Showing posts with label Writer: Luar. Show all posts
Showing posts with label Writer: Luar. Show all posts

Thursday, March 18, 2010

Resensi Novel Cerita Anak: Marianne Musgrove - The Worry Tree (Pohon Cemas)


Jangan biarkan kecemasan menguasaimu



Judul: The Worry Tree (Pohon Cemas)
Penulis: Marianne Musgrove
Penerjemah: Dini Andarnuswari
Pewajah Isi (Ilustrator?): Aniza Pujiati
Penerbit: Atria (PT Serambi Ilmu Semesta)
Tema: Cerita anak-anak
Tebal: 110 hlm + 18 hlm tambahan
Harga: Rp19.900 (situs Atria)
Rilis: Desember 2008 (cet. 1)
Lokasi Pembelian: IBF 2010 (disc 20%)

Saya termasuk seseorang yang tumbuh dengan watak pencemas, meskipun sebenarnya kata cepat-panik lebih mewakili pribadi saya ketimbang sekadar cemas. Gampang gugup, minder-an, dan gak pede. Itu semua, tentu saja, ujung-ujungnya merepotkan diri sendiri, karena apapun yang saya lakukan/ucapkan dalam keadaan panik, jelas makin memperparah kondisi saya.

Berangkat dari pengalaman pribadi itulah saya mencomot novel anak-anak ini dari stan Serambi di Islamic Book Fair 2010 yang digelar beberapa waktu lalu. Saya terhipnotis pada judulnya dan harapan adanya saran penulisnya tentang bagaimana mengatasi masalah kecemasan ini.

Awalnya saya berasumsi akan ada sedikit pernik fantasi-magic dalam novel ini jika melihat ilustrasi sampulnya (depan-belakang) bergambar sebuah pohon yang di beberapa cabangnya “nangkring” hewan-hewan yang sebagian mustinya tidak bisa berada di situ. Ada wombat, kambing, burung merak, anjing, babi, dan bebek. Imajinasi saya langsung terbang ke dunia fabel, dengan mengira-ira bahwa para binatang tersebut pasti bisa berbicara. Ternyata, saya keliru.

Gambar pohon beserta para “penghuninya” itu aselinya, dalam cerita, ya tetap sebuah gambar/lukisan di tembok kamar seorang gadis cilik berusia 10 tahun yang mempunyai sifat gampang merasa cemas (khawatir berlebihan). Gadis cilik itu bernama Juliet Jennifer Jones, yang apabila digunakan untuk menandai kepemilikan atas suatu barang disingkat sesuai inisialnya, JJJ. Penyingkatan ini menjadi terasa manis karena selalu diberikan perumpamaan oleh penulisnya, misal: JJJ – persis seperti tiga kail ikan berjajar (hlm: 6), atau JJJ – seperti ekor tiga monyet sedang berjajar (hlm: 24), atau JJJ – seperti tiga tongkat terbalik berjajar (hlm: 63). Cantik sekali perumpamaannya.

Kisahnya sendiri sangat sederhana, lugu, dan menggemaskan. Benar-benar khas kanak-kanak. Tema hanya seputar kegelisahan seorang gadis kecil yang mulai mampu mencerna apapun yang terjadi di dunia ini, yang ditangkap oleh panca inderanya. Dimulai dari kekesalan akan gangguan adiknya yang jahil, kecemburuan teman lama ketika Juliet hendak menjalin persabahatan dengan teman baru, tindakan bullying yang dilakukan anak laki-laki bandel di sekolahnya, hingga perasaan menyalahkan diri sendiri karena orangtuanya bertengkar. Pada bagian ini saya terenyuh sekali. Berikut saya kutip paragrafnya (hlm: 86):
Gagasan itu membuatnya sedih, tetapi dia tahu itu akan memecahkan semua masalah mereka. “Stop!” serunya sambil berdiri. “Semuanya berhenti! Ini semua salahku, tetapi aku tahu cara menyelesaikannya.”

Duh! Seketika itu saya ikut merasakan beban berat yang terpanggul di pundak Juliet, gadis cilik itu, yang sedih karena melihat masing-masing anggota keluarganya mulai bertengkar dan saling menyalahkan. Adegan lain yang tak kalah harunya adalah ketika Juliet berusaha mendamaikan dua temannya yang saling berkompetisi meraih simpatinya. Gadis sekecil itu, kok bisa, ya?

Namun, jangan dipandang begitu “lapang-dada”nya si Juliet, karena pada dasarnya dia adalah anak yang selalu mengalami ruam-gatal jika dilanda kecemasan. Apalagi kalau sudah menghadapi adik kecilnya, Ophelia – Oaf, yang super ganggu dan cerewet, atau perasaan tak berdaya ketika di’gencet’ oleh cowok bengal di sekolahannya. Nah, berkat cerita dan bantuan dari Nana, neneknya, Juliet mulai mampu mengendalikan kecemasannya dengan menggantungkan rasa cemasnya itu di pohon cemas. Untuk mengetahui bagaimana caranya, silakan disimak di bukunya langsung ya…:)

Pada saat hampir bersamaan, bahkan lebih dulu start-nya malah, saya juga membaca novel fantasy klasik anak-anak berjudul Alice in Wonderland (Lewis Carrol). Namun, jika membandingkan keduanya, saya justru lebih mudah dan nikmat melahap habis Pohon Cemas ini. Hal tersebut tentu saja karena unsur kesederhanaan cerita dan aliran plot yang runut dan gampang diikuti. Saya tak perlu berkerut-kerut demi memikirkan beragam teka-teki yang dilontarkan tokoh utama. Semuanya dilajukan pada jalan tol yang mulus dan bebas hambatan. Tenang. Menghanyutkan. Namun demikian, novel ini tetap berwarna dengan serangkaian kondisi (konflik) yang dihadapi oleh Juliet.

Bagi pembaca anak-anak, novel ini dapat memberikan contoh bagaimana mengatasi masalah dan berhenti untuk mencemaskan segala hal. Sedangkan bagi para orangtua juga dapat mengambil pelajaran untuk tidak menggelar pertunjukan adu mulut (bahkan sampai adu jotos) di depan anak-anak, karena akan membawa dampak traumatik yang bisa saja sampai pada tahap serius. Dalam kasus di novel ini, timbul perasaan bersalah pada si anak karena menyangka mereka-lah penyebab cekcok kedua orangtuanya itu. Bagus, kalo si anak bisa seperti Juliet yang dengan lantang menyuarakan perasaannya. Bagaimana jika si anak yang melihat pertengkaran orangtuanya itu tipe anak tertutup, bisa-bisa si anak makin tertekan dan suatu ketika meledak, membawa dampak negatif yang luar biasa besar.

Maka, yang bisa saya sampaikan, untuk Anda sekalian yang sudah dianugerahi momongan, agar selalu dapat menjaga proporsi yang tepat dalam setiap pengambilan keputusan bersama pasangan Anda dalam biduk rumah tangga.

Baiklah, selamat membaca, temans!

Saturday, February 6, 2010

(2010 - 5) Resensi Novel Terjemahan: Banana Yoshimoto - Kitchen


Dapur yang manis dan romantis



Judul: Kitchen
Pengarang: Banana Yoshimoto
Penerjemah: Dewi Anggraeni
Penyunting: Dini Andarnuswari
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tema: Keluarga, Romansa, Persahabatan, Dewasa, Rasa kehilangan
Tebal: 204 + vi halaman
Harga (Toko): Rp40.000
Rilis: April 2009 (cet. 1)

Saya adalah salah satu penggemar dorama Jepang. Sebut saja Oshin, Tokyo Love Story, Rindu-rindu Aishawa (lupa judul aslinya), Long Vacation, Hotelier (versi Jepang) dan beberapa lagi yang lainnya. Pun, saya juga masih menahbiskan Jepang sebagai negara pencipta kartun terbaik di dunia. Terutama dari segi keragaman ceritanya. Namun, saya tidak sampai sebegitu gemasnya bermimpi menginjakkan kaki di negeri Sakura tersebut (seperti kebanyakan orang yang terkagum-kagum dengan etos kerja dan pesatnya kemajuan teknologi negeri Samurai itu) atau bahkan sekadar membaca hasil karya tulis sastrawannya. Entahlah, rasanya untuk ukuran Jepang saya lebih suka yang visual, bukan verbal, hehehehe. Aneh!

Kalau diingat-ingat saya hanya baru membaca 2 buah novel karya penulis Jepang (Toto Chan dan Kitchen), 1 novel berlatar Jepang (Memoirs of Geisha), 1 novel yang belum dibaca (salah satu dari seri klan Ottori), dan 1 novel karya penulis Indonesia bersetting Jepang (Winter in Tokyo by Ilana Tan). Entahlah, saya belum tergerak untuk mencari lebih banyak hasil tulisan penulis-penulis Jepang. Mungkin ada saatnya, nanti.

Mengenai Kitchen, saya sempat berasumsi bahwa novel mungil yang simple namun eye-catching ini adalah sebuah cookbook yang dinarasikan menggunakan bahasa novel. Ternyata anggapan saya keliru. Saya yang sudah ngiler kepengin tahu beberapa resep kue-kue khas Jepang atau aneka macam mie-nya yang terkenal itu (yang sering saya lihat juga di dorama-doramanya, saya selalu mengingat adegan Tokyo Love Story dimana sehabis jam kerja biasanya mereka hang out dulu di kedai mie, ugh…menggoda sekali mie-mie-nya…), makin dibuat ngiler dengan banyaknya jenis-jenis makanan khas yang disebutkan dalam novel ini. Namun sayang hanya sebatas itu, karena tidak ada satu pun resep masakan yang muncul di sini.

Sejatinya novel ini (versi terjemah Indonesia) adalah sebuah novelete, karena di dalamnya terdiri dari dua cerita yang berbeda. Awalnya saya tidak menduganya seperti itu. Maka, ketika cerita berganti ke judul kedua, saya bingung alang kepalang. Sementara, saya merasa cerita pertama belum tuntas seratus persen. Loh, ceritanya kok jadi kesini, apa hubungannya ini dengan si anu tadi ya??? Setelah dua kali balik ke halaman muka, daftar isi, dan kembali ke belakang, saya baru ngeh kalau dua cerita di dalam novel ini tidak saling terkait. Saat itu juga saya berseru bodoh, “..ooohhhh…beda rupanya.” Payah!

Berdasar informasi dari situs wikipedia, Kitchen merupakan novel debutan Banana yang bernama asli Mahoko Yoshimoto, dan menjadi fenomena karena langsung menangguk sukses. Di Jepang sendiri, novel ini telah cetak ulang lebih dari 60 kali dan diadaptasi ke dalam film sebanyak 2 kali. Banana mendapatkan penghargaan Kaien Newcomer Writers Prize pada Nopember 1987, the Umitsubame First Novel Prize, dan Izumi Kyoka Literary Prize pada Januari 1988 untuk novel Kitchen-nya ini. Selengkapnya silakan klik di sini.

Novelete Kitchen mengalir sederhana dengan diksi yang tidak terlalu rumit, pun dengan konflik yang ada. Banana lebih menonjolkan bagaimana jalinan hubungan diantara aktor-aktornya yang tidak terlalu banyak itu. Saya juga suka dengan deskripsi gaya tokohnya. Serasa benar-benar sedang menikmati suguhan dorama.

Cerita Pertama, berjudul Kitchen, terdiri dari dua bab. Kisahnya adalah tentang seorang gadis bernama Mikage Sakurai yang berjuang menambal perasaan kehilangan setelah kerabat satu-satunya yang tersisa, neneknya, meninggal dunia. Mikage sangat tergila-gila pada dapur yang selalu memberikannya kenyamanan ketika perasaan sepi menerpanya.
“….aku paling bisa lelap ketika tidur di samping kulkas.” (hlm: 4)

Bahkan secara eksplisit dia memilih dapur sebagai tempat favorit seandainya dia meninggal.
“…., aku ingin menghembuskan napas terakhirku di dapur. Tak peduli dapur itu dingin sekali…” (hlm: 4).

Untunglah, ada Yuichi Tanabe yang telah sepakat dengan ibunya untuk mengajak Mikage tinggal bersama mereka selama gadis itu belum menemukan apartemen baru. Saat tinggal di keluarga Tanabe inilah, Mikage menyadari betapa sebuah keluarga adalah anugerah. Tak selalu indah, namun patut disyukuri. Selain kenyataan bahwa Eriko, ibu Yuichi, adalah seorang laki-laki transgender yang adalah ayah kandung Yuichi, Mikage juga mulai menyadari bahwa ada perasaan lain yang tumbuh di dalam dirinya terhadap Yuichi. Cinta.

Sayang sekali, keharmonisan hidup Mikage, Yuichi, dan Eriko tak berlangsung lama. Pada bab kedua diceritakan bahwa Eriko dibunuh. Berita ini tentu saja mengacaukan perasaan Mikage, terlebih Yuichi sebagai seorang anak. Pada titik itulah hubungan keduanya diuji. Perlahan masing-masing mulai menyadari bahwa mereka punya perasaan lain selain perasaan bahwa selama ini mereka adalah keluarga. Ketika hati tak lagi mampu berbohong, keputusan terbaik harus segera dibuat. Novelete ini ditutup dengan ending yang legit dan menyentuh. Sangat menginspirasi, bahwa dalam hidup dibutuhkan perjuangan dan kedewasaan dalam menentukan sikap.
Intermezzo dari cerita Kitchen, “Laptop (hlm: 35) dan kuis Family 100 (hlm: 82) sudah ada di Jepang sejak tahun 1980-an?” Wow!!

Cerita kedua, berjudul Moonlight Shadow, juga berkisah tentang kehilangan. Kehilangan kekasih ketika berada di puncak asmara. Satsuki masih merasa terlalu berat melepas kepergian Hitoshi, yang direnggut malaikat maut melalui kecelakaan mobil yang juga menewaskan Yumiko, kekasih Shu – adik laki-laki Hitoshi. Untuk mengusir kehampaan akibat kehilangannya itu, Satsuki memutuskan untuk rajin berlari pagi, yang selalu dimulai dan diakhiri di atas sebuah jembatan yang menjadi tempat bersejarahnya bersama Hitoshi. Hal yang sama juga dialami Shu yang memanifestasikan kehilangannya dengan selalu mengenakan seragam Yumiko, yaitu berupa baju kelasi – seragam sekolah untuk siswa perempuan di Jepang (mungkin mirip seragamnya Usagi dalam serial kartun Sailormoon kali ya…???).

Suatu pagi Satsuki bertemu dengan Urara, seorang gadis aneh yang misterius. Urara yang merasa bertanggungjawab atas jatuhnya botol minum Satsuki ke sungai berjanji akan menggantinya. Maka ketika suatu hari Urara menelpon Satsuki (dimana Satsuki terkejut karena ia merasa tak pernah memberi tahu nomor telepon rumahnya) dan berjanji untuk membelikan botol minum sebagai gantinya, Satsuki mengabaikan demamnya dan menemui Urara di tempat yang ditentukan. Dari situlah, Satsuki semakin berminat akan suatu fenomena yang akan ditunjukkan Urara.

Pada hari yang disebutkan Urara, Satsuki pergi ke jembatan. Dan, peristiwa tumpang-tindih yang dikatakan Urara hanya terjadi setiap 100 tahun sekali itu, pada kenyataannya memang membuat shock Satsuki. Awalnya ia justru sedih telah menyaksikan fenomena itu, namun lambat laun ia mensyukurinya karena berkat kejadian itu ia mulai ikhlas melepas kepergian Hitoshi. Pada saat yang sama, Shu juga menceritakan pada Satsuki bahwa gara-gara ia mendapat mimpi aneh pada hari yang sama ketika Satsuki melihat fenomena itu, Shu merasa telah tiba saatnya untuk meneruskan hidup dan melupakan tragedi yang menimpa kakak dan kekasihnya. Seperti halnya cerita pertama, Banana juga menutup cerita kedua ini dengan bagus sekali. Bahkan, menurut saya halaman terakhirnya ditulis dengan penghayatan yang sangat dalam. Saya tercengang dibuatnya. Indah. Memikat.

Sebelum membuat resensinya, saya membaca novelete ini sampai dua kali. Pada kesempatan pertama, rasanya saya salah memaknainya sehingga dulu saya menganggap novel ini ringan dan kurang berisi. Bahkan, saya sampai bertanya, apa sih yang bikin novel ini bombastis di Jepang dan dapet banyak penghargaan, kok guwe nggak ngerasain apa-apa ya? Namun, entah apakah karena saya yang sedang dalam situasi sentimental saat membaca kembali novel ini untuk kesempatan kedua, makna yang saya dapatkan jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan. Saya merasa novel ini ditulis dengan emosi yang hidup. Seolah setiap rangkaian kalimatnya adalah ekspresi nyata para tokohnya. Paragraf demi paragraf seperti muncul dari hasil pemikiran dan perasaan yang begitu dalam. Benar-benar menghanyutkan.

Salah satu yang membuat saya bergetar adalah bagian ini,
“Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup…dst. …tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat.” (hlm: 63).

Yah, ada saat-saat dimana saya selalu mempertanyakan tujuan penciptaan saya di dunia ini. Kalau sudah begitu, pikiran saya mulai melantur dengan mendaftar seberapa banyak kesengsaraan menimpa saya, hingga kadang berujung pada simpulan mungkin kematian adalah jawaban paling logis untuk mengakhiri segala macam kesengsaraan itu. Puji Tuhan, tidak seperti para tokoh dalam novel ini yang sering bertanya, “Tuhan ada atau tidak sih?” (hlm: 117), saya percaya bahwa Tuhan itu ada dan saya memahami mengapa Dia mengharamkan bunuh diri, karena itu perbuatan yang sia-sia dan tindakan kufur (ingkar atas nikmat yang diberikan).

Dari segi teknis, beberapa kekeliruan yang saya catat banyak terdapat pada cerita kedua, diantaranya:
(hlm: 188) .kadang-kadang hal itu membuatku perasaanku…, saya pikir harusnya “ku” yang melekat pada kata “membuat” lebih baik dihilangkan.

(hlm: 194) …Rambutku dan kerah kemeja Hitoshi yang kurindukan. Saya agak ambigu di sini, yang dirindukan rambut dan kerah kemeja Hitoshi ataukah maksudnya “rambutku di kerah kemeja Hitoshi”?

(hlm: 198) …tadinya ia menanti kedatangannya dengan duduk di bangku…, saya juga agak ambigu dengan kalimat ini. Saya pikir yang ditunggu Shu adalah Satsuki yang berperan sebagai “aku”. Saya pikir seharusnya kalimatnya adalah, “….menanti kedatanganku…”

Tambahan masukan, untuk cerita kedua, yang agak mengganggu adalah pemisahan paragraf untuk kejadian di waktu yang berbeda kurang jelas sehingga bagi saya agak mengacaukan kronologis cerita. Setting waktu menjadi tumpang-tindih dan membingungkan.

Secara keseluruhan, Kitchen menyampaikan kisah penuh harapan dengan bahasanya yang indah. Berakhir happy ending karena ingin menegaskan bahwa selama masih berjuang, setiap yang kita lakukan pasti akan membawa hasil sebagaimana yang diharapkan. Tentu saja, perjuangan itu adalah dengan cara dan disertai dengan tujuan yang baik. Yang patut dipuji, Banana menamatkan ceritanya dengan manis dan romantis namun tidak cengeng. Sederhana tapi penuh makna. Tak ada kata pujian selain, “novel ini indah sekali.”

Selamat membaca (dan terharu), kawan!

Sinopsis (cover belakang)
"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meninggal. Dapur menjadi satu-satunya tempat di mana perempuan itu tak merasa kesepian, di mana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.

Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona - perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.

Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

Tuesday, January 12, 2010

(2010 - 1) Resensi Novel Fantasi: Becca Fitzpatrick - Hush Hush


Bacaan seru sambil menunggu Twilight Saga versi Edward Cullen



Judul: Hush Hush
Penulis: Becca Fitzpatrick
Penerjemah: Leinovar Bahfein
Penerbit: PT Ufuk Publishing House
Tema: Fantasi, Malaikat, Remaja, Cinta, Persahabatan, Keluarga
Tebal: 488 halaman
Harga: Rp69.900 (Toko)
Rilis: Desember 2009 (cet. 1)

Salahkan JK Rowling dengan Harry Potter-nya jika kemudian saya tidak bisa tidak untuk membanding-bandingkan novel-novel fantasi yang saya baca pasca Potter-era. Salahkan pula Stephenie Meyer dengan Twilight Saga-nya ketika saya tidak bisa tidak untuk mengait-ngaitkan novel Hush Hush karya Becca Fitzpatrick ini dengan kisah cinta remaja terlarang antara vampir dan manusia itu. Memang tidak sama plek sih, bahkan selain hanya sama-sama ber-genre fantasi, tidak ada persamaan lain diantara keduanya. Hanya saja, saya melihat plot besar kedua cerita yang hampir mirip. Yaitu, tentang seorang cewek yang terpikat dengan seorang cowok misterius di sekolahnya yang pada akhirnya terbongkarlah rahasia bahwa si cowok bukan manuasia. Jika di Twilight si cewek, Bella Swan, akhirnya jatuh hati pada sosok vampir Edward Cullen, maka di Hush Hush, ada Nora Grey yang terpikat pada Patch yang adalah seorang malaikat (terbuang). Alurnya pun hampir mirip, baru bertemu di sekolah yang sama, si cewek penasaran pada si cowok, dan meskipun berbahaya, toh si cewek tetap saja terpesona dan perlahan terikat dalam simpul asmara.

Membaca bagian awal Hush Hush, ingatan saya terlontar ke waktu satu setengah tahun silam ketika saya tergila-gila dengan Twilight, yah karena plot yang hampir sama itu tadi. Untunglah bumbu ceritanya berbeda. Dan, yang terpenting, Hush Hush berupaya untuk menjadi sebuah novel fantasi remaja bernuansa gelap dan agak thriller, tidak seringan Twilight. Nampak sekali bagaimana Becca merangkai peristiwa demi peristiwa secara misterius dan memaksa pembaca untuk penasaran sehingga tak kuasa menebak-nebak bagaimana kejadian berikutnya. Berhasilkah usaha Becca ini? Buat saya pribadi, iya. Becca berhasil membuat saya penasaran. Mungkin ini karena saya bukanlah penikmat novel ber-setting misterius begini, saya lebih suka novel metropop yang cuman berkutat pada konflik cemburu-cemburuan, jegal-jegalan, atau cinta-cintaan yang ecek-ecek. Nah, begitu mendapati novel semacam Hush Hush ini, saya jadi gampang sekali ketipu. Sebenarnya, kalau saja saya jeli sedikit, di pertengahan novel, saya mungkin sudah bisa menebak (awas, spoiler) siapa peneror Nora dan siapa yang membuat celaka Vee ketika mereka mengadakan acara shopping bareng. Berhubung saya agak tulalit, maka saya baru menepuk kening dan berseru, "...oh, gitu toh?", begitu mencapai klimaks dan Becca membeberkan satu demi satu kejadian yang dirangkainya. Poor me! Payah banget deh gue.

Hal lain yang membuat saya gemas adalah sifat bodoh dan ceroboh-nya Nora, meskipun sebenarnya dia digambarkan sebagai seorang siswi yang tidak ada masalah dengan nilai akademisnya (dalam artian cerdas, hanya agak kurang bagus di mata pelajaran Biologi). Saya dibuat jengkel, geregetan, putus asa, dengan penokohan Nora ini. Tentu saja, situasi itu menunjukkan bahwa Becca berhasil "menjebak" saya untuk larut dalam novelnya ini. Namun, olahan Becca juga menjadi agak kurang bisa "masuK" bagi saya karena kecanggungan hubungan Nora dengan sang ibu. Saya tak pernah bisa merasakan kekerabatan di antara keduanya. Entahlah, apakah mungkin karena saya menggunakan standar ketimuran untuk menilai hubungan ibu-anak khas Amerika ini?

Summary tokoh: Nora Grey (aku, keturunan malaikat, love interest-nya Patch), Patch (cowok misterius yang adalah malaikat terbuang yang bingung menentukan pilihan, love interest-nya Nora), Vee Sky (sahabat Nora), Elliot Saunders (cowok pindahan yang pedekate ke Nora), Jules (teman misterius Elliot), Dabria a.k.a Miss Greene (malaikat yang adalah mantan pacar Patch), Blythe Grey (ibu Nora). Beberapa tokoh lain: Marcie Millar, Rixon, Pelatih McConaughy (guru Nora), Detektif/polisi, dan beberapa tokoh minor lain.

Membaca novel fantasi memang harus sudah siap menemui dunia khayal macam apapun. Sihir, ilmu hitam, makhluk dongeng, mitos, urban legend, sampai yang agak menyinggung nilai spiritual. Hush Hush termasuk jenis yang terakhir. Dengan beberapa tokohnya adalah malaikat, mau tidak mau agak menyentil sisi spiritual saya, karena sesuai dengan keyakinan agama saya seharusnya malaikat adalah ciptaan Tuhan yang sepenuhnya tunduk kepada perintah Tuhan dan diciptakan tanpa anugerah berupa nafsu (sebagaimana dimiliki manusia, ingat nafsu adalah yang membedakan kita dengan malaikat dan kita wajib mensyukurinya, karena tanpa nafsu, kita nggak mungkin bisa menikmati dunia ini, namun nafsu pula yang dapat mencelakakan kita, maka kendalikan nafsu). Nah, dalam Hush Hush, para malaikat itu diceritakan juga memiliki nafsu, dan bagi yang tidak bisa menahan nafsu maka mereka dibuang ke bumi (malaikat terbuang, ditandai dengan dicabutnya sayap mereka), dan bagi malaikat yang berhubungan dengan manusia yang kemudian melahirkan keturunan maka keturunannya disebut dengan Nephil. Hmm, kalau sihir memang diyakini ada dan dikenal dalam agama saya (dengan label HARAM hukumnya), maka kisah nyeleneh Becca ini sungguh tak bisa saya terima secara keyakinan. Untuk menguatkan pondasi spiritual pribadi, saya kemudian meng-Googling masalah ini, dan saya menyimpulkan setidaknya mungkin kisah ini mirip dengan kepercayaan adanya Lucifer. Sorry, gua nggak tau apa itu dan jujur gua nggak mau tau. Dengan adanya crash soal spiritual ini, maka saya kemudian menguatkan diri dan menyatakan bahwa ini HANYA-lah sekadar novel fiksi, tidak perlu serius dalam menyikapinya.

Meskipun sarat dengan adegan kekerasan seperti percobaan pembunuhan dan penyiksaan fisik serta beberapa adegan brutal lainnya, Hush Hush tak lantas merekayasa cerita bombastis seperti dalam serial fantasi Percy Jackson dan Dewa-dewi Olympia karya Rick Riordian. Kejadian demi kejadian nampak biasa saja. Kekuatan penting malaikat pun hanya digambarkan sebatas beberapa hal ghoib saja, semisal menggerakkan benda dan memanipulasi pikiran manusia. Dalam benak saya, malaikat itu powerful, saya juga tidak tahu pasti apa jenis kekuatan malaikat, yang jelas terlintas dalam imajinasi saya adalah makhluk dengan kekuatan yang dahsyat. Novel ini juga tidak menjelaskan tempat "mangkal" para malaikat, sehingga sama sekali tidak ada dongeng tentang dunia permalaikatan dan segala ke-WOW-annya. Cerita cenderung lebih terfokus pada hubungan antara Patch dengan Nora serta segala kemungkinan mengapa Patch memilih Nora untuk didekati dan dipikat.

Tak banyak bacaan fantasi yang pernah saya baca berkisah seputar "keberadaan" malaikat, maka tak berlebihan jika saya menyebut Hush Hush sebagai novel dengan latar belakang/tema yang "cukup" baru di tengah makin banyaknya novel fantasi berlatar petualangan. Kelemahan cerita Hush Hush ada pada plot, yang selain hampir mirip dengan Twilight, juga seolah mengikuti pakem film-film Hollywood. Bahkan, ending-nya seperti mostly film aksi Amerika tersebut, dimana menjelang berakhirnya cerita si tokoh antagonis merinci kejahatan apa saja yang telah dilakukannya. So chlice!!!. Tapi, untuk para penggemar cerita fantasi, novel ini lumayanlah, sebagai bahan bacaan sembari menunggu terbitnya Twilight Saga baru karya Stephenie Meyer yang ditulis berdasarkan sudut pandang Edward Cullen (yang belum ketahuan kapan dirilis).

Okey, selamat membaca, kawan!

Sinopsis (cover belakang)
Bagi Nora Grey, jatuh cinta tak ada dalam kamusnya. Dia bukan cewek yang gampang tertarik dengan cowok di sekolah. Betapa pun sahabatnya, Vee, tak jarang menyodorkan cowok-cowok kepadanya. Patch pun datang, semua berubah. Nora jatuh cinta kepadanya meskipun akal sehatnya melarang.

Tetapi setelah serangkaian kejadian menyeramkan, Nora menjadi tak yakin, siapa yang harus dipercayai. Sepertinya Patch hadir di mana pun ia berada. Cowok ini tahu banyak tentang dirinya, melebihi sahabat Nora sendiri. Ia tak bisa memutuskan, apakah ia ingin jatuh ke dalam pelukan Patch, ataukah harus melenyapkan diri. Dan ketika berusaha memperoleh jawaban, Nora menemukan sekelumit fakta yang justru membuatnya resah, lebih dari yang ditimbulkan Patch selama ini terhadap dirinya.

Betapa tidak, Nora berada di tengah pertempuran yang telah berjalan berabad-abad antara malaikat yang dilempar ke bumi dengan Nephil—makhluk separuh manusia, separuh malaikat. Waktu memilih pun tiba, keputusan harus diambil, nyawa milik siapa yang harus diserahkan?

HUSH, HUSH menyuguhkan suasana yang kaya, dan membuatku penasaran tentang akhir ceritanya. Kalau ada cowok seberbahaya dan seseksi ini saat aku di sekolah menengah, aku tak mau lulus sekolah! Sepertinya akan ada cerita-cerita lain tentang malaikat yang dibuang dari penulis berbakat ini.
--Sandra Brown, penulis buku laris White Host dan Smoke Screen.

Sunday, November 29, 2009

Resensi Novel Teenlit: Meg Cabot - The Mediator (BUku 1) dan Ally Carter - The Galllagher Girls (Buku 1 & 2)


Konyol. Segar. Menyenangkan.

Meg Cabot Ally Carter

Hmm, yang begini ini yang harus dipunyai oleh para penulis teenage literature (a.k.a teenlit) dalam negeri. Tapi, saya tak akan men-judge karena selain beberapa teenlit favorit dari penulis tertentu dan yang kebetulan membuat saya tertarik, saya sudah lama tidak secara random membeli dan membaca novel teenlit. Bukan faktor malu, karena usia dan gender tidak selaras, namun lebih kepada tema dan gaya menulis yang begitu-begitu saja. Akan tetapi, saya tekankan sekali lagi, karena sudah lama tidak membaca teenlit, saya kurang tahu bagaimana perkembangannya. Apakah semakin baik, tetap, atau bahkan turun. Yang jelas, saya berharap dunia teenlit lokal tetap hadir dengan beragam tema dan kemasan yang terus berkembang.

Entah karena kebetulan yang terbit dan diterjemahkan di Indonesia adalah teenlit yang berkualitas dan sukses secara komersial di negara asalnya, beberapa teenlit mancanegara memang terkesan lebih beragam meskipun dengan tema yang mulek di situ-situ saja tetapi berhasil diberikan sentuhan yang menyegarkan. Belum lagi, biasanya novel terjemahan hasil tulisan penulis luar negeri memang cenderung memperhatikan detail sehingga dari semua unsur aksesoris dan karakter para tokohnya demikian hidup dan menjadikan kegiatan membaca teenlit seumpama membaca novel biasa saja (bukan novel yang "dikhususkan" untuk para remaja)

Teenlit terjemahan yang saya baca terakhir ini adalah serial The Gallagher Girls-nya Ally Carter (Buku 1 dan 2) dan serial The Mediator-nya Meg Cabot (Buku 1). Khusus Meg Cabot yang populer (dan saya rasa menjadi salah satu pioner lahirnya novel teenlit) lewat seri Princes Diaries-nya memang menjadi salah satu novelis luar favorit saya. Saya memang tidak membaca seri Princes Diaries-nya (kalau ini saya sungguh tak tega membacanya, saya cowok dan saya sudah berumur), tapi saya sudah menonton dua film dari cerita yang ditulisnya (yang dibinangi Anna Hathaway itu). An American Girl adalah novel Meg pertama yang saya baca, kemudian berlanjut ke Ready or Not (sekuelnya) dan Teen Idol. Jujur, gaya menulis Meg memang menyengarkan dan penuh kejutan. Sangat menantang.

Ally Carter dan Meg Cabot dengan novel masing-masing sungguh memberikan kenikmatan tersendiri dalam membaca novel. Tentu saja, kredit tetap saya tujukan bagi penerjemahnya yang berhasil mengkonversi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan cukup bagus (sangat bagus, kalau boleh memuji). Lewat bantuan terjemahan mereka lah saya bisa dengan leluasa mencicipi legitnya hidangan Meg dan Ally.

Ally Carter - The Gallagher Girls

Awal ketertarikan saya membeli dan membaca teenlit ini adalah judulnya yang panjang dan menggelitik. Buku pertamanya diberi judul I'd Tell You I Love You, But Then I'd Have To Kill You (aku mau saja bilang cinta, tapi setelah itu aku harus membunuhmu), sedangkan buku kedua dilabeli Cross My Heart and Hope To Spy (Sumpah, Aku Mau Banget Jadi Mata-mata). See? Panjang dan unik, kan??

Apakah judulnya yang unik itu sesuai dengan "kebagusan" isinya? Bagi saya... iya, kalau tidak kenapa sampai saya membaca sekuelnya dan sekarang sedang (tak sabar) menunggu sekuel berikutnya? Yeah, bagi saya pribadi, teenlit ini memang cukup segar, ringan, dan unik. Background ceritanya adalah dunia mata-mata yang kalau selama ini kita lihat lebih "dikuasai" oleh laki-laki. Lihat saja film berlatar FBI, CIA, atau film-film semacam James Bond, The Bourne trilogy, Johny English, Triple X (XXX), kebanyakan yang menjadi jagoan adalah laki-laki, walaupun dalam cerita tetap ada agen perempuannya. Sementara, meski film-film seperti Alias, Charlie's Angels, atau Tomb Raider, yang telah menempatkan seorang perempuan sebagai pusat cerita tetap belum dapat mengubah anggapan umum bahwa yang "pantas" menjadi mata-mata adalah laki-laki. Hanya, laki-laki.

Nah, Ally Carter menghidupkan tokoh Cameron "Cammie" Morgan yang ceritanya tidak setuju dengan anggapan tersebut, bahwa perepuan juga bisa menjadi mata-mata yang andal, bahkan lebih andal dari mata-mata laki-laki. Serial ini mengeker kegiatan dan petualangan Cammie dalam dua sisi, sebagai calon mata-mata tangguh dan gadis remaja yang tak tahu apa-apa tentang cowok. Pada buku pertama, Ally memperkenalkan kita pada Cammie dan "sekolah"nya. Juga teman-teman sekolahnya dan orang tua tunggalnya (ibu - Rachel Morgan) yang kebetulan adalah mantan agen rahasia dan sekarang menjadi kepala sekolahnya. Sedangkan, dalam buku kedua, diceritakan tentang misteri ada tidaknya sekolah mata-mata lain selain sekolah Gallagher, lebih-lebih sekolah mata-mata yang khusus cowok? Dalam beberapa hal saya membandingkan gaya Ally dengan Ken Terate, salah satu penulis teenlit lokal favorit saya, untuk kepiawaian mereka berimprovisasi dengan majas hiperbola. Kalimat-kalimat lebay yang diciptakan Ally justru membuat cerita menjadi demikian menarik untuk terus diikuti, dan tentu saja membuat geli. Lucu, mungkin kata yang tepat.



Ringkasan buku 1: memperkenalkan pada tokoh Cammie, sekolah "khusus"nya, ibunya, guru baru pelajaran Operasi Rahasia-nya yang tampan namun galak (Joe Solomon), teman-temannya (Liz dan Bex), teman barunya yang sombong minta ampun namun justru di akhir kisah melengkapi gang-nya (Macey), dan pengalaman ciuman pertama (sekaligus rasa suka) Cammie pada makhluk yang dikenal dengan sebutan cowok, Josh. Petualangan cewek-cewek itu dibuat lebih seru dengan beragam atribut detektif slash agen rahasia slash mata-mata. Bagaimana demi mengetahui apakah aman jika Josh mendekati Cammie, mereka harus menyelidiki sampah keluarga Josh dan mengamati kehidupan Josh selama beberapa saat. Pada detail-detail petualangan itulah Ally membuatnya sedemikian rupa sehingga menjauhkan kesan bosan mengikuti alur cinta monyet anak-anak usia belasan. Meskipun, ending-nya agak kurang gereget, buku pertama Ally ini sudah cukup meyakinkan saya untuk terus mengikuti lanjutan kisah berikutnya.

Sinopsis (cover belakang)
Cammie Morgan mungkin cewek genius, menguasai empat belas bahasa, jago mengurai kode rahasia tingkat tinggi, dan merupakan "harta" berharga CIA. Kadang ia bahkan merasa dirinya bisa menghilang. Untungnya, di Akademi Gallagher hal itu dianggap keren. Jelas saja, karena Akademi Gallagher sebenarnya sekolah mata-mata top secret.

Tapi soal cowok, Cammie benar-benar idiot. Ia nggak berkutik waktu Josh yang superkeren terang-terangan menatapnya di karnaval kota Roseville. Padahal saat itu Cammie sedang menjalankan misi Operasi Rahasia-nya yang pertama, padahal teman-teman sekelasnya pun nggak bisa melihat keberadaannya.

Siapa cowok itu? Haruskah ia memeriksa sidik jari Josh, mengintai dan menyamar, mengerahkan kemampuan mata-matanya untuk menyelidiki cowok itu? Meskipun tahu Gallagher Girls nggak boleh berhubungan dengan cowok-cowok lokal di Roseville, Cammie sepertinya nggak bisa menolak daya tarik Josh, karena satu fakta penting ini: Josh melihatnya saat nggak seorang pun bisa melihatnya.




Ringkasan buku 2: karena dianggap membahayakan rahasia sekolah, hubungan Cammie - Josh harus diakhiri dan Josh dipaksa untuk melupakan kisah mereka. Sebagai seorang mata-mata sejati, meskipun agak sakit juga, Cammie menerimanya dengan lapang dada. Untunglah ia memiliki ibu dan teman-temannya yang selalu mendukungnya. Lalu, keadaan menjadi sedikit misterius dengan adanya Blackthorne.

Apa itu Blackthorne? Misteri-nya terkuak tak lama setelah ada serombongan cowok yang juga murid sekolah mata-mata ikut bergabung di sekolah Gallagher. Belum tuntas benar hatinya akan kekacauan akibat cowok bernama Josh, Cammie kini tak bisa tidak untuk selalu berdekatan dengan Zach, cowok yang memiliki kemampuan mata-mata setara dengannya, bahkan terkadang diakui Cammie lebih baik ketimbang dirinya. Nyatanya, kehadiran cowok-cowok itu justru membawa kekacauan, puncaknya ketika guru pembimbing mereka mencuri data-data lengkap seluruh siswa sekolah Gallagher. Cammie dan teman-temannya plus para cowok yang mendadak berada di pihak mereka, berusaha melacak dan mengejar si pencuri. Ending-nya lagi-lagi kurang gereget, bahkan saya sudah menduganya. Sayang sekali memang. Namun demikian, saya tetap setia menunggu buku ketiganya. Semoga tak lama lagi.

Sinopsis (cover belakang)
Jadi mata-mata itu nggak gampang. Jadi remaja cewek juga sulit.
Tapi nggak ada yang lebih sulit daripada jadi mata-mata cewek.

Itulah yang dirasakan Cammie. Apalagi ketika semester lalu Cammie harus putus dari Josh---pacar pertamanya---karena Gallagher Girls harus tetap menjaga kerahasiaan penyamaran mereka. Rahasia bahwa Gallagher Girls bukan sekadar cewek-cewek kaya yang bersekolah di sekolah asrama mahal, tapi cewek-cewek genius yang sedang dilatih menjadi mata-mata super.

Apalagi ketika Cammie si Bunglon menyadari bahwa ia punya lawan tangguh. Ia memang hebat dalam mengintai target, melebur di latar belakang hingga target benar-benar tak menyadari keberadaannya. Tapi soal melakukan langkah-langkah antipengintaian, ternyata si Bunglon benar-benar payah. Dalam latihan Operasi Rahasia, seorang cowok keren berhasil menghalanginya mencapai tujuan misi... lagi.

Siapa sebenarnya cowok itu? Kenapa dia berhasil mengalahkan semua langkah antipengintaian Cammie?

Meg Cabot - The Mediator



Entahlah, apakah Gramedia berniat menerbitkan secara keseluruhan seri Meg ini atau tidak. Fakta bahwa serial yang aselinya telah diterbitkan di Amerika kurang-lebih 8 tahun lalu membuat saya agak ragu. Mengapa novel ini baru diterjemahkan dan diterbitkan sekarang? Saya sih berharap agar seri ini terus berlanjut (terjemahannya). Terus terang saja, saya mulai menikmati suguhan Meg yang ini. Percaya deh, menarik sekali mengikuti kisah unik ini.

Kalau remaja sekarang sedang gandrung dengan bentuk cinta abnormal antara vampir dan manusia (Twilight Saga-nya Stephenie Meyer atau serial televisi The Vampire Diaries dan Trueblood), maka Meg Cabot juga punya stock cerita cinta abnormal yang tak kalah serunya, yaitu antara manusia dan hantu. Ya, hantu. Memang bukan juga cerita baru (ingat film Ghost-nya Demi Moore dan Patrick Swayze yang terkenal itu atau novel yang difilmkan Just Like Heaven-nya Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo? atau cerita Ghostbuster mungkin?), namun karena kemasan (cerita dan tokoh-tokohnya) yang meremaja rasanya cerita menjadi lain dan menarik. Saya samapi gemas sendiri sewaktu membacanya.

Gaya menulis Meg sudah tidak perlu dikritik, ya memang begitu. Cair, lugas, sederhana, bebas, kadang melantur, dan segar. Tokoh-tokohnya pun hadir dengan ciri dan karakter yang kuat, sehingga serasa bernyawa dan hidup. Meskipun ada satu yang mengganjal, apa di Amerika segitu bebasnya ya, sampai percakapan antara guru (yang sekaligus kepala sekolah) dengan murid sekasual itu (cenderung tidak sopan). Bersyukur, gua lair, idup, dan gede di Indonesia.

Ringkasan buku 1 - The Mediator, Shadowland: Susannah Simon memang sudah menerima keadaan bahwa dia bisa melihat makhluk ghoib (hantu), bahkan dalam beberapa kesempatan sampai menendang bokong mereka. Namun, dia berharap kepindahannya ke California untuk mengikuti ibunya yang menikah lagi (ayahnya sudah meninggal, namun Susie masih sering bertemu dengannya, tentu dalam wujud hantu) dapat mengubah hidupnya. Selain menghadapi keluarga barunya, tiga saudara laki-laki tirinya yang aneh-aneh dan ayah tirinya yang konstruktor dan ahli memasak, Susie justru disambut sesosok hantu cowok yang tampan, Jesse, di kamarnya. Di samping harus bernegoisasi dengan Jesse, Susie malah harus menghadapi hantu cantik namun pemarah dan perusak di sekolah barunya. Untunglah ada teman dan kepala sekolah serta Jesse yang membantunya. Terlebih lagi ada Bryce Martinson, kakak kelasnya yang super ganteng, yang mengajaknya kencan.

Novel pertama ini mengungkap sedikit flashback tentang kehidupan Susie dan profesinya sebagai Mediator, bagaimana ia sering membobol tempat-tempat terlarang dan ditangkap polisi, dan bagaimana ia dianggap aneh oleh teman-temannya. Susie juga akhirnya mulai bisa beradaptasi dengan keluarga barunya, terutama pada saudara tiri bungsunya yang cerdas dan kutu buku itu.

Sinopsis (cover belakang)
Ada cowok keren di kamar Susannah Simon. Sayang cowok itu hantu.

Susannah seorang mediator----penghubung antara orang hidup dan mati. Dengan kata lain, ia bisa melihat hantu. Dan mereka mengganggunya terus sampai Susannah membantu mereka menuntaskan urusan yang belum beres dengan orang-orang yang masih hidup. Tapi Jesse, hantu keren yang menghuni kamar tidur Susannah, sepertinya tidak membutuhkan bantuan. Melegakan sebenarnya, karena Susannah baru saja pindah ke California yang panas dan bermaksud membuka lembaran baru, jalan-jalan ke mal dan bukan ke kuburan, surfing dan bukan kedatangan tamu-tamu aneh dari alam gaib.

Tapi pada hari pertamanya di sekolah baru, Susannah sadar ternyata tidak semudah itu. Ada hantu yang ingin membalas dendam... dan kehadiran Susannah menghalanginya.

Yup, itulah dua seri teenlit terakhir yang saya baca. Cukup menghibur dan menyenangkan. Khusus untuk The Mediator, saya berharap Gramedia tetap terus menerjemahkan dan menerbitkannya.

Okey, enjoy reading, people!

Monday, September 7, 2009

Resensi Novel Chicklit: (Repost) Karen Quinn - The Ivy Chronicles:


Gara-gara Anak TK!

Published by C!Publishing
Page 441+xiii
Price (Gramedia Banjarmasin) Rp. 55.600,00

Seru?
.....Sudah pasti!
Gokil?
.....Jelas!
Edan?
.....Iya!

Bayangin aja, mo masukin anak ke TK aja musti nyewa seorang penasihat dengan tarif $20 ribu....gila nggak tuh?

Si author (plus penerbit) bilang bahwa ide cerita ini memang dibangun dari kisah hidup nyata si penulis sendiri, yang memang pernah menjalani profesi sebagai penasihat pendidikan dalam penerimaan siswa sekolah Taman Kanak-Kanak.

The Story:

Ivy Ames, adalah seorang perempuan Yahudi, mapan, matang (di awal 40an) yang telah mencapai puncak kejayaan hidup yang dicita-citakan. Trauma masa kecil akibat perceraian orang tua dan hidup serba kekurangan a.k.a miskin banget membuatnya gigih berjuang untuk meraih kehidupan mewah yang selalu diangankannya.

Setelah lulus dari Yale (berkat beasiswa yang diterimanya) Ivy langsung diterima bekerja di Myoki Bank, sebuah bank bergengsi di kota New York. Empat belas tahun mengabdi di sana, mengantarkan Ivy menduduki jabatan yang cukup mentereng. Kebahagiaannya begitu lengkap dengan keharmonisan keluarganya (dua orang putri yang manis, suami yang tampan meskipun baru saja kena PHK dari pekerjaannya sebagai seorang pialang), apartemen mewah di kawasan Fifth Avenue, dan segala kemewahan lain yang membuatnya nyaman dalam menjalani kehidupan.

Tetapi, belum lama ia mencecap semua itu, badai yang tak terkira besarnya menghantam kehidupan Ivy. Ia dipecat. Kemudian di hari pemecatannya, Ivy menangkap basah suaminya berselingkuh dengan istri rivalnya di kantor. Tak hanya itu, ia juga harus menjual apartemen mewahnya, memecat seluruh pembantunya, memindahkan dua putrinya dari sekolah swasta yang mahal ke sekolah negeri di daerah pinggiran. Ivy beserta kedua putrinya pun terpaksa pindah ke daerah pinggiran Manhattan. Satu atap dengan beberapa tetangga yang dalam hari-hari selanjutnya ikut mewarnai kehidupannya.....termasuk urusan cinta dan....seks. Juga ada cerita soal romantisme hati sapi cincang.....

Untunglah, Ivy punya teman berhati malaikat, Faith yang begitu beruntung dinikahi seorang miliuner dengan harta berlimpah. Berkat Faith, Ivy menemukan cara untuk membiayai hidupnya dan hidup kedua putrinya. Yaitu menjalani profesi sebagai penasihat penerimaan siswa di sekolah swasta dengan tarif $20 ribu per klien.

Awalnya, bisnis ini tersendat-sendat, karena Ivy memang belum punya pengalaman apa-apa. Ia hanya mendapatkan sedikit bimbingan dari mantan bawahannya di Myoki Bank, Tipper Bucket, yang sekarang bekerja di bagian penerimaan di sekolah Harvard Day. Tapi karena sebuah insiden yang tak terduga, yang membuat kepala sekolah Harvard Day meninggal, dan Tipper diangkat menjadi penggantinya, bisnis Ivy meledak. Bahkan tanpa beriklan lagi, Ivy langsung mendapat beberapa klien yang cukup beragam. Ada klien yang seorang petinggi perusahaan penerbitan terbesar di Amerika (bahkan dunia), ada klien yang lesbian, ada klien yang seorang janda setengah frustasi yang tahun lalu gagal memasukkan putri semata wayangnya ke 35 sekolah, ada klien yang seorang pembantu baik hati, ada klien yang seorang mafia, dan ada pula klien yang suka mengancam akan membunuhnya. Benar-benar membuat Ivy pontang-panting. Jadi, bagaimana Ivy menjalankan bisnisnya? Apakah seluruh bocah dari kliennya dapat diterima di sekolah pilihan mereka? Keknya harus baca sendiri deh. Gak seru kan, kalo gua bocorin semuanya...

Huaaa....gua jadi berdebar-debar loh bacanya. Full of surprises! pokoknya....
Cuman sekali lagi, gua terbentur ama banyaknya kultur budaya asing yang nggak masuk di akal gua (bayangin aja anak umur empat tahun udah ngomongin soal penis dan vagina....OMG....syukur banget gua hidup di Indonesia)....
Novel ini juga cukup vokal bicara soal agama, terutama Yahudi, dan isu rasial.
Dari segi translatenya, not bad. Bahkan cukup bagus, menurut gua. Nggak kalah keren deh ama karya-karya terjemahan GPU.
Untuk yang udah ngelirak-ngelirik nih buku setiap jalan ke bookstore, gua saranin comot aja. Laik banget kok buat dibaca dan dikoleksi.

Enjoy Reading!!!

Catatan: tulisan ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (15 Agustus 2006)