Showing posts with label Tia Widiana. Show all posts
Showing posts with label Tia Widiana. Show all posts

Wednesday, December 30, 2015

[Resensi Novel Amore] Sincerely Yours by Tia Widiana


"Bagaimanapun, sulit menyayangi orang lain kalau kau masih membenci dirimu sendiri."
--pg.115 #SincerelyYours by Tia Widiana


Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar.

Namun di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby… perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal… Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan….

Judul: Sincerely Yours
Pengarang Tia Widiana
Desain Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tebal: 246 hlm
Harga: Rp57.000
Rilis: 14 September 2015
ISBN: 978-602-032050-2

Tak bisa mungkir, gaya tulisan Tia Widiana memang sudah berhasil memikat selera saya sejak terbitnya novel debutannya, Mahogany Hills, beberapa tahun silam. Sejak itu saya sudah menunggu-nunggu racikannya yang lain untuk segera diterbitkan. Dan, saya menjadi salah seorang pembaca yang turut antusias ketika kabar novel keduanya yang bertajuk Sincerely Yours ini siap dirilis.

Meet Cute (pinjam istilah Mbak Nina Ardianti)
Dua tokoh utamanya, Sekar "Inge" Wangi Tambanglaras dan Alan "Alan" Anugrah, dipertemukan dalam situasi canggung yang imut, hehehe. Agak absurd sedikit (bagian soal salah minum obat itu), tapi benar-benar cara bertemu yang asyik, beda, dan sepertinya belum pernah digunakan pengarang lain. Pembuka jalinan kisah Inge-Alan yang cukup bagus.



Plot, setting, dan karakter

Sama saja dengan kebanyakan novel romance, ini tentang dua orang yang sebelumnya tak terlalu mengenal satu sama lain apalagi memiliki rasa ketertarikan, oleh karena suatu hal dipertemukan, ada letupan chemistry, jatuh hati, serta dibumbui secuil pertengkaran dan kesalahpahaman. Jalan ceritanya beralur maju dengan beberapa kilasan masa lalu untuk mendukung perkembangan konflik.

Cerita berlokasi di sebuah kompleks permukiman bernama Kecapi Asri di daerah Sentul, Bogor. Kompleksnya terdiri dari cluster-cluster di area perumahan dan satu area dinamakan distrik bisnis sebagai lokasi jasa penunjang permukiman dan pusat bisnis di kompleks tersebut.

Novel ini didukung dua karakter utama yakni Inge yang adalah seorang novelis best-seller buku-novel misteri-thriller, sedangkan Alan adalah pimpinan dari PT Lindung Tenteram, yaitu perusahaan penyedia jasa teknik instalasi kelistrikan dan pertamanan yang ditunjuk sebagai partner oleh pengelola/pengembang kompleks. Di luar itu ada karakter Linda dan Ilham (ibu kandung dan ayah tiri Inge), para tetangga Inge, editor Inge, dan Hera. Latar belakang Inge membentuknya menjadi pribadi yang sedikit introver sedangkan Alan adalah tipe family man sejati.

Konflik
Pemicu konflik adalah masa lalu Inge, kegemarannya menulis kisah misteri-thriller, dan ibu kandungnya. Saya tak bisa menjelaskan lebih detail, karena tentu saja akan membuka jalan cerita novel ini (spoiler). Jadi, silakan baca sendiri untuk mendapatkan esensi kisah ini. Namun, satu yang agak menggelisahkan adalah selipan subkonflik kehadiran orang ketiga yang menurut saya kurang halus pemunculannya dan terkesan menjadi satu-satunya alternatif untuk membangun puncak konflik utamanya. Saya tak punya saran bagaimana cara menaikkan intensitas konfliknya, tapi saya mengharapkan hal lain ketimbang sekadar kehadiran orang ketiga. Terlalu mudah ditebak.

Catatan:
Beberapa judul buku yang disebutkan dalam novel ini: Titik Nol (Agustinus Wibowo), Critical Eleven (Ika Natassa--bahkan lumayan banyak dibahas, termasuk fenomena perilisannya), dan Carrie (Stephen King).
  
Musuh utama dari novel dengan cerita yang bagus adalah hasil edit dan proofread yang buruk.
Typo:
(hlm 16) tanaman yang ditanam bahu jalan = tanaman yang ditanam di bahu jalan
(hlm 29) meletakkannya di depan dada itu = meletakkannya di depan dada laki-laki itu
(hlm 30) menganggetkan = mengagetkan
(hlm 42) bahwa dalam dalam kejadian
(hlm 50) dan meletakkan di bak cuci = dan meletakkannya di bak cuci
(hlm 53) scraf = scarf
(hlm 59) Alan yang berhenti melangkah dan memperhatikan tingkah Inge.
(hlm 61) dan secara bersamaan mereka berdua menjawab secara bersamaan.
(hlm 65) Inge hanya menatapnya tangan Linda dan Ilham
(hlm 75) perasaaan = perasaan
(hlm 113) perceraiaan = perceraian
(hlm 131) isyarat agar Inge untuk mengabaikan omongan
(hlm 134) beberara = beberapa
(hlm 141) Gadis itu cepat-cepat menekap mulut
(hlm 146) saat di melewati = saat dia melewati
(hlm 155) hal hal = hal-hal
(hlm 163) supir = sopir
(hlm 180) Bu Eva menjabat tangan tangan Alan.
(hlm 181) Sekarang lagi sama sama tetangga saya.
(hlm 187) Kucir rambutnya bergoyang mengiringi tiap langkahnya
(hlm 194) kebahagian = kebahagiaan
(hlm 202) perjalan = perjalanan
(hlm 212) Kalau tidak, aku mungkin tidak akan kenal Teguh...
(hlm 213) sindirian = sindiran
(hlm 217) tanganya = tangannya
(hlm 222) mengantarkanya = mengantarkannya
(hlm 222) dari pada = daripada
(hlm 225) pembacaraan = pembicaraan
(hlm 238) Dia akhirnya berdiri di samping dan/lalu Inge merengkuh bahu
(hlm 243) Gelas kertas berisi yang masih berisi setengah
(hlm 243) Namun, yang kemudian dikatakan Alan kemudian malah
(hlm 244) mengecup lembut kening kening gadis itu.
(hlm 244) bulang Juni = bulan Juni

Selain typo yang masih lumayan banyak, juga terdapat salah penggunaan tanda baca (kurang "titik") atau juga kalimat-kalimat tak efektif dan beberapa yang agak janggal/bolong. Misalnya saja di halaman 217, paragraf terakhir, disebutkan bahwa telapak tangan Inge berkeringat, tetapi di halaman 218 paragraf 4 mengapa disebutkan telapak tangannya "baru mulai berkeringat"?

Hal lain yang bikin saya geregetan plus mengerutkan kening dalam-dalam adalah kurang halusnya pergantian adegan pada Bab 6 dan Bab 7 yang dipasang berkebalikan. Tak ada intro yang menjelaskan antaradegan sehingga terasa janggal. Yang paling terasa adalah paragraf kedua terakhir di halaman 53 saat Linda dan Ilham yang "belum dikenalkan" pada Alan ujug-ujug sudah tahu nama Alan. Pergantian yang juga terasa kurang mulus adalah ketika kemunculan tokoh baru yakni Hera.

Pada akhirnya 3,5 out of 5 star untuk novel kedua Tia ini. Selalu menunggu karya-karyamu selanjutnya, Tia.

Wednesday, August 19, 2015

[Waiting on Wednesday] ...Sincerely Yours


"Waiting On" Wednesday is a weekly event, hosted by Breaking the Spine, that spotlights upcoming releases that we're eagerly anticipating.

Sebenarnya saya sudah kepingin mengeposkan novel coming soon-nya Tia Widiana ini untuk meme Waiting on Wednesday Rabu minggu lalu, tapi berhubung di web www.gramediapustakautama.com belum ada data apa pun mengenai novel kedua Juara 1 Lomba Amore GPU ini, saya jadinya mengurungkan niat dan menundanya sampai Rabu ini. Beruntung saya sempat bertanya ke Mbak Hetih plus kepo dikit ke akun Twitter resmi sang pengarang, @tiawidia, hingga saya bisa nemu juga sinopsis dari novel ini. Untuk tanggal resmi rilisnya sih agak blur (Tia bilang tanggal 12 September, Raya Fitrah --editor-- bilang 14 September), tapi apa pun itu, novel ini akan rilis di bulan September, yayyyy... September yang ceriaaa... milik kita... bersamaaa... #eh
Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar. 

Namun, di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby... perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal... Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau membuat Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan....

Nah, itu dia novel Amore bertajuk Sincerely Yours karya Tia Widiana yang siap saya nantikan kelahirannya. Kalau kamu, buku apa yang paling kamu tunggu kehadirannya Rabu ini?

Selamat menunggu, tweemans.    

Wednesday, May 29, 2013

[Resensi Novel Amore] Mahogany Hills by Tia Widiana + Giveaway


Rumahku, surga dan nerakaku...

-- Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore 2012 --

Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan—semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

Pengarang: Tia Widiana
Pewajah sampul: Cynthia Yanetha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Harga: Rp58.000
Rilis: Mei 2013
ISBN: 978-979-22-9584-9

Saya menemui keganjilan ‘pribadi’ ketika membaca novel yang ditahbiskan sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore tahun 2012 ini. Banyak sekali faktor yang berpotensi menghambat saya untuk menyukai novel ini. Pertama, adegan awal novel ini ternyata ‘hampir-mirip’ dengan adegan pembuka novel CoupL(ov)e-nya Rhein Fathia yang juga sedang saya baca (malam pertama yang canggung, adegan lingerie nan dramatis, panggilan ortu dan mertua yang dibedakan, serta mantan-mantan yang berseliweran). Kedua, ada tiga hal yang paling tidak saya sukai dari sebuah karya fiksi ada di novel ini, yakni: perjodohan, kecelakaan, dan amnesia, dan ketiga hal itu ada di novel ini. APAHHH??? (insert = *melotot dramatis*) Nah, dengan dua faktor itu semestinya saya benci novel ini. Tapi, nyatanya enggak. Ini sungguh ganjil. Dan, tanpa bisa saya sangkal, saya menyukai novel ini.

Mendapat kerhormatan karena diberi kesempatan ikut terlibat dalam proses seleksi awal Lomba Penulisan Novel Amore, saya mendapat jatah menilai kurang lebih 50-an naskah. Betapa mengejutkan, bahwa dari jumlah itu kurang lebih 20% di antaranya bertemakan perjodohan. OMAGAT! Saya sampai benar-benar muak dengan tema itu. Jika tweeman sempat mengikuti ocehan saya di twitter, saya pernah mengeluh tentang ini. Mengapa sih, banyak banget penulis (baru) kerap mengangkat tema ini? Nggak bosen apa? Buat saya pribadi sih, “Dih. Boring bangetsssssss, sumpah!” Masih banyaklah topik lain di luar sana yang dapat dipilih untuk mempertemukan-dan-mempersatukan-cinta-dalam-ikatan-yang-suci tanpa melalui perjodohan. *sigh* Dan, di dalam novel ini pun ada unsur perjodohannya itu. Meskipun, harus saya akui, dibanding 20% naskah yang jatah saya tadi, Mahogany Hills memang ditulis jauh lebih bagus.

gambar dari sini: segitigamedia.blogspot.com
Saya benar-benar dibuat penasaran dan berharap dapat segera membaca Mahogany Hills sejak naskah ini diumumkan menjadi yang terbaik dalam Lomba Penulisan Novel Amore bulan lalu. Benar saja, di luar faktor-faktor pribadi di atas, saya jatuh cinta pada novel ini. Gaya mendongeng Tia cocok dengan selera saya. Tidak terlalu mendayu-dayu, tapi juga tidak kaku. Pas. Tepat takaran. Selama proses membaca, saya tak mengalami kendala macet gegara tulisan. Palingan hanya karena (lagi-lagi) faktor-faktor pribadi saja.

[SPOILER ALERT] Well, ini spoiler, tapi juga saya pengin jujur. Siapa tahu ada orang yang sama seperti saya, yang tidak menyukai unsur ini. Unsur paling menyesakkan tentu saja amnesia. Oh, GOD! Saya benar-benar muak sebenarnya dengan ini. Tapi, ya mau bagaimana? Kan yang ngarang bukan saya. Terserah pengarangnya mau mengarang tentang apa, kan? Namun, seandainya saya ditanya, sesuai selera saya, unsur inilah yang membuat saya turn off ketika membaca novel ini. Setelah adegan pemicu terjadinya amnesia, saya bacanya lempeng saja. Menunggu sampai ceritanya diakhiri.

gambar dari sini: gemamedisiana.blogspot.com
Plot-nya oke. Subplot-nya yang menurut saya masih sedikit kurang. Apakah mantan Paras yang digambarkan temperamental dan ‘sinting’ itu langsung mundur hanya sekali gebuk sama Jagad? Sementara tokoh mantan Jagad pun kurang tereksplor secara mendalam, mengingat ia digambarkan seorang cewek nekat, apa iya cuman dibegitukan sama Jagad ia langsung mundur? Hmmm...

Setting-nya oke. Karakterisasi-nya oke. Pernak-pernik-nya oke. Diksi-nya oke. Konflik-nya, karena kurang ganasnya dua tokoh pendukung utama, konflik kurang menukik tajam. Saya masih kurang sreg jika puncak konflik ditandai kejadian amnesia itu. Tapii, ah...sudahlah.

Bicara soal tokoh-tokoh yang ada di sini, mengapa mertua Paras (orangtua Jagad) tidak diceritakan ikut panik ketika Paras terkena amnesia, ya? Padahal pada satu adegan ketika Paras kalut mendapati Jagad masih behubungan dengan mantannya, Paras dan sang ibu mertua mengobrol dengan sangat dekat. Agak aneh menurut saya sih, apalagi di saat yang bersamaan orangtua Paras diceritakan tak dapat menemani Paras. Atau saya yang kelewat baca detailnya, ya?

Oh, hampir lupa. Salah satu yang saya suka dari gaya mengarang Tia adalah kepiawaiannya untuk menahan-nahan sebuah rahasia/kejutan. Teaser di akhir adegan awal yang akan menjadi pembuka adegan berikutnya sungguh bikin saya ikut berdebar-debar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menurut saya gaya tarik-ulur ini sungguh sulit. Bila tak benar tekniknya, bisa menghancurkan sisi misterius yang ingin dibangun dan malah terkesan norak. Dan, bagi saya, Tia berhasil melakukannya dengan sangat baik di novel ini.

gambar dari sini: www.hoteldigarut.com
Mengesampingkan berbagai hal, I LOVE THIS BOOK VERY MUCH. Debut yang cantik, Tia. And, this book definitely deserves the Amore’s crown. Yang paling kuat dari semuanya, menurut saya, adalah settinglokasinya. Sebuah rumah di pelosok Sukabumi membawa nuansa romantis sekaligus mistis, sebenarnya. Lha, mereka cuman tinggal berdua dan untuk sekadar beli sabun harus pakai mobil, berarti kan agak-agak bikin merinding ya, tempatnya, hehehe. Tapi, romantisme yang terjalin di tengah kecanggungan hubungan Jagad-Paras justru menyeret saya ke drama percintaan yang indah. Entahlah, saya sampai sulit mendeskripsikan bagaimana dua orang ini bisa berinteraksi di balik keengganan berterus terang dan banyaknya awkward moment karena hubungan yang sah di dalam simpul ikatan pernikahan itu tidak dilandasi cinta. Benarkah keduanya sedikit saja tak mencintai satu sama lain dari sejak mula? Temukan sendiri jawabannya di sini ya. Surprise-surprisekecilnya bikin saya mengulum senyum.

Dari segi cetakan, ehem, masih ada beberapa typo. Too bad, kalau tidak salah ada lebih dari 5 typo yang saya temukan, termasuk salah penulisan Jagad menjadi Jadad, untung bukan ditulis Jasad ya...ups *ditoyor* Dannn..., ada satu typo di bagian epilog yang bikin saya ketawa ngakak,
“Karin dan Rasya berjalan keluar dari kamar, memakan baju pesta putih yang berpotongan...”

Hahaha....jadi keduanya nggak suka makan nasi, ya? Sukanya makan baju pesta... *ngikik*

Pada akhirnya, adalah rasa di dalam hati yang menentukan. Meskipun dengan begitu banyak hal yang tidak saya sukai, toh saya tidak bisa menyangkal bahwa perasaan saya ikut tersentuh oleh kisah Jagad-Paras ini. Pada satu titik saya ingin menggampar Jagad dan di titik lain saya ingin mengguncang-guncangkan bahu Paras karena keputusan-keputusan yang mereka ambil. Menarik dan sangat saya rekomendasikan buat pencinta romance untuk membaca novel yang juga merupakan Book of the Month di blog ini. Entahlah, saya kok merasa yakin bahwa novel ini akan makin mengangkat citra lini Novel Amore sehingga makin banyak pembaca yang berminat untuk mencicipi harlequin bercita rasa lokal ini. Sekali lagi selamat Tia, dan selamat Gramedia.

My rating: 4 out of 5 stars


Okay, giveaway timeeee....
1.       Giveawaydiadakan di blog ini.
2.       Tweettentang giveaway ini, minimal satu kali dengan format: Guys, ada giveaway keren berhadiah novel #MahoganyHills di http://metropop-lover.blogspot.com @tiawidia @fiksimetropop
3.       Silakan jawab pertanyaan ini di kolom komentar, “Menurut kamu, apa sih hal yang paling menyebalkan dari menikah karena dijodohin?”
4.       Tinggalkan identitas kamu di akhir komentar, boleh alamat email, dan lebih baik jika akun twitter yang mudah di-mention.
5.       Periode giveaway: 29 – 30 Mei 2013, dan pemenang diumumkan tanggal 31 Mei 2013.

Good luck and keep reading, tweemans.