Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts
Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts

Monday, January 4, 2016

[Resensi Novel Romance] My Wedding Dress by Dy Lunaly


Kalau mau jujur, bukankah sebenarnya kita semua merupakan kumpulan masokhis, disadari ataupun tidak? Terlalu sering kita sengaja membuka kenangan menyakitkan atau menyedihkan dan menyesapnya kembali.
---Dy Lunaly, My Wedding Dress

First line:
Aku berkedip beberapa kali sebelum kembali menatap pantulan wajahku pada cermin di sudut ruangan.

Apa yang lebih mengerikan selain ditinggalkan calon suamimu tepat ketika sudah akan naik altar? Abby pernah merasakannya. Dia paham betul sakitnya.
 

Abby memutuskan untuk berputar haluan hidup setelah itu. Berhenti bekerja, menutup diri, mengabaikan dunia yang seolah menertawakannya. Ia berusaha menyembuhkan luka. Namun, setahun yang terasa berabad-abad ternyata belum cukup untuk mengobatinya. Sakit itu masih ada, bahkan menguat lebih memilukan.
 

Lalu, Abby sampai pada keputusan gila. Travelling mengenakan gaun pengantin! Meski tanpa mempelai pria, ia berusaha menikmati tiap detik perjalanannya. Berharap gaun putih itu bisa menyerap semua kesedihannya yang belum tuntas. Mengembalikan hatinya, agar siap untuk menerima cinta yang baru.

Judul: My Wedding Dress
Pengarang: Dy Lunaly
Penyunting: Starin Sani
Perancang sampul: Titin Apti Liastuti
Pemeriksa aksara: Fitriana STP & Septi Ws
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: vi + 270 hlm
Harga: Rp59.000
Rilis: Oktober 2015
ISBN: 978-602-291-106-7
Dibaca: akhir Desember 2015
Rating: 3 out of 5 star
Buku persembahan dari pengarangnya, tidak memengaruhi penulisan resensi.

Entah jodoh, entah kebetulan, oleh sebab saya tak bisa mengunjungi event Big Bad Wolf book fair di Kuala Lumpur akhir Desember 2015 kemarin, saya yang mendadak kangen melancong ke Malaysia atau Singapura, pas banget ketika menerima novel rilisan terbaru karya Dy ini. Apa pasal? Setting lokasi novel dalam cita rasa weddinglit ini ternyata di dua negara tersebut. Ahay, saya bisa sedikit bernostalgia selama membacanya.

Meet Cute:
Sebagaimana disebutkan di sinopsis novel ini, tokoh Gabriella "Abby" Karen Saraswati dirundung patah hati setelah gagal menikah. Oleh karena suatu alasan yang impulsif, Abby memutuskan untuk melakukan solo traveling ke Penang. Di salah satu negara bagian Malaysia inilah, Abby yang kebingungan mencari alat transportasi untuk kembali ke penginapannya bertemu dengan Wirasana "Wira" Peter Smit di halte bus Rapid Penang.


Ide cerita dan eksekusinya:
Saya menyukai ide cerita yang diangkat di dalam novel ini. Gaun pengantin dan traveling. Unik dan menarik. Meskipun demikian, saya tak merasai nuansa wedding yang kental mengingat novel ini dilabeli weddinglit. Well, memang ada dua momen pernikahan, sih, di sini, tapi... entahlah, nuansa pernikahannya tenggelam oleh acara jalan-jalannya. Mungkin, saya-nya saja, sih, yang mulai bosan dengan novel-novel berbalut traveling. Waktu baca Sunset Holiday-nya Nina Ardianti-Mahir Pradana, saya juga susah dapat feel-nya.

Sayangnya (lagi), gaya penulisan Dy yang lincah agak sedikit kurang orisinal dengan banyaknya adegan yang entah sudah pernah digunakan di buku atau film. Bukan pula ingin mendiskreditkan pengarang, tapi penjelasan soal critical eleven di halaman 153 tentu saja akan segera mengingatkan pembaca pada novel fenomenal karya Ika Natassa. Dan, beberapa adegan lainnya. Sedikit banyak --buat saya-- itu mengurangi kenikmatan membaca novel ini. Plus, terlalu banyak kebetulan, menurut saya. Apakah jalan cerita memang dimaksudkan untuk menciptakan momen-momen serendipity yang mudah? I dunno. Meskipun begitu, saya cukup dibuat surprise lho ketika mendapatkan snap-moment menjelang ending, saat mencocokkan suasana ruang tunggu bandara Soetta (sebelum keberangkatan) dan segala peristiwa yang terjadi di Penang. Everything happens for a reason. Hufft, bisa saja gitu, ya.

Omong-omong, Dy ini tipe yang suka memperkenalkan para tokohnya melalui dialog masing-masing dengan menyerukan nama lengkapnya, ya. Agak awkward, tapi bolehlah tanpa harus dinarasikan.

Plot, setting, dan karakter:
Plotnya bergerak maju, namun di sepanjang pergerakannya banyak bagian yang mengingat masa lalu, lengkap dengan dialog dan suasana dan detail-detail kecil lainnya. Ingatan akan masa lalu itu biasanya ditulis miring (kursif) sehingga secara tak langsung memisahkan antara kejadian di masa sekarang dan masa lalu.

Setting waktu: modern. Setting lokasi: Jakarta, Penang (Malaysia), Singapura, dan Pulau Menjangan (Bali). Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwasanya novel ini menghadirkan nostalgia, saya memang sempat mengunjungi Penang dan Singapura. Sayangnya, saya tak berlama-lama di Penang, kurang dari 12 jam malah, hahaha. Jadi, saya memang sama sekali tak menikmati suasana kotanya. Keperluan saya hanya sekadar belanja buku lalu pulang. Segala macam mural, street art, dan tempat-tempat bersejarah tidak sempat saya kunjungi. Syukurlah, saya bisa membayangkannya dari deskripsi yang diberikan oleh pengarang.

Novel ini didukung dua tokoh utama yakni Abby, seorang arsitek yang banting setir menjadi wirausahawan online setelah kegagalan pernikahannya, dan Wira yang adalah travel-writer yang menikmati perjalanan sebagai hobi sekaligus profesinya. Di samping itu ada tokoh Gigi (adik perempuan Abby yang tampak lebih dewasa), Andre (objek patah hatinya Abby), Noura dan Jiyad (kawan Wira di Singapura), dan beberapa tokoh pendukung lainnya. Sejatinya saya menyukai interaksi anara Abby dan Wira, tapi berkat serendipity yang agak terlalu banyak membuat saya sulit merasai chemistry mereka. Belum lagi sifat Abby yang di saya kok terkesan kekanakan, ya? Hmm, si Abby ini sudah pernah kerja (arsitek mestinya jadi orang yang serius dan penuh perhitungan, kan?) dan juga sempat mau nikah. Dan, saya juga mencatat (dalam ingatan), Abby ini suka sekali berteriak-teriak pada Wira. Agak berlebihan dan mengganggu (buat saya, sih).

Oiya, PoV untuk novel ini adalah PoV orang pertama dari sudut pandang Abby.

Konflik:
Bumbu cerita berasal dari serpihan masa lalu--tragedi setahun sebelumnya, tepatnya-- yang menimpa Abby lalu ditambah potongan masalah yang juga sedang dihadapi oleh Wira. Ini pula yang jadi masalah buat saya, "Kenapa, sih, pengarang suka banget bikin alasan patah hati agar tokohnya ber-traveling?". Maaf, tapi saya gagal bersimpati pada alasan Abby dan Wira melakukan perjalanan. Alasan simpel yang terlalu dibesar-besarkan, buat saya.

Ujung konflik juga seperti dibegitukan saja. Hmm, bagaimana, ya? Sepertinya pengarang maunya bikin semua tokohnya mendapat jalan keluar. Enggak dipaksakan juga, sih, tapi semuanya tampak terlalu mudah untuk konflik yang dibuat sedemikian rumit. Bahkan, gong dari semua hal yang berkaitan dengan alasan Andre memutuskan batal menikahi Abby... huhuhu, enggak ada subplot lain sajakah? Subplot macam begitu saya rasa sudah terlalu biasa.

Lalu, tentang my wedding dress yang menjadi nyawa keseluruhan cerita ini... hmm, kurang "sakral" rasanya. Saya tak merasa diikat dengan erat oleh kenyataan bahwa gaun pengantin Abby itulah yang menciptakan, memperuncing, hingga memecahkan masalah yang dihadapi Abby. Seperti halnya pada kurang kuatnya chemistry Abby-Wira, saya juga kurang menghayati peran besar si gaun pada keseluruhan cerita.

Ending (jangan buka bila menganggap ini spoiler):


Kesimpulan:
Pada akhirnya, saya mesti bilang, perasaan saya agak sedikit campur aduk setelah merampungkan-baca novel ini. Namun, saya menyukai ide ceritanya: unik dan menarik, plus membuat saya bernostalgia ketika traveling ke Penang dan Singapura. Buat kamu yang sedang ingin membaca novel romance berlatar belakang traveling, silakan coba cicipi racikan anyar Dy Lunaly ini. Dijamin kamu pasti kepingin bisa traveling bareng pasangan atau menemukan pasangan saat traveling. *grin*

End line:
Pria favoritku.

Thursday, December 3, 2015

[#BacaBarengMinjul] edisi Tenaga Kerja Istimewa...kenalan dulu sama Naiqueen, yuk.


Rasanya cinta tuh mudah diucapkan, tapi susah banget dibuktikan, jadi sampai sekarang saya juga masih berusaha memahami cinta itu apa.
---Naiqueen, pengarang Tenaga Kerja Istimewa.

Hai, tweemans, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik-baik saja, ya. Kamu lagi baca buku apa? Belum punya bahan bacaan minggu ini? Hmm, sebaiknya ikutan saya dan Julia Agnes @juliagnes dan Cahya Widyastutik @cahyawid membaca bareng Novel Tenaga Kerja Istimewa karya Naiqueen @naiqueen terbitan Penerbit Bentang Pustaka @bentangpustaka pada 30 November s.d. 5 Desember 2015 saja, yuk.


Nah, sembari kita membaca bareng novel Tenaga Kerja Istimewa ini, sebaiknya kita kenalan dulu sama pengarangnya, supaya kita bisa lebih dekat dan serasa mengobrol langsung dengan pengarangnya. Mari kita sapa dulu pengarangnya. Hai, Pengarang. Hai, Naiqueen. Ngomong-ngomong manggilnya apa, ya?

Halo, @fiksimetropop dan pembaca semua. Panggil Alya boleh, panggil Mak Nai juga boleh. Biasanya kalau di kalangan teman-teman Wattpad suka dipanggilnya begitu.

dokumen pribadi: Naiqueen
Oke... kami panggil Mak Nai saja, ya. Sebelumnya, kita kenalan dulu. Bagaimana keseharian seorang Mak Nai? Maaf---sudah berkeluarga? 
Saya sudah berkeluarga, dan sekarang masih setia menjalankan profesi Ibu Rumah Tangga untuk suami dan anak. :)

Oya, sebenarnya Mak Nai ini lulusan/jurusan apa, sih? 
Saya alumnus Fakultas Hukum Universitas Siriwijaya dan jurusan yang saya ambil saat kuliah dulu itu Hukum Bisnis. Saya termasuk dalam kategori yang nggak tahu apa yang benar-benar ingin saya lakukan saat usia belasan... jadi, yah, saya nyasar ke jurusan hukum.

Jadi, bagaimana cara Mak Nai bagi waktunya, antara ngurus rumah sama nulis? 
Biasanya saya tidur lebih cepat dan bangun lebih awal (sekitar jam 3 atau 4 pagi) dan mulai buka laptop sampe menjelang Subuh, baru setelahnya menyelesaikan urusan kerumahtanggaan yang lain. Setelah Zuhur biasanya saya kembali luangkan waktu untuk nulis, ngedit, atau mencari sumber buat tulisan saya sampe Asar datang :)

Apakah Mak Nai punya waktu-waktu khusus untuk menulis? Atau bisa kapan saja dan di mana saja?
Kalau waktu khusus, sih, nggak ada kapan ada waktu saya sempetin aja buat utak-atik naskah atau nge-plot apa yang pengen saya tulis. Tapi saya paling suka nulis ditemani cahaya matahari makanya lebih suka nulis pas siang ketimbang malam.

Apakah keluarga Mak Nai mendukung penuh karier kepenulisan yang kamu pilih? Apa bentuk dukungan mereka yang menurut Mak Nai paling berarti?
Suami sangat mendukung, terutama karena saya bisa bekerja dari rumah jadi nggak kehilangan waktu bersama anak. Bentuk dukungan yang paling nyata dari keluarga tentu saja, sih, dengan menyediakan lebih banyak waktu untuk saya bekerja. Suami, juga mertua dan ipar, sering mengambil alih waktu untuk mengasuh anak saya yang masih empat tahun di saat-saat genting seperti deadline pas nge-proof  novel TKI.

Puji Tuhan, ya, keluarga sangat mendukung. Btw, sejak kapan, sih, Mak Nai menyukai dunia tulis-menulis? Apakah ada dari keluarga yang juga berkecimpung di dunia kepenulisan?
Sejak SD saya sudah menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, terutama ketika diberi tugas mengarang bebas :). Saat SMP saya paling suka mengurusi mading kelas dibanding teman-teman lain. Kalau dari keluarga sendiri, nggak ada yang masuk ke dunia tulis-menulis. Cuma saya sendiri, deh, kayaknya.

Apakah Mak Nai juga mengalami fase kepenulisan dengan mengikuti bermacam lomba penulisan?
Saya jarang mengikuti lomba-lomba penulisan, dan biasanya kalaupun ikut nggak pernah menang, hahaha… tapi ada beberapa lomba favorit yang tiap tahun saya ikuti meski nggak pernah menang.

Menyoal nama pena “Naiqueen”, apakah ada makna/filosofi di balik pemilihan nama pena itu?
Nama pena saya berasal dari “Nai Ratu", yaitu gelar adat Suku Komering Ulu yang disematkan kepada wanita yang telah menikah. Tetua keluarga selalu mengatakan bahwa jika nama adat itu sering dipakai bisa mengangkat derajat, tapi saya memilih nama ini sebagai nama pena lebih karena tidak ingin melupakan asal-usul saya.

Oh, begitu rupanya. Balik ke hobi tulis-menulis, apakah Mak Nai juga menyukai menulis cerpen atau puisi?
Saya suka menulis cerpen, kalau di Wattpad beberapa cerpen saya kumpulkan dalam satu judul khusus. Tapi saya menyerah untuk menulis puisi karena menurut saya butuh kemampuan "lebih" untuk menulis puisi… tapi saya suka, kok, membaca puisi di waktu senggang.

Kalau Mak Nai punya penulis atau novel favorit, nggak? Bisa dalam atau luar negeri gitu?
Saya punya beberapa novel yang saya baca berulang kali dan saya bakal nangis darah kalau sampai (novel-novel itu) hilang. Di antaranya: No Way To Treat A First Lady-nya Christopher Buckley, Seri Attorney dan FBI-nya Julie James,  Leontin Sakura Patah-nya Maria Matildis Banda, dan Kei-nya Erni Aladjai. Masih ada beberapa yang lain tapi untuk yang saya sebut itu khusus disimpan dengan baik di tempat yang paling mudah dijangkau ketika saya butuhkan. Kalau penulis, saya menyukai penulis yang banyak mengangkat budaya daerah tertentu dalam ceritanya. Pearl S Buck atau Christopher Buckley dengan gaya satire yang mewarnai novel roman (karya mereka) juga sangat saya sukai. Sedangkan, untuk penulis dalam negeri saya sepertinya jatuh cinta sama Erni Aladjai.

Lalu, apakah ada pengaruh yang diberikan oleh penulis favorit tersebut, baik langsung maupun tidak, dalam hal menulis?
Sedikit banyak sih iya, saya jadi suka mewarnai karya saya dengan budaya daerah tertentu meski hasilnya tetap roman populer.

Terkait novel Tenaga Kerja Istimewa atau TKI yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, apa sih yang mendorong Mak Nai untuk menulis novel romance berlatar belakang isu tenaga kerja (bekerja) di negara asing?
Sebenarnya saya cuma berusaha mencari profesi paling masuk akal untuk mempertemukan kedua tokoh (ciptaan) saya dan melibatkan mereka dalam sebuah kisah. Kehidupan pribadi kalangan jet set Arabia jarang tersentuh media. Dan, yang paling mengejutkan ternyata beberapa pekerja migran asal Indonesia ada yang bekerja untuk mereka. Karena itu, saya tertarik untuk melatari novel saya dengan persoalan itu.

Apakah Mak Nai melakukan riset terlebih dahulu dalam menulis ataukah begitu dapat ide langsung menulis?
Awalnya saya menulis tanpa riset sama sekali. Setelahnya dalam masa perbaikan saya melengkapi setiap bagian dalam cerita dengan hasil riset yang saya lakukan.

Apa saja yang Mak Nai lakukan untuk mendapatkan hasil riset yang cukup buat menghidupkan novelnya? Ambil contoh untuk novel TKI ini, dari mana sajakah referensi yang Mak Nai peroleh?
Literatur tentang Saudi Arabia yang membahas fakta lapangan yang saya dapat sedikit sekali tapi saya menemukan satu buku yang cukup memberi referensi tentang kehidupan bangsawan dan masyarakat Saudi sejak dari zaman kabilah sampai menjadi kerajaan. Buku itu karangan Robert Lacey yang berjudul Kerajaan Petro Dollar Saudi Arabia. Selain itu, saya juga mengikuti beberapa tulisan blogger baik blogger ekspatriat atau blogger asal Indonesia yang kebetulan bekerja atau berdomisili di sana (Saudi). Sumber lainnya saya dapat dari pengalaman langsung beberapa teman yang menjadi TKW di Arab.

Berapa lama, sih, biasanya waktu yang Mak Nai butuhkan untuk melakukan riset buat satu judul novel?
Tergantung tingkat kesulitan cerita yang diangkat, untuk kisah yang mengangkat nuansa budaya yang kental biasanya membutuhkan waktu riset yang lebih lama (di atas satu tahun). Beberapa riset memiliki sumber yang mudah didapat hingga waktu risetnya lebih singkat, ini yang saya alami saat melakukan riset kebijakan pemerintah kota terhadap bangunan cagar budaya untuk salah satu cerbung (cerita bersambung) yang saya tulis.

Soal karakterisasi, apakah tokoh-tokoh dalam novel Mak Nai murni reka-imajinasi atau ada beberapa yang ...*ehem*... berasal dari sosok nyata kehidupan keseharian Mak Nai? Terus, dari semua tokoh yang sudah dihidupkan, mana yang paling sulit ketika pendalaman karakternya? Mengapa?
Dalam hal menciptakan karakter tokoh, saya cukup fleksibel. Khusus novel TKI semua tokoh murni hasil reka imajinasi..., tapi beberapa karakter menarik yang saya temukan dalam kehidupan nyata, saya hidupkan dalam karya lainnya. Tokoh Pangeran Yousoef Akbar El Talal jadi yang tersulit karena saya buta banget dengan karakter seperti dia. Bukan saja karena dia lelaki bangsa asing dengan aspek budaya dan mind set yang jauh berbeda dari orang Indonesia, tapi juga karena dia bangsawan dan berada dalam kelas jet set yang kehidupannya sama sekali nggak tersentuh oleh pengetahuan saya.

Hmm, keren, ya. Sulit meriset tapi tetap ditulis. Menantang banget, sepertinya. Anyway,  mengapa memilih cinta sebagai tema novel-novel Mak Nai?
Alasannya klise, cinta itu bahasa paling universal, paling mudah dimengerti dan diterima sama siapa saja.

Lalu, apa sebenarnya arti ‘cinta’ bagi seorang Mak Nai?
Hahaha… jujur saja, sampai sekarang saya belum nemu deskripsi yang tepat mendefinisikan cinta. Rasanya cinta tuh mudah diucapkan, tapi susah banget dibuktikan. Jadi, sampai sekarang saya juga masih berusaha memahami cinta itu apa.

Oiya, ngomong-ngomong, sebelum diterbitkan menjadi buku fisik, kabarnya TKI kan pertama kali ditulis secara online di Wattpad. Mengapa, sih, memilih Wattpad sebagai media pengunggahan tulisan Mak Nai?
Saat itu Wattpad masih belum se-booming sekarang, jadi pas saya mengunggah cerita (ke Wattpad), sebenarnya saya pengennya biar sedikit yang baca karena saya malu banget karena saya merasa cerita saya waktu itu masih super-kacau-balau.

Sejak kapan Mak Nai mengunggah tulisan di Wattpad?
Sejak Desember 2011, kalau nggak salah, sih.

Apa kelebihan atau kekurangan Wattpad (menurut Mak Nai) dibandingkan web-portal penulisan yang lain?
Wattpad sekarang kayaknya sudah jadi komunitas dengan basis pembaca dan penulis yang besar banget. Buat penulis seperti saya keuntungannya adalah kita bisa membangun basis pembaca karya kita dalam waktu singkat. Juga bisa belajar dan mencari sumber riset dari saran dan masukan pembaca. Sementara kekurangannya, makin ke sini mulai nemu kasus-kasus penipuan seperti penulis yang buka PO (pre-order) buku terus kabur bawa uang pesanan pembeli, atau beberapa oknum penerbit yang jual jasa cetak indie atau mau menerbitkan gratis, yang ujung-ujungnya sama saja… nipu. Belum lagi penulis yang bablas majang  cerita yang penggunaan diksinya sebenarnya lebih cocok masuk ke blog-blog cerita plus-plus, dengan cover yang…. Silakan @fiksimetropop blusukan sendiri ke Wattpad deh, ya :p

Waduh, sampai sebegitunya, ya. Baiklah, nanti saya coba blusukan ke Wattpad, hehehe. Sekarang, boleh, dong, dibagi cerita di balik naik cetaknya TKI ini? Apakah dari pihak penerbit yang menghubungi Mak Nai untuk menerbitkannya atau bagaimana? Mungkin bisa jadi contoh buat calon penulis lain.
Hahaha, saya yang mengirim naskah TKI ke Bentang Pustaka, tapi kata editor saya mereka sudah memantau TKI karena banyak mendapat e-mail dari fans yang membagikan link cerita itu.

Selain TKI, apakah ada cerita lain yang juga sudah Mak Nai unggah ke Wattpad? Jika ditotal, sudah ada berapa judulkah?
Ada lebih dari sepuluh cerita saya yang masih bertahan di sana. Sementara lima cerita lain saya tarik kembali dari peredaran.

Apakah setelah novel Mak Nai terbit dalam bentuk buku fisik, ke depannya Mak Nai akan terus menulis secara online atau fokus menulis langsung untuk diterbitkan?
Saya akan melakukan keduanya, meski sepertinya intensitas main di Wattpad (akan menjadi) agak berkurang dan sekarang saya lebih suka membagi cerita di sana dalam bentuk draft mentah saja. Sementara cerita di Wattpad yang potensial buat diterbitkan saya tarik dan riset ulang agar layak untuk digadaikan ke penerbit.

Wahh, sudah cukup banyak pertanyaannya, semoga tidak merepotkan. Nah, untuk sekarang sedang sibuk apa? Apakah sedang menulis novel yang akan terbit berikutnya?
Iya, saat ini ada naskah yang sedang saya rombak habis-habisan. Sebagian besar waktu juga saya gunakan untuk riset cerita itu.

Apakah impian terbesar seorang Mak Nai dalam dunia kepenulisan?
Saya pengin bisa menghasilkan cerita yang nggak ada matinya, jadi kalau sekarang generasi orangtuanya yang suka, saya berharap kelak anak-anak dari pembaca saya sekarang masih (akan tetap) suka pada buku saya, hahaha. Dan, seriusan… itu berat banget kan, nyaris kayak mustahil.

Aamiin, semoga terkabul. Oiya, apakah ada keinginan menulis buku non fiksi atau novel di luar tema cinta?
Saya berharap suatu saat dapat mewujudkan keinginan untuk menulis novel dengan tema sejarah atau budaya, terutama yang sumbernya dari tanah kelahiran saya.

Terakhir, apakah ada yang ingin disampaikan kepada pembaca Indonesia?
Jangan berhenti membaca, budayakan membaca, dan tularkan kebiasaan membaca pada lingkungan sekitar kita. :)

Baiklah, sekian dulu perbincangan serunya ya, Mak Nai. Semoga lain waktu bisa disambung lagi. Tetap produktif, dan ditunggu karya-karya emejing selanjutnya. 
Thanks, @fiksimetropop, sudah dikasih kesempatan main ke blog-nya dan nongkrong di #BacaBarengMinjul.

dokumen pribadi: Naiqueen
Kontak Mak Nai:
Wattpad: Naiqueen
Facebook: Alya Zultanika
Twitter: @Naiqueen

Friday, April 3, 2015

[Resensi Novel Romance] Gloomy Gift by Rhein Fathia


Novel romance berbumbu drama aksi nan mendebarkan...
Kupandangi kamu dengan wajah memelas. Berharap kamu mau menyingkap apa yang sedang kita alami sekarang. Kamu tetap pada pendirianmu, bungkam. Pura-pura tak ada hal besar yang baru saja terjadi.

Bagaimana mungkin semua baik-baik saja? Di hari pertunangan kita, segerombolan orang menyerbu rumah. Tembakkan diletuskan. Peluru. Jeritan orang-orang. Dan, kamu membawaku kabur masih dengan kebaya impian yang kini terasa menyiksa dipakai di saat yang tak sepantasnya.
Hari yang seharusnya bahagia, menjelma tegang dan penuh tanya. Kenapa kita harus lari? Belum cukupkah aku mengenalmu sejauh ini?

Aku tak siap menyambut kenyataan. Tak siap jika harus kehilangan. Tak kuat menahan rasa takut yang berkepanjangan.

Judul: Gloomy Gift
Pengarang: Rhein Fathia
Penyunting: Pratiwi Utami
Pemeriksa aksara: Septi Ws
Perancang sampul: Wahyudi
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: iv + 284 hlm
Harga: Rp54.000 (persembahan pengarang)
Rilis: Maret 2015
ISBN: 978-602-291-089-3

Horeee... ada yang berbeda dari novel romance yang biasa saya baca. Dari sejak tahu bahwa akan ada unsur aksi dalam novel ini, saya enggak sabar buat segera baca. Saya sungguh-sungguh berharap makin banyak penulis novel romance yang menyelipkan beragam tema dalam cerita buatan mereka. Biarkanlah FTV dan sinetron kacangan di TV punya pola cerita manis yang mengada-ada dan serba mudah ditebak, mari kita perbanyak cerita novel yang penuh unsur kejutan. Tak melulu hanya cerita cinta-cintaan semanis gulali.

Benang merah Gloomy Gift tetaplah jalinan kisah asmara antara seorang gadis pemilik gerai jasa penyedia kado, Kara Arkana, dengan arsitek slash penyelidik bayaran untuk kasus-kasus berbahaya, Zeno Ramawijaya. Dimulai dari adegan pertunangan yang sakral untuk keduanya lalu dilanjutkan dengan serentetan kejadian yang menyerempet maut. Tempo adegan yang serbacepat membuat pembaca (saya) enggan untuk meletakkan buku ini sebelum menyelesaikannya. 

Basically, tulisan Rhein tetaplah manis. Jadi, buat yang suka CoupL(ov)e atau Seven Days tak perlu khawatir kehilangan sentuhan tulisan Rhein yang sesekali mendadak romantis. Meskipun sebagian besar bernuansa tegang dan kita dibuat menduga-duga, kisah romantis antara Kara dan Zeno cukup terasa. Meskipun tak banyak adegan intim di sela-sela serangkaian adegan kejar-kejaran dan baku hantam, chemistry dua sejoli itu tetap terjaga. Dan, saya ikut merasakan bagaimana kegamangan mereka dalam memperjuangkan cinta. 

Entah ini kekurangan atau kelebihan (biar jadi fokus), bumbu cerita Gloomy Gift hanya soal Zeno dan perusahaan rahasianya melawan perusahaan Lintang Samudra. Jika saya tak salah menangkap maksud dari beberapa penjelasan mendetail soal perusahaan Zeno, Save Your Life (SYL), apa iya cuman menerima satu order dalam satu waktu? Bukankah urusan dengan Lintang Samudra ini semestinya hanya tanggung jawab Zeno? Maksud saya, akan menjadi lebih kompleks dan seru jika anggota SYL yang lain juga kebetulan menerima order dari klien lainnya.


Namun demikian, Rhein benar-benar berhasil membawa nuansa drama aksinya dengan cukup baik. Tapi, jangan juga langsung percaya pada saya. Selama ini saya memang lebih banyak berkutat dengan novel romance cinta-cintaan biasa, jadi saya memang gampang terkecoh dan sulit menangkap bolong pada tipe cerita semacam Gloomy Gift ini. Mungkin buat kamu yang suka membaca novel aksi, thriller, atau misteri, bisa saja menemukan blooper atau plot hole dalam Gloomy Gift. Sementara ini, buat saya, Gloomy Gift cukup rapi dalam membungkus drama aksinya.



Menyoal karakter yang hadir dalam novel ini, saya pun cukup terkesan. Belakangan ini saya sedang keranjingan menonton serial TV semacam How to Get Away with Murder, Scorpion, Scandal, dan Madam Secretary, yang menyajikan drama penuh intrik dan orang-orang (yang tampak) genius dalam peran mereka. Dan saya merasa tokoh-tokoh dalam Gloomy Gift cukup unik dengan bakat dan peran masing-masing. Tentu saja, dua tokoh utamanya tak boleh dilupakan, namun ada juga Garin dan Dhewa (ayah dan adik Zeno), Lupus, Violet, Adrian, Furky, dan bahkan Belinda (ibu Kara) yang memiliki karakter yang pas dan kuat. Buat saya, tak ada tokoh yang tampil sia-sia.

Tapi, tentu saja tak ada gading yang tak retak, kan? Gloomy Gift pun tetap memiliki titik-titik lemah. Selain konflik yang hanya ada satu tanpa dilengkapi subplot lain (oh, sejarah kelam masa lalu Lupus memang mengejutkan, tapi tetap saja itu hanya pernik kecil), Gloomy Gift masih bermain aman dengan sama sekali hadir bak "dongeng". Apakah kisah ini nyata ada di Indonesia? Apakah ini seperti halnya berandalan di film The Raid atau 9 Naga? Mengapa sama sekali tak ada campur tangan polisi dalam drama aksi ini? Apakah Garin Ramawijaya benar-benar punya pengaruh skala nasional sehingga peristiwa baku tembak di area terbuka dan di acara pertunangan Kara-Zeno tak mendapat perhatian pers? Media sosial? Polisi? Atau minimal reaksi tetangga (dan Pak RT) di lingkungan rumah Kara?


Hal lain yang mungkin tidak terlalu signifikan tapi cukup mengganggu (paling tidak buat saya) adalah pengulangan beberapa penjelasan di beberapa bab. Misalnya, soal ingatan Kara akan sosok "Raymond sebagai orang tua dengan sifat kebapakan yang selalu membanggakan putranya", yang beberapa kali dicuplik setiap ditampilkan adegan Kara menganalisis situasi yang dialaminya. Dan, itu diulang sampai beberapa kali di bab-bab yang berbeda. Dan, masih ada beberapa detail lain yang mengalami hal serupa.

PRO:
1. Idenya gokil (abis nonton apa sih jadi kepikiran bikin perusahaan semacam SYL?).
2. Karakternya kuat dan pas.
3. Pace-nya cepat namun tetap stabil (bikin deg-degan).
4. Setting tempat: Jakarta, Bandung, Bekasi, dan Bogor.
5. Chemistry tokoh utama kuat.
6. Twist di ending dan epilognya sukses bikin saya ternganga.
7. Kovernya bagus dan mendukung cerita.
8. Diksi cukup menarik dengan beberapa bagian sangat quotable.
My fave part:
Kebanyakan pria menganggap wanita hanya sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk ditaklukkan, bukan untuk dilindungi. Materi sebanyak apa pun tidak akan memenuhi 'rasa terlindungi' yang wanita butuhkan.
(hlm. 133)
"Muaythai."
"Itu olahraga favoritmu. Apa lagi selain menembak?"
"Terjun payung, panjat tebing, menyelam--"
"Ke dalam lautan?
"Termasuk ke dalam hatimu."
(hlm. 181)
Someone who you love has at least one secret that would break your heart.
(hlm. 185)
Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, tapi syukuri apa yang pernah kita alami.
(hlm. 242)
Kendali pria atas wanita bukan terletak pada jabatan atau uang yang lebih besar. Tapi, pada bagaimana kemampuan si pria agar si wanita tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
(hlm. 253)

KONTRA:
1. Konflik tunggal (kurang kompleks).
2. Eksplorasi pihak antagonisnya kurang (musuhnya kayak cuman Lupus dan Bos Lintang Samudra).
3. Beberapa detail informasi berulang di beberapa bab.
4. Duel Zeno vs Lupus bisa lebih epik lagi (sudah lumayan, tapi kayaknya bisa lebih meriah lagi).
5. Dalam beberapa hal, masih bermain aman.
6. Typo:
(hlm. 64) menggosok-gosokan = menggosok-gosokkan
(hlm. 121) sapu tangan = saputangan
(hlm. 121) pertunjukkan = pertunjukan
(hlm. 115) kharismanya = karismanya (kecuali ini gaya selingkung)
(hlm. 151) he deserve an award = he deserve(s/ed) an award
(hlm. 166) keluar kota = ke luar kota
(hlm. 174) bagaimana pun = bagaimanapun
(hlm. 181) Apalagi = Apa lagi
(hlm. 206) cocokan = cocokkan
(hlm. 217) Data itu ada saku = Data itu ada di saku
(hlm. 233) disekitarnya = di sekitarnya
(hlm. 234) kebelakang = ke belakang
(hlm. 240) menyentuh lengan kiri atas hati-hati = menyentuh lengan kiri atas dengan hati-hati
(hlm. 250) terpekur = tepekur
(hlm. 252) "Apalagi?" = "Apa lagi?"
(hlm. 258) ternyata dia ternyata = dia ternyata (hilangkan salah satu "ternyata"-nya)
(hlm. 274) seorangpun = seorang pun

Overall, saya sangat menikmati novel romance berpadu desing tembakan dan baku hantam karya Rhein Fathia berjudul Gloomy Gift ini. Sangat berpotensi untuk bisa dikembangkan menjadi serial atau minimal dwilogi Ramawijaya Brothers, maybe? Dhewa Ramawijaya juga cukup menarik untuk mendapuk peran utama, dengan Violet? *nyengir. Baiklah, 4 out of 5 star dari saya untuk Gloomy Gift. Bravo, Rhein.

Selamat membaca, tweemans. 

Friday, July 11, 2014

[Resensi Novel Romance] Mencarimu by Retni SB



Kamu boleh mengubah haluan jika di depanmu ada jurang terjal…
Matahari, berusaha setengah mati mencari Irsal, bapak biologisnya. Dia bekerja di "Jelajah", majalah traveling milik bapaknya, dengan harapan bisa “menangkap” si raja media ini. Kedudukannya yang sangat tinggi dalam perusahaan membuatnya sangat sulit terjangkau. Tetapi ada satu teman kerjanya yang terlihat bisa dekat dan sepertinya punya akses lebih mudah untuk bisa mendekati bapaknya. Orang itu adalah Rakho, fotografer Jelajah. 

Dia berpikir dengan mendekati Rakho, maka dia juga bisa mendekati bapaknya. Saat penugasan reportase ke luar kota bersamanya, intensitas kedekatan mereka membuat mereka berdua justru saling jatuh cinta kemudian berpacaran. Tapi cinta itu umurnya pendek, di Batam, mereka bertemu dengan Irsal. Dan ternyata, Rakho jugalah anak Irsal. Kenyataan ini sungguh membuat mereka terkaget. Suka atau tidak suka, cinta mereka harus dihentikan.

Judul: Mencarimu
Pengarang: Retni SB
Penyunting: Nunung Wiyati
Perancang sampul: Joko Supomo
Pemeriksa aksara: Intari Dyah P. & Intan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: vi + 298 hlm
Rilis: Mei 2014
Harga: Rp49.000
ISBN: 9786022910244

Akhirnya… akhirnya… ya Alloh, salah satu pengarang favorit menerbitkan satu lagi karyanya. Yayyyyy….*jingkrak-jingkrak* Eh, bentar, kok, penerbitnya beda? Nggak novel metropop lagi? Jadi…

Nggak masalah, sih, buat saya. Toh, itu sepenuhnya hak prerogatif pengarang, ya, mau hanya menerbitkan di satu tempat atau di banyak tempat. Yang penting, pengarang favorit tetap menerbitkan karya-karyanya secara kontinyu. Aamiin.

Mencarimumengambil latar jurnalisme bidang travelingdi mana dua dari tiga tokoh utamanya adalah jurnalis majalah ‘Jelajah’, sedang satu tokoh lainnya seorang backpackeryang dalam penggalan kisah dalam novel ini sedang diburu profilnya oleh kedua tokoh lainnya untuk dimuat di majalah tersebut. Di antara ketiganya terjalin persahabatan karena kesamaan hobi jalan-jalan ini hingga tanpa dapat dihindari percikan api asmara menyala di tengah-tengah mereka.
Sebagaimana disebutkan secara gamblang pada sinopsis novel ini, Matahari (tokoh utama perempuan) sengaja pindah ke Jakarta, melamar menjadi wartawan di Jelajah untuk satu tujuan: “mencari” bapaknya. Dari tujuan inilah, beragam konflik batin dialami Matahari yang mau tak mau melibatkan Rakho dan Owan (dua tokoh utama laki-laki). Dari simpul tali persahabatan lalu berubah menjadi ikatan yang lebih dalam, yang memasukkan rasa lain, yaitu cinta.

Saya selalu suka gaya menulis Retni SB. Santun, namun lincah. Diksinya sederhana, namun tak jarang mengena di hati dan sangat quotable. Rangkaian konfliknya tidak begitu njelimet, tapi terkesan dalam dan kompleks. Semuanya dirangkum menjadi satu sajian karya tulis yang enak dinikmati hingga lembar halaman terakhirnya. Mencarimu pun tampil begitu. Luwes dan menghanyutkan. Membuat pembaca, setidaknya saya, dengan mudah tersedot dalam plot cerita hingga tak sadar sudah sampai di ujung kisahnya.

Acungan jempol juga patut diberikan untuk tim editing dan proofreading novel ini. Tak banyak ‘cacat’ teknis yang saya temukan. Masih ada sih satu atau dua kalimat tak efektif, tapi tak begitu mengganggu. Tidak signifikan.

Sayangnya, saya terganjal déjà vu. Jujur, saya sudah berusaha keras mengenyahkan ingatan (padahal sedikit saja) tentang latar belakang karakter Matahari-Rakho yang mengingatkan saya pada karakter Tara Dupont-Tatsuya Fujisawa (Autumn in Paris – Ilana Tan). Well, dari segi cerita sih, berbeda banget ujung kedua novel ini. Tapi, tetap saja, saya telanjur menyimpulkan: kisah cinta semacam ini pasti akan berakhir dengan simpulan yang sama. Kecuali pengarangnya mau ekstrem dan melawan persepsi keumuman, saya sudah bisa menebak ujung kisah keduanya pasti akan begini.

Untungnya, Retni SB menyiapkan ending yang reasonable, agar semua orang berbahagia di belakangnya. Logika-logika yang ada dibuat sedemikian rupa untuk mendukung ‘keputusan’ pengarang membuat ketiganya berbahagia. Tidak instan, tapi juga agak kurang kuat menurut saya. Mungkin, saya tidak puas bahwa gejolak rasa dan emosi jiwa hanya diterabas dengan melipat gulungan waktu: “setahun kemudian”.

Seperti biasa, departemen karakter menjadi salah satu kekuatan gaya menulis Retni. Pengarang berhasil menghidupkan tokoh-tokohnya dengan sangat kuat. Favorit saya, Owan, tampil sebagai sosok traveler yang nyentrik luar biasa. Saya selalu tersenyum dan merasa bahagia setiap ada bagian Owan-nya. Sementara itu, chemistry Matahari-Rakho masih kurang buat saya. Entahlah, apakah karena dari awal saya sudah terganggu dengan plotnya, tapi… ini benar-benar melibatkan perasaan saya secara emosional, sih.

pic: exploreanambas.blogspot.com
Dan, nilai tambah lain dari novel ini adalah kisah traveling dari para tokohnya. Keindahan kepulauan Anambas diilustrasikan cukup mengesankan. Well written. Jadi, kepingin banget bisa ke sana, meskipun kayaknya bakal perjuangan banget, ya. Entah ini perasaan saya saja atau bagaimana, Bentang Pustaka (Mizan group) sepertinya menggalakkan buku-buku tentang perjalanan, ya? Baik itu fiksi maupun nonfiksi. Oh, ini hanya tebakan asal saya saja, sih. J

Pada akhirnya, jika kamu sudah menjadikan Retni SB sebagai salah satu pengarang favoritmu, maka Mencarimu wajib kamu beli dan baca. Nah, buat kamu yang sedang mencari novel romance dengan tambahan pesona keindahan Indonesia, kamu juga bisa mencicipi novel ini.

Selamat membaca, kawan.

My rating: 3 out of 5 star.

Wednesday, July 9, 2014

[Resensi Novel Romance] Destiny by Leonita Julian


Nasib yang terlalu acak demi sebuah "Destiny"
“Ingat-ingat saja tuduhan yang kalian katakan malam ini,
mungkin berguna nantinya kalau kalian sudah mengalaminya!”

Bibirku terkatup erat. Jantungku berdegup kencang. Otakku membeku seketika. Beberapa detik, kami dibuat tercengang oleh ucapannya. Entah apa yang ada di pikiran perempuan tak dikenal itu hingga tiba-tiba melontarkan kata-kata yang membuyarkan obrolan kami.

Ah, sudahlah! Aku tak akan menggubrisnya. Farewell party ini jauh lebih penting ketimbang memikirkan siapa dia dan apa maksudnya. Bernyanyi saja sepuas hati, menikmati makanan sekenyang perut, dan flirting dengan laki-laki manis di dekat panggung.

Sampai tak ada satupun yang menyangka, bahwa peristiwa magis malam itu meninggalkan jejak mendalam bagi kehidupan kami selanjutnya.

Judul: Destiny
Pengarang: Leonita Julian
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Wirastuti
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 220 hlm
Rilis: 2014
Harga:
ISBN: 978-602-291-028-2

Destiny berkisah tentang 6 teman yang secara tak sengaja mendapat semacam 'kutukan' ketika sedang bersantai merayakan farewell party untuk melepas salah satu dari mereka yang akan meneruskan kuliah di Amerika. Kejadian aneh di Seminyak, Bali, itu lantas menjadi benang merah perjalanan keenamnya. Kejadian demi kejadian seolah terjadi seperti perwujudan dari kutukan yang secara tak terduga ditujukan kepada mereka.

Sejak halaman pertama, saya sudah terpukau dengan kalimat-kalimat indah nan inspiratif yang dirangkai oleh Leonita. Tak dimungkiri, sebagai penyuka-diksi-garis-keras saya banyak menandai kalimat yang quotable. Dan, baru saya tahu kalau sebenarnya novel ini berangkat dari tulisan di blog-nya Leonita, www.leonisecret.com (dituliskan di halaman akhir), yang memang inspiratif. Cukup banyak topik yang dianalisis dengan bagus oleh Leonita di blog-nya tersebut.

Namun demikian, ternyata saya kurang bisa terlarut dalam cerita yang dibangun novel ini. Lagi-lagi mungkin karena aslinya ini adalah pemikiran nonfiksi dari Leonita yang kemudian dibelokkan menjadi fiksi sehingga saya berasa beberapa bagiannya terkesan random banget alias acak dan cenderung membuat plotnya bias. Dan, sangat terlihat, sepertinya semua hal ingin dibahas di sini. Contohnya soal sixth sense (indra keenam) yang dibahas di awal-awal novel, tapi kok makin ke belakang saya nggak merasai pentingnya kemampuan indra keenam itu untuk si tokohnya, ya? Atau ada bagian yang saya lewatkan?


Lalu, berturut-turut juga diselipkan bahasan tentang weton, AIDS, LGBT, Twitter, fenomena twitwar, dan beberapa lagi yang lain. Memang, keseluruhannya sudah diupayakan untuk nge-blend dengan plotnya, tapi buat saya masih terkesan acak dan kurang menyatu dengan sempurna. Bahkan, beberapa topik tersebut terkesan hanya selewat dibahas. Mungkin, saya perlu membaca ulang novel ini di kemudian hari, siapa tahu bisa mengubah penilaian saya pada novel ini.


Dari karakter-karakter yang dihadirkan pun, maaf, saya kurang bisa relate dan menyukai satu pun. Semua serbagenerik di kesan saya. Tak ada yang benar-benar meninggalkan pesona yang sanggup membuat saya mengagumi si tokoh. Dan, entah karena premisnya memang diarahkan untuk menuju pada "destiny" yang sudah disiapkan, cukup banyak bagian yang sangat predictable. Jadi, dari awal saya tak mempersiapkan diri untuk mendapat kejutan-kejutan.

Pada akhirnya, saya menyukai buku ini karena diksinya yang menawan. Kalimat inspiratifnya membuat saya manggut-manggut dan berusaha mengambil hikmah atas semua yang terjadi.
"Mungkin kita cenderung menerima mereka yang dianggap sepadan, tanpa menyadari pantas mendapat ynag lebih baik. Kita cenderung mengecilkan diri sendiri, hingga tak menyadari sedang diinjak, atau menginjak." (hlm. 111)

Jika kamu sedang mencari bacaan yang bercerita tentang persahabatan dan liku-liku pencarian tujuan akhir yang membahagiakan, Destiny cocok untuk menemani waktu luangmu.


Selamat membaca, kawan.

My rating: 2,5 out of 5 star.