Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Monday, September 29, 2014

[Resensi Novel Islami] Bulan Terbelah di Langit Amerika by Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra


Tak Sememukau 99 Cahaya di Langit Eropa...
Amerika dan Islam. Sejak 11 September 2001, hubungan keduanya berubah.

Semua orang berbondong-bondong membenturkan mereka. Mengakibatkan banyak korban berjatuhan; saling curiga, saling tuding, dan menyudutkan banyak pihak.

Ini adalah kisah perjalanan spiritual di balik malapetaka yang mengguncang kemanusiaan. Kisah yang diminta rembulan kepada Tuhan. Kisah yang disaksikan bulan dan dia menginginkan Tuhan membelah dirinya sekali lagi sebagai keajaiban.

Namun, bulan punya pendirian. Ini untuk terakhir kalinya. Selanjutnya, jika dia bersujud kepada Tuhan agar dibelah lagi, itu bukan untuk keajaiban, melainkan agar dirinya berhenti menyaksikan pertikaian antarmanusia di dunia.

“Apa? Wajah Nabi Muhammad junjunganku terpahat di atas gedung ini? Apa-apaan ini! Penghinaan besar!” seruku pada Julia. Mataku hampir berair menatap patung di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat, tempat para pengadil dan terhukum di titik puncak negeri ini.

“Jangan emosi. Tak bisakah kau berpikir lebih jauh, Hanum? Bahwa negeri ini telah dengan sadar mengakui Muhammad sebagai patron keadilannya. Bahwa Islam dan Amerika memiliki tautan sejarah panjang tentang arti perjuangan hidup dan keadilan bagi sesama.
“Akulah buktinya, Hanum.”


Kisah petualangan Hanum dan Rangga dalam 99 Cahaya di Langit Eropa berlanjut hingga Amerika. Kini mereka diberi dua misi berbeda. Namun, Tuhan menggariskan mereka untuk menceritakan kisah yang dimohonkan rembulan. Lebih daripada sekadar misi. Tugas mereka kali ini akan menyatukan belahan bulan yang terpisah. Tugas yang menyerukan bahwa tanpa Islam, dunia akan haus kedamaian.

Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Pengarang: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Desain sampul: Hendy Irawan
Desain isi: Suprianto dan Ayu lEstari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Rilis: Mei 2014
Harga: Rp75.000 (diskon 50%, beli di tokobuku.getscoop.com)
ISBN: 9786020305455

Saya termasuk yang paling bersemangat ketika mendengar kabar duet suami istri ini kembali menuliskan kisah perjalanan spiritual mereka di luar negeri. Melalui pengalaman kunjungan demi kunjungan ke beberapa kota yang kemudian mereka ceritakan, saya baru mengetahui bahwa jejak Islam banyak terdapat di kota itu. Well, itu yang saya dapat ketika membaca 99 Cahaya di Langit Eropa. Dan, saya benar-benar dibuat terpukau dengan "fakta-fakta" yang mereka paparkan di buku itu.


Bulan Terbelah di Langit Amerika. Dari judulnya saja saya sudah "merinding". Saya sangat berharap mendapatkan pencerahan sekali lagi tentang penelusuran jejak Islam di negara adidaya yang sempat merana akibat Black Tuesday, 11 September 2001, itu. Dan, memang benar, peristiwa Selasa Hitam itulah yang dijadikan dasar oleh Hanum dan Rangga dalam menulis kisah ini. Yang... ternyata tak sepenuhnya benar. Atau dengan kata lain, sebagaimana disampaikan sendiri oleh Hanum di bagian belakang buku ini, bahwa fakta-fakta yang ada di dalam buku ini bersifat debatable. Heh? Maksudnya? Detik itulah minat saya untuk membaca buku ini luntur dan digantikan upaya untuk sekadar menuntaskan-baca.


Yang paling saya suka dari 99 Cahaya di Langit Eropa adalah ketidaktahuan saya akan beberapa hal tentang Islam di Eropa yang dijawab dengan syahdu oleh Hanum dan Rangga dengan menyajikan banyak pengetahuan baru tentang sejarah Islam di Eropa. Saya tak henti-hentinya bertasbih demi menikmati suguhan fakta-fakta (lama) yang baru saya ketahui itu. Saya serasa mampir ke warung es di tengah perjalanan panjang di musim kemarau. Nyess... langsung menyejukkan. Jadi, apa yang kemudian disuguhkan dalam Bulan Terbelah di Langit Amerika dengan rangkuman fakta yang masih debatable, saya merasa tengah dalam perjalanan yang terus menerus diguyur hujan, tanpa henti. Memang sejuk, tapi juga bikin tak nyaman.

Semua yang saya harapkan kemudian menemui jalan bercabang yang berujung sama: KERAGUAN. Mendingan saya disuguhi kisah yang benar-benar fiksi saja. Atau, sebaiknya saya anggap saja Hanum dan Rangga itu tokoh rekaan belaka. Bukan Hanum dan Rangga yang benar-benar ada. Habis perkara, maka saya akan memberikan bintang 4 pada buku ini yang gaya menulis dan diksinya begitu indah. Namun, saya tidak bisa melakukannya. Saya sudah telanjur menghubungkan bahwa antara 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika adalah dua fragmen yang membentuk satu jalinan cerita yang sama. Tak bisa dipisahkan, sehingga sulit jika satunya dibilang bermuatan fakta menakjubkan sedangkan satunya hanya berisi khayalan-khayalan tingkat tinggi. Saya tidak bisa.

Jefferson memorial
Well, kata "debatable" pada akhirnya ya memang benar-benar bisa diperdebatkan. Namun, untuk saat ini saya malas memperdebatkannya. Ketika dengan penuh penasaran saya mengetikkan nama Phillipus Brown, Amala Hussein atau Julia Collinsworth, atau Michael Jones dan dihubung-hubungkan dengan peristiwa 11 September 2011 pada mesin pencari Google dan tak menghasilkan fakta apa pun, maka saya skeptis, dan menganggap semua yang ditulis Hanum dan Rangga di buku ini hanyalah fiksi alias khayalan semata. Tak perlu repot lagi saya menggali-gali sumber lain. Tak seperti halnya ketika saya selesai membaca 99 Cahaya di Langit Eropa dan bersemangat mencari-cari lagi (dari berbagai sumber) tentang jejak Islam di Eropa.

Smithsonian museum
Untuk kali ini, saya setuju dengan pendapat beberapa tweemans yang sudah membaca buku ini yang mengatakan bahwa Hanum dan Rangga kelewat subjektif dalam menuliskan kisah ini. Sejatinya dalam 99 Cahaya di Langit Eropa pun tampak subjektif, tapi saya masih bisa memahaminya, karena toh itu perjalanan nyata dari Hanum dan Rangga, jadi apa pun yang dirasai pastilah bersifat pribadi, yang untuk selanjutnya dikoneksikan dengan ajaran Islam. Berbeda dengan Bulan Terbelah di Langit Amerika yang oleh Hanum disebut awalnya berkisah tentang perjalanan keduanya ke Amerika, namun lalu dicampur aduk dengan kisah-kisah yang dilihat atau didengar mereka dari media massa.

protes pendirian Masjid di Ground Zero
Tak banyak yang bisa saya sampaikan. Ini pun bukan resensi seperti yang biasa saya tulis. Ini hanya bentuk kekecewaan saya saja dari buku yang sangat jauh dari harapan. Sebagai sebuah karya tulis (di luar tujuan dan isinya), Hanum dan Rangga tetap berhasil merangkai kalimat demi kalimat yang indah dan memukau. Eh, kalau boleh jujur, saya jauh lebih menyukai bagian-bagian yang diceritakan dari sudut pandang Rangga. Kalau benar itu Rangga yang menulis, maka saya sungguh berharap suatu saat nanti Rangga bisa menulis buku solo. Entah fiksi, entah non fiksi. Saya sangat menikmati tulisannya. Puitis tapi tidak lebay dan begitu mengena tanpa banyak basa-basi.

Selain kenyataan soal buku ini, plot-nya pun sangat tendensius. Inilah mengapa fakta debatable itu bisa menggulirkan anggapan bahwa unsur subjektivitas cukup tinggi di buku ini. Ending yang terlalu mellow, tokoh-tokoh heroik yang dihadirkan, serta keputusan-keputusan fantastis demi --maaf-- meninggikan Islam kurang believable. Benar-benar jauh dari gaya berkisah di 99 Cahaya di Langit Eropa. Seandainya saja buku ini hadir dalam bentuk 100% fiksi, saya akan lebih bisa mengapresiasinya dengan penuh percaya diri. Tapi, dalam Islam tak boleh "Seandainya, seandainya...," ya, jadi saya tak akan meneruskan persoalan ini. Yang jelas, saya mohon maaf jika pendapat saya soal buku ini agak tak seperti gaya meresensi yang biasanya.

Omong-omong kisah tentang bulan terbelah di masa Rasululloh Muhammad SAW, memang ada ayat yang menerangkannya dan hadis sahih yang mendukung peristiwa itu. Sebagai muslim, saya pun mengimani kejadian tersebut.

Apa pun itu, selamat membaca, tweemans.

My rating: 2 out of 5 star.

Monday, October 27, 2008

Resensi Novel Islami: tere liye - Bidadari-bidadari Surga


Janji Bidadari Surga...

Bidadari-Bidadari Surga bercerita tentang pengorbanan seorang kakak (Laisa) untuk adik-adiknya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta) di Lembah Lahambay agar adik-adiknya dapat melanjutkan pendidikan mereka, meski ia harus bekerja di terik matahari setiap hari, mengolah gula aren setiap jam 4 pagi serta dimalam hari menganyam rotan, meski pada dasarnya keempat adik-adiknya tersebut berasal dari darah yang berbeda dengan dirinya.

Satu sisi Laisa digambarkan sebagai kakak yang galak dan tegas, mengejar-ngejar adiknya yang bolos sekolah dengan rotan dan ranting kayu. Di sisi lain, kontradiktif dengan fisiknya yang gempal, gendut, berkulit hitam, wajah yang tidak proporsional ditambah dengan rambut gimbal serta ukuran tubuhnya yang tidak normal, lebih pendek, Laisa sesungguhnya tipe kakak yang mendukung adik-adiknya, rela mengorbankan diri untuk keselamatan ‘dua anak nakal’ Ikanuri dan Wibisana dari siluman Gunung Kendeng, serta mati-matian mencari obat bagi kesembuhan adiknya Yashinta yang diserang demam panas hingga kejang pada suatu malam.
Judul: Bidadari-bidadari Surga
Pengarang: tere-liye
Penerbit: Republika
Genre: Roman, Keluarga, Islami
Tebal: vi+368 halaman
Harga (Toko): Rp47.500
Rilis: Juni 2008 (Cetakan Kedua)

Saya mengenal, maksudnya tahu dan baca karyanya (bukan bertemu muka dan bejabat tangan langsung), tere-liye ketika genre Metropop baru dirintis oleh Gramedia, lewat sebuah novel metropop bergaya laki-laki, The Gogons. Tidak terlalu mengesankan, namun nuansa macho-nya memberikan kesegaran tersendiri di tengah lautan metropop yang lebih bercita rasa perempuan. Selanjutnya, saya tak lagi menyimak sepak terjangnya dalam dunia kepenulisan, selain hanya beberapa kali mendengar namanya disebut karena dua novel islami-nya masuk kategori best seller dan menuai banyak pujian, Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah.

Bidadari-bidadari Surga (B2S)-nya menarik perhatian saya ketika tidak ada novel Metropop terbaru yang menyandera minat saya (membaca dan membeli). Awalnya saya ragu, sebab testimonial ‘berlebihan’ yang ada di cover belakangnya. Entahlah, saya masih selalu menganggap testimonial begitu hanya ‘iklan-sampah’ yang kadang menjebak dan men’curang’i pembaca (yang membeli), karena umumnya testimonial begitu hanya berisi pujian selangit. Sedangkan, satu rinsip sudah pasti, segala buatan manusia tidak ada yang sempurna, cacat pasti selalu ada Untunglah, sebagian testimonial tersebut benar adanya.

Astaga. B2S sukses membuat air menderas dari kedua pelupuk mata saya bahkan sejak dari bagian awal. Setangah malu saya dibuatnya. Betapa tidak, saya yang gemar menenteng buku kemana-mana dan membacanya dalam suasana bagaimanapun juga, berulang harus buka-tutup dan pura-pura melihat sesuatu ke arah lain untuk menghindari tatapan ‘ada-apa?’ dari orang-orang yang melihat saya berkaca-kaca. Malu, tapi tak bisa berhenti.

Saya acungkan jempol atas jerih payah tere-liye menghidupkan karakter kunci menjadi sosok yang demikian luar biasa menyentuh namun tetap manusiawi. Selain dari sudut fisik yang masih gagal saya wujudkan, tokoh yang diciptakannya tersebut dengan mudah dapat divisualisasi dalam keseharian. Kisah epik dramatik dari area domestik rumah tangga begini sejatinya demikian mudah dapat ditemukan dalam kehidupan kita.

Setelah Laskar Pelangi, saya kira B2S-lah yang dapat secara natural mengangkat sebuah kisah perjuangan dahsyat dari kampung di daerah pedalaman, yang bahkan sebelumnya tidak ada listrik, menjejak tangga kesuksesan dalam pelbagai bidang, melalui jalur paling lazim yaitu pendidikan. Ada profesor yang melakukan penelitian untuk membuktikan soal kemungkinan bulan pernah terbelah, ada dua orang yang sangat ambisius dan mumpuni di bidang utak-atik otomotif yang berencana men-suplai spare part khusus mobil balap, ada pula peneliti biologi perempuan yang sedang bercengkerama dengan spesies alap-alap kawah (peregrin). Meskipun awalnya saya pesimis, runtut peristiwa yang disajikan novel bernuansa hijau ini cukup meyakinkan saya bahwa semuanya mungkin. Nothing is impossible, right?

Jalinan cerita, cara bertutur, tema, plot, setting, gaya flash back mixed by present (maju mundur)-nya sangat bagus dan kuat, penokohan, semuanya membuat saya jatuh cinta. Apalagi, sentilan ending yang tidak terduga (…loh kok gini?) membuat B2S ini begitu istimewa.

Namun, tiada gading yang tak retak. Tiada pula (buatan manusia) yang sempurna. Novel ini juga menyimpan beberapa kejanggalan yang menurut saya sedikit banyak mengganggu keliaran imajinasi saya yang kadung mabuk kepayang dengan pesona yang dimiliki novel ini. Pertama dan utama, ya ampuuuuuuuuuuuun Republika geto… loh, nyang nopel Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik katenye mega-bestseller-Asia kok ya masih sempet-sempetnya salah ngedit (ngetik) ya? Plis deh!

Sedangkan dari segi cerita, saya masih kurang menangkap esensi dari beberapa cerita yang agak ghoib (kalau tidak mau dibilang mistis atau takhayul) misalnya adegan ketika kakak-beradik Lembah Lahambay yang hampir dimangsa harimau penguasa Gunung Kendeng tapi tidak jadi, atau cerita soal adanya semacam sinar yang digambarkan sbagai ‘perwujudan’ karakter kunci ketika membangunkan adik bungsunya yang pingsan di areal Semeru. Bagaimana ya, susah saya menerimanya meskipun embel-embel ‘atas ijin Allah’ (kalau tidak salah sih) disertakan.

Kelemahan yang lain adalah peletakan cara memanggil karakter kunci yang kadang dipanggil Kak, kadang dipanggil Wak, di beberapa tempat agak berantakan. Kurang cocok, lebih tepatnya. Termasuk pula, ketidakkonsistenan dalam pengetikan, kadang istilah tak lazim dibuat miring tapi di tempat lain dibuat biasa. Oh iya, motto Safe The Planet itu benar, ya? Apa bukan, Save The Planet? Saya menafsir kira-kira dalam bahasa Indonesia artinya, Selamatkan Planet (Bumi), bukan? Ini, saya coba ketikkan kata 'safe the planet' pada google dan yang keluar adalah ini:

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, saya sungguh dibuat haru biru oleh novel ini. Dan, benar sekali, novel ini cocok dipersembahkan kepada ibu, saudari perempuan, atau siapa saja (yang perempuan) ataupun lelaki (sebagai perenungan) karena novel ini benar-benar menggugah. B2S juga cukup ‘megah’ jika diangkat ke layar lebar, apalagi background Lembah Lahambay serta hamparan perkebunan strawberry-nya, pasti membuat layar bioskop terasa mendamaikan ketika dilihat.