Wednesday, December 18, 2013

[Resensi Novel Amore] Just Another Birthday by Rina Suryakusuma


Single Mom pun berhak untuk bahagia...

Sarah, single mom dari satu anak TK yang kritis dan suka bertanya segala hal, mulai dari pertanyaan sederhana seperti—Kenapa kita ulang tahun cuma satu tahun sekali, Ma?—sampai pertanyaan yang tidak bisa dijawab macam, “Mama, di mana Papa?”

Pada usianya yang masih 20-an, Sarah belajar dengan cara sulit bahwa hidup ini tidak seindah dongeng. Tak ada yang namanya Prince Charming. Namun ketika bertemu dengan Jeremy, Sarah bertanya apakah mungkin harapan itu masih ada. Bersama Jeremy, Sarah berpikir segalanya mungkin hingga ayah dari putrinya kembali ke dalam hidupnya.

Ketika kebahagiaan nyaris dalam genggaman, Sarah dihadapkan pada batu ujian hidup... terutama ketika dia harus kehilangan orang terpenting dalam hidupnya.

Judul: Just Another Birthday
Pengarang: Rina Suryakusuma
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp48.000
Rilis: November 2013
ISBN: 978-979-22-9948-9

Membaca karya-karya Rina Suryakusuma selalu menerbitkan rasa damai dan menghindarkan sikap pesimistis. Kisah-kisah rekaannya selalu sukses membuat pembacanya, setidaknya saya, ikut optimis bahwa di setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Teruslah berjuang, maka setiap masalah akan dapat terpecahkan.

Just Another Birthday (JAB) pun membawa napas optimisme serupa. Berkisah tentang Christina Sarah, seorang single mom yang mesti berjuang mengasuh dan membesarkan anak semata wayangnya, Cassie, tanpa sosok lelaki yang berperan sebagai suami sekaligus ayah di sisinya, bahkan sejak ia mengandung gadis cilik yang kini genap berusia 4 tahunan itu. Lelaki pengecut itu, Rommy, tega meninggalkannya sendiri dan menghindar dari tanggung jawab. Untung ada sosok Mama yang selalu mendampingi Sarah dalam melalui segala macam hal pelik dalam kehidupannya.

Kalau kamu sudah sering membaca karya seorang penulis, maka kamu akan merasai sensasi yang familier ketika membaca karya penulis itu sekali lagi. Dan, saya pun merasakannya ketika membaca JAB ini. Kekhasan Rina yang tampil dalam diksi-diksi yang sederhana namun anggun sekaligus berbalutkan nuansa religius berhasil membuat saya betah membaca dan merampungkan novel ini. Energi positif menguar jelas ketika ikut terlarut dalam mengarungi perjalanan hidup tokoh utamanya.

Tentang topik single mother, buat saya, selalu menarik untuk diikuti, meskipun tak dapat disangkal kepentingan ‘moral’ ikut bermain selama proses pembacaan. Semua hal memang dapat diperdebatkan, tetapi tiap orang pasti punya prinsip masing-masing yang tak dapat diganggu gugat orang lain. Pun dalam kasus single mother semacam ini, saya akan menilik sikap pribadi. Bagaimana judgement saya pada Sarah, sang single mother? Mengapa ia menjadi single mother? Apakah latar belakangnya ‘negatif’ atau ‘positif’? Apakah saya sepatutnya bersimpati padanya atau menyalahkannya? Hal-hal semacam itu bermain-main di benak saya dan sedikit banyak menggiring opini saya pada banyaknya kemungkinan yang seharusnya terjadi pada Sarah. Dan, well, ada kalanya saya memang menyalahkan Sarah di sini, tapi saya pun sadar bahwa “life must go on”, “nobody’s perfect”, satu kesalahan pada perempuan bisa berakibat fatal hingga akhir hayat. Pahamilah. Ambil pelajarannya. Jadikan cermin hidup. Keputusan ada di masing-masing kita, mau memperbaiki diri atau tetap mengulang kesalahan yang sama.

Setelah Lullabysaya memang selalu menunggu penulis bisa membuat twist yang sedahsyat twistdalam Lullaby. Saya melihat ada kemungkinan itu di JAB, dengan menghadirkan sosok Mama, namun, entah kenapa saya justru sudah bisa menebak dari awal sehingga tak mendapati surprise apa pun ketika apa yang saya tebak memang terbukti. Saya justru berharap Cassie yang menjadi twist-nya, alih-alih sang Mama.

Dari segi cerita cukup klise sebenarnya. Antara bos yang dikenal galak dan anak buah yang sedikit bandel. Untung latar belakang Sarah yang single mother bisa menjadikan kisah ini sedikit berwarna. Meskipun jika menilik ke belakang, sudah ada Perang Bintang-nya Dewie Sekar atau sepenggal kisah dalam Metamorfosa Oase-nya Retni SB mengangkat isu yang sama.

Salah satu turn offsaya pada novel ini adalah pernyataan Jeremy di ujung cerita bahwa ia sejatinya sudah menaruh perhatian pada Sarah sejak kali pertama Sarah diterima bekerja di kantor itu. Arrrrgggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhhhhhhhhh… klise paling klise ya bagian ini, menurut saya. Dan, saya tak suka ini. Oh, bukan, saya benci bagian ini. Buat apa ada pernyataan semacam ini? Oke, memang diperlukan sebuah alasan mengapa seorang bos yang dikenal angker oleh banyak pegawai justru luluh di hadapan seorang Sarah, tapi tidak juga dengan pernyataan bahwa, “Aku sudah memperhatikanmu sejak kamu bekerja di sini,” preeeetdah! Adegan semacam ini tuh saya ibaratkan mirip adegan di film aksi ketika penjahatnya sudah berhasil meringkus si pahlawan tapi mau membunuh saja si penjahat ini ngoceh terus, membeberkan kenapa dan bagaimana ia berbuat jahat. Ujung-ujungnya penjahat itulah yang berbalik malah terbunuh. Kenapa sih kalau sudah berhasil menangkap Batman, Joker nggak langsung nembak atau nampol si Batman yang sudah terikat, dan malah ceramah? Hihihi… ya kalau pahlawannya mati, rusak dong skenario, “Kebaikan selalu menang melawan kejahatan, ya?” #gilasendiri

gambar dari sini: http://joe-renaissanceman.blogspot.com
Mengupas para tokohnya,terkadang saya masih merasa Cassie tampil dalam tutur kata orang dewasa ketika mendapat porsi dialog. Masih perlu sedikit sentuhan lagi untuk si kecil ini benar-benar terasa kanak-kanak. Menurut saya, membuat karakter anak-anak yang tampil sesuai umurnya adalah salah satu teknik menulis paling sulit. Entah karena dalam keseharian saya tak bergumul dengan anak-anak atau bagaimana sehingga gambaran saya akan tokoh anak-anak memang minim. Mungkin hal tersebut yang memengaruhi kemampuan saya menangkap sensasi kanak-kanak dari tokoh anak-anak.

Untuk tokoh Sarah sendiri, sebagai ‘aku’ ia sudah bertutur dengan baik. Sarah digambarkan sebagai sosok perempuan mandiri namun dirundung sepi. Sikapnya yang kadang tergesa-gesa mengambil keputusan, lalu mengubahnya lagi di menit berikutnya, bagi saya memang agak mengganggu. Sedangkan untuk Jeremy, hmm, secara keseluruhan oke, cocok dengan penggambaran sebagai seorang family man. Meskipun, saya agak kurang sreg ketika di adegan-adegan terakhir Jeremy terkesan cerewet, banyak omong, dan rayuannya terlalu manis.

Secara keseluruhan, saya suka kisah ini. Konfliknya memang sempit tapi tampil 'cukup' dan tidak berlebihan. Karena sudah tahu pakem novel Amore, maka saya tak heran bahwa novel ini tampak feminin, halus, manis, dan penuh cinta. 

Catatan tekis: masih ada beberapa typo, meski tak signifikan, tapi kalau lebih cermat maka novel ini tentu saja akan menjadi lebih baik lagi (secara cetakan).

Selamat membaca, kawan!

My rating: 3 out of 5 star

0 comments:

Post a Comment