Sunday, May 26, 2013

[The Sunday Post] Ngemsi, Nonton Pintu Harmonika, dan Siap-siap #BanjirGiveaway


The Sunday Post (*) adalah sebuah rangkuman beberapa hal yang berhubungan dengan buku yang saya lakukan sepanjang Minggu, semacam recap begitu.


Minggu ini sebenarnya minggu menyenangkan, dan seharusnya saya bisa lebih produktif dalam melakukan apa pun, termasuk membaca dan mereviu, namun keinginan tinggallah keinginan. Dua minggu ini saya ditugaskan (kantor) untuk mengikuti sebuah diklat di luar kantor, dengan jadwal berangkat dan pulang yang sedikit lebih longgar. Nyatanya, kelonggaran itu malah membuat saya lebih asyik malas-malasan, hahaha. As usual.

Well, tapi saya tetap bersyukur bisa melewati minggu ini dengan beberapa kegiatan seru. Jadi, saya ngga manyun-manyun amat menjalani hari. Berikut recap dari kegiatan yang saya lakukan.

1.  Menulis artikel WOW-moment pertama. Yayyy...saya happy banget ketika selesai meluncurkan artikel itu kemarin. Obsesi saya menjadi jurnalis bertahun-tahun silam, mungkin memang sudah sulit saya wujudkan. Namun, saya bertekad memanfaatkan ruang dan waktu *ehem* untuk tetap bisa merasai bagaimana sih membuat sebuah artikel yang mirip dengan artikel jurnalistik. Well, saya masih terus belajar sih. Artikelnya ada di sini: WOW-moment: Produktif Atau Kejar Setoran?

2.  Menulis reviu dan menyelenggarakan giveaway novel #CamarBiru karya Nilam Suri. Belakangan saya sedang kecanduan membaca novel-novel romance terbitan Gagas Media dikarenakan belum ada novel metropop baru yang diterbitkan Gramedia. Dan, Camar Biru menjadi salah satu novel terbitan Gagas Media yang saya rekomendasikan untuk dibaca buat pencinta romance yang belum membacanya. Resensi saya ada di sini: Resensi Novel Camar Biru by Nilam Suri + Giveaway.




3. Ngemsi dan memoderatori bedah buku Macaroon Love karya Winda Krisnadefa di Plaza Festival Kuningan Jakarta. Ini untuk kali kedua saya diminta oleh Penerbit Mizan untuk menjadi MC dalam peluncuran novel-novel romance dari lini Qanita yang merupakan pemenang dan finalis Lomba Penulisan Qanita Romance 2012/2013. Setelah yang pertama dulu membahas 3 novel juara utama dengan menghadirkan pembicara penulis dan jurinya, kali ini khusus menghadirkan mbak Winda Krisnadefa untuk membedah novelnya secara mendalam. Oiya, novelnya sendiri keren lohh...saya pun merekomendasikan buat pencinta romance untuk ikut menikmati aliran kehidupan Magali yang demikian kuat karakternya itu di novel Macaroon Love ini.



4.  Nonton Pintu Harmonika. Hmm, berhubung tetiba saya bingung nggak tau mau ngapain sehabis mampir sejenak di talk show kumpulan cerpen Lovandah by Asmirandah di Plaza Festival Kuningan, Minggu 26 Mei 2013, akhirnya saya putuskan untuk menonton film omnibus yang bukunya ditulis oleh Clara Ng dan Icha Rachmanti yang sudah terbit sejak beberapa bulan lalu yaitu Pintu Harmonika. Hmm, saya tak berekspektasi apa pun mengingat saya pun belum membaca bukunya, dan hanya sempat melihat trailer-nya saja.



Overall, filmnya menarik, meskipun untuk bagian pertama yang berjudul "Otot" yang disutradari Ilya Sigma masih agak nanggung dan cenderung absurd buat saya. Entahlah, saya berharap akting mereka lebih cihuy lagi. Beberapa tokoh utamanya kaku, dan selipan musikal di bagian ini malah mengganggu. Padahal pokok ceritanya sendiri oke, dan sangat relate untuk abege masa sekarang. Bagian ketiga bertajuk "Piano" yang disutradari Sigi Wimala adalah bagian yang paling menipu saya. Awalnya saya sudah ilfil dengan kekakuan tokoh utamanya, tapi twist di separuh ceritanya membuat saya syok dan mampu memahami mengapa akting tokohnya begitu. Saya pikir kekakuannya karena memang aktrisnya yang kaku, ternyata bukan. Benar-benar surprise deh nonton bagian ini.

gambar dari sini: www.sidomi.com


Favorit saya sih bagian kedua, berjudul "Skors" yang disutradarai oleh Luna Maya. WOW banget Luna Maya berhasil men-direct bagian ini. Okay, buat saya yang membuat bagian kedua ini lebih mudah diterima otak saya adalah karena ceritanya yang light dan akting beberapa aktor-aktrisnya yang menawan. Meskipun saya sempat mengernyit kecewa melihat akting Barry Prima, tapi lama kelamaan saya pun memaklumi kenapa aktingnya begitu. My favorite.

Secara keseluruhan, Pintu Harmonika menghadirkan kisah menakjubkan tentang hubungan orangtua dan anak. Liku-liku keseharian mereka disatukan dalam satu lokasi. Ketiga cerita berasal dari tiga keluarga yang mendiami suatu ruko dengan konflik masing-masing. Temukan konfliknya dengan menonton filmnya ya. 3,5 bintang untuk film ini deh. Dan, Ya Tuhan. Sepanjang film saya mencari-cari, mana sih ini harmonikanyaaaa? Eternyata, Pintu Harmonika itu pintu geser baja ini tohh? Hihihihi.... *toyor-pala-sendiri*

gambar dari sini: http://karyastore.blogspot.com


5.  Belanja buku sembari window shopping. Menimbun lagiiiii...hahaha, sepertinya tidak ada minggu tanpa belanja buku yaa....hadeeeuuhhh, pengen beli gembok dompet deh biar saya gak boros-boros terus dengan belanja buku. Soalnya, saya menimbun mulu, bacanya seminggu cuman satu buku. Duh!


Nahhhh, ituhhhh, sekuel buku biru nan fenomenal beberapa tahun silam. Daripada saya penasaran dan hanya menebak-nebak bagaimana perkembangan kepenulisannya. Well, sudah saya niatkan, saya ingin melihat progress-nya dibanding buku pertama. Setelah mendapat saran dan kritikan apakah penulisnya menerima atau tidak. Itu adalah tujuan saya membeli dan (berencana) membaca novel ini.

6.  Siaran bareng #KlubSiaranGRI. Well, setelah hampir setengah tahun tidak lagi ikut mengudara di siaran radio bareng teman-teman komunitas Goodreads Indonesia, saya kangen cuap-cuap lagi, hahaha. Dan, beruntung saya masih diterima untuk bergabung kembali dengan #KlubSiaranGRI. Thankyou, tweemans.

7.  Persiapan #BanjirGiveaway untuk minggu depan. Sebagaimana telah saya tweet beberapa waktu kemarin, saya berencana menyelenggarakan beberapa giveaway secara berurutan selama satu minggu nanti (27-31 Mei 2013). Berikut adalah buku-buku yang akan menjadi hadiah giveaway-nya:

a.  Macaroon Love by Winda Krisnadefa (Senin)


b.  Restart y Nina Ardianti (Selasa)


c.  Mahogany Hills by Tia Widiana (Rabu)


d.  Perfect Chemistry by Simone Elkeles, diterjemahkan oleh Angelic Zaizai (Kamis)


e.  Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh by Dee (Jumat)




f.  CoupL(ov)e by Rhein Fathia (Sabtu)


Baiklah, itu tadi beberapa hal yang menjadi materi The Sunday Post hari ini. 
Selamat membaca, kawan!
 
 
*) The Sunday Post (including the logo) adalah sebuah surat kabar terbitan Inggris.

Friday, May 24, 2013

[WOW-moment] Produktif Atau Kejar Setoran?


WOW-moment adalah satu waktu ketika saya mendapati hal-hal yang menurut saya fenomenal yang membuat mulut saya ternganga takjub dan berkali-kali membisikkan kata WOW, baik secara langsung maupun sekadar dalam hati.

Saya sudah mengalami WOW-moment yang satu ini sejak lama. Well, tidak lama-lama juga sih. Yang paling saya ingat adalah ketika tetiba nama Damien Dematra menyeruak di banyak sampul buku yang bertebaran di rak buku new arrival di toko buku. Ketika pengarang lain sepertinya butuh waktu lama untuk bisa menampakkan namanya di sampul buku terbaru, Damien Dematra hanya butuh ‘sekejap’ saja untuk bisa punya buku baru lagi. Oh, ini hanya ibarat saja karena saat booming Damien Dematra saya hanya ter-WOW dan tak sempat melakukan pengamatan yang lebih mendetail.

Contoh lain yang saya dapatkan lebih banyak diisi nama-nama pengarang baru dari penerbit yang ‘kedengarannya’ juga masih baru. Meskipun, si pengarang ini tampaknya juga punya satu-dua buku yang diterbitkan oleh penerbit besar yang sudah populer.

Belakangan saya terkagum-kagum dengan beberapa nama ini: Riawani Elyta, Orizuka, Aditia Yudis, Yoana Dianika, Indah Hanaco, Monica Petra, Clara Canceriana, dan beberapa nama lain yang mendadak seolah menyerbu toko buku dan hendak ‘menguasai’nya. Maka, beberapa pertanyaan mengusik benak saya. Ada apa sebenarnya? Mengapa pengarang-pengarang tersebut begitu gencar menerbitkan karya-karyanya? Memang produktif ataukah sekadar kejar setoran? Apakah mereka tidak takut popularitas mereka akan surut karena karyanya sudah telanjur dilempar dan mereka tak punya lagi karya menggigit yang bisa ditawarkan di waktu mendatang?

Nah, apakah kamu pernah juga merasai WOW-moment yang seperti ini? Kening mengerut dan pikiran mulai berkecamuk diserbu dilema, “Siapa sih ini? Beli nggak, ya? Tapi, aku belum pernah baca novel-novel dia? Bagus nggak, ya, tulisannya?”

Beruntung saya bisa melakukan konfirmasi atas segala tanya yang berputar-putar di benak saya itu, meskipun hanya pada satu pengarang saja, pun melalui media surat elektronik, bukan wawancara langsung. Namun, ini akan menjadi side view yang bagus buat saya, khususnya. Dan, agar kawan pembaca semua yang juga ter-WOW pada fenomena ini bisa sedikit mempunyai gambaran.

Indah Hanacomenjadi nama fenomenal bagi saya. Setidaknya setiap kali saya window shoppingke toko buku. Pernah dalam satu waktu, saya melihat nama Indah ter-display di empat buku berbeda, di rak yang sama. Kalau nggak rak best-seller ya rak new arrival. Saya jelas-jelas merasa terkena sindrom meragu (ohiya, salah satu novel Indah berjudul Meragu, mungkin saya bisa mulai membaca karya Indah dari novel ini, untuk menguji tingkat keraguan saya). Ragu akan banyak hal. Hey, kalau saya sedang menderita sindrom meragu, tidak serta-merta saya menuduh si pengarang buku itu memiliki kemampuan yang meragukan, ya? Tidak. Saya tidak pernah langsung merasa begitu. Ini lebih ke diri saya sendiri. Tentang selera saya.

Hal pertama yang saya tanyakan pada Indah adalah, “Apakah ia memang sudah memiliki banyak stok naskah atau ia terbilang cepat dalam menulis sebuah novel?
Saya malah tidak pernah punya stok naskah. Jika sebuah novel sudah kelar ditulis, biasanya langsung dikirim ke penerbit,” jawab Indah tegas di dalam email balasan yang dikirimkannya. 

Indah menjelaskan bahwa ia pengarang yang menggunakan outline atau draft kasar yang akan ia sodorkan pada editor yang mengontaknya. Jika sang editor menyukainya, barulah Indah mengerjakan pengarangan novelnya. Sampai di sini saya berdecak kagum. Bagaimana dengan deadline? Apakah Indah tak takut ‘gagal’ mengembangkan outline sehingga gagal pula memenuhi target dari editor itu? Indah menjelaskan, outline membantunya menulis dengan lebih cepat. Oleh karenanya, ia selalu berusaha untuk membuat satu outline yang lengkap, termasuk detail apa yang dia inginkan di bab tertentu. Meski kadang ada sedikit perubahan, hal itu menghemat banyak waktu.

Secara umum, rata-rata Indah biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulanan untuk menyelesaikan satu buah novel. Dan, dari beberapa novelnya yang sudah terbit, Indah menyebutkan bahwa “Meragu” adalah novel yang membutuhkan waktu pengarangan terlama. Novel itu baru selesai sekitar dua tahun. Entah mengapa pada satu titik Indah tiba-tiba merasa tidak bisa melanjutkan. Akhirnya ia biarkan dulu, padahal saat itu novel sudah 80% rampung. Indah mengalihkan fokus ke naskah-naskah lain hingga Meragu terlupakan. Sampai akhir tahun 2012 lalu ia memaksakan diri untuk menyelesaikannya dan mengirimkannya ke penerbit.

Kemudian, satu pertanyaan lain menyambung pertanyaan pertama saya, mengingat novel-novel Indah terbit hampir berdekatan dan ia menyebutkan hanya perlu satu bulanan untuk menyelesaikan naskah, apakah Indah tidak melakukan riset untuk memperkuat naskahnya?
Untuk hal di luar pengetahuan saya, riset adalah keharusan. Namun yang pasti, saya tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama untuk riset. Kenapa? Karena saya sangat menghargai waktu. Jadi, saya berusaha memanfaatkan waktu seefisien mungkin,” Indah menerangkan.

Yang jelas, dalam melakukan riset ia berusaha keras memiliki sumber yang valid. Tak hanya sekadar berselancar di internet, ia juga membeli buku-buku yang berkaitan dengan tema yang ingin dipelajari. Juga bertanya pada teman yang memiliki pengalaman. Sampai saat ini, buku-buku yang dibaca anak-anaknya justru memberi bantuan luar biasa dalam pengarangan beberapa novelnya. Indah adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua buah hati yang menggemaskan. Indah mengaku belum pernah melakukan riset yang menyusahkan. Mungkin karena ia terbiasa berusaha menulis apa yang dekat dengan kehidupannya, atau minimal mempunyai sedikit pengetahuan tentang tema itu.

Berbicara soal anak (dan keluarganya), bagaimana dengan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus ibu?
 
Indah bercerita bahwa kedua buah hatinya sudah cukup besar dan mandiri, jadi ia tinggal mengawasi. Si sulung misalnya, sudah tak perlu diingatkan tentang jadwal hariannya yang cukup padat. Si bungsu yang baru berusia 6 tahun pun selalu mengerjakan PR tanpa harus disuruh. Kebetulan Indah juga mempekerjakan asisten rumah tangga, sehingga pekerjaan rumah tangga tak pernah membebani. Meski begitu, Indah masih tetap memasak dan memastikan kebutuhan seisi rumah terpenuhi.
“Saya pasti bukan ibu yang sempurna, tapi saya tahu apa yang diinginkan atau dibutuhkan anak-anak dan suami,” sambungnya.

Kalau begitu, berarti keluarga sangat mendukung kegiatan kepengarangan Indah?

Indah mengakui bahwa keluarganya sangat mendukung kegiatan kepengarangannya. Kebetulan, ia bukan tipe orang yang bisa bekerja kantoran, menjadi Penulis memang profesi idamannya. Lalu Indah sedikit curcol tentang pengalaman bekerjanya. Ia pernah bekerja menjadi bankir. Setelah menikah dan pindah dari Medan, Indah pernah bekerja di sebuah hotel di Cipanas. Begitu punya anak, ia ternyata berubah menjadi seorang pencemas. Dalam sehari bisa menelepon puluhan kali hanya untuk memastikan apakah anaknya makan dengan baik, tidur dengan cukup, rewel atau tidak, bla bla bla. Hingga akhirnya Indah memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

Indah merasa sungguh beruntung bahwa suaminya adalah orang yang sangat pengertian. Suami mendukung semua keputusan yang Indah ambil dalam hidup ini. Dia memercayai penilaian Indah dan menghormati keinginannya. Kemudian Indah berseloroh tentang suaminya, 
“Satu-satunya larangannya adalah saat saya ingin menindik hidung.”

Saya tertawa kecil demi mendapati jawaban Indah itu. Satu keharuan bercampur kebanggaan dan kekaguman terbetik dalam benak saya, ketika Indah menyebut, 
“Suamilah yang mendorong saya untuk terus menulis. Anak-anak pun sama. Anak saya tidak pernah rewel saat melihat saya mengetik berjam-jam. Bahkan kalau saya tidak menulis, mereka akan protes.”
 
Di sini saya benar-benar diliputi rasa hangat dan segera memanjatkan doa semoga Indah dan keluarga diberikan kesehatan dan kebaikan setiap harinya. Amiin. Such a wonderful family.

Kembali ke topik utama kita, soal buku yang terbit berdekatan, apa keuntungan dan/atau kerugian dari terbitnya beberapa novel dalam waktu yang berdekatan? Bagaimana cara mempromosikan masing-masing bukunya, apalagi jika penerbitnya berbeda?

Indah tidak pernah memikirkan secara khusus tentang keuntungan atau kerugian dari penerbitan novel-novelnya dalam waktu yang hampir berdekatan itu. Tak dimungkirinya, sempat timbul kekhawatiran juga di hatinya. Cemas dianggap kemaruk atau sekadar kejar setoran. Bahkan gara-gara ini ia pernah disindir-sindir pengarang lain di akun jejaring sosial. Sedih sebenarnya, dipojokkan hanya karena beberapa bukunya terbit dalam waktu nyaris bersamaan.
 “Boleh curcol dikit, ya? Bulan April 2013 ada 8 buku saya yang terbit. Empat buah buku stiker anak, 2 buah novel, 1 buku rumus matematika, dan 1 buku kumpulan kisah inspiratif. Semuanya saya kerjakan dalam waktu berbeda. Ada yang dikirim ke penerbit sejak akhir 2011, awal 2012, pertengahan tahun 2012, akhir tahun 2012, hingga awal tahun 2013. Ketika semuanya terbit di bulan yang sama, saya bisa apa? Orang tidak pernah tahu bahwa di balik itu semua ada kerja keras yang menyertainya. Saya harus memangkas jam tidur selama setengah tahun terakhir. Tidur 8 jam adalah suatu kemewahan bagi saya saat ini. Tapi, apakah saya merasa tersiksa? Tidak, kok. Saya malah bahagia karena menulis memang pekerjaan yang paling saya cintai.

“Lagipula, saya sehari-hari tidak bekerja kantoran. Tidak berbisnis juga. Saya cuma menulis. Kalau tiap bulan saya bisa menyelesaikan minimal satu buah novel, itu bukan sesuatu yang hebat. Biasa saja.
“Kadang, kenyinyiran rekan seprofesi yang justru mengganggu. Tapi sudahlah, saya toh tidak bisa memuaskan semua orang. Dan memang tak berniat melakukan itu. Yang penting, pembaca saya merasa bahagia, itu fokusnya. Mereka malah tidak protes dengan munculnya novel saya dalam waktu nyaris bersamaan. Saya justru terharu tiap ada yang memberi kesan-kesan atas novel saya.

“Saya tidak pintar berpromosi, tapi saya usahakan untuk rutin “jualan” di akun jejaring sosial. Saya mencintai semua buku saya, apalagi belakangan banyak yang terbit berdekatan. Saya juga menghargai semua penerbit yang sudah berkenan menerbitkan tulisan saya. Makanya, saya tidak pernah memasang foto cover novel lagi di Facebook atau Twitter. Cukup foto Hugh Grant atau Adam Levine saja, biar adil.”

Lagi-lagi saya tertawa kecil membaca jawaban Indah ini, sebelum Indah melanjutkan,
“Oh ya, seputar ‘kejar setoran’ yang kadang ditudingkan kepada saya, sebenarnya agak menggelikan. Pada kenyataannya, saya ini termasuk sering ditipu urusan royalti. Tapi saya pikir tidak ada untungnya juga berkoar-koar soal ini. Peristiwa ini malah membuat saya menjadi kian selektif dalam memilih penerbit. Saya percaya, akan ada saatnya Tuhan membayar lunas berikut bunganya pada saya kelak. Saya adalah orang yang meyakini kalau ‘kepahitan’ saat ini hanyalah ‘uang muka’ untuk kebahagiaan di masa depan. 

“Jadi, saya menulis karena saya memang menyukai dunia ini. Siapa sih yang tidak suka uang? Tapi saya tidak sampai begitu sukanya hingga menjadikan uang sebagai prioritas dalam menulis. Kasarnya, tanpa harus mendapat penghasilan dari menulis pun hidup saya nyaman-nyaman saja. Tapi saya pasti tidak bisa bahagia tanpa menulis. Mau dikemanakan imajinasi saya seputar cowok-cowok menggemaskan itu?”

Dari membaca jawaban Indah yang cukup panjang itu, saya mengerti bahwa persepsi yang membuat saya ter-WOW sehingga menerbitkan beratus-ratus tanya tentang seorang pengarang kadang memang menyesatkan diri sendiri. Bahkan, saya setuju dengan Indah, terlampau kejam jika kita menghakimi seseorang sedang ‘kejar setoran’ hanya karena kebetulan buku-buku karya pengarang tersebut terbit hampir berdekatan waktunya. Ada perjuangan di balik setumpuk buku itu.

beberapa buku Indah Hanaco yang sudah terbit, gambar diolah dari: www.goodreads.com

Saya sendiri merasa tidak pantas memiliki WOW-momentini karena sebagian besar saya belum membaca karya-karya mereka. Sindrom meragu saya justru mengikat kuat dan mengadang niatan saya untuk mencicipi bagaimana rasa dari racikan imajinasi yang diolah oleh para pengarang ini. Pada akhirnya, saya harus berusaha makin bijak memandang semua hal. Janin dalam kandungan saja sekarang bisa dilihat secara empat dimensi, maka setiap permasalahan seharusnya pun bisa dilihat dari segala sisi. Tak hanya dipandang satu sisinya saja.

Sebagai penutup artikel WOW-moment pertama ini, saya sampaikan terima kasih kepada Indah Hanaco yang telah bersedia berbagi dan meluangkan waktu membalas email pertanyaan yang saya kirim. Dan, khususnya untuk para pengarang yang buku-bukunya banyak terbit di waktu yang hampir berdekatan, semangat terus menulis, saya percaya kalian sedang menciptakan dunia untuk memberi warna hidup semuanya, khususnya bagi pembaca seperti saya. Terima kasih.

Selamat menulis, kawan pengarang;
Selamat membaca, kawan pembaca;
Dunia ini milik kita.


*profil Indah Hanaco akan saya posting secara terpisah dalam Bincang Pengarangbulan depan. Saya berencana menjadikan Indah Hanaco sebagai Author of the Month di bulan Juni 2013 mendatang.  

Tuesday, May 21, 2013

[Resensi Novel Romance] Camar Biru by Nilam Suri + Giveaway


Janji sahabat yang mencintaimu...

Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu-dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku....

Judul: Camar Biru - cinta tak selalu tepat waktu
Pengarang: Nilam Suri
Editor: Gita Romadhona dan eNHa
Proofreader: Gita
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Tebal: 280 hlm
Harga: Rp45.000
Rilis: 2012 (cetakan ke-1)
ISBN: 979-780-603-0

Saya tahu novel ini semenjak Nilam masih “mengandung”nya. Meskipun tidak mengikuti proses persalinannya, setidaknya saya tahu novel ini saat masih menjadi janin. Dan, ketika novel ini akhirnya lahir dan diterbitkan oleh Gagas Media, saya bahagia untuk Nilam. Well, saya kenal Nilam berkat Goodreads Indonesia. Seingat saya, saat itu ia masih ngantor di femina. Suatu hari, ia mengirimi saya naskah awal novel ini dan mengizinkan saya untuk membacanya. Tapi justru teman satu kos saya yang lebih excited membacanya duluan. Maklum, saya pembaca lambat, jadi begitu terpampang di layar laptop, si teman itu justru yang tekun membaca. Saya butuh beberapa hari untuk menuntaskan bacanya. First impression, I liked it a lot, dengan beberapa pertanyaan saya layangkan pada Nilam.

Saya membaca ulang Camar Biru begitu resmi diterbitkan oleh Gagas Media. My bad. Saya detailnya agak lupa. Apakah ada yang dihilangkan atau ditambahkan ke dalam novel resminya ini. Beruntunglah saya, dengan demikian saya bisa merasai novel ini seperti baru kali pertama baca.

Satu komentar saya ketika membaca draft-ya dulu pada Nilam. “Non, ini apa nggak yang klise gitu, pake janji-janjian bocah ingusan yang kalo gede mau nikah?” Saya lupa jawaban Nilam apa waktu itu. Tapi, saya kemudian dicerahkan dengan kata-kata salah seorang teman, “Jul, apa yang ada di bawah matahari, hampir semuanya sudah diceritakan sama manusia. Serius kamu mau cari sesuatu yang belum pernah dikisahkan? Menurutku, tinggal bagaimana mahirnya si pencerita buat mendongeng aja sebenarnya yang perlu kita lihat.Well, saya setuju sih dengan kalimat si teman. Meski, saya agak kurang sreg dengan pilihan cara memulai kisah ini, Camar Biru berhasil menyedot atensi saya untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir.

gambar dari sini: www.bbc.co.uk
Bagi saya, ketika plot-nya hampir-hampir bisa ditebak akan mengarah ke mana, adalah kekuatan diksi dan karakterisasinya yang akan menentukan penilaian saya terhadap novel itu. Lagi-lagi saya agak kurang oke dengan pilihan Nilam untuk “elo-gue” di hampir seluruh bagian, baik narasi maupun dialog. Memang benar, itu dapat mengikis jarak kita dengan karya tulisan sehingga kita seolah-olah adalah tokoh yang berperan di dalam novel itu, tapi bagi saya pribadi (sangat subjektif) pembedaan narasi dan dialog masih diperlukan untuk menarik-ulur emosi. Jika penggambaran karakternya dibuat sama ketika narasi dan dialog, saya cenderung mudah jatuh bosan.

“Elo-gue”nya bikin saya sedikit kurang nyaman, tapi karakter para tokohnya begitu terasa di sini. Nina yang cuek dan superberantakan. Adith yang meskipun slengekan tapi bertanggung jawab. Danish yang dominan dan cablak. Ryu yang metroseksual nan necis. Sinar yang dewasa, serta memori Naren yang picture perfect banget sebagai seorang kakak laki-laki. Dan, beberapa aktor-aktris figuran yang tidak hanya berseliweran saja, tapi juga memberikan napas untuk novel ini. Karakterisasi inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan dari novel ini.

gambar dari sini: www.peperonity.com
Bila menilik lagi ke kisahnya, beberapa bagian novel ini bernuansa kelam dan itulah yang membentuk karakter seorang Nina, pun karakter seorang Adith yang sangat ingin melindungi Nina. Jarak yang tercipta antara Nina dan keluarganya memang masih membuat saya bertanya-tanya, apa memang begitu? Dulu, saya pernah punya pengalaman. Ada satu keluarga di kampung saya. Punya dua anak lelaki. Si sulung ini terkenal pintar, tampan, dan memiliki karisma yang sangat besar. Setidaknya, satu kampung tahu dia meski hanya disebut namanya. Sedangkan si adik, biasa saja. Pada suatu waktu, keduanya bersama dengan beberapa cowok di kampung saya, belajar berenang di waduk karena si sulung ini ingin mendaftar masuk ABRI (TNI). Nahas, si sulung tewas tenggelam di waduk yang di kampung saya memang terkenal angker (meminta tumbal, istilahnya). Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, keluarganya meratapi kepergian si sulung ini, namun selewat waktu, orangtua yang awalnya menyalahkan si adik, lambat laun mengerti dan ikhlas. Bahkan, mereka bangga karena si adik kini telah menjadi anggota TNI. Sedikit banyak itu mengobati kerinduan mereka akan mimpi si sulung.

Nah, di novel ini, atas suatu peristiwa, kedua orangtua Nina (khususnya sang ibu) masih tak dapat menerima kepergian Naren dan terus saja menyalahkan Nina. Yah, saya bukan psikolog yang dapat menyelami rasa manusia, jadi saya tak bisa menyingkirkan pertanyaan, “Is it for real? Benarkah ada orangtua yang sampai segitunya?” Hmm, katanya juga, kan nothing is impossibledi dunia ini ya, mungkin saja memang ada sih. Sayanya saja yang terjebak gambaran ideal, bahwa seharusnya orangtua berlaku adil pada seluruh anak-anaknya.

Oiya, satu lagi yang saya tanyakan pada Nilam waktu itu. Satu chapter yang full isinya email Sinar pada Naren, yang membuka detail-detail kecil yang hanya diketahui Sinar-Naren karena melibatkan perasaan kedua sahabat karib ini. Mengingat novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yang dikuasai oleh Nina-Adith, saya protes dengan chapter email Sinar yang “ujug-ujug” ada menjelang ending ini. Lagi-lagi saya menuduh, ini adalah keinginan pengarang yang mau mengungkap semuanya. Saya pribadi, cukup menikmati beberapa detail yang dibiarkan misterius atau tetap tersembunyi, khususnya ketika sepanjang novel digambarkan dua tokoh yang mendominasi. Saya jengkel jika tetiba di tengah-tengah ada tokoh cameo mendadak mendapatkan spotlight. Hahaha, again, ini sangat subjektif saya kok.

Hal lain yang saya kurang suka dari novel ini adalah bagian epilognya. Duh, buat apa sih diberikan eiplog itu? Saya lebih suka novel ini dibiarkan berakhir sebagaimana chapter terakhirnya tanpa ditutup dengan epilog yang justru membuat saya mendesah kecewa. Well, sejatinya saya “sepemikiran” dengan epilog itu, tapi jika saya boleh memilih, biarkan itu hidup dalam imajinasi saya. Jangan dipaksakan untuk menggiring saya pada kesimpulan dalam epilog itu.

Oh, dan seperti biasa. Typo masih tersebar di beberapa tempat. Lagi-lagi saya cuman menggeleng-geleng saja. Buat apa ada proofreader kalau typo-nya saja masih sebanyak ini. Ckckck.

Overall, saya menyukai bagaimana Nina-Adith yang terikat unconscious promise ini menjaga hati masing-masing hingga mereka benar-benar mewujudkan janji itu. Apakah janji yang disaksikan sepasang camar biru itu dipenuhi? Mengapa harus camar biru?  Untuk mendapatkan sensasi cinta sepasang sahabat yang tak lekang oleh waktu, silakan baca dan nikmati karya perdana Nilam Suri ini. ditunggu karya selanjutnya, Nilam.

My rating: 3,5 out of 5 star

Giveaway Camar Biru.


Mau novel ini gratis dan bertanda tangan penulisnya? Silakan ikuti giveaway Camar Biru ini. Tersedia satu novel Camar Biru buat yang beruntung. Caranya gampang banget.
1.       Giveaway hanya melalui twitter.
2.       Follow akun @fiksimetropop dan @justutterly
3.       Jawab pertanyaan ini melalui akun twitter kamu: “Menurut kamu, jika Nina dan Adith akhirnya menikah, pesta seperti apa yang cocok untuk mereka?” sertakan alasanmu.
4.       Format jawaban: #CamarBiru [jawaban] @fiksimetropop @justutterly
5.       Maksimal tweet adalah 3 kali tweet.
6.       Giveaway ini berlangsung sampai dengan tanggal 24 Mei 2013. Pemenang akan diumumkan tanggal 25 Mei 2013.

Good luck dan terus membaca, kawan!

Monday, May 6, 2013

[Fun Games] Rapid Fire Questions


Nah, lagi-lagi saya ketinggalan suka cita hore-hore dari teman-teman Blogger Buku Indonesia. Sepertinya sih semua bermula dari obrolan di Whatsapp group Bajay, ya? Sejak makin ramenya penumpang yang naik ke bajay, saya malah jarang berkomentar sangking seringnya si sopir pontang-panting belok ke gang-gang topik serbaada. Fiuhh...



Oke, saya sambut tantangan Rapid Fire Questions yang sedang hits ini. Plus, dua PR dari Melmarian dan Azia Azmi. Hokehhh.....ready....set....GOOOO....

1. nambah atau ngurangin timbunan?
Selama masih ditempatin Jakarta, berinvestasi dulu deh, nambah timbunan terus sambil dicicil baca, hehehe.

2. pinjam atau beli buku?
Enakan beli, apalagi saat ini kan lagi ada di surga buku (Jakarta) yang banyak tempat beli buku dengan harga miring. Minjem selalu berasa dikejar-kejar deadline, mana saya tergolong pembaca lambat.

3. baca buku atau nonton film?
Dua-duanya. Saling melengkapi lah. Apalagi saya terkadang bisa multitasking, baca sembari nonton :)


4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh) 
Sebisa-bisanya offline. Suka menghirup udara toko buku (meskipun kadang dinodai AC).
 
5. (penting) buku bajakan atau ori?
Untuk buku fisik, berusaha keras membeli yang ori. Untuk ebook masih belum bisa menahan diri untuk donlot-gratisan, hehehe.

6. gratisan atau diskonan?
Gratisan tanpa syarat atau diskonan lebih dari 25%.

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
Karena #TeamPenimbunSejati saya tak pernah kehabisan stock, jadi untuk beli buku lebih sering menanti dengan sabar, kecuali beberapa buku dari penulis favorit.

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Paling suka buku lokal tapi ber-setting luar (asing) karena bisa sama-sama berimajinasi sedang emlancong ke sana bareng penulisnya.

9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Biasa saja sih, bisa diganti dengan apa pun kok. Paling sering duit 2.000 (stock naik Kopaja) atau struk belanja buku itu (jaga-jaga, kalau bukunya rusak, bisa dikembaliin dengan bukti struk).

10. bookmark atau bungkus chiki? 
Engg....enggak dua-duanya. Masih nggak ngeh 'manfaat' bookmark, xaxaxa..., masih suka nganggap bookmark ya pembatas buku.

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Nahhh, ada tambahan PR dari Melmarian nih:
1. klasik atau kontemporer?
Kontemporer. Aku bener-bener orangnya nggak mau mikir ribet jadi males ngebayangin masa lalu. 
 
2. baca sambil dengerin musik atau nggak?
Sambil dengerin musik. Bahkan sering baca sambil ikutan nyanyi-nyanyi-tanpa-suara lagu yang lagi disetel.

3. baca sambil duduk atau tiduran?
Jika di-statistik lebih sering berdiri, duduk, baru tiduran, karena di Jakarta sini aku paling sering baca sambil naik kendaraan atau pas jalan kaki.
 
4. Twilight atau Interview with the Vampire?
Twilight, secara fans Bella Swan, hahaha. 
 
5. pasti nonton film yang diadaptasi dari buku atau nggak?
Nggak selalu, tapi niat nonton. Yang pasti ditonton biasanya buku yang memang disukai. Harry Potter atau Test Pack, misalnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------
Yang ini PR dari Azia Azmi:
1.    Baca buku atau ebook?
Buku fisik, gampang capek kalo baca ebook.

2.   Buku-ke-film atau Film-ke-buku?
Buku ke film. Saya masih jarang menemukan film 'berhasil' dikonversi dengan baik ke dalam sebuah buku.

3.   Cover asli atau cover film adaptasi?
Nggak ngaruh, asal ada diskonnya, hahaha.

4.   Harry Potter atau Twilight?
Harry Potter donk...meskipun saya fans-nya Bella Swan, tetap saja dunia Hogwarts dan segala perniknya pasti menang segala-galanya.
 
5.   Suka baca di perjalanan ga?
IYAAA....justru terkadang saya lebih cepat menyelesaikan baca buku ketika di perjalanan. :) 

---------------------------------------------------------------------------------------------
Ahhhh, saya pun ingin memberikan PR kepada beberapa teman untuk ikutan suka-suka menjawab pertanyaan wajib nan kece ini:
1. nambah atau ngurangin timbunan?
2. pinjam atau beli buku?
3. baca buku atau nonton film?
4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
5. (penting) buku bajakan atau ori?
6. gratisan atau diskonan?
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
10. bookmark atau bungkus chiki?  


Ditambah beberapa pertanyaan dari saya buat PR kalian yaaaa...: (disertai alasan donk yaaa....)
11. Typo ganggu apa enggak?
12. Buku disampul sebelum atau sesudah dibaca?
13. Buku ditandatangani (tanggal dan tempat beli) atau enggak?
14. Perlu lihat resensi orang atau nggak sebelum beli/baca buku?
15. Sudah punya buku terjemahan, lihat buku asli diobral, beli atau enggak?

Baiklah, saya ingin tahu jawaban dari teman BBI berikut atas PR yang saya bagi di atas, hehehe:
1.  Nana @ Reading in the Morning
2.  Mute @ Speakercoret
3.  Truly @ Review
4.  Annisa Anggiana @ My Book Review 
5.  Ana @ The Cow and Her Books

Sunday, May 5, 2013

[The Sunday Post] Alex Pettyfer as Christian Grey on Fifty Shades of Grey the movie?


Well, The Sunday Post (*) sebenarnya saya buat untuk merangkum beberapa hal yang berhubungan dengan buku yang saya lakukan sepanjang Minggu. Tapi, beberapa event terjadi satu minggu sebelumnya, berhubung ini baru dibikin, ya sudah dijadikan satu saja.



a. Nonton the unofficial trailer of Fifty Shades of Grey. Wew, saya memang belum baca bukunya, tapi melihat beberapa trailer tak resmi yang dibuat oleh beberapa orang di youtube membuat saya ingin baca bukunya dan nonton filmnya (jika memang diproduksi).



(Rumor) Alex Pettyfer cast as Christian Grey




b.  Belanja buku lagi. Hmm, rasanya kok nggak ada habis-habisnya ini belanja bukunya. Padahal dibacanya juga kapan-kapan. Yah, namanya juga #TimPenimbunBuku, hahaha.


Yang ditumpuk tinggi itu saya dapat di Periplus Pondok Indah Mall seminggu yang lalu. Lumayan lah, buat nambah-nambah timbunan lagi, hahaha...
1.  Molly Harper - The Care and Feeding of Stray Vampires
2.  Karen Marie Moning - Darkfever
3.  Karen Marie Moning - Dreamfever
4.  Karen Marie Moning - Faffever
5.  Melissa Hill - Something from Tiffany's
6.  Melissa Hill - The Truth About You
7.  Belle de Jour: The Intimate Adventures of a London Call Girl
8.  Alyson Noel - Fated
9.  Holly Black - White Cat
10.  Holly Black - Red Glove
11.  Lauren DeStefano - Fever
12.  Julianna Baggott - Pure

Nah, yang dua baruuu tadi dicomot di Periplus Mal Kelapa Gading. Masih banyak sih stock-nya tadi, cuman karena penataan tumpukannya bikin malas bongkar-bongkar, saya cuman nemu satu doank yang menarik hati.
1.  Cecily von Ziegesar - The Class
2.  Lindsey Kelk - I Heart New York (Non Discount)

Ohh, selain itu, saya juga sempat ke Periplus Gandaria City pas hari pertama event ini diselenggarakan, dan nyomot beberapa novel:
1.  Maryrose Wood - The Poison Diaries: Nightshade
2.  Emma Donoghue - Room
3.  Jessica Fox - Always the Bride
4.  Jessica Fox -Unlucky in Love

c.  Beli untuk hadiah. Yah, saya beli dua buah novel Camar Biru karya Nilam Suri yang direncanakan akan menjadi hadiah untuk kuis minggu depan. Kenapa minggu depan? Karena saya akan memintakan tanda tangan Nilam terlebih dahulu. Untuk novel ini, saya sudah baca, reviu akan saya posting berdekatan dengan kuisnya.


d.  Saya sedang menuntaskan baca beberapa buku. Tiga di antaranya adalah Syarat Jatuh Cinta, Fly to the Sky, dan Sialan Salman.


e.  Gifted books. Ahhhh, nggak nyangka dapet hadiah ini dari Yuska, soalnya awalnya saya memang ingin membeli buku itu, ehhh, malah dihadiahin sama Yuska. Thanks, Non.


Baiklah, itu tadi beberapa hal yang menjadi materi The Sunday Post hari ini. Selamat membaca, kawan!


*) The Sunday Post (including the logo) adalah sebuah surat kabar terbitan Inggris.