Showing posts with label #BacaBarengMinjul. Show all posts
Showing posts with label #BacaBarengMinjul. Show all posts

Thursday, December 3, 2015

[#BacaBarengMinjul] edisi Tenaga Kerja Istimewa...kenalan dulu sama Naiqueen, yuk.


Rasanya cinta tuh mudah diucapkan, tapi susah banget dibuktikan, jadi sampai sekarang saya juga masih berusaha memahami cinta itu apa.
---Naiqueen, pengarang Tenaga Kerja Istimewa.

Hai, tweemans, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik-baik saja, ya. Kamu lagi baca buku apa? Belum punya bahan bacaan minggu ini? Hmm, sebaiknya ikutan saya dan Julia Agnes @juliagnes dan Cahya Widyastutik @cahyawid membaca bareng Novel Tenaga Kerja Istimewa karya Naiqueen @naiqueen terbitan Penerbit Bentang Pustaka @bentangpustaka pada 30 November s.d. 5 Desember 2015 saja, yuk.


Nah, sembari kita membaca bareng novel Tenaga Kerja Istimewa ini, sebaiknya kita kenalan dulu sama pengarangnya, supaya kita bisa lebih dekat dan serasa mengobrol langsung dengan pengarangnya. Mari kita sapa dulu pengarangnya. Hai, Pengarang. Hai, Naiqueen. Ngomong-ngomong manggilnya apa, ya?

Halo, @fiksimetropop dan pembaca semua. Panggil Alya boleh, panggil Mak Nai juga boleh. Biasanya kalau di kalangan teman-teman Wattpad suka dipanggilnya begitu.

dokumen pribadi: Naiqueen
Oke... kami panggil Mak Nai saja, ya. Sebelumnya, kita kenalan dulu. Bagaimana keseharian seorang Mak Nai? Maaf---sudah berkeluarga? 
Saya sudah berkeluarga, dan sekarang masih setia menjalankan profesi Ibu Rumah Tangga untuk suami dan anak. :)

Oya, sebenarnya Mak Nai ini lulusan/jurusan apa, sih? 
Saya alumnus Fakultas Hukum Universitas Siriwijaya dan jurusan yang saya ambil saat kuliah dulu itu Hukum Bisnis. Saya termasuk dalam kategori yang nggak tahu apa yang benar-benar ingin saya lakukan saat usia belasan... jadi, yah, saya nyasar ke jurusan hukum.

Jadi, bagaimana cara Mak Nai bagi waktunya, antara ngurus rumah sama nulis? 
Biasanya saya tidur lebih cepat dan bangun lebih awal (sekitar jam 3 atau 4 pagi) dan mulai buka laptop sampe menjelang Subuh, baru setelahnya menyelesaikan urusan kerumahtanggaan yang lain. Setelah Zuhur biasanya saya kembali luangkan waktu untuk nulis, ngedit, atau mencari sumber buat tulisan saya sampe Asar datang :)

Apakah Mak Nai punya waktu-waktu khusus untuk menulis? Atau bisa kapan saja dan di mana saja?
Kalau waktu khusus, sih, nggak ada kapan ada waktu saya sempetin aja buat utak-atik naskah atau nge-plot apa yang pengen saya tulis. Tapi saya paling suka nulis ditemani cahaya matahari makanya lebih suka nulis pas siang ketimbang malam.

Apakah keluarga Mak Nai mendukung penuh karier kepenulisan yang kamu pilih? Apa bentuk dukungan mereka yang menurut Mak Nai paling berarti?
Suami sangat mendukung, terutama karena saya bisa bekerja dari rumah jadi nggak kehilangan waktu bersama anak. Bentuk dukungan yang paling nyata dari keluarga tentu saja, sih, dengan menyediakan lebih banyak waktu untuk saya bekerja. Suami, juga mertua dan ipar, sering mengambil alih waktu untuk mengasuh anak saya yang masih empat tahun di saat-saat genting seperti deadline pas nge-proof  novel TKI.

Puji Tuhan, ya, keluarga sangat mendukung. Btw, sejak kapan, sih, Mak Nai menyukai dunia tulis-menulis? Apakah ada dari keluarga yang juga berkecimpung di dunia kepenulisan?
Sejak SD saya sudah menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, terutama ketika diberi tugas mengarang bebas :). Saat SMP saya paling suka mengurusi mading kelas dibanding teman-teman lain. Kalau dari keluarga sendiri, nggak ada yang masuk ke dunia tulis-menulis. Cuma saya sendiri, deh, kayaknya.

Apakah Mak Nai juga mengalami fase kepenulisan dengan mengikuti bermacam lomba penulisan?
Saya jarang mengikuti lomba-lomba penulisan, dan biasanya kalaupun ikut nggak pernah menang, hahaha… tapi ada beberapa lomba favorit yang tiap tahun saya ikuti meski nggak pernah menang.

Menyoal nama pena “Naiqueen”, apakah ada makna/filosofi di balik pemilihan nama pena itu?
Nama pena saya berasal dari “Nai Ratu", yaitu gelar adat Suku Komering Ulu yang disematkan kepada wanita yang telah menikah. Tetua keluarga selalu mengatakan bahwa jika nama adat itu sering dipakai bisa mengangkat derajat, tapi saya memilih nama ini sebagai nama pena lebih karena tidak ingin melupakan asal-usul saya.

Oh, begitu rupanya. Balik ke hobi tulis-menulis, apakah Mak Nai juga menyukai menulis cerpen atau puisi?
Saya suka menulis cerpen, kalau di Wattpad beberapa cerpen saya kumpulkan dalam satu judul khusus. Tapi saya menyerah untuk menulis puisi karena menurut saya butuh kemampuan "lebih" untuk menulis puisi… tapi saya suka, kok, membaca puisi di waktu senggang.

Kalau Mak Nai punya penulis atau novel favorit, nggak? Bisa dalam atau luar negeri gitu?
Saya punya beberapa novel yang saya baca berulang kali dan saya bakal nangis darah kalau sampai (novel-novel itu) hilang. Di antaranya: No Way To Treat A First Lady-nya Christopher Buckley, Seri Attorney dan FBI-nya Julie James,  Leontin Sakura Patah-nya Maria Matildis Banda, dan Kei-nya Erni Aladjai. Masih ada beberapa yang lain tapi untuk yang saya sebut itu khusus disimpan dengan baik di tempat yang paling mudah dijangkau ketika saya butuhkan. Kalau penulis, saya menyukai penulis yang banyak mengangkat budaya daerah tertentu dalam ceritanya. Pearl S Buck atau Christopher Buckley dengan gaya satire yang mewarnai novel roman (karya mereka) juga sangat saya sukai. Sedangkan, untuk penulis dalam negeri saya sepertinya jatuh cinta sama Erni Aladjai.

Lalu, apakah ada pengaruh yang diberikan oleh penulis favorit tersebut, baik langsung maupun tidak, dalam hal menulis?
Sedikit banyak sih iya, saya jadi suka mewarnai karya saya dengan budaya daerah tertentu meski hasilnya tetap roman populer.

Terkait novel Tenaga Kerja Istimewa atau TKI yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, apa sih yang mendorong Mak Nai untuk menulis novel romance berlatar belakang isu tenaga kerja (bekerja) di negara asing?
Sebenarnya saya cuma berusaha mencari profesi paling masuk akal untuk mempertemukan kedua tokoh (ciptaan) saya dan melibatkan mereka dalam sebuah kisah. Kehidupan pribadi kalangan jet set Arabia jarang tersentuh media. Dan, yang paling mengejutkan ternyata beberapa pekerja migran asal Indonesia ada yang bekerja untuk mereka. Karena itu, saya tertarik untuk melatari novel saya dengan persoalan itu.

Apakah Mak Nai melakukan riset terlebih dahulu dalam menulis ataukah begitu dapat ide langsung menulis?
Awalnya saya menulis tanpa riset sama sekali. Setelahnya dalam masa perbaikan saya melengkapi setiap bagian dalam cerita dengan hasil riset yang saya lakukan.

Apa saja yang Mak Nai lakukan untuk mendapatkan hasil riset yang cukup buat menghidupkan novelnya? Ambil contoh untuk novel TKI ini, dari mana sajakah referensi yang Mak Nai peroleh?
Literatur tentang Saudi Arabia yang membahas fakta lapangan yang saya dapat sedikit sekali tapi saya menemukan satu buku yang cukup memberi referensi tentang kehidupan bangsawan dan masyarakat Saudi sejak dari zaman kabilah sampai menjadi kerajaan. Buku itu karangan Robert Lacey yang berjudul Kerajaan Petro Dollar Saudi Arabia. Selain itu, saya juga mengikuti beberapa tulisan blogger baik blogger ekspatriat atau blogger asal Indonesia yang kebetulan bekerja atau berdomisili di sana (Saudi). Sumber lainnya saya dapat dari pengalaman langsung beberapa teman yang menjadi TKW di Arab.

Berapa lama, sih, biasanya waktu yang Mak Nai butuhkan untuk melakukan riset buat satu judul novel?
Tergantung tingkat kesulitan cerita yang diangkat, untuk kisah yang mengangkat nuansa budaya yang kental biasanya membutuhkan waktu riset yang lebih lama (di atas satu tahun). Beberapa riset memiliki sumber yang mudah didapat hingga waktu risetnya lebih singkat, ini yang saya alami saat melakukan riset kebijakan pemerintah kota terhadap bangunan cagar budaya untuk salah satu cerbung (cerita bersambung) yang saya tulis.

Soal karakterisasi, apakah tokoh-tokoh dalam novel Mak Nai murni reka-imajinasi atau ada beberapa yang ...*ehem*... berasal dari sosok nyata kehidupan keseharian Mak Nai? Terus, dari semua tokoh yang sudah dihidupkan, mana yang paling sulit ketika pendalaman karakternya? Mengapa?
Dalam hal menciptakan karakter tokoh, saya cukup fleksibel. Khusus novel TKI semua tokoh murni hasil reka imajinasi..., tapi beberapa karakter menarik yang saya temukan dalam kehidupan nyata, saya hidupkan dalam karya lainnya. Tokoh Pangeran Yousoef Akbar El Talal jadi yang tersulit karena saya buta banget dengan karakter seperti dia. Bukan saja karena dia lelaki bangsa asing dengan aspek budaya dan mind set yang jauh berbeda dari orang Indonesia, tapi juga karena dia bangsawan dan berada dalam kelas jet set yang kehidupannya sama sekali nggak tersentuh oleh pengetahuan saya.

Hmm, keren, ya. Sulit meriset tapi tetap ditulis. Menantang banget, sepertinya. Anyway,  mengapa memilih cinta sebagai tema novel-novel Mak Nai?
Alasannya klise, cinta itu bahasa paling universal, paling mudah dimengerti dan diterima sama siapa saja.

Lalu, apa sebenarnya arti ‘cinta’ bagi seorang Mak Nai?
Hahaha… jujur saja, sampai sekarang saya belum nemu deskripsi yang tepat mendefinisikan cinta. Rasanya cinta tuh mudah diucapkan, tapi susah banget dibuktikan. Jadi, sampai sekarang saya juga masih berusaha memahami cinta itu apa.

Oiya, ngomong-ngomong, sebelum diterbitkan menjadi buku fisik, kabarnya TKI kan pertama kali ditulis secara online di Wattpad. Mengapa, sih, memilih Wattpad sebagai media pengunggahan tulisan Mak Nai?
Saat itu Wattpad masih belum se-booming sekarang, jadi pas saya mengunggah cerita (ke Wattpad), sebenarnya saya pengennya biar sedikit yang baca karena saya malu banget karena saya merasa cerita saya waktu itu masih super-kacau-balau.

Sejak kapan Mak Nai mengunggah tulisan di Wattpad?
Sejak Desember 2011, kalau nggak salah, sih.

Apa kelebihan atau kekurangan Wattpad (menurut Mak Nai) dibandingkan web-portal penulisan yang lain?
Wattpad sekarang kayaknya sudah jadi komunitas dengan basis pembaca dan penulis yang besar banget. Buat penulis seperti saya keuntungannya adalah kita bisa membangun basis pembaca karya kita dalam waktu singkat. Juga bisa belajar dan mencari sumber riset dari saran dan masukan pembaca. Sementara kekurangannya, makin ke sini mulai nemu kasus-kasus penipuan seperti penulis yang buka PO (pre-order) buku terus kabur bawa uang pesanan pembeli, atau beberapa oknum penerbit yang jual jasa cetak indie atau mau menerbitkan gratis, yang ujung-ujungnya sama saja… nipu. Belum lagi penulis yang bablas majang  cerita yang penggunaan diksinya sebenarnya lebih cocok masuk ke blog-blog cerita plus-plus, dengan cover yang…. Silakan @fiksimetropop blusukan sendiri ke Wattpad deh, ya :p

Waduh, sampai sebegitunya, ya. Baiklah, nanti saya coba blusukan ke Wattpad, hehehe. Sekarang, boleh, dong, dibagi cerita di balik naik cetaknya TKI ini? Apakah dari pihak penerbit yang menghubungi Mak Nai untuk menerbitkannya atau bagaimana? Mungkin bisa jadi contoh buat calon penulis lain.
Hahaha, saya yang mengirim naskah TKI ke Bentang Pustaka, tapi kata editor saya mereka sudah memantau TKI karena banyak mendapat e-mail dari fans yang membagikan link cerita itu.

Selain TKI, apakah ada cerita lain yang juga sudah Mak Nai unggah ke Wattpad? Jika ditotal, sudah ada berapa judulkah?
Ada lebih dari sepuluh cerita saya yang masih bertahan di sana. Sementara lima cerita lain saya tarik kembali dari peredaran.

Apakah setelah novel Mak Nai terbit dalam bentuk buku fisik, ke depannya Mak Nai akan terus menulis secara online atau fokus menulis langsung untuk diterbitkan?
Saya akan melakukan keduanya, meski sepertinya intensitas main di Wattpad (akan menjadi) agak berkurang dan sekarang saya lebih suka membagi cerita di sana dalam bentuk draft mentah saja. Sementara cerita di Wattpad yang potensial buat diterbitkan saya tarik dan riset ulang agar layak untuk digadaikan ke penerbit.

Wahh, sudah cukup banyak pertanyaannya, semoga tidak merepotkan. Nah, untuk sekarang sedang sibuk apa? Apakah sedang menulis novel yang akan terbit berikutnya?
Iya, saat ini ada naskah yang sedang saya rombak habis-habisan. Sebagian besar waktu juga saya gunakan untuk riset cerita itu.

Apakah impian terbesar seorang Mak Nai dalam dunia kepenulisan?
Saya pengin bisa menghasilkan cerita yang nggak ada matinya, jadi kalau sekarang generasi orangtuanya yang suka, saya berharap kelak anak-anak dari pembaca saya sekarang masih (akan tetap) suka pada buku saya, hahaha. Dan, seriusan… itu berat banget kan, nyaris kayak mustahil.

Aamiin, semoga terkabul. Oiya, apakah ada keinginan menulis buku non fiksi atau novel di luar tema cinta?
Saya berharap suatu saat dapat mewujudkan keinginan untuk menulis novel dengan tema sejarah atau budaya, terutama yang sumbernya dari tanah kelahiran saya.

Terakhir, apakah ada yang ingin disampaikan kepada pembaca Indonesia?
Jangan berhenti membaca, budayakan membaca, dan tularkan kebiasaan membaca pada lingkungan sekitar kita. :)

Baiklah, sekian dulu perbincangan serunya ya, Mak Nai. Semoga lain waktu bisa disambung lagi. Tetap produktif, dan ditunggu karya-karya emejing selanjutnya. 
Thanks, @fiksimetropop, sudah dikasih kesempatan main ke blog-nya dan nongkrong di #BacaBarengMinjul.

dokumen pribadi: Naiqueen
Kontak Mak Nai:
Wattpad: Naiqueen
Facebook: Alya Zultanika
Twitter: @Naiqueen

Thursday, November 5, 2015

[#BacaBarengMinjul] On set of... Ivy Bridal #BBM_UnbrokenVow


Halo, tweemans, bagaimana kabar bacaanmu? Buat yang ikut baca bareng minjul edisi novel Amore bertajuk The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji, kalian sudah sampai mana? Tetap semangat membaca, ya, soalnya semakin ke tengah konflik dalam kisah rumah tangga Ivy Sutedja dan Ethan Wicaksana ini semakin "panas" dan bikin nagih pengin segera buka halaman-halaman selanjutnya. Ganbatte!


Nah, sembari melanjutkan-baca, yuk sekarang kita ngobrol-ngobrol santai dulu seputar The Unbroken Vow ini. Banyak hal yang bisa kita bahas dari novel ini, tapi untuk saat ini mari kita bahas soal setting lokasi khusus dalam The Unbroken Vow. Jika kalian sudah melewati bab-bab awal, tentunya kalian sudah tahu tentang Ivy Bridal, kan? Belum? Wah, kalian mesti kelewatan bacanya, coba cek lagi di Bab 4.

Ivy Bridal adalah salah satu lokasi khusus yang cukup berpengaruh untuk keseluruhan jalan cerita novel ini. Dari tempat ini terwujud latar belakang profesi dan keseharian Ivy. Bersama rekannya, Hannah, Ivy merintis usaha ini sejak usia 28 tahun dan kini usaha mereka itu sudah menjejak tahun keempat. Ivy Bridal memfokuskan usaha pada perancangan dan penjualan gaun pengantin. Sampai dengan batas bacaan sekarang, saya mendapati kesan bahwa Ivy Bridal hanya melayani perancangan gaun pengantin khusus mempelai wanita.

Secara fisik, tampilan luar Ivy Bridal digambarkan berada di satu kawasan rumah-toko (ruko) berlantai tiga.

source: http://mentessobredotadas.blogspot.co.id

Sedangkan untuk ilustrasi desain interior dan isi ruangan dideskripsikan secara mendetail oleh Evi di Bab 4. Dari pintu masuk, di sudut ruangan terdapat meja resepsionis (penerimaan tamu). Di lantai satu ini juga merupakan area pajang dengan etalase penuh gaun rancangan Ivy (dan Hannah?) yang ditampilkan melalui maneken, termasuk rancangan terbarunya.

source: http://weddingdress-factoryoutlet.co.uk/locations/london.php
Ruangan di lantai satu dilapisi parket berwarna kayu (parket berasal dari istilah berbahasa asing, yaitu: parquette. Parquette berarti menyusun potongan-potongan kayu untuk dijadikan penutup lantai, wikipedia) dengan dinding ber-wallpaper motif klasik warna cokelat muda dengan panel putih di bagian bawahnya. Di beberapa tempat di dindingnya dipasang foto berpigura kuning keemasan yang menampilkan foto-foto gaun pengantin rancangan Ivy.

source: http://www.verawang.com
Naik ke lantai dua, oleh Ivy ruangan ini difungsikan sebagai ruang penyimpanan seluruh gaun pengantin dan aksesori sekaligus ruang fitting. Ruangan dibuat serbaputih berukuran 60 meter persegi dengan pintu kaca sebagai pintu masuknya. Lemari berpintu cermin diletakkan menutupi seluruh dinding dan hanya menyisakan space untuk pintu.

source: http://decorwoo.blogspot.com
Terakhir, kita naik ke lantai tiga yang disekat menjadi dua bagian, ruang kerja pribadinya dan ruang finishing. Pada bagian ruang kerjanya terdapat jendela. Ruang finishing digunakan sesuai namanya yaitu untuk pemberian sentuhan akhir pada gaun rancangannya, seperti menambahkan aksesori semacam payet, renda, kristal, dan sebagainya.

source: http://www.tidyhouse.info
Bagaimana, sudahkah tergambar tempat kerja Ivy? Dari Ivy Bridal inilah keseharian Ivy membentuk karakternya. Pada waktu-waktu sibuk, Ivy bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari (bahkan sampai lembur) di Ivy Bridal. Tak jarang Ivy mengontak Ethan untuk menggantikan dirinya untuk menjemput Cindy dari sekolah yang akhirnya menjadi bumerang bagi Ivy sendiri. Ups... kita cuma bahas setting, ya, soal cerita, yuk... kita teruskan-baca novel The Unbroken Vow ini.

Selamat membaca dan berdiskusi, tweemans.

Monday, November 2, 2015

[#BacaBarengMinjul] ...mari membaca bareng The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji


"Saat keputusan terasa salah,
akankah terus melangkah?"
---The Unbroken Vow by Kezia Evi Wiadji

Hai, tweemans, senang sekali karena event #BacaBarengMinjul belakangan ini kembali semarak. Setelah sebelumnya kita menyelami kehidupan dewasa muda melalui novel Young Adult berjudul Re-Write karya Emma Grace, kali ini kita beranjak ke kisah yang lebih dewasa yang tersaji melalui novel dari lini Amore berjudul The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji. Pada gelaran kali ini, dua peserta #BBM_UnbrokenVow adalah Rahayu di akun Twitter @RiniCipta dan Mukhammad Maimun di akun Twitter @MukhammadMaimun.

Namun, seperti biasa, gelaran #BBM_UnbrokenVow ini tidak hanya bisa diikuti oleh saya, Kezia Evi Wiadji, Rahayu, dan Mukhammad Maimun saja, tweemans sekalian yang sudah punya bukunya tapi belum sempat dibaca, ayo sekalian ikut baca bareng. Pasti enak, kalau bacanya bareng teman, kan? Yang sudah baca bukunya pun bisa lho kalau mau baca ulang atau sekadar berbagi kesan selama merampungkan-baca The Unbroken Vow. Tweemans cukup sertakan tagar #BBM_UnbrokenVow pada setiap tweet yang kalian posting selama periode baca bareng yaitu dari tanggal 2 - 7 November 2015. Nah, buat yang belum punya bukunya tapi ngebet banget pengin baca, mungkin itu pertanda kamu mesti ke toko buku dan beli bukunya (atau kalau enggak, pinjem ke temanmu).

Ayok atuh kita ramaikan #BacaBarengMinjul edisi The Unbroken Vow by Kezia Evi Wiadji ini. Have fun, tweemans. 



Thursday, October 29, 2015

[#BacaBarengMinjul] ...berbincang seru seputar dunia kepenulisan bersama Kezia Evi Wiadji


Setelah minggu lalu kita menyelesaikan #BBM_ReWrite karya Emma Grace, minggu depan, tepatnya tanggal 2 s.d. 7 November 2015 #BacaBarengMinjul akan menghadirkan novel romance kategori dewasa dari lini Amore (Penerbit Gramedia Pustaka Utama) berjudul The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji. Nah, sebelum kita seseruan membaca dan mengulas The Unbroken Vow selama satu minggu penuh, yuk kita berbincang-bincang dulu dengan Evi---panggilan kita untuk Kezia Evi Wiadji, seputar dunia kepenulisan yang digelutinya saat ini.


Halo, Evi, selamat datang di www.fiksimetropop.com dan terima kasih atas kesediaan berbincang-bincang bersama @fiksimetropop tentang Evi dan dunia kepenulisan yang Evi geluti saat ini. Sebelumnya boleh dibagi informasi keseharian Evi?
Saya sudah berkeluarga dan bekerja penuh waktu di sebuah bank swasta di Jakarta. Saya dulu kuliah di Yogyakarta, fakultas Ekonomi.  

Wah, dengan kesibukan seperti itu masih sempat menulis?
Menulis lebih banyak saya lakukan di waktu senggang. Semacam reward setelah saya melakukan tugas harian atau bekerja.

Hmm, oke, kalau begitu adakah waktu atau tempat khusus untuk menulis bagi Evi?
Beruntung saya bisa menulis di mana saja dan kapan saja selama ada ponsel. Misalnya ketika menunggu antrean. Tetapi waktu khusus untuk menulis adalah saat pagi di perjalanan ke kantor (saya nebeng teman). Menulis selama di perjalanan menggunakan ponsel (bukan laptop). Tetapi khusus untuk revisi naskah harus menggunakan layar lebih besar (PC atau laptop) dan biasanya di rumah/tempat yang lebih tenang.

Menarik sekali. Tapi, omong-omong, Evi kan sudah berkeluarga, apakah keluarga Evi mendukung penuh karier kepenulisan yang kamu pilih? Apa bentuk dukungan mereka yang menurut Evi paling berarti?
Keluarga dan suami saya ‘senang’ setiap kali buku baru saya terbit sudah merupakan bentuk dukungan paling berarti. Tetapi yang mereka lakukan selama ini ‘lebih dari sekadar senang.’
 
Bolehkah diceritakan, sejak kapan Evi sudah menyukai dunia tulis menulis? Apakah ada dari keluarga yang juga berkecimpung di dunia kepenulisan?
Saya mencoba terjun ke dunia tulis-menulis (secara profesional) mulai Januari 2011. Hmm, sepertinya tidak ada dalam keluarga besar kedua orangtua saya yang berkecimpung di dunia tulis menulis ataupun bidang seni.

Apakah Evi juga mengalami fase kepenulisan dengan mengikuti bermacam lomba penulisan?
Pernah beberapa kali mengikuti lomba menulis. Tapi tidak sering. Biasanya mempertimbangkan tema dan waktu senggang.

Maaf, apakah Kezia Evi Wiadji merupakan nama asli ataukah nama pena?
Nama asli saya Evi Wiadji. Saya hanya menambahkan nama babtis (Kezia) di depan nama saya.

Apakah Evi juga menyukai menulis cerpen atau puisi?
Saya belum bisa menulis puisi. Kalau diminta memilih, saya lebih tertarik menulis novel daripada cerpen. Cerpen hanya sesekali saja. Mengenai cerpen, sudah ada satu buku kumcer saya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2013 berjudul Mamma Mia: Bouquet of Love (berisi 15 kumcer Natal).

Sekarang masuk ke pertanyaan sejuta umat nih, Evi, hehehe… dari mana, sih, biasanya inspirasi Evi peroleh dalam menuliskan sebuah novel?
Untuk saya, inspirasi bisa diperoleh dari mana saja. Dari melihat satu kejadian. Mendengar sebuah berita. Nonton film. Baca. Bahkan dari percakapan dengan teman. Tiba-tiba bisa 'klik', dapat ide kecil. Nanti akan dipikirkan lebih jauh apakah ide kecil ini bisa berpotensi menjadi naskah novel atau hanya untuk cerpen.

Apa novel favorit Evi--termasuk penulis favorit, baik dalam maupun luar negeri?
Hampir semua novel yang ditulis oleh penulis favorit saya plus Tintin.
Kalau soal penulis favorit, dari dalam negeri: Ilana Tan dan Karla M Nashar, sedangkan penulis dari luar negeri: Laura Ingalls Wilder, End Bylton, LaVyrle Spencer, Donna Van Liere, Robyn Carr, Stephenie Meyer, Sherryl Woods, Catherine Anderson, Nicholas Sparks, Lisa Kleypas (banyak juga, ya) saya lebih menyukai novel yang menyinggung atau berlatar belakang ‘keluarga’.

Apakah ada pengaruh yang diberikan oleh penulis favorit tersebut, baik langsung maupun tidak, dalam hal menulis?
Pengaruhnya, saya ingin bisa menulis sebaik dan sekeren mereka.

Terkait novel-novel Evi yang telah diterbitkan Gramedia, kalau tak salah dua novel, ya? berlabel Teenlit dan Amore, apakah itu pilihan Evi atau editor? Boleh diceritakan sedikit tentang label Amore dan Teenlit bagi novel-novel karya Evi?
Selama ini saya menulis tergantung ide yang ada. Dari satu ide, saya hanya berpikir akan dikembangkan untuk pangsa pembaca dewasa atau remaja. Bagi saya, naskah bisa diterbitkan saja (di penerbit mana pun) sudah bersyukur sekali, jadi tidak masalah akan diberi label apa. Untuk naskah The Unbroken Vow lini Amore dan Perfect Scenario lini Teenlit sepenuhnya ditentukan oleh editor.

Mengapa memilih cinta sebagai tema novel-novel Evi?
Sampai saat ini saya suka menulis sesuatu yang 'indah-indah'. Dan yang ‘indah’ ini menurut saya tidak jauh-jauh dari yang namanya ‘cinta’. Meskipun saya pernah juga menulis kisah yang temanya bukan cinta (untuk cerpen dan novela).

Apa sebenarnya arti ‘cinta’ bagi seorang Evi?
Arti cinta bagi saya adalah,
Suatu perasaan yang memicu saya untuk melakukan tindakan berbagi, rela berkorban dan menomersatukan kebahagiaan orang yang saya cintai. Jika orang yang saya cintai bahagia maka saya juga akan turut bahagia.

Apakah tidak takut novelnya dianggap ‘tidak-serius’ karena melulu bertema cinta?
Tentang ‘serius’ dan ‘tidak serius’, menurut saya (mungkin) hanya tergantung dari cara pandang orang atau bisa juga karena selera. Bagi saya tidak masalah orang akan berpendapat novel-novel saya ‘tidak serius’, yang penting saya menulis dengan 'serius'.

Apakah Evi melakukan riset terlebih dahulu dalam menulis ataukah begitu dapat ide langsung menulis?
Riset dilakukan tergantung kebutuhan. Ada yang butuh riset mendalam seperti di The Unbroken Vow. Tapi biasanya, sebelum menulis, saya akan memantapkan lebih dulu: ide, kerangka per-bab, bahan/materi pendukung. Riset termasuk dalam bahan/materi pendukung.

Jika Evi melakukan riset atas novel-novel yang sudah terbit, manakah yang membutuhkan waktu paling lama dalam hal riset?
Pertanyaan ini saya rujuk ke dua novel baru saya di Gramedia Pustaka Utama, ya. Riset paling lama dan mendalam di The Unbroken Vow. Ada beberapa hal yang saya harus persiapkan 'lebih' di sana karena memang naskah itu membutuhkan sentuhan lebih. Kalau di Perfect Scenario, riset tidak sedalam The Unbroken Vow. 

https://www.goodreads.com/book/show/26139169-perfect-scenario

https://www.goodreads.com/book/show/25997053-the-unbroken-vow

Dari semua novel yang sudah terbit, mana yang memberikan kesan paling mendalam bagi Evi pribadi? Mengapa?
Semua buku saya mempunyai kesan secara pribadi. Karena semua buku saya memiliki perjalanan uniknya sendiri-sendiri. Masing-masing mempunyai tantangan tersendiri. Juga membawa kesan tersendiri. Baik saat menggarapnya maupun saat bekerja sama dengan editor yang berbeda-beda. Beda kisah, beda momen, beda event, beda lomba, beda editor, beda penerbit.

Soal karakterisasi, apakah tokoh-tokoh dalam novel Evi murni reka-imajinasi atau ada beberapa yang berasal dari sosok nyata kehidupan keseharian kamu?
Karakteristik tokoh dalam novel saya selama ini murni rekaan. Bisa jadi sosok atau postur atau wajah dari melihat seseorang atau aktor atau artis tertentu, tetapi karakternya akan disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Dari semua tokoh yang sudah dihidupkan, mana yang paling sulit ketika pendalaman karakternya? Mengapa?
Bagi saya, semua karakter mempunyai kesulitan masing-masing. Tetapi untuk karakter di kisah-kisah yang menyedihkan, terutama pertentangan batin, terasa lebih berat. Butuh tenaga lebih untuk menuliskannya. Rasanya tenaga ikut terkuras. Berbeda dengan naskah ceria.

Pernah mengikuti kegiatan workshop kepenulisan/pendidikan formal kepenulisan ataukah menggeluti dunia kepenulisan ini secara otodidak?
Saya belajar menulis secara otodidak. Dari membaca, menonton film, review dari pembaca, masukan editor dan diskusi dengan teman sesama penulis.

Wahh, sudah cukup banyak pertanyaannya, semoga tidak merepotkan. Nah, untuk sekarang sedang sibuk apa? Apakah sedang menulis novel yang akan terbit berikutnya?
Saat ini baru rehat untuk persiapan melanjutkan menulis naskah remaja (mencoba menulis semi fantasy). Kemarin sempat terhenti karena harus merevisi naskah lain. 

Apakah impian terbesar seorang Kezia Evi Wiadji dalam dunia kepenulisan?
Semoga bisa terus berbagi kebahagiaan dan harapan baik melalui berbagai kisah. Semoga bisa menghibur dan menginspirasi pembaca.

Apakah ada keinginan menulis buku non fiksi atau novel di luar tema cinta?
Non fiksi sampai saat ini belum ada keinginan. Sebenarnya saya pernah menulis kisah di luar tema cinta, tapi tidak banyak.

Terakhir, apakah ada yang ingin disampaikan bagi pembaca Indonesia?
Tetap membaca dan jangan membeli buku bajakan.
Terima kasih untuk mas Ijul yang telah berbaik hati memberi kesempatan kepada saya di program #BacaBarengMinjul.
Sukses untuk kita semua.

Sekali lagi, beribu terima kasih saya sampaikan kepada Evi yang telah bersedia menyempatkan untuk berbincang dan berbagi pengalaman menulis dengan @fiksimetropop. Semoga perbincangan ini dapat bermanfaat bagi semua yang membaca. Semoga terus produktif, selamat menulis, Evi.

Akrab disapa Evi, penulis ini tinggal di Serpong. Di sela-sela waktunya sebagai karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta, dia mencoba terjun ke dunia tulis-menulis sejak tahun 2011. Dari tangannya telah hadir beberapa buku baik fiksi maupun non fiksi.

Melalui berbagai kisah, penulis mencoba berbagi semangat hidup, inspirasi, dan pesan. Dan seperti keinginannya untuk memuliakan nama Tuhan, dia berusaha melakukan yang terbaik selama Tuhan mempercayakan talenta ini.

Faith makes all thing possible, love makes them easy. (Anonim)

Buku yang telah terbit:
[15] Last Journey (Grasindo Gramedia - soon 2015/Naskah Pilihan Lomba PSA#3)
[14] Perfect Scenario (Gramedia Pustaka Utama - September 2015/Teenlit)
[13] The Unbroken Vow (Gramedia Pustaka Utama - Agustus 2015/Amore]
[12] Maret: Flowers (Grasindo Gramedia - Mar 2015/Monthly Series 3 penulis)
[11] Runaway (Grasindo Gramedia - Des 2014/Novel Inspiratif Natal)
[10] Sweet Winter (Grasindo Gramedia - Agt 2014)
[09] Kimmy Puzzle (Media Pressindo - Mei 2014/Novel Drama Misteri)
[08] I am Yours (BIP Gramedia - Apr 2014/Diikutsertakan ke Frankfurt Book Fair 2015)
[07] You're Invited (Grasindo Gramedia - Apr 2014/Naskah Pilihan Lomba PSA#2)
[06] Hanya Bisa Empat Kali [JIKA AKU MEREKA/Lomba Menulis Kisah Inspiratif] (GagasMedia - Feb 2014)
[05] Second Love [BE MINE/novela 3 penulis] (Media Pressindo - Feb 2014)
[04] Mamma Mia! Bouquet of Love (Gramedia Pustaka Utama - Nov 2013/15 Kumpulan Cerita Pendek Inspiratif Natal)
[03] Till It's Gone (Media Pressindo - Juli 2013)
[02] Love to Love You (Media Pressindo - Nov 2012)
[01] Because of You (Media Pressindo - Juli 2012)