Thursday, July 19, 2012

[Character Thursday] Ami Amarell Siswoyo


Hmm, belakangan saya mulai gemar mengikuti fitur atau meme yang diprakarsai oleh teman sesama blogger. Nah, kali ini, saya ingin berpartisipasi juga dalam fitur Character Thursday yang digagas oleh Mbak Fanda @ Fanda Classiclit. Character Thursday, sesuai dengan judulnya, adalah sebuah fitur yang menyajikan analisis pada satu atau beberapa karakter dalam suatu buku.




Nah, pada kesempatan pertama ini, saya ingin membahas karakter Ami Amarell Siswoyo dari novel Postcard from Neverland karya Rina Suryakusuma yang merupakan Penulis Bulan Ini di blog Metropop Lover.

Are they protagonist or antagonist?
Ami adalah salah satu karakter protagonis di novel ini.

Who are they? What was their role in the book?
Ami adalah aktris utama dalam Postcard from Neverland. Dia adalah seorang gadis beranjak dewasa yang terpaksa drop out setelah keluarganya mengalami krisis finansial selepas sang Ayah berpulang ke haribaan. Sebagai si sulung, Ami menjadi tulang punggung ibu dan adik perempuan semata wayangnya. Dianugerahi paras rupawan justru membawanya pada pengalaman-pengalaman hidup yang tidak menyenangkan karena kemiskinan keluarganya menyebabkan Ami sering mendapat pelecehan seksual di tempat kerjanya.

What was your strongest impression on the character(s)? You can quote the dialogue or narration you got the impression from.
Ami adalah seorang yang memiliki prinsip luar biasa. Bersedia bekerja keras, meskipun terkadang suka minder. Yang paling saya sukai adalah Ami tidak menghalalkan segala cara, terutama menggunakan kecantikannya, untuk sekadar meraup rupiah demi hidup yang lebih baik. Bahkan, setelah segala liku hidup yang berkesusahan, Ami tetap bertekad menyelesaikan kuliahnya demi masa depan yang lebih cerah.

What are the strengths or weaknesses of your character(s)?
Kekuatan: berprinsip, pekerja keras, cantik, cerdas, mengutamakan keluarga, tulus, empati, relijius.
Kelemahan: minder, terlalu mengutamakan orang lain.

How do they develop throughout the book?
Ami menjadi sosok yang kehilangan sebagian rasa percaya dirinya begitu krisis finansial menghantam keluarganya. Namun, sepanjang novel digambarkan bagaimana perjuangan seorang Ami untuk memperbaiki hidupnya dan keluarganya. Tak lupa, bumbu-bumbu asmara pun menyemarakkan liku-liku kehidupannya. Pada suatu titik ia tak lagi mampu menahan hasrat menjalin cinta dengan lelaki pujaannya, namun di sisi lain ia harus bersabar demi cintanya mengingat begitu banyak halangan yang mengadang kisah cintanya.

What makes you love/hate them?
Dalam satu kejap, tokoh ini masuk dalam kategori too good to be true bagi saya. Cantik, cerdas, pacar bule tajir. Meski rupa-rupa cobaan, dari pekerjaan pelayan kafe sampai dengan kepala pelayan rumah tangga serta perlakuan tak adil orang sekitar yang melihatnya semacam gadis matre penakluk bule, hidup Ami terbilang mulus dan penuh keberuntungan. Saya berharap ada ombak yang lebih menggetarkan perjuangan Ami dalam novel ini.

What lessons or influences you got from them?
Saya termasuk seseorang yang masih belum open minded terkait hubungan cinta antara WNI-WNA. I don’t know why. Saya terus dan akan terus berusaha meyakini bahwa hal itu biasa saja, wajar, dan sangat bisa terjadi (sudah banyak buktinya), namun tetap saja saya masih janggal pada isu ini. Tokoh Ami, dan juga novel ini secara keseluruhan, memberi saya alasan lain untuk menganggap bahwa cinta membutuhkan perbedaan. Cinta yang akan menyatukan segala perbedaan itu. Cinta sama-rasa? Bersiap sajalah untuk menuju kehambaran.



Oh, saya ingin menominasikan Dian Sastro untuk peran Ami Amarell Siswoyo, tetapi entah mengapa, saya merasa ada sisi lembut dan tangguh yang bisa diwakili oleh Maudy Ayunda, jadi ya si manis ini yang saya akhirnya imajinasikan cocok menggambarkan karakter Ami.

Nah, jadi siapa Character Thursday-mu, kawan?

Thursday, July 12, 2012

[Curhat] Tren Buku Gramedia dan Gagas Media


Okehhh...saya bukan mendadak menjadi seorang ahli pengamat tren perbukuan. Hanya saja, tetiba saya mengalami 'serangan fajar' untuk menuliskan salah satu pengalaman saya yang, hmmm, agak kurang mengenakkan sebenarnya. Apakah itu? Membeli buku baru yang ternyata adalah buku lama yang sudah saya punyai! Kenapa bisa begitu? Karena Gramedia saat ini memang sedang menyukai menerbitkan buku lama yang didandani dengan sampul baru.

Fiuhhh, saya sampai memaki-maki diri sendiri karena keteledoran itu. Bukan salah penerbit donk ya, yang memang ingin menerbitkan ulang buku-buku best seller di katalog mereka dengan format sampul baru. Hak mereka. Sayalah di sini yang memang kurang teliti. Begitu melihat buku terpajang di rak "New Arrival" dengan cetakan nama penulis yang begitu saya gandrungi, tangan tak bisa diam saja dan langsung mencomot buku itu. Tentu saja saya sempat menyensornya sebentar, tapi apa daya, ingatan tua saya tak lagi mampu mengeruk memori akan judul novel yang saya ambil itu yang ternyata sudah saya miliki. Duh!


Saya sampai meratapi nasib lho, "Kok bisa saya ketipu, begini!" Etapi, ini perasaan saya saja, ya. Saya memang fans Ken Terate *no-doubt* tapi saya memang bukan tipe fans yang akan-membeli-apapun-dari-sang-idola-termasuk-produk-daur-ulang. Saya sih merasa, cukup dengan mengoleksi satu saja karya sang penulis, toh isinya tak berbeda. Jadi, buat teman yang memang hobi ngumpulin karya idola apa pun termasuk produk sampul baru, saya sama sekali tidak hendak menyindir. Suweerrrr.

Kebetulan saya hanya sedang 'iseng' mengamati kegemaran baru Gramedia yaitu menerbitkan ulang dengan sampul baru pada buku-buku koleksi best-sellernya. Tidak hanya di kasus teenlit favorit saya di atas, beberapa teenlit (kebanyakan teenlit, dan buku-buku John Grisham, dan buku-buku Agatha Christie, dan buku-bukunya....hmmm, siapa lagi, ya?) yang sedang diterbitkan ulang dengan sampul baru. Semisal yang berikut ini:



Nah, khusus teenlit yang diterbitkan ulang, sebenarnya gampang dikenali kok, sepertinya logo 8th: Elo, Gue, Baca Teenlit GPU! itu yang menjadi penunjuk bahwa teenlit tersebut sudah pernah terbit. Sedangkan untuk buku lain, semisal karya John Grisham atau metropop karya Alberthiene Endah, tidak ada penunjuk bahwa itu buku lama yang diterbitkan ulang.

Okay, sedangkan tren yang sedang ada di Gagas Media lain lagi. Tren yang ini juga tak jauh dari sampul novel-novel terbitan Gagas. Oiya, tren Gagas yang terbaru juga adalah adanya nulis bareng alias duet di antara sesama penulis yang sudah lama malang melintang menerbitkan buku-bukunya di Gagas, sebut saja Orizuka, Nina Ardianti, Sefryana Khairil, Christian Simamora, Ollie, Winna Efendi, dan masih banyak yang lainnya. Saya patut mengacungi jempol pada tim kreatif Gagas. Ide-ide dalam penerbitan bukunya luar biasa. Terkadang tak pernah terlintas dalam benak, tetiba sudah meluncur saja ide tersebut dalam novel-novel terbitannya.

Nah, menyangkut tren dalam hal sampul buku, Gagas sedang menggemari menerbitkan novel dengan sampul "posisi-tidur" alias landscape. Sebenarnya ciri khas ini juga baru diterapkan pada novel-novel dalam GagasDuet yang diterbitkan, seperti beberapa di bawah ini:





Dalam banyak hal, memang tak perlu lagi diragukan kemampuan tim kreatif sampul buku di Gagas, ya? Tak heran juga, jika pada gelaran Anugerah Pembaca Indonesia - Festival Pembaca Indonesia 2011 kemarin cukup banyak sampul buku dari Gagas yang masuk nominasi dan akhirnya pemenangnya pun dari Gagas Media.

Tren lain yang menarik untuk disimak dari Gagas, dan penerbit lain di group yang sama, adalah judul satu katanya. Yahh, entah disengaja entah tidak, ya. Tapi saya melihatnya unik.


Hmm, bagi saya, dunia perbukuan pun memiliki tren tersendiri. Tentu saja, ini tak lepas dari kata industri yang disandangnya dunia perbukuan. Di mana pun, pada industri apa pun, tren itu memang diperlukan untuk tetap menjaga minat pelaku industri untuk melakukan transaksi. Iya, kan?

#IjulYangLagiSotoy

Tuesday, July 3, 2012

[Kabar Buku] Novel The Casual Vacancy karya J.K. Rowling


Wingardium Leviosa

dari: whaddaheck.blogspot.com

Nah, saya sudah melayang ini. Sudah terbang menjejak langit-langit kamar saya....:) Sebenarnya sih, dengar dan tahu kabar bahwa Madam J.K. Rowling menulis buku lagi pasca Harry Potter sudah sejak lama. Bahkan, terimbas juga kesimpangsiuran berita. Ada yang menyebut J.K. Rowling sedang menulis novel yang masih berkaitan dengan Dunia Potter, lalu ada juga yang menyebut kalau dia sedang menulis tentang buku anak-anak, dan, yeah, Little Brown UK akhirnya menyatakan bahwa novel terbaru J.K. Rowling adalah bergenre "Dewasa" yang direncanakan akan dirilis di seluruh dunia pada tanggal 27 September 2012. Berikut adalah gambar sampul dan sinopsisnya.



When Barry Fairbrother dies in his early forties, the town of Pagford is left in shock.

Pagford is, seemingly, an English idyll, with a cobbled market square and an ancient abbey, but what lies behind the pretty façade is a town at war.

Rich at war with poor, teenagers at war with their parents, wives at war with their husbands, teachers at war with their pupils…Pagford is not what it first seems.

And the empty seat left by Barry on the parish council soon becomes the catalyst for the biggest war the town has yet seen. Who will triumph in an election fraught with passion, duplicity and unexpected revelations?

A big novel about a small town, The Casual Vacancy is J.K. Rowling’s first novel for adults. It is the work of a storyteller like no other.

The Casual Vacancy
512 pages
Cover design by Mario J. Pulice
Illustration and hand lettering by Joel Holland

ISBN 9781408704202 (hardback) price £20.00
ISBN 9781405519229 (ebook) price £11.99
ISBN 9781405519212 (audio download) £20.00
ISBN 9781405519205 (CD) price £30.00

The audio edition of The Casual Vacancy will be read by Tom Hollander, an experienced star of stage and screen.

dari: mariberbagikasih.blogspot.com

Tentu saja saya bahagia. Saya ini salah satu penyuka ketujuh novel Harry Potter karya J.K. Rowling. Maka, apa pun buku selanjutnya yang akan ditulisnya, saya akan setia membeli dan membacanya. Dan berharap, semoga penerbit di Indonesia pun tetap bersemangat untuk menerbitkan edisi terjemahan di tanah air.

Hmm, dari sinopsisnya saja sudah mencekam, ya? Jadi tak sabar saya menunggunya terbit.

Rina Suryakusuma: bagi saya, "Family does come first."


Perkenalan 'maya' saya dengan Rina Suryakusuma akan menjadi salah satu kenangan yang tak mudah terlupakan dalam kegemaran saya membaca. Berawal dari kehebohan sebuah novel Amore di situs www.goodreads.com yang lebih populer dengan kejadian "Buku Biru" pada pertengahan tahun 2010 silam, saya kemudian mencicipi sebuah karya tulis seorang Rina Suryakusuma, yang kala itu bertujuan untuk membalikkan asumsi saya bahwa novel-novel Amore yang diterbitkan oleh Gramedia tak lebih dari kemasan lain novel harlequin. Mencoba satu novelnya, saya lantas ketagihan, dan mulailah mengumpulkan satu demi satu karya tulis Rina Suryakusuma.

Istri dari David Hendrawan dan ibu dari dua putri yang lucu, Irish dan Rachel, ini telah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih kecil. Meskipun bukan berasal dari keluarga penulis, tapi sejak kecil, Rina sudah gemar membaca. Kemudian, Rina mulai menyukai untuk menulis cerita pendek sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tentu saja, masih untuk konsumsi pribadi, dan tidak untuk dipublikasikan, katanya. Oleh karena keluarga yang tidak begitu memahami dunia kepenulisan, sehingga tidak ada yang memberi bimbingan atau sekadar dorongan agar Rina terus menulis dan mengirimkan tulisannya ke penerbit/majalah, maka hobi menulis itu pun terabaikan oleh kesibukannya dalam dunia akademik, sampai dengan saat ia mulai bekerja, hasrat untuk menulis kembali hadir. Dan, begitulah, beberapa novel telah terbit dari lembah imajinasinya.




Kegiatan sehari-hari Rina cukup bervariasi. Selain menulis, yang dilakukannya karena hobi, Rina adalah seorang pekerja penuh waktu di salah satu perusahaan property developer di Jakarta. Dan, tentu saja, menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga yang dibinanya bersama sang suami. Rina mengaku tugas utamanya adalah sebagai istri dan ibu. Karena itu, rumah tangga dan kewajibannya sebagai seorang Mama adalah prioritas. Rina selalu menulis di waktu malam, ketika anak-anak tercintanya sudah terbuai mimpi, atau di pengujung Minggu, ketika kantornya libur dan sudah menghabiskan waktu untuk keluarga. Baginya "family does come first."

Dari topik keseharian, dan pengakuannya soal waktu yang dimilikinya untuk menulis, Rina menerangkan bahwa ia sebetulnya adalah tipe penulis yang bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Rina bukan tipe penulis yang dikuasai oleh mood, sehingga jika suasana di sekitarnya tidak mendukung, lantas ia tidak bisa menulis. Tidak begitu! Tapi karena kewajibannya sebagai istri, ibu, dan pekerja kantoran, maka Rina menjadi tidak punya kemewahan untuk menulis di mana pun, kapan pun. Waktu tetap untuknya menulis adalah malam hari dan di akhir pekan. Itulah yang terbaik yang bisa ia lakukan.


Salah satu hal yang selalu disyukuri oleh Rina adalah dukungan keluarga yang begitu besar dalam menggeluti hobinya pada dunia kepenulisan. Tentu saja, dengan perannya sebagai pekerja kantoran dan ibu rumah tangga, support dari orang-orang tersayang menjadi pendorong utama bagi Rina untuk terus menulis. Keluarga, terutama suami, sangat mendukungnya. Mereka menyadari, bagi Rina menulis bukan 'sekadar' kegiatan. Menulis adalah satu kebutuhan. Menulis adalah salah satu passion-nya. Menulis adalah 'sanctuary'-nya, untuk melepaskan kepenatan ataupun kejenuhannya dalam bekerja melakukan rutinitas sehari-hari. Bentuk dukungan mereka yang paling kuat yang dirasakan oleh Rina adalah ketika di awal karier kepenulisannya, ketika tulisannya ditolak berkali-kali oleh penerbit. Suami tidak berkata, "Tuh kan, kamu tidak berbakat. Sudahlah, tidak usah menulis, buang waktu saja." Tidak begitu. Sang suami justru selalu berkata, "So what, coba lagi aja. Nanti pasti tembus." Dan ya, Rina menjadi semakin terpacu dan percaya, jika Dia memberkati, jika waktunya tiba, maka ia pasti bisa menembus penerbit yang ia impikan. "Puji Tuhan, saya diberkati dan mimpi ini teraih," sebut Rina penuh syukur.

Bagi saya pribadi, salah satu yang saya suka dari tulisan-tulisan Rina [novel-novelnya yang sudah saya baca] adalah diksinya yang begitu indah. Maka, saya kemudian mengajukan pertanyaan tentang bagaimana Rina mengasah atau belajarnya. Dan, saya cukup terkejut ketika Rina menjawab bahwa ia tidak pernah mengasahnya secara khusus. "Puji Tuhan ya, kalau diksi saya dianggap indah," katanya. "Tapi saya masih harus belajar banyak :) Saya belajar menulis secara otodidak, dan saya banyak membaca buku," sambungnya.

Tentu saja, saya tak berpuas diri mendapati jawaban tersebut. Saya masih tak percaya donk, Rina tak mendapat semprotan ilmu dari mana gitu. Maka, saya menyerbunya dengan pertanyaan seputar background kepenulisannya. Apakah ia pernah mengikuti kelas atau lomba-lomba kepenulisan yang melecutnya hingga menjadi seorang penulis yang piawai merangkai kata. Namun kemudian, saya kembali diyakinkan bahwa Rina tidak pernah mengikuti kelas kepenulisan ataupun lomba-lomba kepenulisan apa pun. Yang membuat saya mengatupkan mulut dan tak lagi mencecarnya soal background kepenulisannya ---soalnya, saya masih penasaran, diksinya bagus bangetttt--- adalah ketika membaca pengakuan Rina yang ini, "Jurusan saya adalah ekonomi akuntansi. Melenceng dari bahasa sebenarnya, karena jurusan saya adalah eksakta :)" Wahh, baiklah, saya percaya sekarang.

Meskipun dari awal cukup yakin bahwa nama yang digunakannya dalam penerbitan buku-bukunya adalah nama asli, saya masih perlu bertanya apakah Rina Suryakusuma adalah nama aslinya. Iya donk, perlu sepetinya saya diyakinkan, orang Dewi Perssik aja nama buatan, kan? Hihihi...nggak nyambung. Dan, ya, seperti dugaan saya, Rina Suryakusuma memang nama asli pemberian orangtua Rina.


Lalu, saya pun bertanya soal apakah Rina menulis pada jenis tulisan yang lain, semisal puisi dan cerpen [harusnya sih iya nulis cerpen ya, kan dari kecil awalnya nulis cerpen, hehehe, list pertanyaan saya berulang, maafkan.] Sampai dengan saat ini, Rina mengaku belum menulis puisi. "Mungkin suatu saat nanti," katanya. Tapi ia menulis banyak cerpen, baik bertema anak maupun remaja. Puji Tuhan, beberapa cerpen anak yang dibuatnya terbit di majalah BOBO dan beberapa cerpen remajanya terbit di majalah CosmoGirl! Sampai sekarang, Rina mengaku masih menulis cerpen. Cerpen juga adalah salah satu relaksasi ketika dirinya stuck, atau sedang fase jenuh, dalam menulis novel. Hmm, setuju sekali. Cerpen bisa menjadi jeda yang baik untuk menguraikan kebuntuan ketika writer's block menyerang.

Wah, baiklah, ini masih separuh jalan dari pertanyaan-pertanyaan yang saya kirim melalui surel ke Rina Suryakusuma. Paruh kedua dari wawancara akan saya posting selanjutnya yaaa....


Catatan: foto-foto adalah koleksi pribadi Rina Suryakusuma yang saya salin dari akun facebook resmi Rina Suryakusuma.

Saturday, June 30, 2012

Saatnya Bersantai dan Mengerjakan "PR"


*exhale-inhale...exhale-inhale....exhale-inhale*

Saya tidak sedang latihan pernapasan untuk persiapan melahirkan bayi [TENTU SAJA TIDAK! saya kan cowok, hehehe], saya pun sedang tidak berlatih angkat beban di gym [masihhhh belum juga berani ngedaftar nge-gym nih, padahal perut sudah berlemak]...anyway, saya sedang curhat tentang PR baca buku yang menumpuk tak terkendali. Dan, PR untuk mengelola blog ini. Fiuuhhhhh..... *lap-keringet*


1. Posting Serba-Penulis-Bulan-Ini
Seharusnya, artikel-artikel tentang Penulis Bulan Ini sudah saya mulai sejak bulan Juni, namun dikarenakan satu dan lain hal, rubrik ini belum juga saya realisasikan. Sehubungan dengan hal itu, maka baru mulai bulan Juli 2012 ini, postingan terkait rubrik ini akan saya usahakan dapat terwujudkan dengan baik. Oiya, berhubung Juni gagal, maka penulis Rina Suryakusuma tetap akan saya pilih sebagai Penulis Bulan Ini untuk bulan Juli 2012.

2. Membaca dan Mereviu Novel Pengantin Surga
Terima kasih untuk Mbak Truly Rudiono dan Penerbit Dolphin yang memasukkan nama saya ke dalam daftar penerima novel Pengantin Surga. Novelnya sudah saya terima dengan selamat dan siap untuk dibaca dan diresensi.


3. Membaca dan Mereviu Novel Fleur karya Fenny Wong
Sebenarnya, saya sudah membaca novel ini ketika masih berupa draft sebelum diterbitkan. Nah, setelah diterbitkan saya mendapat kiriman novel Fleur langsung dari Fenny Wong. Semoga di bulan Juli 2012, buku ini juga bisa saya baca dan saya reviu.



4. Another Giveaway...
Ketika beberapa kali berkunjung ke Pesta Buku Jakarta 2012 dan berbagi informasi buku-buku seru dengan teman-teman di twitter, @fiksimetropop, ternyata banyak sekali yang masih belum membaca salah satu novel metropop favorit saya, Four Seasons in Belgium karya Fanny Hartanti. Nah, karena itu, dalam suatu waktu di bulan Juli 2012 ini, saya akan mengadakan giveaway lagi dengan hadiah novel tersebut, plus novel Seoulmate.com karya Jessica Huwae. Eh, tapi, kedua novelnya itu adalah novel second-hand alias sudah tidak baru yaaa...


Hmmm, itu dulu deh PR yang akan saya selesaikan. Kalau dibanyak-banyakin nanti malah tak selesai lagi PR-nya yaaa...

Okay, tetap membaca ya temannn.....

Friday, June 22, 2012

#KuisSelingan - Pemenang Giveaway


APA? BARU SEKARANG DIUMUMKAN? T-E-R-L-A-L-U! 3x

Saya pribadi sudah kepikiran sejak awal bulan Juni. Namun, dikarenakan saya sedang mengalami mentally break down sehingga semua hal terbengkalai dan saya harus menggapai-gapai untuk mencari pegangan. Inilah salah satu bulan paling tegang dan buruk dalam kehidupan saya, sampai saat ini. Saya tak akan memperpanjang kata untuk menegaskan kelalaian dan keteledoran saya ini. Dengan penuh kepasrahan, saya memohon secuil maaf pada teman-teman yang telah dengan begitu antusias mengikuti #KuisSelingan yang saya host. #Menjura#

Baiklah, cukup mellow-menye-menye soal saya. Saya akan langsung saja mengumumkan siapa teman yang beruntung untuk terpilih sebagai penerima giveaway dalam #KuisSelingan yang pertama ini:

1. Dian Christy Bahagiarni Saragih, pilihan buku: One Last Chance
tanggapan: Penulis, editor, proofreader atau siapapun yang memeriksa suatu novel sebelum diterbitkan, kan juga manusia yang bisa saja khilaf seteliti apapun mereka. Biasanya aku masih memaklumi typo kalo jumlahnya maksimum 5% dari jumlah halaman novel itu.

2. GI_kirin, pilihan buku: I FOR YOU
tanggapan: Apakah typo mengganggu? Iya. terlebih jika typo tsb mengubah makna awal yang seharusnya, sehingga menjadi kata yang lain, yang tidak ada hubungannya. Batas maksimal? jangan sebanyak bab di buku tsb, dan typo jangan di awal buku. Kalau masuk bab pertengahan atau akhir, OK lah. nominal? 7 deh ya. Jangan lebih.

Selamat kepada kedua teman yang terpilih pada #KuisSelingan kali ini. Akan saya hubungi melalui media yang telah kalian berdua cantumkan. Oiya, mungkin dikarenakan pengumuman yang sangat-sangat-sangat terlambat ini, kalian telah membeli sendiri novel pilihan ini, maka dengan ini saya mohonkan sekiranya keikhlasan kalian untuk merelakan novel itu diteruskan kepada teman lain yang ikutan #KuisSelingan dan yang belum membelinya. Untuk menghindari kemubaziran saja kalau ternyata kalian sudah punya, kan? Ini hanya sekadar IF yaaa....pada dasarnya kedua novel itu sudah menjadi hak kalian.

Terima kasih kepada seluruh teman yang telah dengan antusias mengikuti #KuisSelingan ini. Dan, lagi, lagi, dan lagi, adalah permohonan maaf yang sedalam-dalamnya saya sampaikan atas keterlambatan, ups nggak cocok istilahnya, mungkin lebih tepat disebut penundaan pengumuman yang terpilih pada #KuisSelingan ini. Semoga teman-teman tidak jera karena saya masih dengan senang-hati akan meng-host giveaway-giveaway lain di kemudian hari.

Terima kasih. Salam.


Thursday, May 31, 2012

Pengarang Bulan Ini: Rina Suryakusuma


Ahhh, entah saya yang pembosan, labil, atau justru kreatif! Hmm... sepertinya lebih dekat ke kategori labil sih yaa.... hehehe.

Yapp, kali ini saya membuat rubrik baru di blog ini. Author of The Month. Pengarang Bulan Ini. Harapan saya sih, saya bisa menambah dan terus menambah koleksi bacaan dari beraneka ragam penulis. Rubrik ini juga saya harapkan dapat lebih mendekatkan seorang penulis dengan para pembaca karya-karyanya. Tentu saja, bukan perkara mudah. Kalau lah sekadar mencomot profil dan kabar sang penulis dari sana-sini mungkin gampang, ya? Tapi, lagi-lagi, saya berharap dapat memberikan sesuatu yang lebih. Misalnya, dengan mewawancarai sang penulis, membaca seluruh karyanya dalam satu bulan penuh dan membuat resensinya. Wow. Saya saja langsung bersemangat dengan ide ini. Semoga saja, teman-teman yang mampir ke sini juga dapat menikmatinya.

Nah, untuk mengawali rubrik ini, bulan Juni 2012 saya memilih Rina Suryakusuma sebagai Author of The Month edisi perdana.


Mengapa Rina? No specific reason, kecuali bahwa secara tak terduga saya menyukai karya-karyanya, meskipun mungkin tidak sampai membuat saya melayang-layang, tapi saya menikmati reka-imajinasi yang diracik oleh Rina Suryakusuma. Di samping itu, saya juga sangat bersyukur bahwa ketika saya mengontak Rina dan meminta waktu untuk wawancara online via e-mail, penulis novel Lullaby dan Lukisan Keempat ini bersedia menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Waaahhhhh, saya sangat berbahagia sekali. Terima kasih, Rina Suryakusuma.


Baik, teman, selama bulan Juni 2012 ini, latar belakang blog juga akan menyajikan gambar yang berhubungan dengan Rina Suryakusuma sebagai Author of June 2012.


Tetap membaca, Kawan!