Sunday, July 7, 2013

[Resensi Kumpulan Cerita] Skenario Remang-Remang oleh Jessica Huwae


Diksinya JUARA!

Seorang perempuan di kota tua, membangun sisa-sisa harapannya bersama mi yang diolahnya dengan suatu resep rahasia. Di suatu perumahan baru di pinggir kota, seorang pemuda membangun mimpi dan ide-idenya akan kehidupan normal dengan sang perempuan pujaan. Di suatu sudut mal, seorang sahabat menanti dengan debar sahabat yang dalam diam dipujanya. Di suatu restoran yang terimpit oleh gedung-gedung perkantoran megah, seorang pramusaji bertemu kembali dengan kisah lamanya yang dipikirnya telah mati saat demonstrasi. Di suatu acara televisi nasional, seorang penyanyi lawas berharap-harap cemas untuk mendapatkan popularitas dan kejayaannya kembali. Di sudut lain pada kota yang remang, dua peristiwa besar terjadi; suatu transaksi perasaan, juga pelajaran panjang tentang patah hati.
Andai saja satu hari dalam hidup seseorang dapat diulang, akankah ia bisa mengubah jalan hidupnya? Ataukah hidup memang kadang punya cara sendiri untuk menertawakan rencana-rencana naif manusia?
Judul: Skenario Remang-Remang (SRR)
Pengarang: Jessica Huwae
Editor: Mirna Yulistianti
Proofreader: Dwi Ayu Ningrum
Desain sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia
Tebal: 179 hlm
Harga: Rp43.000
Rilis: Juni 2013 (cet ke-1)
ISBN: 978-979-22-9738-6

Kehadiran buku ini laksana janji temu dengan kawan lama yang akhirnya kesampaian. Macet, hujan, tumpukan kerjaan, semua diabaikan demi bertemu kawan lama itu. SRR menyiram kehampaan kenangan akan tulisan seorang Jessica Huwae yang sempat menerbitkan satu buah novel metropop, soulmate.compada tahun 2006. Impresif. Novel debutan itu langsung memikat hati sehingga terus dan terus berharap ada karya Jessica berikutnya. Dan, ketika mendengar kabar bahwa Jessica akan menerbitkan karya lagi (SRR) saya langsung tak sabar menunggunya. Sayang seribu sayang, jadwal launchingbuku ini ternyata bertepatan dengan jadwal saya dinas luar kota sehingga tak dapat menyempatkan diri berhadir di sana. Beruntung, saya justru berkesempatan memegang dan membaca buku kumpulan cerita ini satu minggu sebelum SRR secara resmi dirilis. Yayyyy....makasih mbak Jessica.
 
Saya sudah berjanji untuk lebih dapat menyukai buku kumcer dan mencoba merasai kenikmatan membaca cerita pendek. Apalagi saya pun sedang bereksperimen menulis cerita pendek, meski hanya untuk dibaca-baca sendiri. SRR langsung menggebrak dengan kisah demi kisah yang dirangkai Jessica dengan begitu asyik. Yang paling kuat dari keseluruhan elemen, menurut saya, adalah diksinya yang indah nan menghanyutkan. Well, ketika membaca soulmate.com pun saya sudah salut dengan diksi racikan Jessica. Maka, tak heran sebenarnya jika SRR ini juga tampil demikian halus, meskipun toh saya tetap terkagum-kagum. Dan... iri. Ah, saya pengenjuga bisa bikin cerita dengan diksi demikian indah. Keren!

Dari 14 cerita yang ada di SRR, saya paling terpesona dengan cerita kedua, Gate 4. Hohoho, what a twist! Saya sampai benar-benar ternganga. Dan, kamu tahu? Saya membaca kisah ini bertepatan ketika saya menunggu pesawat saya boarding! OH-MY! Pas-surapas banget deh pokoknya. Saya jadi dapat feel-nya secara maksimal. Speechless. Suka pake banget lah untuk kisah ini.

Berikut komentar saya pada kepingan-kepingan cerita dalam puzzleSRR karya Jessica Huwae:

1.      Resep Rahasia Tante Meilan
Kisah ini menempatkan Tante Meilan, seorang Tionghoa yang kehilangan suami dan anak-anaknya pasca kerusuhan Mei 1998, untuk berjuang keras bertahan hidup dengan membuka kedai mi ayam yang superlaris namun menerbitkan kedengkian di hati para pesaingnya. Bahkan salah satu di antaranya bersikeras mencari resep rahasia kelezatan mi ayam itu. Dan resep rahasia itu... benarkah ada?
2.      Gate 4
Dua orang bertemu di ruang tunggu bandara. Seorang di antaranya tampak menekuni laptopnya, sementara seorang lagi baru masuk dan mendapati hanya di sebelah pemilik laptop itulah yang bangkunya masih kosong. Setelah berbasa-basi singkat, keduanya mulai terlibat percakapan yang seru, bahkan cenderung pribadi. Tapi, seseorang dari keduanya mengisahkan cerita bualan dalam sesi curhat itu. Siapa? Untuk apa? Itu twist di akhir cerita yang membuat saya syuka-syuka-syukasama kepingan cerita ini.

gambar dari sini: http://just-euphoria.blogspot.com
3.      Satu Hari Dalam Hidup Aidan
Saya percaya pada hukum sebab akibat. Setiap kejadian ada alasannya. Setiap keadaan pasti ada yang menimbulkannya. Bahkan, satu kebetulan pun sebenarnya berawal dari satu buah sebab yang mengakibatkan terciptanya kebetulan itu. Apa yang dialami Aidan di masa kecilnya bisa menjadi “alasan” mengapa ia melakukan hal demikian ketika dewasa.
4.      Mencintai Elisa
Benarkah cinta memudar seiring berjalannya waktu? Haruskah tiap saat kita menyirami benihnya dengan setuang madu sayang dan setimba air cinta? Kisah ini merenda perjalanan cinta seorang suami pada istrinya, Elisa, yang pada akhirnya dikalahkan putaran waktu.
5.      Mengeja Perempuan Dalam Kesunyian
Siapa yang salah jika kita justru melesatkan panah cinta ke arah yang tak tepat? Dan ketika kita sadar itu tak tepat, dan ada sasaran lain yang lebih mudah bahkan tampak mendekat ke kita, apakah kita langsung mengalihkan bidikan ke sasaran baru itu? Ambillah keputusan secepatnya. Lengah sedikit, target akan jauh dan menghilang.
“Berhentilah memandang ke pintu yang tidak akan pernah dibukakan bagimu.” (hlm. 65)
6.      Skenario Remang-Remang
Kisah yang menjadi judul buku kumcer ini juga tak kalah istimewa. Dan, benar-benar sesuai judulnya. Cerita dirupakan dialog saja, tanpa narasi. Setting, background, dan karakternya harus kita tebak sendiri. Benar-benar dibuat samar. Remang-remang. Jempol dua!

gambar dari sini: http://kfk.kompas.com
7.      Menjemput Bapak
Ini tentang anak yang menceritakan bapaknya. Bapak yang tak pernah meninggalkan impresi positif bagi sang anak, bahkan telah lama si anak minggat dari rumah. Kabar tentang bapak yang sakit keraslah yang membawanya pulang, sampai ia menyaksikan ibunya menjemput Bapak.
8.      Nostalgia Rasa
Sebuah kisah tentang kenangan akan beragam rasa di dada tentang seseorang. Dikisahkan dengan gaya tulisan ibarat surat atau diari privat, kisah ini menguraikan sebuah transformasi cinta yang begitu dalam meski tak tergenggam.
9.      Elegi Sabtu Sepi
Pertemuan demi pertemuan menyemarakkan hari. Terkhusus bagi sang perempuan. Bahkan, jadwal rutin pertemuan itu lambat laun mengubah persepsinya. Ia yang sinis pada kehidupan mulai memandangnya dari sudut yang lain. Tapi mengapa, justru si lelaki pergi ketika ia mulai tak sinis lagi?
“Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah mal dan pusat perbelanjaan memang tidak dirancang untuk kesendirian? Lantas mengapa semua orang tampak berpasangan?” (hlm. 98)
10. Jalan Kembali
Ini tentang kisah haru nan mengagumkan dari seorang mantan popstar yang tak dinyana menemukan jalan untuk kembali ke bawah hujanan lampu sorot ketika diundang tampil di suatu acara televisi. Sanggupkah sang mantan diva ini memancarkan kembali kemilau sinarnya?
11. Galila
Kisah ini tentang Galila, anak pertama di kampungnya yang tak memiliki nama belakang akibat ulah ayahnya. Galila kecil tak paham mengapa harus demikian. Tanya saja pada sang mama yang merajut kepedihan karena kepergian ayah. Mengapa ayah pergi?
12. Semangkuk Salad dan Setumpuk Kenangan Saat Jam Makan Siang
Kisah ini juga berlatar belakang masa-masa reformasi. Kisah cinta yang terajut pada dua dunia yang berbeda, disatukan dalam periuk yang sama, perjuangan pembebasan dari pengekangan rezim yang katanya tak benar. Bertahun-tahun kemudian, dua insan masih juga dipertemukan. Namun, tentu saja, waktu telah menggerus semua yang ada. Apa-apa yang dulu tampak bagus mendadak berubah tak keruan. Mengapa? Itulah tanya yang menyergap. Bagaimana bisa?

gambar dari sini: http://www.thegourmetbagelshoppe.com
13. Pelajaran Patah Hati
Patah hati itu alami. Kata ibunya, manusia mempelajari patah hati justru dari Tuhan melalui berbagai kesulitan hidup. Demikianlah, sang tokoh dalam kisah ini mempelajari satu demi satu episode patah hatinya. Sampai kapan?
14. Segitiga
Cinta. Disemai. Dipupuk. Disiangi. Disirami. Dijaga. Dipanen, ketika waktu telah tiba. Tapi, ada masa, cinta itu... mati. Meskipun telah diajaga mati-matian. Jika sudah begitu, ada kalanya dua insan pencinta ini akan memutuskan untuk berpisah, membawa ini-itu yang menjadi jatahnya. Jika ada satu yang tak diingini keduanya, bagaimana harus memutuskannya? Siapa yang harus membawa “itu”?

Okay, saya memang tak selesai membaca buku ini dalam sekali duduk saja. Bahkan terputus-putus beberapa kali. Tapi, sebenarnya itu lebih karena saya memang harus melaksanakan tugas sehingga tak memungkinkan diri menyempatkan baca buku ini. Pada akhirnya saya selesai juga. Dan, benar-benar puas membacanya. Lagi dan lagi dan lagi dan lagi, saya akan memuji bagaimana diksinya yang begitu menawan. Mungkin ada satu atau dua cerita yang biasa saja, tapi kemasannya itu yang membawa saya seolah terbang ke awan. Saya suka!

Dari segi cetakan, masih ada beberapa typo meskipun tak banyak, dan seingat saya hanya pada beberapa cerita. Sebagian besar cerita hampir-hampir bersih dari salah ketik. Ini beberapa yang saya temukan:
(hlm. 42) ...pos yang terletak bibir Gang Sawo... = ...terletak di bibir...
(hlm. 49) menyeterika = menyetrika
(hlm. 55) Diacuhkannya Elisa = Tak diacuhkannya Elisa (sesuai konteks kalimat)
(hlm. 99) Lantas kamu mulai acuh = Lantas kamu mulai takacuh (acuh tak acuh)
(hlm. 149) ken-apa = ke-napa
(hlm. 157) mempercayai = memercayai

Baiklah. Buat para penikmat kumpulan cerita, SRR ini mesti kamu baca dan koleksi. Buat teman yang bernasib sama seperti saya, sulit ‘mengapresiasi’ cerita pendek, SRR ini bisa juga kamu coba untuk bacaan pertamamu. Saya sih tak mengalami hambatan berarti ketika membacanya, cenderung enjoydan santai (kayak di pantai). Jadi, tak ada salahnya kamu coba, teman.

Rating: 4 out of 5 star.

Friday, July 5, 2013

[Book of The Month] Surga Retak oleh Syahmedi Dean


Melanjutkan tradisi 'penobatan' Buku Bulan Ini (Book of The Month) yang saya mulai sejak bulan Mei dan Juni 2013 lalu, kali ini saya juga ingin memilih satu buku baru menjadi BotM Juli 2013. Nah, karena saya sudah menggemari karya tulis bang Syahmedi Dean dalam tetralogi fashion (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion, Jakarta Paris Via French Kiss, Pengantin Gypsy dan Pengemis Cinta, serta Apa Maksud Setuang Air Teh), maka buku terbaru beliau berjudul Surga Retak dengan mantap saya pilih sebagai BotM Juli 2013.

Apa sih kriteria BotM di blog ini? Nggak ada. Pemilihan ini hanya berdasar selera saya saja. Betapa saya sangat ingin membaca suatu buku sehingga saya berharap bisa menularkan kepada yang lain, memberitahukan kepada yang lain, bahwa buku itu bagus. Kan belum dibaca, kok udah bisa bilang bagus? Hmm, biasanya kriteria yang saya gunakan adalah faktor pengarangnya, faktor si novel ini meraih suatu penghargaan, atau si novel lagi hits banget di dunia buku. So, the choice is yours. Mau setuju atau tidak pada pilihan BotM di blog ini, adalah sepenuhnya di tanganmu. Saya hanya menyodorkan pilihan, siapa tahu kamu juga bisa suka seperti saya menyukai BotM pilihan saya.

Profil bang Dean:
Syahmedi Dean, seorang jurnalis bidang lifestyle, lahir di Medan tahun 1969, dan menamatkan kuliah S1 Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1995. Pengalaman jurnalistik pertamanya dialami tahun 1995 di harian The Examiner Newspaper untuk bidang kriminal, di kota kecil Launceston di Pulau Tasmania, Australia. Kemudian berturut-turut menjadi redaktur di Femina, Cosmopolitan Indonesia, Harper’s Bazaar Indonesia, dan Dewi.

Pernah menjadi penyiar di radio Unisi FM Yogyakarta dan magang sebagai staf produksi di Radio ABC juga di Launceston, Australia. Tahun 1995 mewakili Provinsi DI Yogyakarta untuk Australia-Indonesia Youth Exchange Programme. Sejak tahun 2001 sampai 2003 menjadi koordinator reportase spring/summer fashion week di Milan, Paris dan London untuk Femina Group.

Baiklah, berikut adalah kaver dan sinopsis Surga Retak:

Mata akan terbuka ketika hati mencari cinta

Bapak mempertaruhkan Ibu di meja judi, padahal dalam pertaruhan kelas seribu rupiahan saja Bapak selalu kalah. Perhitungan Bapak terlalu gegabah, tidak sebanding dengan keberanian orang-orang lain yang sudah terlatih berjudi sejak Belanda mengembangkan kapitalisme di tanah Deli. Belanda mendatangkan orang-orang Shantou dari Cina, orang-orang Tamil dari India, orang-orang Bagelen dari Jawa, untuk diperbudak paksa. Belanda mempertuankan diri di tanah Deli, menabur hiasan judi dan pelacuran, menciptakan kegaduhan, membuat nasib rakyat jelata berbentuk mozaik penuh luka. Bapak hanyalah sisa-sisa nasib di ujung zaman yang berlari dari kekalahan hidup, melintasi tanah-tanah perkebunan peninggalan Belanda, tanah yang semakin panas diperebutkan “siluman”. Bapak membuat Suri seperti tercabut dari kebahagiaan, kabur di malam buta dengan motor tua, menuju harapan baru, meninggalkan indahnya cinta yang baru mekar di belakang. Suri mempertanyakan hidup, siapa Bapak sebenarnya, kenapa semua cinta hilang berserakan?

Friday, June 28, 2013

[Resensi Novel Romance] BANGKOK by Moemoe Rizal


Witing tresno jalaran soko kulino...

Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR
 
Judul: Bangkok – The Journal
Pengarang: Moemoe Rizal
Editor: Ibnu Rizal
Proofreader: Christian Simamora
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 436 hlm
Harga: Rp57.000
Rilis: 2013
ISBN: 978-979-780-629-3

Bangkok menjadi destinasi ketiga yang saya tuju ketika menaiki ‘kereta-memori’ Setiap Tempat Punya Cerita yang dicetuskan Gagas Media – Bukune, setelah Melbourne dan Roma. Awalnya, saya menjadwalkan mengunjungi Manhattan terlebih dahulu, namun dikarenakan begitu banyak komentar positif pada novel ini, akhirnya saya memutuskan untuk menyetop kereta-memori dan menerima ajakan Moemoe Rizal melancong ke Bangkok, Thailand, untuk mencari jurnal lama milik Ibu sang tokoh utama.

Jujur saja, saya terkesan banget membaca Bangkok. Sejauh ini, Bangkok menjadi buku travel-fiction terfavorit saya. Gaya dan ritme bercerita yang lincah. Ceplas-ceplos. Manly, panas, sekaligus cerewet. Kaya konflik. Dan, yang paling utama, saya tidak berasa dijejali pengalaman mengunjungi tempat-tempat wisata di Bangkok. Seluruh kunjungan ke lokasi-lokasi populer di kota itu terjadi secara natural mengikuti alur kisah hidup dan perjalanan romansa tokoh utamanya.

gambar dari sini: http://www.interasia.com.au
Baiklah, saya memang sempat shock ketika baru menjejak halaman 5, f-word sudah terlontar di buku ini. Well, seketika itu saya berusaha keras mengingat-ingat buku apa ya yang terang-terangan menyebut kata itu dan hasilnya... nihil. Saya gagal mendapati memori saya akan buku lokal (atau terjemahan) yang dengan gamblang menuliskan f-word tersebut. Oh, ada sih, Twivortiare (Ika Natassa, kalau tidak salah) tapi edisi nulisbuku yang tahu sendiri donk, itu kan self-publishingjadi tentu saja bisa sesuka hati pengarangnya mau menulis apa, kan? Hoh, berarti penerbit lokal sudah mulai tak peduli dengan ketabuan ‘f-word’ ini, ya?

Buat saya pribadi sih, f-word bisa lah digunakan sebagai istilah dalam percakapan sehari-hari antarteman. Namun, hati kecil saya tetap tak rela mengumbar kata itu dalam buku cetakan resmi yang memungkinkan akses bagi siapa pun untuk mengambil dan membacanya, termasuk anak SD. Tapi, ya balik ke masing-masing pribadi sih. Setiap orang seharusnya sudah diberikan pemahaman dasar akan baik-buruknya sesuatu. Menjadi pembaca sudah pasti cerdas.

gambar dari sini: http://english.samaylive.com
Kembali ke sisi cerita Bangkok. Novel ini seolah-olah sesak. Banyak sekali subplot cerita yang dijejalkan untuk membangun kisah perjalanan ‘napak-tilas’ yang dilakukan Edvan (tokoh utama) yang ditemani Charm (tokoh utama perempuan pendamping) untuk menemukan warisan dari ibunya yang baru saja meninggal, berupa 7 jurnal yang tersebar di seluruh pelosok Bangkok (wew, mau nggak mau, saya terbayang horcrux di cerita Harry Potter, wkwkwk). Mulai dari kisah dramatis Edvin yang bertansformasi menjadi Edvina dan mewakili Indonesia dalam kontes Miss International Queen di Pattaya. Lalu disambung dengan kisah hidup Max, adik lelaki Charm yang cinta mati pada seni bela diri sekaligus olah raga muay thai yang memiliki sifat membingungkan (straight or gay?). Sampai dengan kiash-kisah dari orang-orang Bangkok yang dititipi jurnal oleh sang ibu. Novel ini menjadi padat dengan banyaknya subplot itu, ditambah lagi dengan berbagai informasi objek wisata di sekitaran Bangkok yang untungnya dituliskan dengan menarik. Senang rasanya tidak dihinggapi kebosanan ketika membaca lembar demi lembar novel ini.

gambar dari sini: http://uhmcwellness.wordpress.com
Sepertinya sudah menjadi rahasia umum ya, kalau latar tempatnya Bangkok pasti unsur sex-nya begitu kental. Tak hanya tentang hubungan intim secara harfiah, tapi juga orientasi seksualnya (tak perlu khawatir, di sini tak ada adegan intim yang diceritakan secara eksplisit kok). Maka, selama perjalanan melacak jejak keberadaan jurnal-jurnal peninggalan ibu Edvan, kita juga disuguhi drama kehidupan orang-orang Thailand. Tak jarang, drama itu menyentil rasa terdalam yang ada di jiwa. Bagus.

Namun demikian, saya agak kecewa dengan ending-nya. Hmm, harus ya dibuat seperti itu? Agak klise dan ‘terlalu-mudah’ untuk menghentikan perjalanan nyaris mustahil dalam mengumpulkan jurnal dari tahun 1980-an itu. Saya malah berandai-andai, bagaimana jika alasan yang disampaikan Charm ketika menolak rasa di hatinya itu adalah yang sebenarnya, bukan seperti yang ditulis sebagai akhir kisah novel ini. Agak drama-drama sinetron sih, tapi konflik akan semakin memuncak, dan saya menjadi penasaran bagaimana keputusan harus dibuat oleh Edvan. Kalau dengan ending begini, saya sudah tak perlu berimajinasi lagi, memang pasti begitu ending-nya. Too bad.

Hmm, ada beberapa bagian yang membuat saya meringis, yaitu di halaman 360. Apakah itu benar-benar begitu? Seorang Perdana Menteri ikut turut tangan untuk pengambilan keputusan pemberian izin mendirikan bangunan? Hohoho. Kalau di Indonesia sih oke, Presiden saja sampai ngurusin artis gak penting. Tapi, apakah di Thailand juga sampai segitunya? Juga di halaman 414. Salah satu orang Thailand yang ditemui Edvan, berkunjung ke Indonesia (Bandung) tapi oleh-oleh pulangnya wayang kulit. Heh? Okay, mungkin wayang kulit di Bandung ada sih. Tapi, bukankah lebih umum, oleh-olehnya itu wayang golek, ya? Penasaran saja sih, intinya. Lagi, di halaman 281, disebutkan Pasar Terapung di daerah Taling Chan lebih baik dibandingkan Pasar Terapung di Kalimantan Timur. Heh? Hmm, mungkin memang ada pasar terapung di Kaltim (saya sih nggak pernah lihat), tapi setahu saya, di Indonesia ini pasar terapung yang paling populer masih yang ada di Kalimantan Selatan (Banjarmasin atau Martapura). Saya sempat merasai berbelanja di Pasar Terapung Banjarmasin.

gambar dari sini: http://portalbanjarmasin.com
Dari segi cetakan, hmm, tentu saja typo masih tersebar di beberapa titik. Namun, berhubung kisah dan gaya berceritanya yang superlincah, saya sampai tak peduli dengan typo-typo itu. Meskipun demikian, jika di kemudian hari novel ini cetul (cetak ulang) semoga beberapa typo ini bisa diperbaiki sehingga novel ini menjadi makin mantap dari segala aspek. Hmm, terus, entah disengaja atau tidak penyebutan Edvin dan Edvina yang kadang ngasalagak sedikit mengganggu. Itu Edvan-nya yang labil atau memang disengaja begitu untuk menegaskan posisi Edvin yang seorang transgender? Entahlah.

Oiya, hal lain yang saya suka dari novel ini adalah gaya penulisan footnote-nya. Kebanyakan footnote adalah komentar ringan Edvan sebagai tokoh utama tentang apa pun yang oleh pengarangnya dianggap perlu diberikan komentar. Ini seru ketimbang komentar jayus di dalam tanda kurung yang digunakan oleh beberapa penulis. Sementara di novel ini justru kocak. Ide yang keren. Dannn, seperti halnya Nina Ardianti dalam Restart yang kisahnya ada kaitan dengan Fly to the Sky, Moemoe pun mengaitkan Bangkok ini dengan novel duet itu. Edvan diceritakan menaiki pesawat dari maskapai Indonesia Airbridge dengan co-pilot Ardian dan salah satu pramugarinya adalah Leila Lupitasari. Saya pikir, awalnya Moemoe mau menjodohkan Edvan dengan Leila ini, hehehe.

Beberapa bagian yang #makjleb buat saya:
“Aku ingin wisata alam. Wisata yang bangunannya diciptakan langsung oleh Tuhan.” (hlm. 94)

“Tidak semua orang punya kesempatan bertemu dengan orangtua setiap hari. Tapi, ada saja orang yang dengan sengaja melepaskan kesempatan itu untuk ego pribadi.” (hlm. 147)

“Kalau kubilang kamulah kebahagiaanku, maka TITIK. Kamulah kebahagiaanku.” (hlm. 253)

“Biarkan saja penyesalan jadi kenangan. Penyesalan bukan untuk dinikmati.” (hlm. 323)

“Berhenti di tengah-tengah perjuangan, sama saja membiarkan makanan menumpuk di perut, tidak pernah dikeluarkan. Nanti, menambah-nambah masalah dan menciptakan kerepotan baru.” (hlm. 381)

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati perjalanan wisata saya ke Bangkok. Tak banyak komplain saya sampaikan pada Moemoe Rizal, sang sopir tuk-tuk, hehehe. Dan terima kasih juga karena sudah mengarang novel ini. Akhirnya saya merasai lagi, novel yang bener-bener laki-laki, di tengah hiruk-pikuk novel romance yang cenderung feminin banget. Well done. Ditunggu karya-karya selanjutnya.

Rating: 4,5 out of 5 stars.

Sunday, June 23, 2013

[Buku diFilmkan] Nonton Bareng Film Refrain


Saya sedang bahagia. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan mendapat kesempatan langka bergabung dengan beberapa penulis top Gagas Media dan tentu saja Winna Efendi dalam acara Nonton Bareng Film Refrain yang diadakan Gagas Media, Minggu, 23 Juni 2013, pukul 14.30 WIB, di Pejaten Village. Awalnya saya sekadar mencandai @Winnaddict (penggemar karya-karya Winna di twitter) dengan bertanya 'bisa-nggak-ya-saya-ikutan-nonbar-tanpa-ikutan-kuis'. Hehehe, namanya #nyamber di status @Winnaddict ya saya tak meniatkan yang lain, apa lagi jika berkesan merengek minta-minta. Tidak. Tapi, kemudian tak dinyana Winna malah menawarkan satu tiket untuk ikutan nonton bareng Film Refrain itu kepada saya. Wahhhh, girang bukan kepalang donk saya.


Ahhh, saya sudah menggemari tulisan-tulisan Winna sejak membaca Ai dan Refrain. Jadi, sebenarnya saya sudah meniatkan akan menonton film ini jauh-jauh hari bahkan sebelum ada kepastian tanggal pemutaran filmnya (baru ketahuan sebagai proyek filmisasi). Saya pun tidak mengikuti kuis nonton barengnya karena saya pikir nonton barengnya ya sekadar nonton saja, tidak ada acara after the show. Ternyata ada Meet and Greet bareng Winna Efendi dan Haqi Achmad selepas acara nonton. Saya jadi mupeng. Tapi, tetap saya tak ikutan kuis, karena saya sendiri pesimis bisa menang di kuis-kuis seperti itu, hehehe. Namun, ya seperti kata almarhumah Ibu saya, kalau rezeki ya ndak ke mana dan ya ndak usah ditolak. Saya pun menerima dengan sepenuh hati tawaran Winna. Alhamdulillah, akhirnya dikirimin juga undangannya oleh Tim Gagas Media.




Kamu sudah nonton? Kalau belum, yukk nonton. Saya selalu suka menonton film adaptasi dari buku. Apalagi kalau itu dari buku yang saya gemari. Semangat menontonnya itu bisa beberapa kali lipat labih banyak dari film biasa-non-adaptasi.

Sekali lagi, terima kasih yang tiada terkira saya sampaikan kepada Winna Efendi dan Gagas Media yang sudah memberikan kesempatan untuk ikutan di acara nonton bareng Film Refrain besok (eh, hari ini yaaa....sekarang kan udah hari Minggu).

Selamat menonton!

Sunday, June 9, 2013

[Resensi Novel Romance] Melbourne by Winna Efendi


Memadukan musik dan cahaya dalam cinta...

Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,
EDITOR
 
 
Judul: Melbourne - Rewind
Pengarang: Winna Efendi
Penyunting: Ayuning, Gita Romadhona
Proofreader: Mita M. Supardi
Desainer sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 328 hlm
Harga: Rp52.000
Rilis: Mei 2013 (cet ke-1)
ISBN: 978-979-780-645-3

Kesukaan saya pada gaya mengarang Winna menjadikan Melbourne sebagai titik pijak saya untuk berkeliling menikmati untaian kisah di masing-masing tempat dalam seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang dicetuskan bersama oleh Gagas Media dan Bukune. Tentu saja, kalau ada STPC dengan judul LONDON (kota impian) saya pasti akan memulainya dari sana, siapa pun pengarangnya. Nah, karena tidak (atau belum) ada yang mengangkat London, saya memilih ber-traveling bareng Winna Efendi ke Melbourne.

Hening. Damai. Itulah kesan saya setiap menikmati karya-karya Winna. Seramai apa pun sekitar saya, begitu sudah merunuti kata demi kata yang diuntainya saya seolah tersihir untuk tak memedulikan sekeliling. Entahlah, saya sendiri tak paham mengapa saya merasa seperti itu. Bisa jadi karena diksi dan cara menggandeng kata-kata menjadi kalimat atau suasana yang terjalin di belakang plot dan karakter para tokohnya. Yang jelas, karya Winna selalu menghanyutkan imajinasi saya.

Tak terkecuali Melbourne ini. Oh, saya sempat sedikit deja vu dengan penggalan kisah Winna di GagasDuet-nya bareng Yoana Dianika, Truth or Dare. Salah satu bagiannya serupa dengan novel itu, yaitu ketika Laura menaruh hati pada Evan padahal Evan sudah berpacaran dengan sahabat Laura, Cecily. Ingatan saya langsung melambung pada sosok Alice yang menyukai Julian yang sudah secara resmi berkencan dengan Catherine. Anehnya, saya tak merasa terganggu dengan kesamaan kondisi ini. Biasanya mood membaca saya cenderung mudah terganggu apabila saya menemui satu atau dua adegan dalam suatu cerita mirip dengan adegan di cerita yang telah lebih dulu saya baca. Mungkin tepat jika saya menyebut telah dikenai Winna’s Charm selama membaca novel ini.

gambar dari sini: melbournereview.com.au
Dalam hidup, saya percaya pada true love (baca ini saya sambil dengerin suara Pink yang berduet bareng Lilly Allen a.k.a. Lilly Rose Cooper di lagu berjudul True Love). Bahwa jika saya mencintai seseorang dengan tulus, perasaan itu seharusnya mengendap dan mengerak di dasar hati, sehingga butuh waktu yang sangat lama untuknya mengelupas sampai hilang dan tergantikan rasa cinta pada seseorang yang baru. Saya selalu heran jika ada seseorang yang dengan mudah bilang ‘aku cinta kamu seumur hidupku’ di saat baru mulai menjalin hubungan tapi kemudian mudah pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain ketika hubungan yang pertama tak berjalan mulus. Sebegitu mudahkah cinta terhapus dan digantikan dengan yang baru? Ataukah itu hanya salah si orang yang dengan mudah mengumbar kata cinta? Bisa jadi. Intinya, saya percaya cinta yang tulus akan bertahan untuk waktu yang lama, seperti kata ST-12 dalam lagu Saat Terakhir:
“Satu jam saja ku telah bisa
Cintai kamu kamu, di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup.”
Saya menangkap esensi cinta sejati dari hubungan Laura dan Max di Melbourne ini, meskipun saya juga merasakan bentuk cinta yang belum selesai. Seperti tertunda sementara waktu, karena ada keperluan penting nan mendesak yang harus dilakukan terlebih dahulu. Lalu, cinta akan hadir kembali setelahnya. Seperti itulah saya memahami letupan roman antara Laura dan Max.

Saya setuju dengan pendapat Christian Simamora yang menyebut bahwa Winna berhasil mengeksekusi plot Melbourne yang memiliki alur campuran, maju-mundur, yang sebagian besar dikemas sebagai bentuk reka-ulang kenangan itu, bukannya benar-benar menuliskan kenangan itu. Maksudnya, kenangan itu hanya dirupakan narasi saja, tidak fulladegan (disertai dialog). Dan, untuk beberapa kondisi saya menyukai gaya penceritaan seperti itu. Karena bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk lampau, kini, dan masa mendatang, saya biasanya gagal merasai nuansa masa silam, jika suatu cerita berputar ke waktu sebelumnya namun diceritakan gamblang seolah-olah peristiwa itu terjadi saat ini. Saya benar-benar bahagia ketika sebagian besar Winna memilih gaya narasi ketika tokoh-tokohnya mengingat suatu memori.

gambar dari sini: pbase.com
Namun, gaya begitu pun ada kelemahannya, buat saya. Lebih ke ‘rewel’nya saya sih. Apa iya, dalam suatu waktu yang hampir sama, yang terpisah jarak sedemikian jauhnya, dua orang bisa kebetulan mengingat satu kondisi yang sama? Winna kerap menggunakannya. Ketika Laura mengingat bagaimana ia menyukai Prudence, awal perjumpaannya dengan Max, serta bagaimana sakit hatinya mendengar ucapan Max ketika mereka akan berpisah, pada saat yang hampir sama (di bagian atau chapter lain) Max membayangkan hal-hal itu juga. Saya masih tidak begitu yakin sih ada dua orang memikirkan hal yang sama di saat yang (hampir) sama. Mungkin akan lebih baik, sebelum narasi dilontarkan oleh Laura atau Max, diberikan sebuah pengantar. Mungkin tentang lokasi atau situasi yang sedang dialami tokoh tersebut, misalnya berupa detail-detail kecil masa kini yang membawa kenangan itu menyerbu otak hingga narasi akan memori itu diceritakan.

Selama membaca Melbourne, terutama bagian Laura-Max-Cecily-Evan, saya dibuat gemas, sekaligus sebal. Inilah puncak konflik yang sebenarnya. Ketika hati mulai terselimuti kabut kebaikan orang lain, rasa yang terpendam untuk cinta sejati menjadi hampir saja terabaikan. Oke, saya sampai kepengen menjedotkan kepala Laura ke tembok karena telah menipu diri sendiri dan berpotensi merusak jalinan persahabatannya dengan Cecily. Pada tahap ini, saya mengacungi jempol untuk Winna, yang berhasil mengaduk-aduk emosi dengan menghadirkan karakter Lara. Maafkan, tapi saya sama sekali tak bisa bersimpati pada Laura. Jujur, saya mendoakan saja dia jomblo akut. Jangan biarkan Max mencintai gadis plinplan itu, atau biarkan Cecily yang beruntung mendapat cinta Evan. Biarkan Laura sendiri saja. Hahaha. Jahat ya, saya? Tapi, beneran, saya tak bisa bersimpati pada Laura. Entah mengapa. Sampai... saat ia membuka alasan mengapa dulu ia berpisah dengan Max. Ouch, sakit!

gambar dari sini: fotolia.com
Hambatan awal saya membaca Melbourne adalah penggunaan kata ganti “gue” oleh Max. Karena PoV orang pertama, saya musti bersabar menunggu waktu, kapan Max akan dikenalkan dengan tuntas. Apakah dia asli orang Australia atau orang Indonesia. Syukurlah, dia orang Indonesia (yaiyalah, mana ada bule Aussie pake lo-gue, kan?). Saya trauma membaca terjemahan serial High School Musical (iyaa..buku dari serial TV yang memopulerkan Zac Efron dan Vanessa Hudgens itu...) yang menggunakan kata ganti “elo-gue” di bukunya. Plisssss, itu nggak cocok. Karakter luar negeri, biarkan saja sebagaimana seharusnya. Nggak usah dipaksa-paksa kayak orang sini.

Sementara itu, hal lain yang saya sukai dari karya-karya Winna adalah...taraaaa, hampir-hampir rapi dan bersih dari typo. Entahlah, apakah Winna sendiri pas nulis naskah sudah yang rapi-jali atau ada tim khusus yang me-proofread naskahnya sebelum dikirim ke penerbit. Serius, so far, hanya naskah-naskah Winna yang aman dari radar typo saya. Tetap ada, tapi nggak SEBANYAK novel lain yang diterbitkan Gagas Media. Sekali lagi, saya nggak tahu kenapa bisa begitu.

gambar dari sini: gifsoup.com
Pada akhirnya, saya terhanyut kisah Melbourne. Memang khas Winna, jadi sebagian terasa samar-samar mengingatkan saya pada novel-novelnya sebelum ini yang sudah saya baca. Terutama dari segi tema. Maka, saya hanya berharap, Winna bisa memberikan keindahan ide lain di karya-karya berikutnya. Saya selalu suka pada tema persahabatan yang diangkat Winna, namun sahabat yang diam-diam menyukai pacar sahabatnya itu sudah beberapa kali diceritakannya. Hehehe, ya itu sih hak prerogratif Winna sebagai pengarang mau menulis apa, ya? Ini hanya sekadar harapan dari salah satu di antara ribuan penyuka karya-karya Winna Efendi kok. Entahlah, kalau satu lagi novel Winna setelah ini masih mengangkat hal macam begini, kemungkinan saya akan skip dulu, menunggu novel berikutnya lagi yang lebih “baru”.

My rating: 4 out of 5 star