Showing posts with label Winda Krisnadefa. Show all posts
Showing posts with label Winda Krisnadefa. Show all posts

Wednesday, May 29, 2013

[Pengumuman] Yang Beruntung di Giveaway Macaroon Love


Wow...keren deh kalian, memasak untuk pasangan tercinta. Masakan special for someone special. Hmm, tapi banyak yang curcol kalo lagi jomblo yaaa... Gih, sana, dicari pasangannya. Kenapa cobak, hari gini, masih jomblo ajah? *dikepruk-rame-rame* #disuruh.ngaca.sendiri


Okay, berhubung, saya menggunakan pertanyaan terbuka untuk dijawab, maka saya tak akan menyebut mana jawaban yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, saya memasukkan keseluruhan entry yang masuk ke dalam undian yaaa, di mana saya menggunakan aplikasi tak berbayar, The Hat, untuk memilih siapa teman yang beruntung.

Dan, setelah dilakukan pengundian, yang terpilih pada giveaway hari Senin, 27 Mei 2013, dengan hadiah novel romance Macaroon Love karya Winda Krisnadefa, adalah.....




Untuk proses pengundiannya, silakan simak video berikut ini yaaa....


Selamatttt untuk @iamsheilla, tunggu informasi dari saya di DM twitter yaaa....untuk tweeman yang lain, masih ada beberapa giveaway yang bisa kalian ikuti. Tetap semangattt....

Monday, May 27, 2013

[Resensi Novel Romance] Macaroon Love by Winda Krisnadefa + Giveaway


Menjadi berbeda itu anugerah...


Pengarang: Winda Krisnadefa
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Proofreader: Dina Savitri
Pewajah sampul: Muhammad Usman
Penerbit: Qanita – PT Mizan Pustaka
Tebal: 264 hlm
Harga: Rp49.000
ISBN: 978-602-9225-83-9

Untuk kali kedua, saya diminta Penerbit Mizan untuk menjadi MC sekaligus memoderatori talk show dan peluncuran novel romance dari lini Qanita. Pada kesempatan pertama, tiga novel juara utama yang dirilis, kali ini salah satu novel unggulan yang masuk 10 besar Lomba Qanita Romance 2012/2013 yang diluncurkan. Novel bertajuk Macaroon Love karya Winda Krisnadefa. Dari dua kali kesempatan ini, saya makin terpikat untuk terus membaca dan menikmati novel-novel dari Qanita Romance ini. Semoga ke depan, semakin banyak novel romance berkualitas yang dihadirkan oleh Qanita.

Macaroon Love menjadi salah satu novel yang paling cepat saya baca. Well, awalnya tentu saja termotivasi harus segera menuntaskan baca karena buku ini baru saya dapatkan satu hari (sudah menjelang malam pula) sebelum acara launching-nya, sehingga saya perlu bergegas. Namun, begitu saya membuka lembaran-lembaran halamannya, saya tak bisa menghentikannya. Tanpa bisa saya tahan, mata terus merunuti setiap adegan yang diracik secara apik oleh mbak Winda. Jujur saja, satu bab pertama memang agak sedikit ‘sulit’ buat saya. Entahlah, saya lagi-lagi terjebak kebosanan membaca deskripsi yang terlalu banyak itu. Hal itu masih berlanjut ke bab kedua. Bahkan, saya mulai panik akan gagal menyukai novel ini ketika penulis terus menerus memberikan kalimat penegasan akan karakter utamanya. Saya sampai berdecak kesal dan mendengus, “Mbak, gue udah tau kok Magali ini aneh, tapi ya gak perlu lah tiap berapa paragraf sekali, terus-terusan ada kata ‘aneh’ disebut-sebut terus.”

Syukurlah, saya patut berbangga pada diri sendiri, bahwasanya saya merasa saya adalah pembaca setia yang meskipun dilanda kejenuhan tetap berhasil memaksa diri membaca hingga tuntas. Prinsip, I won’t judge a book before I read it completely, mampu menahan saya untuk meletakkan buku ini dan membaca yang lain. Benar saja, setelah melewati masa pengenalan karakter para tokohnya, saya mulai terhanyut dan larut dalam kisah cinta manis berlatar dunia kuliner ini. Ahhh, Magali-lah yang menahan saya untuk terus dan terus dan terus membacanya hingga akhir.

Magali. Berkali-kali saya berdecak kagum pada mbak Winda yang berhasil membangun karakter tokoh utama perempuan ini dengan begitu kuatnya. Saya sampai menyiapkan beberapa pertanyaan seputar ini untuk diajukan kepada mbak Winda ketika talk show. Dan, jawaban mbak Winda tentang betapa beliau berusaha keras menghayati karakter ini dengan melakukan pengamatan langsung pada beberapa temannya yang memiliki representasi yang pas akan tokoh Magali ditambah background-nya sebagai food writer yang terjebak dilema (yang juga hasil riset pada teman-temannya) berhasil menghadirkan Magali dengan begitu kuatnya. Jempol dua saya acungkan pada mbak Winda. Magali buat saya ya, mbak? Hehehe.

penampakan kue macaroon. gambar dari sini: theresnoplacelikeoz.com
Berkebalikan dengan beberapa teman yang menyukai tokoh Beau (dan beberapa tokoh cowok di sini) saya malah merasa tokoh-tokoh cowok di sini kebanting sama Magali. Saya merasa Magali malah lebih ‘maskulin’ ketimbang Beau atau Ammar. Entahlah, apakah ini perasaan saya saja atau bagaimana, tapi cowok-cowok di Macaroon Love ini terkesan cerewet, wkwkwk. Tapiiii...saya pun merasai (dan mengakui) bahwa karakter mereka tak kalah kuatnya dengan Magali. Warna novel ini menjadi bersemburat menarik dengan hadirnya tokoh-tokoh itu. Hanya saja, di mata saya, Magali terlalu ‘bersinar’ di novel ini sehingga saya gagal mengalihkan pandangan dari sosoknya, bahkan untuk sekadar mengerling tokoh yang lain. Hahaha, parah nih.

Dari segi plot. Well, saya tak bisa bilang ini hal baru. Saya pernah baca novel romance bertema sama, dengan plot yang hampir sama pula berjudul No Dinner Date karya Intan Lui B. Dalam novel itu, sang tokoh utamanya (yang juga perempuan) sama-sama memiliki profesi sebagai food writer. Bedanya di novel No Dinner Date, tokoh utamanya menjadi wartawan tetap kalau tak salah, sedangkan Magali masih freelancer di Macaroon Love. Hal lain yang hampir mirip adalah letupan romance hadir di sela-sela si tokoh utama mengerjakan tugasnya. Tapiii, untungnya (bagi saya) dua novel ini sama bagusnya. Saya tak berniat membandingkan terlampau jauh, tapi buat siapa pun yang menyukai tema seperti ini tak ada salahnya jika ingin membaca yang karya Intan Lui B. itu juga. 


Hal lain yang sempat membuat saya kurang sreg adalah latar belakang kehidupan para tokohnya yang agak gloomy dan berpotensi banjir air mata bak adegan sinetron. Dan, sekali lagi, semakin jauh membaca saya semakin paham mengapa background-nya dibuat demikian. Saya justru merasa aneh ketika satu lagi kejadian suram yang dialami para tokohnya yang membawa konflik pada puncaknya kok malah agak datar dan kurang gelap. Hahaha, dasar ababil saya ini!

Secara keseluruhan saya menyukai novel ini. Hmmm, ending-nya manis meski terkesan ‘agak’ dipaksakan, tapi saya merasa cukup puas dengan bagaimana mbak Winda mengakhiri kisah ini. Begitu pun dengan segala sesuatunya tentang novel ini. Terutama untuk perjuangan mbak Winda dalam melakukan riset ketika menyelesaikan buku ini, termasuk dengan berkomunikasi langsung dengan pemilik restoran Suguhan Magali yang sesungguhnya. Yap, restoran tersebut memang benar-benar ada di Jakarta ini, tepatnya di Jalan Fatmawati. Begitu pun pada tokoh yang lain, Magali, Jodhi, dan Nene juga adalah hasil pengamatan mbak Winda pada beberapa teman dan kenalannya. Salute to the max deh buat usaha mbak Winda ini. Luar biasa, menurut saya sih.

gambar dari sini: www.id.openrice.com

Pada akhirnya, 3,5 bintang saya berikan pada novel ini. Saya rekomendasikan untuk pencinta romance yang ingin mencari sensasi romantisme yang berbeda, untuk mencicipi hidangan mbak Winda dalam Macaroon Love ini.


Nah, sangking senangnya saya pada novel ini, saya ingin menyelenggarakan giveaway berhadiah novel ini buat kalian. Berikut cara ikutan giveaway-nya.
1.       Giveaway diadakan di blog ini.
2.       Silakan jawab pertanyaan ini, “Jika kamu bisa memasak, masakan apa yang akan kamu buatkan secara spesial buat pasanganmu? Berikan alasannya ya.”
3.       Tinggalkan identitas kamu di akhir komentar, boleh alamat email, dan lebih baik jika akun twitter yang mudah di-mention.
4.       Periode giveaway: 27 – 28 Mei 2013, dan pemenang diumumkan tanggal 29 Mei 2013.

Good luck and keep reading, tweemans.