeng ini.

Saya masih tidak percaya ketika mendapati satu demi satu typo yang bertebaran HAMPIR di seluruh halaman novel ini (Lebay deh gue, nggak semua halaman juga kaleeee). Saya sampai kehabisan post it penanda halaman untuk beberapa kesalahan teknis lainnya. Saya penasaran, apakah tidak ada proofreader untuk novel ini? Jika jawabannya tidak ada, maka sungguh sangat disayangkan.

Dari segi cerita, sebenarnya saya suka dengan kisah ini namun hanya sampai dengan separuh bagian pertamanya saja. Ketika konflik tak beranjak dari topik si lugu dan si monster, saya jatuh bosan. Untunglah, saya memang sudah tersedot pada karakter Bella dari sejak awal kemunculannya. Lugu, polos, menggemaskan, meskipun tidak realistis juga. Sepolos-polosnya orang polos, Bella ini anak konglomerat. Apakah sekadar tak diperbolehkan berhubungan dengan lelaki lalu Bella menjadi sosok kuper yang tak bisa memperoleh asupan informasi? Tidakkah Bella seharusnya dapat menyerap informasi dari dunia luar melalui televisi, internet, atau media cetak? Entahlah, meskipun sudah diberikan penjelasan bahwa Bella tak pernah baca-baca media cetak, toh pada suatu kesempatan dia googling juga mencari informasi tentang Demetri. Jadi, pada dasarnya dia melek internet, tho? Belum lagi, sifat sang mama yang sepertinya demanding sedikit banyak tak mungkin membiarkan sang putri tumbuh menjadi perempuan oon. Ini menurut saya. Kan, karakter ciptaan penulis, suka-suka penulis donk ya.

Sebenarnya cukup banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung cerita, mulai dari kisah orangtua dan kakak Bella, sepupu-sepupu Demetri dan para wanita mereka, serta Sonya, sang mantan. Sayangnya, variasi subplot tersebut tak mampu membuat saya tetap terpaku pada kisah Bella-Demetri. Mulai dari pertengahan novel hingga ke belakang saya hanya ingin sprint untuk segera menuntaskan kisah ini. Alih-alih mendapat kepuasan di ujung jalan, ending novel ini pun tak memberikan sensasi apa pun.

Ketika saya sampai di halaman terakhir dan melirik promo di halaman tambahan, terlihat dari sinopsis dua novel Astrid terdahulu Sleepaholic Jatuh Cinta dan Suami Sempurna untuk Tatiana, sepertinya ketiga novelnya ini saling terkait. Tatiana-Michael-Tecla-Phillip telah hadir di dua buku tersebut. Tapi, entah mengapa, saya tidak tergerak untuk mencari-membeli-dan-membaca dua novel itu setelah tidak terpuaskan membaca Bella and the Beast ini.

Dari segi karakterisasi, penulis masih mengandalkan kekuatan verbal, menyebut Demetri berotot besar laksana raksasa dengan luka parut mengerikan di wajahnya secara berulang-ulang untuk menggambarkan sosoknya, dan bagi saya ini menjadi kurang menarik. Seharusnya melalui tindakan si tokoh dan perlakuan orang sekitar (bukan omongan), sosok Demetri bisa dihadirkan dengan lebih meyakinkan. Sampai tuntas membaca, saya tidak mendapat kesan bahwa Demetri adalah sosok the Beast dalam novel ini. Hal yang sebaliknya justru terjadi pada karakter Bella. Meski beberapa kali juga disebut menyangkut kepolosan, keluguan, dan kebodohan Bella secara verbal, namun sifat dan perbuatan Bella menguatkan karakternya yang menggemaskan itu.


Menyoal nama Bellatrix, mau tak mau bayangan Bellatrix Lestrange, si antagonis pembunuh Sirius Black dari serial Harry Potter mampir di ingatan saya. Kemudian, ketika mengetahui bahwa Bella di sini adalah sosok protagonis yang banyak menarik simpati, ingatan saya melayang ke tokoh Bella Swan dari Twilight Saga. Yahhh, begitulah saya. Selalu mengait-ngaitkan sesuatu yang mungkin tak ada kaitannya sama sekali. Hahaha.

Dan, membaca novel ini saya serasa entah memijak di negeri mana, meskipun kota-kota semacam Jakarta-Surabaya-Malang-Denpasar disebut berulang-ulang namun nama-nama tokohnya yang super-western semacam Bellatrix, Beatrice, Bibiana, Tatiana, Tecla, Michael, Demetri, Phillip, Peter, Patrick, tak meninggalkan setitik nuansa ketimuran. No big deal sih, secara pada zaman modern seperti sekarang nama-nama bernuansa Barat sudah sedemikian lazim digunakan orang, ini hanya karena saya yang produk lama, yang mendapat nama khas Indonesia dari orangtua, terkadang masih berharap para penulis menamai tokoh-tokoh mereka dengan nuansa Indonesia.

Berikut adalah segambreng typo yang saya temukan:
(hlm. 7) seorang orang cucu = pengulangan kata ‘orang’
(hlm. 9) paragraf keempat seharusnya dibagi menjadi dua paragraf
(hlm. 10) menatap ayah mereka tatapan bingung = ambigu
(hlm. 14) memeriksa siapa menghubunginya = ambigu
(hlm. 15) barang-barang yang dia jatuhkannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 16) terpercaya = tepercaya
(hlm. 17) Demitri = Demetri
(hlm. 30) ke sekian kalinya = kesekian
(hlm. 40) menandatangangi = menandatangani
(hlm. 43) tandatangani = tanda tangani
(hlm. 44) tanda tangannya lalu menyodorkannya surat perjanjian = pengulangan kata ganti
(hlm. 48) baru menghentikan gelak tawanya menangkap raut tersinggung = ambigu
(hlm. 50) Bibina = Bibiana
(hlm. 58) menganggu = mengganggu
(hlm. 59) “Seperti apa?” Demetri sambil menolehkan = ambigu
(hlm. 61) keesokkan = keesokan
(hlm. 63) paragraf kedua yang dicetak italic, tidak konsisten, menyebut pernikahan mereka, padahal paragraf itu kata batin Bella yang berbicara
(hlm. 64) ditengah-tengahnya = di tengah-tengahnya
(hlm. 67) Phillip menepuk punggung Demetri lalu merangkul bahu sahabatnya = bukankah Demetri sepupu Phillip?
(hlm. 68) menghubungkan kolam area renang = area kolam renang?
(hlm. 68-69) yang tidak pernah dia bayangkannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 69) Lalu wanita berdiri = sebaiknya ‘wanita itu’ berdiri
(hlm. 72) kurang tanda baca ‘titik’ pada paragraf kedua
(hlm. 73) Tinggal Bellatrix beberapa tiga orang perempuan = ambigu
(hlm. 74) mengamit = menggamit
(hlm. 77) kelam malam = kelab malam
(hlm. 82) pertanyan = pertanyaan
(hlm. 83) menandatanganinya tanpa tanpa = pengulangan kata ‘tanpa’
(hlm. 84) harus menelan kecewa karena = seharusnya kata benda ‘kekecewaan’
(hlm. 94) asik = asyik = inkonsisten
(hlm. 96) terlanjur = telanjur
(hlm. 96) pekik Tatiana Tatiana menaikkan = kurang tanda baca ‘titik’ di antara Tatiana dan Tatiana
(hlm. 98) Bellatrik = Bellatrix
(hlm. 104) menganggu = mengganggu
(hlm. 109) supir = sopir = inkonsisten
(hlm. 110) paragraf dua berisi kalimat berbahasa Jerman, perlu penjelasan
(hlm. 111) pernihakan = pernikahan
(hlm. 112) terlanjur = telanjur
(hlm. 115) memandangi Tatiana dan dan = pengulangan kata ‘dan’
(hlm. 116) semua tas sialan ini dan dan istriku = pengulangan kata ‘dan’
(hlm. 119) seseorang wanita tua = seorang
(hlm. 124) Demetri tergelak dan hingga tubuh Bellatrix ikut terguncang = ambigu
(hlm. 114) paragraf ketujuh kurang tanda baca ‘titik’
(hlm. 128) apa yang aku inginkan lakukan = ambigu
(hlm. 131) Tatiana marah hingga merusak malam pertamanya mereka = ambigu
(hlm. 132) ancaman akan akan = pengulangan kata ‘akan’
(hlm. 137) Demetri sudah menariknya lengannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 137) mengenggam = menggenggam
(hlm. 141) Tadi kami tadi tergesa-gesa = pengulangan kata ‘tadi’
(hlm. 142) menganggu = mengganggu
(hlm. 142) lengangnya = lengannya
(hlm. 152) masih terdengar bibir keduanya = ambigu
(hlm. 152) menarik dua buah kotak bawah meja = ambigu
(hlm. 153) kearah = ke arah
(hlm. 154) ekpresi = ekspresi
(hlm. 157) menggeleng-gelengkankan = menggeleng-gelengkan
(hlm. 157) pawa = para
(hlm. 159) menganggu = mengganggu
(hlm. 166) Tatiana mengaduknya sup = mengaduk
(hlm. 182) mata coklatnya = mata cokelatnya
(hlm. 183) “Hei, kenapa kita mengabari Cindy tentang ide ini?” = sebaiknya ditambahkan kata ‘tidak’
(hlm. 186) meraba-raba perutnya putri bungsunya = pengulangan kata ganti
(hlm. 189) terbangung = terbangun
(hlm. 192) resiko = risiko
(hlm. 195) terbersit = tebersit
(hlm. 202) mengeliat = menggeliat
(hlm. 206) telalu = terlalu
(hlm. 209) mununjukkan = menunjukkan
(hlm. 215) terangangkat = terangkat
(hlm. 220) ke sekian = kesekian
(hlm. 225) Berapa jam yang lalu = Beberapa jam yang lalu
(hlm. 228) terbersit = tebersit
(hlm. 229) keesokkan = keesokan
(hlm. 233) meyadari = menyadari
(hlm. 233) Bellatirix = Bellatrix
(hlm. 249) di panggil = dipanggil
(hlm. 251) menununjuk = menunjuk
Fiuuuuhhh, gimana, banyak tidak? Saya benar-benar pusing ketika menandai satu demi satu kesalahan teknis cetakan ini. Sayang banget, ya?

Oiya, satu bintang saya persembahkan untuk karakter Bella yang menggemaskan dan satu bintang lagi untuk cover bunga tulipnya. Saya penyuka bunga tulip.


Baiklah, selamat membaca, kawan!

Friday, April 6, 2012

[Resensi Novel Amore] Lullaby by Rina Suryakusuma


Ikatan dua bersaudari kembar
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Lullaby
Pengarang: Rina Suryakusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: November 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-979-22-7730-2

Audy dan Rose adalah dua saudari kembar, bungsu dari keluarga Andrew dan Madeline Capelle. Sejak kecil Audy mendapat perlakuan istimewa oleh karena suatu penyakit mematikan yang dideritanya, menyisihkan Rose dari curahan kasih sayang orangtua dan kakak-kakak mereka. Namun demikian, bagi Audy, Rose adalah segalanya. Rose adalah saudari, sahabat, juga belahan jiwanya. Audy berusaha selalu melibatkan Rose dalam setiap episode kehidupannya. Itu juga yang membuat Mardi, kekasih Audy, dirundung gusar mengajak Audy ke tahap hubungan lebih lanjut karena Rose selalu menjadi penghalang.

Tetapi, Audy tak bisa dipersalahkan. Saudara kembar dipercaya memiliki ikatan batin yang teramat kuat dan Audy tak bisa begitu saja mengabaikan Rose. Jika akhirnya ia harus menikah, Rose juga harus menikah. Meskipun, dilihat dari sikap Rose yang tak pernah mau bersosialisasi dan lebih banyak mengurung diri di apartemen mereka, rasanya ajakan Mardi untuk menikah tak akan terjadi dalam waktu dekat. Apa yang harus dilakukan Audy untuk meyakinkan Rose agar mau menjalin hati dengan seorang lelaki?

Satu pertanyaan besar yang harus ditemukan jawabannya di novel ini: apakah ini nyata atau sekadar imajinasi?

Saya selalu suka dengan diksi yang diracik Rina Suryakusuma. Dalam dan menyenangkan. Bgai saya, diksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan kenikmatan membaca suatu karya tulis, plus konsistensinya. Saya paling sebal jika di awal-awal tulisan diksi-nya konsisten menggunakan kata tidak/tak tiba-tiba di tengah-tengah muncul kata “nggak” yang tidak memiliki maksud dan tujuan lain. Itu, saya kategorikan fatal. Inkonsisten.

Berikut beberapa bagian kalimat yang saya suka:
Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi? Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya tidak usah kuatir lagi padamu? (hlm. 22)

Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan. Cinta yang tulus ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka yang ia rasakan. (hlm. 118)

Premis novel ini adalah kekuatan terbesarnya. Jika kamu seperti saya yang gampang tertipu, kamu pasti akan mendesah “OMIGOD!” ketika penulis menyajikan twist yang begitu mengejutkan di tengah hingga menjelang akhir. Saya sampai memaki diri sendiri yang tak bisa menebak plot dari sejak mula. Saya baru menemukan clue-nya hampir di pertengahan novel (halaman 165, tepatnya). Astagahh! Dua jempol buat Rina yang berhasil menghadirkan twist ini.

Sayangnya saya tak bisa menikmati gaya ‘feodal’ yang dipilih Rina untuk menghadirkan tokoh-tokohnya dengan terlampau seringnya penyebutan nama lengkap mereka. Saya kurang begitu terhubung. Ada jarak yang tercipta antara saya dan aktor-aktrisnya. Seolah-olah saya duduk di kursi terbawah pada sebuah pertunjukan di panggung setinggi tiga meter. Saya melihat tapi tidak terlibat. Hal itulah yang menghalangi saya dari terhanyut kisah ini.

Selain itu, cerita hanya disokong kisah Audy seorang. Tak banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung kisah bersaudari kembar ini sehingga ada saat-saat saya ingin menaruh novel ini begitu saja dan beralih membaca yang lain. Andai saja penulis memberikan tikungan-tikungan pada jalan cerita ini, saya yakin guncangan twist-nya akan lebih terasa.

Untuk departemen cetakan, berikut beberapa temuan typo yang saya dapat:
(hlm. 18) kekanak-kanakkan = kekanak-kanakan
(hlm. 20) beraktifitas = beraktivitas
(hlm. 28) La Grande = Le Grande = inkonsisten
(hlm. 33) Karena = karena (huruf K harusnya tidak kapital)
(hlm. 34) pertunjukkan = pertunjukan
(hlm. 72) Arman = Armant
(hlm. 77) Tenggorakan = Tenggorokan
(hlm. 78) bidak = biduk
(hlm. 80, 220) praktek = praktik
(hlm. 94) dr = Dr = Dokter = inkonsisten
(hlm. 125) ...di antara keluarganya, dan Rose Tapi Audy sadar,... (ambigu)
(hlm. 149) “Jam setengah tiga subuh.... (hanya terasa tidak pas penggunaannya, hampir tak pernah waktu subuh jatuh pada jam kurang dari pukul tiga pagi, di zona waktu mana pun, di Indonesia)
(hlm. 220) klat = kilat

Oh, dan ini sepertinya sudah menjadi ciri khas seorang Rina, lebih memilih menggunakan kata ‘kuatir’ dibanding ‘khawatir’, jadi ya, sudah, saya sih tetap menyarankan menggunakan kata yang dianggap baku di kamus yaitu ‘khawatir’.

But, overall, saya tetap menyukai membaca novel ini. Sebuah pengalaman mengejutkan yang menyenangkan. Tiga bintang untuk twist-nya.


Selamat membaca, kawan!