Showing posts with label Dyah Rinni. Show all posts
Showing posts with label Dyah Rinni. Show all posts

Monday, April 29, 2019

[Resensi Novel Romance] Asa Ayuni by Dyah Rinni: sejumput cinta penuh drama


First line:
Ayuni Safira bangun pada jam empat pagi dengan dua prioritas utama: reuni nanti siang dan bagaimana membuat Poppy, teman sekaligus musuh yang pasti datang,
mengagumi rumah dan kue buatannya.

---hlm.1, Bab 1 - Reuni

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Di salah satu bloknya, ada sebuah rumah, yang kalau kau masuk ke dalamnya akan merasakan nuansa paduan klasik dan modern. Desainnya tampak chic, dan bantal pink elektrik di atas sofa cokelat akan membuatmu betah di sana.

Seorang perempuan yang pandai membuat kue tradisional akan menjadi teman mengobrolmu. Dia punya toko kue tak jauh dari rumahnya. Dia sedang berduka, baru saja kehilangan suaminya. Ada getir terpancar dari matanya. Namun, dia amat terlihat berusaha tegar. Perempuan itu Ayuni. Perempuan manja yang sedang berpura-pura tangguh demi memupuk asanya yang baru saja hancur.

Judul: Asa Ayuni
Pengarang: Dyah Rinni
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Falcon Publishing
Tebal: 236 hlm
Rilis: Desember 2016
My rating: 3 out of 5 star

Sejujurnya, saya sudah kepingin baca Asa Ayuni sejak bundel seri Blue Valley dirilis oleh penerbit Falcon Publishing pada Desember 2016/Januari 2017 silam. Namun, karena satu dan lain hal, keinginan itu tertunda terus dan terus, hingga hampir saja ikhlas untuk merelakan tak membaca Asa Ayuni. Barulah awal Maret 2019 lalu, ketika gelaran Big Bad Wolf kembali menyambangi Jakarta, emmm... BSD lebih tepatnya, keinginan itu muncul lagi demi melihat Asa Ayuni ada di tumpukan buku obral bagian novel Indonesia, hanya dibanderol Rp15.500 dari harga resminya Rp72.000. Oke, nggak perlu mikir lagi: COMOT!

gambar dari sini: falconpublishing.co.id

Well, tapi dibacanya pun enggak langsung, hehehe. Baru kelar kemarin (27/04) sejak dimulai hari Kamis (25/04). Saya suka cara menulis Dyah Rinni, ittulah mengapa dari lima buku di seri Blue Valley, saya paling-paling kepinginan dibaca ya Asa Ayuni. Dari Marginalia, lalu lanjut Beautiful Liar, dan Mermaid Fountain, saya terpuaskan oleh diksi Dyah yang sederhana, tapi tak biasa dan penuh makna. Maksudnya, tiap kata pembentuk kalimat rekaannya ditulis dengan niat dan tujuan, sehingga sayang untuk di-skimming dan maunya dirunut satu per satu.

Begitupun dengan departemen karakterisasinya. Saya menyukai tokoh-tokoh yang dihidupkan Dyah di ketiga bukunya yang sudah saya baca sebelum Asa Ayuni, terutama di Marginalia. Well, so far sih, Marginalia is my most favorite dari karya-karya Dyah.

Sayang sekali, kedua kesukaan saya itu, kali ini kurang berhasil di Asa Ayuni. Saya tak bilang gaya menulis Dyah berubah, hanya saja diksinya yang sudah baik, kurang bisa diimbangi dengan pace serta jalinan adegan pembentuk ceritanya. Entah bagaimana, saya merasa banyak bagian yang tidak tertambal dengan sempurna, berasa lompat-lompat. Don't get me wrong, pace ceritanya terbilang cepat, konflik dan subkonflik tersusun bertumpukan dan berkejaran satu demi satu, tapi justru bikin saya frustrasi. Ini kisah cinta kecil yang penuh drama.

Dalam halaman ucapan terima kasih, Dyah menulis:
Barangkali kedengarannya klise, tetapi bagi saya, Asa Ayuni adalah tantangan terberat di dalam karier menulis saya.... dst... dst...
...setelah dua setengah bulan menulis, lebih dari 60.000 kata yang diketik dan separuh naskah yang dibabat habis, novel ini bisa hadir... dst... dst...
Saya tak bisa memastikan, tentu saja, cuman saya jadi berasumsi mungkin awalnya tulisan cukup berkesinambungan, tapi dengan beragam pertimbangan, harus dipotong di sana-sini.

FYI, Asa Ayuni menyajikan tokoh utama Ayuni Safira dan Elang Tejawijaya, yang awalnya selayaknya kutub utara-selatan yang tak mungkin bisa berkaitan, hingga karena suatu sebab mereka akhirnya dipertemukan. Naskah diceritakan menggunakan PoV orang ketiga dengan angle kamera pada satu-beberapa bab difokuskan pada Ayuni dan terkadang difokuskan pada Elang, hingga pembaca diberikan gambaran secara gamblang pada karakter masing-masing, termasuk subplot-subkonflik yang dimiliki oleh kedua tokoh.

Di situlah, saya gagal dipuaskan. Drama-drama yang mengejar Ayuni dan Elang terlampau dramatis, tapi kurang digali. Beberapa karakter juga tampil serba hitam-putih, misalnya Poppy. Menurut saya, people change, dan kalaupun tak berubah sesuai harapan kita, tetap saja tak sama dengan mereka di masa lalu. Dan, saya tak diberikan penjelasan yang cukup mengapa Poppy begitu memusuhi Ayuni dan mengapa Ayuni begitu ingin mengalahkan Poppy. Hal serupa terjadi pada saat Ayuni menghadapi Laras. Sikap frontal Ayuni agak kurang pas saja. Apa sih yang pernah dialami Ayuni dulu sehingga kadang dia bisa menjadi teman yang menyenangkan, tapi kadang juga gampang emosian dan cenderung suka main kekerasan? Bagi saya, tak cukup alasan untuk membentuk pribadinya.

Asa Ayuni juga menghadirkan banyak sekali kebetulan yang janggal. Ayuni anak tunggal? Elang anak tunggal? Satria anak tunggal? Ayuni dan Satria juga hanya punya anak tunggal? Zetro anak tunggal?


via GIPHY

Bukan bermaksud spoiler, tapi Elang ini sudah merintis sebagai manajer berpengalaman hingga ke Australia, mestinya sudah punya banyak relasi di bidang yang digelutinya kan, ya? Dan, Gulaloka milik Ayuni ini "hanya" sebuah toko kue yang tidak digambarkan super terkenal, dari lowongan kerja manakah Elang mendapatkannya? Oke, di halaman 100, disebutkan: Elang menekan logo browser di ponselnya dan mulai mencari lowongan pekerjaan. Lalu di halaman selanjutnya, Elang sudah datang ke Gulaloka untuk menjalani sesi wawancara kerja tanpa diberikan penjelasan yang cukup, kenapa dia memilih melamar kerja ke Gulaloka. Hmmm.


via GIPHY

Akhirnya saya melanggar janji sendiri, banyak bagian yang saya skip, karena tak sabar menunju akhir cerita. Dan, ya, ujung konlik berbeda dari tebakan saya dan cukup masuk akal sebagai pengakhiran beragam drama yang melanda Ayuni. Tak begitu memuaskan, tapi oke-lah.

Topik bahasan:
1. Office-romance
2. Cinta segitiga
3. Tema: kuliner - pastry
4. Single parent
5. Anak berkebutuhan khusus; Asperger Syndrome
6. Setting lokasi: Jakarta - Sydney
7. Drama keluarga; parenthood

End line:
"Namun, kelak, jika saatnya tiba, Elang berharap, sungguh-sungguh berharap, Ayuni membukakan pintu hati hanya untuknya.
---hlm.232, Bab 24 - Asa

Wednesday, October 1, 2014

[Resensi Novel Remaja] Beautiful Liar by Dyah Rinni


Cantik-cantik, kok, suka nipu...
Sebagian besar manusia mengambil keputusan berdasarkan emosi, begitu ayahku berkata. Jika semua orang mengambil keputusan berdasarkan logika, tidak akan ada orang yang tertipu.

Jadi, aku mempermainkan pikiran teman-temanku dan mengambil uang, bahkan apa pun, yang mereka miliki.
Kau tak akan menyangka betapa mudah membuat mereka memercayaiku.
Mereka benar-benar polos. Aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan tanpa kesulitan dan keberhasilan ini patut dirayakan.

Namun, kali ini, mengapa seperti ada yang mengganggu nuraniku, menyuruhku berhenti, lalu berbalik arah?

Seorang penipu sepertiku tak akan bisa terbawa emosi. Tidak akan, meski ada "badai" memorak-porandakan hatiku sekalipun.

Judul: Beautiful Liar
Pengarang: Dyah Rinni
Editor: Jia Effendie
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Pewajah sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 294 hlm
Harga: Rp55.000
Rilis: Agustus 2014
ISBN: 9789797807399

7 Deadly Sins merupakan salah satu serial kreatif dari banyaknya ide kreatif yang dicetuskan oleh Gagas Media. Penjaringan naskah dilakukan melalui lomba penulisan novel dengan tema tujuh dosa mematikan itu. Dari yang saya tangkap, peserta lomba diwajibkan untuk membangun cerita novel dengan menghadirkan tokoh yang menunjukkan satu (yang menonjol) atau lebih sifat-sifat dari Tujuh Dosa Mematikan. Seperti halnya ditulis di kover belakang novel-novelnya:


Beautiful Liar menjadi buku yang pertama terbit dari tujuh buku yang direncanakan, sesuai dengan jumlah dosa dari 7 Deadly Sins. Merujuk pada tingkat dosanya, novel karya Dyah Rinni ini menonjolkan dosa keserakahan (greed) yang dipadu dengan kerakusan (gluttony) serta dibumbui amarah (wrath) dan iri hati (envy) yang cukup tinggi. Dan, benar saja, dari beberapa tokoh yang dihidupkan di novel ini, dosa-dosa itu memang dieksplorasi dengan sangat bagus oleh pengarangnya.

Bagi pembaca seperti saya, dengan adanya pakem bahwa tokoh mesti menonjol dari segi karakter, maka cerita tak akan melenceng jauh karena plot harus dijaga agar tetap menggambarkan dosa mematikan tersebut. Hal tersebut semestinya memudahkan bagi pengarang untuk tak liar mengembangkan cerita supaya tidak kehilangan imej "pendosa" dari karakter yang dihidupkannya.


Dyah Rinni cukup sukses menghadirkan tokoh Lunetta, gadis usia SMA yang terpaksa terpisah dari sang ayah yang menjadi panutan hidupnya selama ini untuk hidup serba teratur di rumah mama dan ayah tirinya yang dirasanya tak ubahnya bak dipenjara. Lulu --panggilan Lunetta-- tak lagi sebebas sebelumnya. Jiwa petualang agak menyerempet kriminal yang diturunkan ayahnya memerlukan pelampiasan. Nah, dari sinilah Dyah Rinni mengembangkan karakter Lulu dan orang-orang di sekitarnya dengan cukup baik serta konflik yang terjaga rapi dari dosa-dosa yang sudah dipilih dan ditetapkan untuk digali lebih dalam.

Jika kamu tak lagi duduk di bangku SMA, maka membaca novel ini pasti akan dengan mudah membuatmu bernostalgia dengan suasana masa putih abu-abu dahulu, atau juga tidak, karena tentu ada benturan budaya antara masa lalu dengan masa kini, kan? Nah, buat yang masih SMA apalagi di SMA elite di kota besar, mungkin dengan mudah merasuk ke setting-nya. Secara pribadi, saya menilai setting lokasinya agak unik menjurus awkward, sih, ya dengan SMA Soulja (South Jakarta Olympia High School) ini, di mana nama-nama tempat (kelas, kantin, ruang guru, ruang olahraga, kolam renang, dsb) diberikan nama dewa-dewi dari mitologi Yunani.


Keunikan lain dari novel ini adalah selipan dongeng lokal Si Kancil yang terkenal cerdas, meski sebenarrnya si kancil memiliki sifat negatif yaitu: licik. Dalam satu kesempatan siaran bareng di radio Pelita Kasih (27/9) Dyah mengungkapkan bahwa salah satu alasannya menyelipkan dongeng adalah karena dia memang menyukai dongeng. Bahkan, pada naskahnya yang berikutnya dia pun akan kembali menyelipkan dongeng di dalamnya.

Pada dasarnya Beautiful Liar adalah cerita romance remaja, jadi unsur cinta-cntaan, saling memperebutkan gebetan, adegan kucing-anjing, hingga sahabat jadi cinta semua ada di sini. Subplot yang disiapkan juga cukup pas meskipun beberapa terkesan tempelan, begitu kelar ya sudah, dilupakan begitu saja. Dalam artian tak memberikan pengaruh yang signifikan untuk pembangunan karakter dan konflik utama.

Sayang sekali, sepertinya buku ini memang bukan buat saya. Dari sejak lembaran awal saya sering dibuat mengernyitkan dahi karena guntingan proses editing yang kurang mulus. Proses membaca saya menjadi sering macet karena bertabrakan dengan hal-hal teknis macam itu. Contohnya:
Tanpa peduli pada nasib si gelas plastik, kepadanya meneruskan pembicaraannya. (hlm.2) 
Enggak mudheng
Setidaknya, itu akan memberikannya pelajaran kepadanya agar tidak belagu. (hlm.10) 
Kebanyakan partikel -nya kayaknya, sih.
Lunetta lebih merasa tempat itu lebih mirip kuil Yunani daripada sekolah...(hlm.35) 
Kebanyakan kata lebih.
Kalau dia adalah pemandu wisata, ia pasti akan segera menjadi favorit para turis. (hlm.38) 
"Dia" dan "ia" tidak konsisten BAHKAN di dalam satu kalimat pendek begitu.
Kayak nggak ada cewek lain aja di dunia ini aja. (hlm.51)
Kelebihan kata "aja". 

Dan... masih buanyaaakkk lagi yang seperti itu hingga akhir buku, ditambah beberapa typo di sana-sini. Buat saya, itu bikin capek. Dan, membuat saya dengan ringan membuang satu bintang untuk buku ini. Saya saja kayaknya, sih. Ini sudah seperti penyakit kronis yang susah diobati. Enggak pas sedikit saja, mood membaca langsung drop.

Hal lain yang membuat saya membuang satu bintang lagi adalah beberapa hal yang saya tanyakan "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" bukan dengan nada penasaran tapi nada mempertanyakan. Mulai dari adegan klise hari pertama masuk sekolah, karakter Miss Nadine dan Heinri Sensei dan Bu Widhie yang tebak-able banget (kecuali twist di ending-nya), serta pertanyaan mengapa level tipuan yang dilancarkan Lulu selalu berakhir dengan kegagalan, padahal sejak mula dia digambarkan memiliki kemampuan menipu yang sudah cukup canggih. Saya sempat berharap satu atau dua trik Lulu yang berhasil, nyatanya enggak.

Persoalan karakter, sejatinya tokoh Lulu tetaplah misterius bagi saya. Dalam arti kurang bagus. Maksudnya... saya tidak bisa 100% terhubung dengan Lulu karena tak banyak penjelasan tentang apa alasan paling mendasar Lulu bersikap seperti itu. Kalau hanya dengan alasan yang menyangkut ayahnya, saya rasa itu tetap kurang kuat untuk membenarkan pewatakan Lulu. Pun, flashback yang dibuat tak banyak membantu mencitrakan Lulu secara utuh. Oke, Lulu suka nipu karena ikut ajaran ayahnya, tapi tak ada bukti-bukti yang memperkuatnya selain wejangan-wejangan saja. Saya butuh diyakinkan soal gangguan psikologis yang dialami Lulu sehingga dia begitu terobsesi menjadi seperti ayahnya. Saya tak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu selama proses membaca hingga lembar terakhir novel ini.

Overall, lumayan, meski tak benar-benar outstanding, namun penggambaran dosa-dosanya cukup eksploratif. Sayang memang, beberapa bagian kurang tersunting dengan rapi sehingga merusak mood membaca. Sangat berharap, apabila nantinya cetak ulang, agar bisa dipertimbangkan untuk merapikannya kembali. 

Catatan: rekaman siaran bersama Dyah Rinni bisa disimak di akun chirbit Klub Siaran GRI di sini.


Check this out on Chirbit

Selamat membaca, tweemans. Oiya, sambil membaca buku ini, bisa juga mendengarkan lagu Beautiful Liar dari Beyonce featuring Shakira berikut. Enggak ada kaitannya, sih, hanya ada eksamaan judul belaka, hehehe.



My rating: 3 out of  5 star.